بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ سَكَنًا، وَجَعَلَ بَيْنَ النَّاسِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ خَيْرُ مَنْ رَحِمَ الْأَطْفَالَ وَأَحْسَنَ إِلَى أَهْلِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, hampir semua percakapan tentang keluarga bermuara pada satu kata: sanggup. Sanggup membiayai atau tidak. Sanggup mengasuh atau tidak. Sanggup bertahan atau tidak. Perdebatan tentang memilih tidak punya anak menyala lagi, dan dua kubu sama-sama bersemangat. Malam ini saya tidak akan memihak salah satunya. Saya hanya ingin mengajak kita menengok satu hal yang jarang disebut di tengah perdebatan itu — bahwa rasa takut tidak sanggup ini bukan barang baru. Ia jauh lebih tua dari kita semua, dan Al-Qur'an sudah menyebutnya sejak lama.
Saudara-saudara sekalian, coba jujur sebentar. Siapa di sini yang pekan ini pernah membuka aplikasi belanja, melihat harga kebutuhan anak, lalu diam-diam menghitung ulang di kepala? Saya termasuk. Dan justru dari perasaan itulah saya ingin memulai. Allah berfirman dalam QS. Al-Israa: 31:
وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَوْلَٰدَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَٰقٍۢ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْـًۭٔا كَبِيرًۭا
"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar."
Saya ingin kita berhati-hati membaca ayat ini, jamaah. Ayat ini berbicara tentang satu perbuatan yang sangat spesifik dan sangat kejam, yang memang terjadi pada masyarakat waktu itu. Ayat ini tidak sedang berbicara tentang pasangan yang menunda punya anak karena sedang berobat, atau karena baru saja kehilangan pekerjaan. Jangan sampai kita meminjam ayat ini untuk menghakimi tetangga kita. Yang ingin saya ambil dari ayat ini adalah satu kalimat di tengahnya, yang sebenarnya sedang membedah isi kepala manusia: "karena takut kemiskinan".
Perhatikan, Allah tidak menyebut perbuatannya saja. Allah menyebut penyebabnya. Dan penyebabnya adalah rasa takut. Bukan kemiskinan itu sendiri — melainkan takut miskin. Dua hal yang sangat berbeda. Banyak orang yang benar-benar miskin tetapi tetap tenang, dan banyak orang yang berkecukupan tetapi hidupnya dikejar rasa takut kekurangan setiap hari. Rasa takut inilah yang oleh Al-Qur'an ditelanjangi, karena dari rasa takut itulah keputusan-keputusan besar lahir.
Lalu Allah menjawabnya bukan dengan menyuruh manusia nekat. Perhatikan susunan kalimatnya: Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Rezeki anak disebut lebih dahulu, baru rezeki orang tuanya. Seolah-olah Allah berkata: yang kamu takutkan itu bukan tanggunganmu sendirian. Beban penjaminannya bukan di pundakmu. Tugasmu adalah berusaha dan menjaga; yang menjamin adalah Aku.
Jamaah yang saya hormati, kalau kita bawa kalimat itu ke pekan ini, terasa sekali relevansinya. Pekan ini kita mendengar kabar tentang program makan bergizi di sekolah yang kembali diguncang persoalan, sampai ada orang tua yang bertanya di ruang publik tentang apa yang membuat tubuh anaknya bermasalah. Kita juga melihat gambar seorang ibu yang memeriksa kartu bantuannya berkali-kali dalam sehari dan mendapati saldonya tetap kosong. Kita mendengar jerat pinjaman daring dan judi daring yang menempel diam-diam pada rumah tangga. Semua kabar itu memberi makan pada satu rasa yang sama: takut tidak sanggup.
Dan begitulah cara rasa takut bekerja, saudara-saudara. Ia tidak pernah datang sendirian. Ia datang membawa hitungan. Ia berbisik: kalau begini terus, lebih baik jangan. Lebih baik jangan punya anak lagi. Lebih baik jangan menikah dulu. Lebih baik jangan menolong tetangga dulu, nanti kita sendiri yang kekurangan. Rasa takut selalu terdengar masuk akal, dan itulah yang membuatnya berbahaya. Perdebatan yang ramai pekan ini sebenarnya adalah perdebatan tentang siapa yang paling pandai berhitung — padahal Al-Qur'an sedang menanyakan sesuatu yang lain: kepada siapa sebenarnya kita bersandar ketika hitungan itu tidak cukup?
Sekarang izinkan saya membawa satu hadits yang mengubah cara pandang saya sendiri tentang uang belanja rumah tangga. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dalam Sahih Muslim 995, Rasulullah ﷺ bersabda:
دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
"Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu — yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu."
Coba renungkan urutannya. Rasulullah ﷺ menyebut empat pengeluaran yang semuanya mulia. Berinfak di jalan Allah — mulia. Memerdekakan budak — sangat mulia. Bersedekah kepada orang miskin — mulia. Lalu yang terakhir, uang belanja untuk keluarga sendiri. Dan justru yang terakhir itulah yang disebut paling besar pahalanya. Padahal yang keempat ini yang paling tidak terasa seperti ibadah. Tidak ada kuitansinya, tidak ada foto serah-terimanya, tidak ada yang mengucapkan terima kasih di grup.
Di sinilah letak pembalikannya, jamaah. Kita sering merasa uang yang habis untuk susu anak, untuk seragam sekolah, untuk obat istri yang sedang sakit, adalah "pengeluaran biasa" — sementara yang kita anggap ibadah hanyalah yang masuk kotak amal. Hadits ini membalik hitungan itu. Belanja dapur yang paling sepi dari pujian ternyata timbangannya paling berat. Kalau begitu, rumah tangga bukan hanya beban ekonomi; ia adalah ladang pahala yang paling produktif yang pernah ditawarkan kepada kita, dan kebanyakan kita menjalaninya sambil mengeluh tanpa sadar sedang menabung.
Jadi apa yang sebenarnya sedang diperdebatkan pekan ini? Sebagian besar berdebat tentang biaya. Padahal pertanyaan yang lebih menentukan adalah: apakah rumah kita sudah menjadi tempat yang layak untuk menerima seseorang? Anak yang lahir di rumah yang berkecukupan tetapi setiap malam mendengar orang tuanya saling membentak tidak akan tumbuh lebih tenang daripada anak yang lahir di rumah sederhana yang penghuninya saling menjaga lisan. Kesiapan yang paling menentukan bukan kesiapan rekening, melainkan kesiapan perlakuan.
Dan ini berlaku juga untuk kita yang sudah berkeluarga bertahun-tahun. Pertanyaannya bukan lagi "siap atau tidak", melainkan "sudah membaik atau belum". Kadang kita lebih hafal harga cabai daripada isi hati anak sendiri — dan itu bukan lelucon, itu keadaan kita yang sebenarnya di banyak malam. Rasa takut tidak sanggup itu wajar dan manusiawi. Yang tidak boleh adalah membiarkan rasa takut itu memimpin seluruh keputusan kita, sampai kita lupa bahwa yang menjamin bukan kita.
Maka malam ini, sebelum pulang, saya mengajak kita mengerjakan tiga hal kecil dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, sebutkan dalam hati satu rezeki yang datang bulan ini padahal tidak pernah kita hitung sebelumnya — itu bukti bahwa penjaminan itu nyata. Kedua, ubah cara kita memandang belanja rumah tangga: niatkan sebagai nafkah yang berpahala, mulai dari belanja besok pagi. Ketiga, tanyakan satu pertanyaan kepada orang di rumah dan dengarkan jawabannya sampai selesai tanpa memotong — "hari ini yang paling berat apa?"
Jamaah yang saya hormati, mari kita tutup. Rasa takut tidak sanggup itu tua sekali, dan Al-Qur'an sudah menjawabnya jauh sebelum kita lahir. Jawabannya bukan "jangan khawatir, semua akan baik-baik saja", melainkan "yang menanggung bukan kamu sendirian". Tugas kita hanya dua: berusaha dengan jujur, dan memperbaiki cara kita memperlakukan orang-orang di rumah. Sisanya sudah ada yang menjamin.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَزْوَاجِنَا وَأَوْلَادِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا سَكَنًا وَأَمْنًا، وَاصْرِفْ عَنَّا الْخَوْفَ الَّذِيْ يُفْسِدُ التَّوَكُّلَ، وَالطَّمَعَ الَّذِيْ يُفْسِدُ الرِّضَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
