Banyak keluhan rumah tangga pekan ini berputar berbulan-bulan tanpa pernah benar-benar didengar sampai selesai. Empat belas abad lalu, di Madinah, ada satu peristiwa yang menjawab persoalan itu tanpa sepatah pun teori. Imam at-Tirmidzi rahimahullah merekamnya dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم, bab yang menghimpun riwayat-riwayat tentang kerendahan hati Rasulullah ﷺ. Ceritanya sangat pendek. Pelakunya seorang perempuan yang namanya nyaris hilang dari catatan.
Siang di Madinah. Debu jalan naik setiap kali ada unta lewat. Di salah satu ruas jalan itu, Rasulullah ﷺ sedang berada di tengah orang-orang.
Seorang perempuan berjalan mendekat. Ia dari kalangan Anshar. Dalam satu riwayat, ada seorang anak kecil di sisinya. Dalam catatan pinggir sebagian naskah asy-Syifa disebutkan namanya Ummu Zufar, perempuan yang dahulu menata rambut Khadijah radhiyallahu 'anha.
Nama para perawinya tercatat rapi berlapis-lapis: Ali bin Hujr, Suwaid bin Abdul Aziz, Humaid, sampai Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Nama perempuan itu sendiri hanya tersimpan sebagai catatan pinggir. Ia bukan tokoh. Ia hanya seseorang yang punya keperluan.
Ia berhenti di depan beliau. Ia tidak langsung menyampaikan urusannya. Ia hanya mengatakan bahwa ia punya keperluan.
فقالت له: إنّ لي اليك حاجة. فقال: اجلسي في أيّ طريق المدينة شئت أجلس «5» إليك
Ia berkata kepada beliau, "Sesungguhnya aku punya satu keperluan kepadamu." Beliau menjawab, "Duduklah di jalan Madinah mana pun yang engkau kehendaki, aku akan duduk menemanimu."
Perhatikan apa yang tidak terjadi di sana. Beliau tidak bertanya "keperluan apa?" di depan orang banyak. Beliau tidak meminta perempuan itu datang lain hari. Beliau tidak menyuruhnya menunggu sampai urusan yang lebih besar selesai. Beliau juga tidak menyerahkannya kepada orang lain.
Yang beliau lakukan justru sebaliknya. Beliau menyerahkan pilihan tempat kepada perempuan itu. Jalan mana pun. Terserah dia. Dan beliau yang akan menyesuaikan diri, bukan sebaliknya.
Dalam riwayat Imam Muslim ada tambahan yang membuat peristiwa ini terasa makin dekat: beliau menyingkir bersama perempuan itu di salah satu jalan, sampai perempuan itu selesai dengan keperluannya. Tujuan menjauh dari kerumunan itu satu — agar tidak ada seorang pun yang mendengar keluhannya selain beliau ﷺ.
Perempuan itu datang membawa sesuatu yang berat. Cukup berat sampai ia perlu menemui pemimpin kotanya sendiri. Dan sampai hari ini, tidak seorang pun tahu apa isi keluhannya. Bukan karena catatannya hilang, tetapi karena memang tidak pernah dibocorkan.
Dan tempatnya pun bukan tempat istimewa. Bukan masjid, bukan ruang tertutup, bukan majelis yang disiapkan. Hanya jalan Madinah yang berdebu, tempat orang lalu-lalang setiap hari. Di jalan seperti itulah satu keluhan diselesaikan sampai tuntas.
Bab tempat riwayat ini berada adalah bab tentang kerendahan hati. Dan kerendahan hati yang dicatat di sini bukan berupa pidato, bukan berupa pakaian sederhana, bukan pula berupa penolakan terhadap pujian. Bentuknya cuma satu: menyediakan waktu, di tempat yang dipilih orang yang membutuhkan, tanpa penonton.
Riwayat ini juga dikeluarkan al-Bukhari dan Muslim.
Pelajaran
Yang membuat kisah ini terasa besar justru karena isinya kecil sekali: seseorang meminta waktu, dan waktu itu diberikan. Tetapi cara memberikannya yang membedakan. Perempuan itu diberi hak menentukan tempat, dan kerumunan dijauhkan supaya keluhannya tidak menjadi milik orang banyak. Dua hal itu — bersedia duduk, dan menjaga agar tidak ada yang ikut mendengar — persis yang paling sering hilang hari ini. Banyak orang bersedia mendengar, tetapi sambil merekam. Banyak yang siap menolong, tetapi ingin ceritanya diketahui. Padahal bagi orang yang sedang terluka, dijaga rahasianya sering lebih menyembuhkan daripada dibela ramai-ramai. Ketika ada tetangga, saudara, atau istri yang berkata "saya mau bicara sebentar", jawaban yang paling menyerupai teladan ini sederhana: duduk, matikan layar, dan pastikan tidak ada telinga ketiga.
Sumber Asli
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم
314- حدثنا عليّ بن حجر. حدثنا سويد بن عبد العزيز «3» عن حميد عن أنس بن مالك رضي الله عنه: «أن امرأة «4» جاءت الى النبيّ صلى الله عليه وسلم فقالت له: إنّ لي اليك حاجة. فقال: اجلسي في أيّ طريق المدينة شئت أجلس «5» إليك» «6».
(4) من الأنصار كما في البخاري وفي رواية ومعها صبي لها. وفي بعض حواشي الشفاء ان اسمها أم زفر ماشطة خديجة. (5) في رواية مسلم زيادة «فخلا معها في بعض الطريق حتى فرغت من حاجتها، والغرض من البعد حتى لا يسمع بشكواها أحد غيره صلى الله عليه وسلم.
