Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita mulai khutbah pekan ini dari sebuah sumpah yang pendek di dalam Al-Qur'an, yang barangkali jarang kita berhenti padanya:
QS. Al-Haaqqa: 39
وَمَا لَا تُبْصِرُونَ
"Dan dengan apa yang tidak kamu lihat."
Ayat ini menjadikan sesuatu yang tidak tertangkap mata sebagai hal yang layak dijadikan sandaran sumpah oleh Allah. Bagi kita yang hidup di tahun 2026, kalimat sependek itu menyentuh sesuatu yang sangat praktis. Sebagian besar keputusan kita hari ini diambil di depan layar. Dan layar, betapapun terangnya, hanya menampilkan apa yang dipilihkan untuk kita lihat. Yang tidak ditampilkan tetap ada. Yang tidak ditampilkan sering kali justru yang paling menentukan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Pekan ini, kabar yang sampai kepada kita dari ruang teknologi sebenarnya tidak banyak. Kelompok percakapan ini adalah yang paling sepi. Tetapi yang sedikit itu justru menyimpan dua hal yang sangat layak dibawa ke mimbar.
Yang pertama, ramai diperbincangkan sebuah pertanyaan: apakah negeri kita akan menjadi pabrik kecerdasan buatan bagi dunia. Perhatikan bahwa itu sebuah pertanyaan, bukan sebuah pengumuman. Tidak ada yang mengumumkan bahwa hal itu sudah terjadi. Yang ada adalah orang-orang yang bertanya, dan sebagian besar dari kita ikut menonton pertanyaan itu tanpa punya alat untuk menjawabnya.
Yang kedua, kabar yang sampai kepada kita tentang harga masker yang melonjak ketika barang menjadi langka — dan tentang para pembeli yang kemudian saling memberi tahu, saling menahan diri, dan menolak membeli dengan harga yang dinaikkan sepihak. Di sekitar kabar itu beredar pula ulasan pasar yang justru mengajak orang tidak panik menghadapi kemungkinan koreksi, dan satu tayangan tentang toko yang tampak sepi tetapi ternyata ramai penjualannya.
Kalau kita perhatikan dengan tenang, dua kabar ini bertemu di satu tempat. Keduanya adalah kabar tentang orang yang harus mengambil sikap terhadap informasi yang bukan ia yang membuatnya. Kita tidak merancang kecerdasan buatan itu. Kita tidak menghitung sendiri stok masker di gudang mana pun. Kita menerima kabar, dan kabar itu datang bersama tekanan untuk segera bersikap.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Di sinilah kita perlu jujur pada diri sendiri sebelum melangkah lebih jauh. Tidak ada satu pun kitab warisan ulama kita yang membahas kecerdasan buatan. Tidak ada bab tentangnya di kitab hadits, tidak ada pasal tentangnya di kitab fiqih klasik. Siapa pun yang mengaku menemukan hukum spesifik tentang mesin ini di dalam kitab-kitab itu, sesungguhnya sedang memaksakan sesuatu yang tidak ada. Khutbah ini tidak akan melakukan itu, dan tidak akan menjatuhkan vonis halal-haram atas sebuah teknologi.
Tetapi ada yang jauh lebih berharga daripada satu vonis. Yang diwariskan ulama kita kepada kita bukan daftar hukum tentang alat, melainkan adab tentang ilmu: bagaimana sebuah klaim diperiksa sebelum dipercaya, bagaimana sumber sebuah teks dipastikan sebelum diamalkan, dan bagaimana seorang manusia belajar mengatakan bahwa ia tidak tahu. Adab itu tidak pernah kedaluwarsa. Justru di zaman mesin yang selalu punya jawaban, adab itu menjadi semakin mahal.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Marilah kita ambil satu warisan itu, dan kita bawa perlahan. Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy'ari rahimahullah, dalam kitab beliau tentang adab orang berilmu dan orang yang menuntut ilmu, menulis satu pasal yang seolah-olah ditulis untuk pekan ini:
Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / التاسع
أن يلازم الإنصاف في بحثه وخطابه ويسمع السؤال من مورده على وجهه وإن كان صغيرًا ولا يترفع على سماعه فيحرم الفائدة.
"Hendaklah ia senantiasa berlaku inshaf — jujur dan adil — dalam pembahasan dan pembicaraannya; hendaklah ia mendengarkan pertanyaan dari penanyanya sebagaimana pertanyaan itu diajukan, sekalipun penanyanya orang kecil; dan janganlah ia merasa tinggi untuk mendengarkannya, sehingga ia menghalangi datangnya faedah."
Perhatikan urutan yang disusun beliau, hadirin. Yang pertama disebut bukan kemampuan menjawab, melainkan kemampuan mendengar. Dan bukan sekadar mendengar, melainkan mendengar pertanyaan sebagaimana pertanyaan itu diajukan — bukan sebagaimana kita ingin memahaminya, bukan versi yang sudah kita potong agar cocok dengan jawaban yang sudah kita siapkan.
Lalu disebut satu peringatan yang tajam: jangan merasa tinggi untuk mendengarkan, sekalipun yang bertanya adalah orang kecil. Kata "kecil" di sini bisa berarti muda usianya, bisa berarti sedikit ilmunya, bisa berarti rendah kedudukannya. Dan alasannya disebut dengan sangat pragmatis: kalau kita merasa tinggi untuk mendengar, yang rugi bukan si penanya — yang rugi adalah kita sendiri, karena kita menghalangi faedah masuk ke dalam diri kita.
Hadirin, mari kita jujur. Di ruang percakapan kita hari ini, orang yang bertanya sering diperlakukan sebagai orang yang kalah. Bertanya dianggap tanda tidak tahu, dan tidak tahu dianggap aib. Maka orang berlomba tampil sebagai pihak yang sudah tahu. Dan begitu semua orang berlomba tampil sudah tahu, tidak ada lagi yang benar-benar belajar.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Pasal yang sama melanjutkan ke bagian yang paling perlu kita dengar pekan ini:
Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / التاسع
وإذا سئل عن ما لم يعلمه قال لا أعلمه، أو لا أدري؛ فمن العلم أن يقول لا أعلم، وعن بعضهم: لا أدري نصف العلم،
"Dan apabila ia ditanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui, hendaklah ia berkata: 'aku tidak mengetahuinya', atau 'aku tidak tahu'. Sebab termasuk bagian dari ilmu adalah mengatakan 'aku tidak tahu'. Sebagian ulama salaf berkata: 'aku tidak tahu' adalah separuh ilmu."
Kalimat itu perlu kita ulang pelan-pelan di dalam hati: termasuk bagian dari ilmu adalah mengatakan aku tidak tahu. Bukan lawan dari ilmu. Bukan kekurangan yang harus ditutupi. Bagian dari ilmu itu sendiri.
Dan kitab itu tidak berhenti pada teori. Ia membawa contoh dari seorang imam besar yang tidak perlu diragukan lagi keluasan ilmunya:
Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / التاسع
قال محمد بن عبد الحكم: سألت الشافعي رضي الله عنه عن المتعة أكان فيها طلاق أو ميراث أو نفقة تجب أو شهادة؟ فقال: والله ما ندري.
"Muhammad bin 'Abdul Hakam berkata: aku bertanya kepada Imam asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu tentang mut'ah — apakah di dalamnya berlaku talak, atau warisan, atau nafkah yang wajib, atau persaksian? Maka beliau menjawab: demi Allah, kami tidak tahu."
Hadirin, dengarkan siapa yang mengucapkannya. Seorang imam mazhab. Seorang yang ribuan halaman fiqih disusun di atas ijtihadnya. Dan ketika sebuah pertanyaan datang di luar batas yang beliau ketahui dengan pasti, jawaban beliau bukan perkiraan yang dibungkus rapi, melainkan empat patah kata: demi Allah, kami tidak tahu.
Kemudian penulis kitab menutup pasal itu dengan penegasan yang sangat menghibur:
Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / التاسع
واعلم أن قول المسئول لا أدري لا يضع من قدره كما يظنه بعض الجهلة، بل يرفعه لأنه دليل عظيم على عظم محله وقوة دينه وتقوى ربه
"Dan ketahuilah bahwa ucapan orang yang ditanya, 'aku tidak tahu', tidaklah menurunkan derajatnya sebagaimana disangka oleh sebagian orang bodoh — bahkan ia mengangkatnya, karena ia adalah bukti yang besar atas agungnya kedudukannya, kuatnya agamanya, dan takwanya kepada Rabb-nya."
Hadirin yang dirahmati Allah,
Sekarang mari kita bawa kalimat itu ke depan layar kita masing-masing. Ada satu sifat yang dimiliki hampir semua alat penjawab otomatis yang kita pakai hari ini, dan sifat itu jarang kita sadari: alat itu hampir tidak pernah mengatakan bahwa ia tidak tahu. Ia hampir selalu menghasilkan jawaban. Jawaban itu tersusun rapi, percaya diri, dan enak dibaca — dan bentuk yang rapi itulah yang membuat kita cenderung mempercayainya.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa alat itu jahat. Alat tetaplah alat. Yang ingin saya ajak renungkan adalah ini: kalau kita setiap hari berinteraksi dengan sesuatu yang tidak pernah berkata "saya tidak tahu", pelan-pelan kita bisa lupa bahwa kalimat itu ada, dan bahwa kalimat itu justru tanda kematangan. Kita bisa mulai merasa bahwa tidak punya jawaban adalah keadaan yang memalukan. Padahal para imam kita mewariskan yang sebaliknya.
Maka bila pekan ini ada di antara kita yang ditanya sesuatu tentang teknologi, tentang ekonomi, tentang kabar yang beredar, dan kita tidak benar-benar tahu — ada satu jawaban yang selamat, dan jawaban itu sudah diajarkan sejak berabad lalu.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada satu lagi warisan yang perlu kita bawa ke mimbar pekan ini, dan warisan ini bentuknya agak tidak biasa. Bukan hadits, bukan ayat — melainkan cara kerja para ulama kita ketika mereka ingin memastikan bahwa sebuah kitab benar-benar berasal dari orang yang namanya tertulis di sampulnya.
Ketika kita membuka Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah, sebelum kita sampai pada hadits pertama tentang sifat Nabi ﷺ, kita disuguhi lebih dahulu sesuatu yang lain: kesaksian para ulama tentang penyusunnya. Bukan pujian yang dikarang penerbit, melainkan kutipan bernama, dari orang-orang yang bisa dilacak, tentang seorang penyusun yang bisa diperiksa.
Dalil: Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — ترجمة: الامام الترمذى / شهادة العلماء فيه وفي كتبه:
محمد بن عيسى بن سورة الترمذي الحافظ الضرير، أحد الأئمة الذين يقتدى بهم في علم الحديث. صنف كتاب الجامع والتواريخ والعلل، تصنيف رجل عالم متقن، كان يضرب به المثل في الحفظ.
"Muhammad bin 'Isa bin Saurah at-Tirmidzi, seorang hafizh yang tunanetra, salah seorang imam yang diikuti dalam ilmu hadits. Ia menyusun kitab al-Jami', at-Tawarikh, dan al-'Ilal — susunan seorang alim yang teliti; dan ia dijadikan perumpamaan dalam hal kekuatan hafalan."
Dan kesaksian itu tidak hanya satu. Ia berlapis, dari ulama yang berbeda zaman dan berbeda kitab:
Dalil: Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — ترجمة: الامام الترمذى / شهادة العلماء فيه وفي كتبه:
ووصفه المزي في التهذيب بأنه «الحافظ صاحب الجامع وغيره من المصنفات، أحد الائمة الحفاظ المبرزين، وممن نفع الله به المسلمين»
"Al-Mizzi menyifatinya di dalam at-Tahdzib sebagai: 'seorang hafizh, penyusun al-Jami' dan karya-karya lainnya; salah seorang imam huffazh yang menonjol; dan termasuk orang yang dengannya Allah memberi manfaat kepada kaum muslimin.'"
Hadirin, mari kita perhatikan apa yang sebenarnya sedang dikerjakan di halaman-halaman itu. Sebelum satu kalimat pun dari isi kitab dibaca dan diamalkan, terlebih dahulu dipastikan: siapa yang menulisnya, apakah orang itu dikenal, apakah hafalannya kuat, apakah ada ulama lain yang menilainya, dan apakah kitab yang ada di tangan kita ini benar-benar kitab yang ia susun. Itulah yang disebut sanad. Dan itu bukan formalitas — itu adalah sistem pemeriksaan asal-usul yang dibangun umat ini selama berabad-abad, jauh sebelum ada istilah verifikasi.
Sekarang bandingkan dengan keadaan kita pekan ini. Hari ini sebuah tulisan bisa dibuat tanpa penulis. Sebuah gambar bisa dibuat tanpa juru foto. Sebuah suara bisa dibuat tanpa pemiliknya pernah mengucapkannya. Pertanyaan "ini sebenarnya dari siapa" — pertanyaan yang oleh sebagian orang dianggap pertanyaan kuno — mendadak menjadi pertanyaan paling modern yang bisa diajukan seseorang.
Dan umat ini sudah punya jawabannya sejak dulu. Bukan jawaban berupa alat, melainkan jawaban berupa kebiasaan: jangan amalkan sebelum tahu dari siapa; jangan sebarkan sebelum tahu siapa yang pertama mengatakannya; jangan pertaruhkan agama, harta, atau nama baik orang lain di atas kalimat yang tidak jelas asalnya.
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Ada satu sisi lagi, dan ini menyangkut akhlak kita di ruang yang dilihat banyak orang. Imam at-Tirmidzi rahimahullah menghimpun kesaksian para sahabat tentang sifat malu Rasulullah ﷺ:
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 48- باب ما جاء في حياء رسول الله صلى الله عليه وسلم
«كان صلى الله عليه وسلم أشدّ حياء من العذراء في خدرها
"Beliau ﷺ lebih pemalu daripada seorang gadis perawan dalam pingitannya."
Dan dalam riwayat yang sama disebutkan bahwa apabila beliau ﷺ tidak menyukai sesuatu, para sahabat mengenalinya dari raut wajah beliau.
Perhatikan dua hal ini, hadirin. Yang pertama, haya' — rasa malu — bukan tanda kelemahan. Ia ada pada diri manusia terbaik yang pernah berjalan di muka bumi. Yang kedua, ketidaksukaan beliau ﷺ dikenali dari wajah, bukan dari kalimat keras yang beliau lontarkan. Ada jarak yang beliau jaga antara apa yang beliau rasakan dan apa yang beliau ucapkan.
Kita hidup di ruang yang bekerja dengan cara sebaliknya. Ruang percakapan digital memberi hadiah kepada orang yang paling cepat bereaksi, paling keras nadanya, dan paling sedikit menahan diri. Rasa malu di ruang itu dianggap kelambanan. Padahal justru rasa malu itulah yang menahan seseorang dari meneruskan kabar yang belum ia periksa, dari menghakimi orang yang belum ia dengar penjelasannya, dan dari berbicara tentang perkara yang tidak ia kuasai.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Izinkan saya kembali sejenak ke pertanyaan pertama pekan ini — pertanyaan tentang negeri kita dan pabrik kecerdasan buatan itu. Saya ingin kita membacanya tanpa dua sikap yang sama-sama tidak sehat.
Sikap pertama adalah menolak semuanya sejak awal, menganggap setiap hal baru sebagai ancaman, lalu menutup diri. Sikap ini terasa aman, tetapi ia meninggalkan anak-anak kita tanpa bekal menghadapi dunia yang tetap akan datang kepada mereka, dengan atau tanpa izin kita.
Sikap kedua adalah sebaliknya: menyambut segalanya tanpa satu pun pertanyaan, karena takut dianggap ketinggalan. Sikap ini terasa maju, tetapi ia menyerahkan keputusan-keputusan penting kepada pihak yang tidak pernah kita temui, tanpa kita sempat menimbang apa yang kita berikan sebagai gantinya.
Tidak ada yang rendah dari pekerjaan halal yang dikerjakan dengan baik, hadirin. Menjadi tempat sesuatu dibuat bukan aib. Yang perlu kita jaga adalah agar posisi itu tidak perlahan berubah menjadi ketergantungan yang membuat kita kehilangan suara atas perkara yang menyangkut hidup kita sendiri — tanah kita, air kita, tenaga anak-anak kita, dan waktu kita. Dan menjaga hal seperti itu tidak dimulai dari kebijakan besar. Ia dimulai dari kebiasaan kecil: kebiasaan bertanya sebelum menyetujui, kebiasaan membaca sebelum menandatangani, kebiasaan menimbang sebelum ikut.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada satu pintu terakhir yang ingin saya bukakan, dan pintu ini adalah pintu yang paling dalam. Imam Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah membuka bagian tentang ketaatan dalam kitabnya Bidayatul Hidayah dengan kalimat yang menembus:
Bidayatul Hidayah — توطئة
فاعلم أن الله تعالى مطلع على ضميرك، ومشرف على ظاهرك وباطنك، ومحيط بجميع لحظاتك، وخطراتك، وخطواتك، وسائر سكناتك وحركاتك؛ وأنك في مخالطتك وخلواتك متردد بين يديه؛ فلا يسكن في الملك والملكوت ساكن، ولا يتحرك متحرك، إلا وجبار السموات والأرض مطلع عليه، يعلم خائنة الأعين وما تخفي الصدور، ويعلم السر وأخفى؛
"Maka ketahuilah bahwa Allah Ta'ala mengetahui isi hatimu, mengawasi lahir dan batinmu, meliputi seluruh detik-detikmu, lintasan pikiranmu, langkah-langkahmu, serta seluruh diam dan gerakmu; dan bahwa engkau — dalam pergaulanmu maupun dalam kesendirianmu — senantiasa berbolak-balik di hadapan-Nya. Maka tidak ada satu pun yang diam di kerajaan langit dan bumi, dan tidak ada satu pun yang bergerak, kecuali Penguasa langit dan bumi mengetahuinya. Dia mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan dada, dan Dia mengetahui yang rahasia dan yang lebih tersembunyi darinya."
Hadirin, ada satu ungkapan di dalam kalimat itu yang layak kita bawa pulang: pengkhianatan mata. Ungkapan yang sangat halus untuk sesuatu yang sangat kita kenal — pandangan yang sekilas, yang cepat, yang tidak ada seorang pun di ruangan ini yang melihatnya, tetapi yang kita sendiri tahu maksudnya apa.
Layar adalah ruang paling pribadi yang dimiliki manusia hari ini. Tidak ada tempat lain di rumah kita yang begitu tertutup dari orang serumah. Dan justru karena itulah kalimat al-Ghazali menjadi begitu relevan: apa yang kita buka ketika tidak ada yang melihat adalah gambaran paling jujur tentang siapa kita sebenarnya. Bukan apa yang kita bagikan. Bukan apa yang kita komentari. Apa yang kita buka ketika sendirian.
Dan kalau kita sungguh meyakini bahwa tidak ada satu pun gerak di langit dan bumi yang luput dari pengetahuan Allah, maka pengawasan yang kita cari sebenarnya tidak pernah kurang. Yang kurang biasanya bukan pengawasan; yang kurang adalah kesadaran kita akan pengawasan itu.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Mari kita hubungkan semuanya kembali ke kabar kedua pekan ini — kabar tentang harga yang melonjak dan orang-orang yang menolak ikut berebut. Ada sesuatu yang sangat indah di sana, dan sering terlewat karena kabarnya terdengar sepele.
Ketika kelangkaan diumumkan, dorongan pertama manusia adalah menyelamatkan diri sendiri lebih dahulu. Itu wajar dan manusiawi. Tetapi pekan ini kita melihat sekelompok orang memilih jalan lain: mereka saling memberi tahu, saling menahan, dan menolak membayar harga yang dinaikkan sepihak. Mereka tidak menuntut siapa pun. Mereka hanya berhenti ikut.
Dan berhenti ikut, hadirin, adalah bentuk amal jama'i yang paling murah dan paling sering kita remehkan. Ia tidak butuh dana, tidak butuh izin, tidak butuh panitia. Ia hanya butuh satu hal: kesediaan menahan diri satu hari lebih lama daripada dorongan panik di dada kita. Kalau satu keluarga melakukannya, tidak ada yang berubah. Kalau satu kampung melakukannya, harga akan turun sendiri tanpa siapa pun perlu berteriak.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Maka apa yang bisa kita kerjakan pekan ini? Izinkan saya menyebut beberapa hal yang konkret, yang bisa kita mulai hari ini juga.
Pertama, biasakan kembali kalimat "saya tidak tahu". Mulai dari kita yang sering ditanya — para pengurus, para pengajar, para orang tua. Ketika ditanya sesuatu yang tidak kita kuasai, jawablah dengan jujur bahwa kita belum tahu, lalu tawarkan untuk mencarikannya. Ini bukan kekalahan; ini bukti bahwa yang kita sampaikan selama ini memang kita pertanggungjawabkan.
Kedua, tetapkan aturan sederhana untuk grup lingkungan kita. Kabar tentang harga, stok barang, kelangkaan, atau ancaman apa pun hanya diteruskan bila jelas siapa yang pertama mengatakannya. Kalau tidak jelas asalnya, hentikan di kita. Satu grup yang disiplin seperti ini bisa menyelamatkan banyak keluarga dari belanja panik yang tidak perlu.
Ketiga, tunda satu malam sebelum keputusan yang dipicu kabar mendadak. Baik itu memborong barang, memindahkan simpanan, maupun ikut menyebarkan peringatan. Satu malam cukup untuk memisahkan mana yang benar-benar mendesak dan mana yang hanya terasa mendesak karena disampaikan dengan nada mendesak.
Keempat, periksa isi kanal yang kita ikuti. Dalam sepekan, luangkan sepuluh menit untuk melihat daftar akun yang kita ikuti di satu aplikasi saja. Tanyakan pada diri sendiri: mana yang menambah ilmu, mana yang menambah kebaikan, dan mana yang hanya menghabiskan waktu tanpa meninggalkan apa pun.
Kelima, ajarkan pertanyaan "ini dari siapa" kepada anak-anak kita. Bukan sebagai sikap curiga, melainkan sebagai kebiasaan. Anak yang terbiasa bertanya dari mana sebuah kabar berasal akan tumbuh menjadi orang dewasa yang sulit ditipu.
Keenam, jangan tergesa memberi hukum atas sesuatu yang belum kita pahami. Termasuk teknologi baru. Memahami dahulu, menimbang kemudian. Tergesa memberi vonis atas sesuatu yang belum dipahami adalah bentuk lain dari berbicara tanpa ilmu.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Saya ingin menutup khutbah pertama ini dengan mengembalikan kita pada ayat yang tadi kita baca. Allah bersumpah dengan apa yang tidak terlihat oleh mata. Dan mungkin itulah pelajaran terbesar bagi kita yang hidup dikelilingi layar: hidup kita tidak pernah sepenuhnya termuat dalam apa yang tampak. Ada yang tidak kita lihat dan tetap nyata. Ada yang tidak kita ketahui dan tetap terjadi. Dan orang yang paling siap menghadapi kenyataan seperti itu bukanlah orang yang paling banyak jawabannya, melainkan orang yang paling jujur mengakui batas pengetahuannya, lalu bekerja dengan hati-hati di dalam batas itu.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَجَعَلَ الِاعْتِرَافَ بِالْجَهْلِ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ الْعِلْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Ada satu hal yang belum sempat saya sampaikan di khutbah pertama, dan saya ingin menaruhnya di sini karena ia menyangkut hati, bukan sekadar cara kerja. Ketika seseorang enggan berkata "saya tidak tahu", masalahnya jarang benar-benar soal ilmu. Masalahnya biasanya soal bagaimana ia ingin dilihat. Ia takut kehilangan wibawa. Ia takut dianggap tidak layak duduk di kursinya. Ia takut kalah dalam percakapan.
Dan justru di situlah kitab-kitab adab kita menaruh peringatannya. Ilmu yang dicari untuk mengungguli orang lain akan berbelok arah tanpa pemiliknya sadar. Yang semula dituju adalah kebenaran; yang kemudian dituju adalah kemenangan. Dua hal itu terlihat mirip dari luar, tetapi hasilnya sangat jauh berbeda. Orang yang mencari kebenaran akan senang ketika ia dikoreksi. Orang yang mencari kemenangan akan tersinggung ketika ia dikoreksi.
Kita perlu memeriksa ini pada diri sendiri, hadirin, karena ruang percakapan hari ini dirancang untuk memberi hadiah kepada pemenang, bukan kepada pencari kebenaran. Yang mendapat perhatian adalah yang paling tegas nadanya, bukan yang paling teliti pemeriksaannya. Yang tersebar luas adalah yang paling mengejutkan, bukan yang paling terverifikasi.
Sisi kedua yang perlu kita bawa pulang adalah soal ketenangan. Kabar yang membuat panik selalu punya satu ciri: ia meminta kita bertindak sekarang juga. Tidak ada waktu untuk memeriksa, katanya. Nanti kehabisan, katanya. Nanti terlambat, katanya. Padahal justru desakan itulah yang paling patut dicurigai. Pekan ini kita melihat contohnya dengan sangat jelas — ketika sebagian orang memilih menahan diri dan saling mengingatkan alih-alih ikut berebut, harga yang dinaikkan sepihak kehilangan tenaganya. Menahan diri ternyata bukan sikap pasif; ia adalah tindakan yang punya akibat nyata.
Sisi ketiga, dan ini yang paling perlu kita tanamkan pada anak-anak kita: bahwa jujur tentang batas diri adalah bentuk keberanian, bukan bentuk kelemahan. Anak yang tumbuh dengan keyakinan bahwa ia harus selalu punya jawaban akan menjadi orang dewasa yang mudah berbohong demi menyelamatkan mukanya. Anak yang terbiasa mendengar orang tuanya berkata "Ayah juga belum tahu, ayo kita cari sama-sama" akan tumbuh dengan hubungan yang sehat terhadap ilmu.
Dan sisi terakhir, hadirin: teknologi apa pun yang datang setelah ini — dan pasti akan datang — tidak akan mengubah satu hal mendasar. Manusia tetap akan ditanya tentang apa yang ia katakan, apa yang ia sebarkan, dan apa yang ia putuskan berdasarkan kabar yang ia terima. Alatnya berubah; pertanggungjawabannya tidak.
Marilah kita tutup dengan berdoa kepada Allah Ta'ala.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ أَنْ نَقُوْلَ عَلَيْكَ مَا لَا نَعْلَمُ، وَمِنْ أَنْ نَتَكَلَّمَ بِغَيْرِ عِلْمٍ، وَمِنْ أَنْ نَشْهَدَ بِمَا لَمْ نَتَحَقَّقْ مِنْهُ.
اَللّٰهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا، وَارْزُقْنَا التَّثَبُّتَ قَبْلَ الْقَوْلِ، وَالتَّبَيُّنَ قَبْلَ الْحُكْمِ، وَالْأَنَاةَ قَبْلَ الْعَمَلِ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنْ نَقْلِ مَا لَا نَعْرِفُ مَصْدَرَهُ، وَاحْفَظْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْعَجَلَةِ وَالْهَلَعِ، وَاحْفَظْ بُيُوْتَنَا مِنَ الْخَوْفِ الَّذِيْ لَا أَصْلَ لَهُ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ. اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ مُعِيْنًا وَنَصِيْرًا، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا وَعَنْ بِلَادِنَا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ رِزْقِنَا وَأَسْوَاقِنَا، وَارْزُقْ تُجَّارَنَا الصِّدْقَ وَالرَّحْمَةَ بِعِبَادِكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْ أَوْلَادَنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْهُمْ صَادِقِيْنَ فِيْ أَقْوَالِهِمْ، مُتَثَبِّتِيْنَ فِيْ أَخْبَارِهِمْ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
