Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPendidikan & SDMKamis, 10 September 2026

Kultum — "Satu Jam yang Tidak Ikut Diliburkan"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati — pekan ketika sebaran abu vulkanik membuat sekolah-sekolah dipindahkan ke rumah dan sebagian diliburkan — ada satu pesan pendek yang ingin saya bagikan malam ini. Bukan tentang abunya. Tentang jam-jam yang ikut terbawa hilang bersamanya.

Saya mulai dengan satu pertanyaan. Siapa di sini yang pekan ini punya anak, keponakan, atau tetangga yang sekolahnya diliburkan? Dan siapa yang jujur mengakui bahwa jam sekolah yang hilang itu tidak diganti dengan apa pun — melainkan berpindah ke layar?

Saudara-saudara sekalian, mari kita dengarkan satu nasihat dari kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / الثالث. Imam Hasyim Asy'ari rahimahullah menulis:

أن يبادر شبابه وأوقات عمره إلى التحصيل ولا يغتر بخدع التسويف والتأميل؛ فإن كل ساعة تمضي من عمره لا بدَلَ لها ولا عوض عنها

"Hendaknya ia bersegera dengan masa mudanya dan waktu-waktu umurnya untuk menghasilkan ilmu, dan tidak terpedaya oleh tipuan penundaan dan angan-angan; sebab setiap jam yang lewat dari umurnya — tidak ada gantinya dan tidak ada penebusnya."

Perhatikan kalimat terakhirnya. Bukan "sulit diganti". Bukan "sayang kalau hilang". Tidak ada gantinya. Dan beliau menyebut penyebab kehilangan itu dengan satu perumpamaan yang membuat kita duduk lebih tegak:

فإنها كقواطع الطريق

"sebab semua itu seperti perampok jalan."

Jamaah, perampok jalan punya tiga sifat. Ia tidak memberi tahu kedatangannya. Ia mengambil sesuatu yang tidak bisa dikejar lagi. Dan ia biasanya menyerang di tempat yang kita anggap aman. Ketiga sifat itu ada pada apa yang terjadi di rumah-rumah kita pekan ini.

Kita menyangka perampoknya adalah abu vulkanik. Bukan. Abu hanya menutup pintu sekolah — ia tidak menutup pintu belajar. Yang benar-benar merampok jam anak kita adalah apa yang kita biarkan mengisi jam itu setelah pintunya tertutup. Sekolah libur satu hari; layar menyala delapan jam. Dan yang paling terasa: tidak ada yang merasa kehilangan apa-apa, karena semua orang punya alasan yang sah. Memang sedang libur, kan. Memang udaranya sedang buruk, kan.

Di situlah tipuan yang disebut kitab itu bekerja. Penundaan tidak pernah datang sebagai kemalasan; ia selalu datang sebagai alasan yang wajar.

Pekan ini kita juga mendengar kabar lain. Seorang pelajar bercerita bahwa ia membayar mahal untuk sebuah program bimbel bahasa yang kemudian dibubarkan sebelum selesai. Saya tidak ingin membahas siapa yang salah malam ini. Saya ingin kita melihat apa yang paling mahal dari kejadian itu. Bukan uangnya, jamaah. Yang paling mahal adalah bulan-bulan yang sudah ia sisihkan untuk program itu. Uang bisa dicari lagi. Bulan-bulan itu tidak.

Dan kabar yang paling berat pekan ini, kita semua sudah dengar: kabar keracunan pada program makan bergizi gratis yang menyentuh anak-anak, termasuk seorang orang tua yang bertanya racun apa yang ada di ikan yang dimakan anaknya sampai ginjal anaknya bermasalah. Malam ini kita doakan anak itu dan keluarganya. Dan kita catat satu hal: ketika sesuatu terjadi pada anak, yang paling banyak hilang bukan uang, bukan program — melainkan waktu tumbuhnya.

Dan di sini ada sesuatu tentang diri kita yang layak direnungkan, saudara-saudara. Kita jauh lebih peka terhadap kehilangan uang daripada kehilangan waktu. Kalau dompet kita hilang seratus ribu, kita ingat sampai seminggu. Kalau satu hari penuh berlalu tanpa satu pun hal yang bertambah di kepala anak kita, kita hampir tidak merasakannya. Padahal uang bisa dicari, dan hari itu tidak. Kitab yang tadi kita baca seperti sedang menyadarkan kelemahan bawaan ini: yang paling mahal justru yang paling tidak terasa saat ia hilang.

Jamaah yang saya hormati, kalau semua ini bermuara pada waktu, maka pertanyaan yang paling berguna malam ini adalah: siapa yang menjaga jam-jam itu?

Bukan sekolah. Sekolah menjaga jam sekolah. Ketika sekolah tutup, penjaganya harus ada di rumah.

Dan menjaga bukan berarti mengawasi dari kejauhan. Ada satu nasihat halus dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / السابع yang sangat pas di sini. Imam Hasyim Asy'ari rahimahullah menyebutkan:

لا ينبغي للشيخ أن يقول للطالب هل فهمت إلا إذا أمن من قوله نعم قبل أن يفهم

"Tidak sepatutnya seorang guru berkata kepada muridnya 'apakah kamu paham?' kecuali bila ia aman dari murid mengatakan 'iya' sebelum ia benar-benar paham."

Subhanallah, jamaah. Kitab yang ditulis jauh sebelum ada belajar daring ini seperti sedang berbicara tentang belajar daring. Karena apa yang paling sering terjadi ketika anak belajar lewat layar? Guru bertanya "sudah paham?" — dan sederet anak menjawab "sudah". Bukan karena mereka berbohong. Kitab ini menjelaskan sebabnya dengan sangat manusiawi: kadang murid malu mengatakan "saya belum paham" — malu di depan yang hadir, atau tidak ingin membuat gurunya mengulang, atau khawatir menahan yang lain.

Maka nasihat kitab itu bukan "jangan percaya anak". Nasihatnya: ganti pertanyaannya. Jangan tanya apakah ia paham; berikan satu soal kecil, lalu dengarkan jawabannya. Dan kalau ternyata belum paham — kitab itu berpesan agar guru bersikap lemah lembut dalam mengulanginya.

Saudara-saudara, itu pekerjaan yang sangat kecil dan sangat mungkin. Kita tidak diminta mengambil alih kurikulum. Kita diminta mengambil alih satu hal saja: memastikan.

Maka malam ini saya mengajak kita pada tiga hal yang bisa dikerjakan dalam dua puluh empat jam ke depan.

Pertama, tetapkan satu jam di rumah yang tidak ikut diliburkan oleh keadaan apa pun. Satu jam, jam yang sama setiap hari. Ketika sekolah libur karena udara, jam itu tetap jalan.

Kedua, ganti pertanyaan "sudah paham?" dengan satu soal. Malam ini juga. Minta anak menjelaskan kembali satu hal yang ia pelajari hari ini, dengan bahasanya sendiri. Kalau berantakan, jangan marah — ulangi dengan lembut. Itu perintah kitabnya, bukan saran saya.

Ketiga, kalau kita sedang berencana membayar sebuah program pendidikan, tunda satu hari, lalu tanyakan tiga hal: siapa yang bertanggung jawab, berapa lama, dan bagaimana kalau berhenti di tengah jalan. Satu hari menunda untuk bertanya jauh lebih murah daripada berbulan-bulan menyesal.

Jamaah yang saya hormati, mari kita tutup. Kita tidak bisa menyuruh angin berhenti membawa abu, dan kita tidak bisa memaksa sebuah program berjalan sesuai janjinya. Tetapi kita bisa menjaga satu jam. Dan seorang anak yang tahu bahwa di rumahnya ada satu jam yang tidak pernah dibatalkan oleh keadaan — anak itu sedang belajar sesuatu yang lebih besar daripada isi jam itu sendiri.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَبْنَائِنَا وَبَنَاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ عَيْنٍ لَنَا.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَوْقَاتِنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَعَمَلًا.

اَللّٰهُمَّ اشْفِ كُلَّ طِفْلٍ مَرِيْضٍ، وَاجْبُرْ قُلُوْبَ آبَائِهِمْ وَأُمَّهَاتِهِمْ، وَاصْرِفْ عَنَّا كُلَّ ضَرَرٍ فِيْ هَوَائِنَا وَطَعَامِنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan