Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumTeknologi & AIKamis, 10 September 2026

Kultum — "Tabiat Itu Pencuri yang Sabar"

Jamaah yang saya hormati, alhamdulillah wa syukrulillah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ.

Saya mau mulai dengan satu pertanyaan yang tidak perlu dijawab keras-keras. Cukup dijawab di dalam hati.

Kalau malam ini ada yang bertanya kepada kita, "sepekan kemarin kamu paling lama menatap apa?" — kira-kira jawabannya apa? Bukan pertanyaan tentang ibadah. Bukan pertanyaan tentang dosa. Cuma pertanyaan tentang durasi. Sepekan kemarin, mata kita paling lama tertuju ke mana?

Saya tanya begini karena pekan ini ada satu kabar kecil yang menarik. Ramai diperbincangkan orang yang saling memberi tahu di sebuah kanal agar tidak ikut membeli barang yang harganya dinaikkan sepihak saat barang itu langka. Yang menarik bagi saya bukan soal harganya. Yang menarik adalah tempatnya. Kabar yang bikin panik lahir di kanal itu. Dan yang menenangkan orang juga lahir di kanal yang sama.

Artinya apa, saudara-saudara sekalian? Artinya kanal itu netral. Yang tidak netral adalah kita di dalamnya. Dan yang menentukan kita jadi bagian yang mana, sebagian besar, adalah siapa yang paling sering kita dengar.

Nah, di sinilah saya mau membawakan satu kalimat dari kitab yang biasa dibaca di pesantren-pesantren kita. Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy'ari rahimahullah menulis dalam kitab beliau tentang adab penuntut ilmu:

Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / العاشر

فإن الطباع سراقة، وآفة العشرة ضياع العمر بغير فائدة وذهاب المال والعرض إن كان لغير أهل، وذهاب الدين إن كانت لغير أهله.

"Sebab tabiat itu pencuri. Dan bahaya pergaulan adalah hilangnya umur tanpa faedah, hilangnya harta dan kehormatan bila bukan pada ahlinya, serta hilangnya agama bila bukan pada ahlinya."

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Para jamaah, coba kita berhenti sebentar di tiga kata pertama itu. Tabiat itu pencuri.

Pencuri, bukan perampok. Bedanya besar. Perampok datang terang-terangan, kita tahu kita sedang dirampok, kita bisa melawan. Pencuri datang diam-diam. Kita baru sadar besok pagi, waktu barangnya sudah tidak ada.

Begitulah cara kebiasaan orang lain masuk ke dalam diri kita. Tidak ada yang mengumumkan. Tidak ada momen kita memutuskan, "oke, mulai hari ini saya mau jadi orang yang gampang panik." Tidak. Yang terjadi cuma satu: kita sering mendengar orang panik. Sebulan, dua bulan, setahun. Dan pelan-pelan cara mereka bereaksi jadi cara kita bereaksi.

Sama juga sebaliknya. Tidak ada yang memutuskan untuk jadi orang yang tenang. Yang ada cuma orang yang lama duduk dekat orang-orang tenang.

Saudara-saudara sekalian, dulu yang dimaksud "pergaulan" itu jelas bentuknya: siapa yang duduk di sebelah kita, siapa yang kita temui di pasar, siapa tetangga kita. Sekarang bentuknya berubah. Pergaulan kita yang paling intens justru dengan orang-orang yang belum pernah kita temui — yang suaranya masuk ke telinga kita setiap hari lewat benda kecil di saku kita.

Dan jumlah jamnya, kalau kita jujur, jauh lebih banyak daripada jam kita duduk bersama tetangga sebelah rumah.

Kitab yang sama memberi ukuran yang sederhana sekali. Bukan ukuran yang rumit, bukan daftar panjang:

Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / العاشر

والذي ينبغي لطالب العلم أن لا يخالط إلا من يفيده أو يستفيد منه بما رُوي عن النبي - صلى الله عليه وسلم -: "اغد عالمًا أو متعلمًا ولا تكن الثالث فتهلك"

"Yang sepatutnya bagi penuntut ilmu adalah tidak bergaul kecuali dengan orang yang memberinya faedah atau yang darinya ia memetik faedah — sebagaimana diriwayatkan dari Nabi ﷺ: 'Jadilah engkau orang yang berilmu atau orang yang belajar, dan jangan menjadi yang ketiga sehingga engkau binasa.'"

Ukurannya cuma satu, para jamaah: ada faedah atau tidak.

Bukan "haram atau halal". Bukan "islami atau tidak islami". Cuma: setelah saya menghabiskan waktu di sini, saya bertambah sesuatu atau tidak?

Coba kita pakai ukuran itu malam ini juga. Buka satu aplikasi saja — satu saja, jangan semua, nanti pusing. Lihat sepuluh akun terakhir yang kita tonton. Lalu tanya satu per satu: dari yang ini saya dapat apa?

Ada yang jawabannya jelas: saya dapat ilmu. Ada yang jawabannya juga jelas: saya dapat hiburan yang menyegarkan, dan itu tidak apa-apa — manusia butuh istirahat. Tapi biasanya ada satu dua yang jawabannya bikin kita diam. Tidak dapat apa-apa. Cuma habis waktu. Kadang malah pulang membawa rasa iri, atau rasa marah, atau rasa cemas yang tadinya tidak ada.

Yang seperti itu, kata kitab tadi, namanya dhiya'ul 'umr bighairi faidah — umur yang habis tanpa faedah.

Jamaah yang saya hormati, saya tidak sedang mengajak kita membuang telepon genggam. Itu tidak realistis dan tidak perlu. Yang saya ajak cuma satu langkah kecil.

Kitab yang sama, setelah bicara tentang siapa yang sebaiknya ditinggalkan, lanjut bicara tentang siapa yang sebaiknya didekati:

Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / العاشر

فإن احتاج إلى أن يصحبه فليكن صاحبًا صالحًا دينًا تقيًا ورعًا ذكيًا كثير الخير قليل الشر حسن المداراة قليل المماراة إن نسي ذكره وإن ذكر أعانه وإن احتاج واساه وإن ضجر صبره.

"Maka jika ia butuh untuk bersahabat dengan seseorang, hendaklah ia sahabat yang shalih, beragama, bertakwa, wara', cerdas, banyak kebaikannya, sedikit keburukannya, baik dalam menjaga hubungan, sedikit berdebat; bila ia lupa, sahabat itu mengingatkannya; bila ia ingat, sahabat itu membantunya; bila ia butuh, sahabat itu menghiburnya; bila ia gelisah, sahabat itu menyabarkannya."

Perhatikan empat yang terakhir, para jamaah. Bila lupa — diingatkan. Bila ingat — dibantu. Bila butuh — dihibur. Bila gelisah — disabarkan.

Coba tanya pada diri kita: dari semua yang kita ikuti sepekan kemarin, ada berapa yang begitu? Yang kalau kita sedang gelisah, membuat kita lebih tenang, bukan lebih gelisah lagi.

Kalau ada satu saja, itu sudah bagus. Perbanyak. Kalau belum ada, cari. Dan yang sebaliknya — yang setiap kali dibuka bikin dada sesak — kurangi. Tidak usah diumumkan, tidak usah pamit. Cukup dikurangi.

Dan satu lagi, para jamaah, ini yang paling sering kita lupa. Ukuran "faedah" itu tidak selalu berarti ceramah. Tetangga yang mengajari kita cara memperbaiki keran bocor itu memberi faedah. Pedagang yang jujur menyebut cacat barangnya itu memberi faedah. Orang yang menahan kita dari ikut menyebar kabar yang belum jelas itu memberi faedah besar sekali. Faedah bukan cuma soal materi agama; faedah adalah apa pun yang membuat kita pulang jadi orang yang sedikit lebih baik daripada waktu datang.

Maka jangan terlalu sempit menilai. Yang perlu kita kurangi bukan yang tidak berbicara agama — melainkan yang tidak meninggalkan apa-apa.

Karena tabiat itu pencuri, saudara-saudara. Dia sabar. Dia tidak buru-buru. Dia cuma menunggu kita cukup sering duduk di sana.

Mari kita tutup dengan doa: ya Allah, jadikan waktu kami bertambah faedahnya, jauhkan kami dari majelis yang menghabiskan umur tanpa guna, dan kumpulkan kami dengan orang-orang yang bila kami lupa mereka mengingatkan, dan bila kami gelisah mereka menyabarkan. Aamiin.

Lihat Briefing Mingguan