Pekan-pekan ketika udara memberat dan kabar tentang anak-anak datang bertubi-tubi, malam berubah menjadi bagian hari yang paling sulit dilewati. Imam at-Tirmidzi rahimahullah menghimpun potret malam Rasulullah ﷺ dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 38- باب ما جاء في صفة نوم برسول الله صلى الله عليه وسلم. Bukan potret tidur yang panjang. Potret cara sebuah hari ditutup.
Madinah malam hari. Lampu minyak yang kecil. Dinding pelepah kurma yang menahan hawa gurun.
Di jam seperti itu sebuah rumah kehabisan urusan. Piring sudah kosong, tamu sudah pulang, suara dari luar tinggal angin. Dan justru di jam itulah orang-orang terdekat menyaksikan hal yang kemudian mereka ceritakan berulang-ulang kepada generasi sesudahnya.
Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu menyimpan satu gambar yang sangat dekat. Ketika Rasulullah ﷺ mengambil tempat berbaringnya, beliau meletakkan telapak tangan kanannya di bawah pipi kanannya. Lalu terdengar suara pelan:
رب قني عذابك يوم تبعث عبادك
"Ya Rabb, jagalah aku dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu."
Dalam jalur lain kalimat itu tercatat: pada hari Engkau mengumpulkan hamba-hamba-Mu.
Urutannya berbicara sendiri. Tubuh sudah rebah. Tangan sudah menjadi bantal. Dan yang beliau sebut bukan urusan esok pagi, melainkan hari terakhir.
Hudzaifah radhiyallahu 'anhu mencatat dua kalimat lain — yang satu di ujung malam, yang satu di ujung tidur. Saat beliau ﷺ menuju pembaringannya, beliau mengucapkan:
اللهم باسمك أموت وأحيا
"Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup."
Dan ketika beliau bangun, kalimat pertamanya:
الحمد لله الذي أحيانا بعد ما أماتنا وإليه النشور
"Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya tempat kembali."
Tidur disebut mati. Bangun disebut hidup. Dua kalimat pendek yang membuat satu malam biasa menjadi latihan menghadapi sesuatu yang lebih besar.
Keduanya berpasangan. Yang satu diucapkan saat lampu hampir padam, yang satu saat mata baru terbuka. Di antara keduanya ada satu malam penuh yang tidak dijamin siapa pun. Dan yang mengucapkannya bukan orang yang sedang ketakutan — melainkan orang yang sudah terbiasa menyerahkan malamnya.
'Aisyah radhiyallahu 'anha melihatnya dari jarak paling dekat, dan yang ia ingat adalah pengulangannya. Setiap malam. Beliau ﷺ menyatukan kedua telapak tangannya, meniupkan napas ke dalamnya, membaca tiga surat — al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas. Lalu mengusapkan kedua telapak itu ke tubuhnya sejauh yang bisa dijangkau — dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Tiga kali.
Bukan sekali ketika sedang gelisah. Tiga kali, setiap malam, bertahun-tahun.
Dan yang diusap lebih dulu adalah kepala dan wajah — bagian yang paling sering dipakai seharian, dan bagian yang paling dulu terlihat orang.
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menyimpan kalimat yang paling menyentuh sisi manusiawinya. Ketika beliau ﷺ menuju pembaringan, beliau mengucapkan:
الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وكفانا وآوانا. فكم ممن لا كافي له ولا مؤوي
"Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, memberi kami minum, mencukupi kami, dan memberi kami tempat berlindung. Betapa banyak orang yang tidak ada yang mencukupinya dan tidak ada yang memberinya tempat berteduh."
Empat hal disebut berurutan: makan, minum, kecukupan, atap. Empat hal yang paling mudah dianggap biasa oleh siapa pun yang memilikinya.
Dan setelah keempatnya disebut, kalimat terakhir menoleh ke luar rumah — kepada mereka yang malam itu tidak punya keempatnya. Sebuah rumah yang sedang merasa cukup diajari untuk mengingat rumah yang tidak.
Di perjalanan pun kebiasaan itu tidak berubah bentuknya. Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu mengingat: bila beliau ﷺ berhenti beristirahat di tengah malam, beliau berbaring di sisi kanannya.
إذا عرّس بليل اضطجع على شقه الأيمن
Dan bila berhenti menjelang subuh, beliau menegakkan lengannya dan meletakkan kepalanya di atas telapaknya — posisi seseorang yang tidak berniat tidur lama.
Pasir yang dingin. Unta yang menderum. Dan seorang manusia yang tetap menutup malamnya dengan cara yang sama seperti di rumahnya sendiri.
Rumah atau padang pasir, kasur atau tanah, semalam penuh atau sekejap sebelum subuh — bentuk tempatnya berubah, urutannya tidak. Itulah yang membuat orang-orang di sekelilingnya bisa mengingatnya sedetail itu bertahun-tahun kemudian: bukan karena peristiwanya besar, tetapi karena tidak pernah berubah.
Pelajaran
Yang paling menonjol dari seluruh bab ini bukan panjangnya doa, melainkan kecilnya. Telapak tangan di bawah pipi. Tiupan ke dua telapak. Empat kata syukur sebelum mata terpejam. Semuanya berukuran beberapa detik, dan semuanya diulang setiap malam sampai orang-orang terdekat hafal urutannya — sampai al-Bara' hafal posisi tangannya, 'Aisyah hafal hitungan tiga kalinya, dan Anas hafal susunan kalimatnya. Di sinilah letak pengajarannya: yang menular kepada orang serumah bukan nasihat panjang, melainkan kebiasaan pendek yang tidak pernah dilewatkan. Dan kalimat Anas menyimpan satu hal lagi — pada malam ketika seseorang merasa cukup, ia justru diajari mengingat yang tidak punya siapa-siapa. Di pekan ketika banyak orang tua sulit memejamkan mata karena memikirkan sekolah yang berhenti dan anak yang sakit, potret malam ini menawarkan sesuatu yang sangat sederhana: satu kebiasaan kecil, diulang, dan dilihat oleh anak-anak.
Sumber Asli
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 38- باب ما جاء في صفة نوم برسول الله صلى الله عليه وسلم
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أخذ مضجعه وضع كفه اليمنى تحت خده الأيمن وقال: رب قني عذابك يوم تبعث عبادك
كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا أوى إلى فراشه قال اللهم باسمك أموت وأحيا، وإذا استيقظ قال الحمد لله الذي أحيانا بعد ما أماتنا وإليه النشور
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أوى إلى فراشه كل ليلة جمع كفيه فنفث فيهما وقرأ فيهما قل هو الله أحد وقل أعوذ برب الفلق وقل أعوذ برب الناس ثم مسح بهما ما استطاع من جسده يبدأ بهما رأسه ووجهه وما أقبل من جسده، يصنع ذلك ثلاث مرات
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا أوى إلى فراشه قال: الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وكفانا وآوانا. فكم ممن لا كافي له ولا مؤوي
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا عرّس بليل اضطجع على شقه الأيمن، وإذا عرّس «6» قبيل الصّبح نصب ذراعه ووضع رأسه على كفه
