Peristiwa. Di balik setiap operasi pencarian ada ruang tunggu yang jarang masuk berita. Keluarga korban hilang di laut dan keluarga korban bencana pekan ini menanti kepastian berhari-hari tanpa kabar. Mereka tidak sedang berduka — berduka membutuhkan kepastian, dan kepastian itulah yang belum ada. Mereka juga tidak sedang lega. Mereka berada di antara keduanya, di ruang yang tidak punya nama dalam bahasa kita.
Siapa pun yang pernah berada di ruang itu tahu bentuk hari-harinya. Ponsel tidak pernah jauh dari tangan. Setiap notifikasi membuat dada mengencang, lalu mengendur lagi, lalu mengencang lagi. Orang-orang datang membawa makanan dan kalimat yang tidak tahu harus bagaimana menutup dirinya sendiri. Dan malam adalah bagian yang paling panjang. Sabar dalam keadaan seperti ini bukan sikap yang gagah; ia lebih sering berupa keputusan diam-diam untuk tidak hancur hari ini, lalu mengulangnya besok.
Ayat.
قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌۭ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍۢ
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
— QS. Az-Zumar: 10
Tafsir. Ibn Katsir (Tafsir Ibn Kathir on 39:10) membuka penjelasannya atas ayat ini dengan menyebut bahwa Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar teguh dalam ketaatan dan bertakwa kepada-Nya. Atas potongan lilladzina ahsanu fi hadzihid-dunya hasanah, ia menjelaskan: orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh balasan yang baik di dunia dan di akhirat. Atas potongan wa ardhullahi wasi'ah, Ibn Katsir membawakan pandangan Mujahid — "maka berhijrahlah melaluinya, bersungguh-sungguhlah, dan jauhilah berhala-berhala."
Kemudian sampailah ia pada bagian yang menjadi jantung ayat ini: innama yuwaffash-shabiruna ajrahum bighairi hisab. Ibn Katsir mengutip al-Auza'i yang mengatakan, "Pahala mereka tidak ditimbang dan tidak ditakar; mereka diberi pahala yang sangat besar." Dan ia mengutip as-Suddi yang memaknai ujung ayat itu dengan satu kata: "di surga."
Ath-Thabari (Tafsir al-Tabari on 39:10) menjelaskan ayat ini dengan urutan yang sama dan menambahkan lapisan yang berharga. Pada ittaqu rabbakum, ia memaknainya: bertakwalah kepada Tuhan kalian dengan menaati-Nya dan menjauhi maksiat kepada-Nya. Pada lilladzina ahsanu fi hadzihid-dunya hasanah, Ath-Thabari mencatat bahwa ahli takwil berbeda pandangan. Sebagian mengatakan maknanya: bagi orang-orang yang menaati Allah ada kebaikan di dunia ini — dan diriwayatkan dari as-Suddi bahwa hasanah di situ bermakna kesehatan dan keselamatan (al-'afiyah wash-shihhah). Sebagian yang lain menempatkan kata "di dunia ini" sebagai keterangan bagi "berbuat baik", sehingga hasanah yang dimaksud adalah surga.
Pada wa ardhullahi wasi'ah, Ath-Thabari menjelaskan: bumi Allah itu lapang dan luas, maka berhijrahlah dari negeri syirik menuju negeri Islam — dan ia menyandarkan makna itu kepada Mujahid, yang berkata, "maka berhijrahlah dan jauhilah berhala-berhala."
Adapun innama yuwaffash-shabiruna ajrahum bighairi hisab, Ath-Thabari memaknainya: sesungguhnya Allah memberikan kepada orang-orang yang bersabar atas apa yang mereka alami di dunia, pahala mereka di akhirat tanpa perhitungan — yakni balasan mereka tanpa hisab. Lalu ia membawakan ucapan Qatadah yang bunyinya hampir seperti hentakan: "Tidak, demi Allah, tidak ada di sana takaran dan tidak ada timbangan." Dan dari as-Suddi, tentang ujung ayat itu: "di surga."
Tadabbur & Ibrah. Satu ibrah dari ayat ini: sabar yang paling tidak terlihat justru yang paling tidak terhitung.
Perhatikan bahwa amal pada umumnya punya takaran: ada timbangan, ada hisab. Sabar dikecualikan dari sistem itu. Qatadah menyebutnya dengan sumpah: tidak ada takaran, tidak ada timbangan di sana. Al-Auza'i mengatakan pahala itu tidak ditimbang dan tidak ditakar. Seolah-olah ayat ini hendak berkata bahwa jenis penderitaan tertentu memang tidak bisa diukur, maka balasannya pun tidak diukur.
Dan justru itulah yang dibutuhkan orang di ruang tunggu. Sabar mereka tidak punya bentuk yang bisa dipamerkan. Tidak ada yang mencatat berapa kali seorang ibu menahan diri untuk tidak menelepon petugas untuk kesekian kalinya. Tidak ada yang menghitung berapa malam seorang anak pura-pura tidur supaya ibunya tidak merasa harus kuat. Sabar semacam itu tidak masuk dokumentasi siapa pun. Ayat ini berkata: ia masuk perhitungan yang lain — atau lebih tepat, ia melampaui perhitungan.
Ada juga hal yang perlu dijaga di sini. Menyebut pahala sabar bukan berarti menyuruh orang yang sedang terluka agar berhenti menangis. Ibn Katsir tidak menafsirkan sabar sebagai tidak berperasaan, dan Ath-Thabari memaknainya sebagai sabar atas apa yang dialami di dunia — artinya rasa sakitnya diakui, bukan dihapus. Sabar adalah tetap bertahan bersama rasa sakit, bukan berpura-pura ia tidak ada.
Dan bagi kita yang berdiri di luar: ayat ini sebetulnya menegur cara kita menghibur. Terlalu sering kita ingin menutup ruang tunggu itu secepat mungkin — dengan kalimat yang memastikan sesuatu yang tidak kita ketahui, atau dengan nasihat yang mempercepat tahapan yang memang butuh waktu. Yang lebih dibutuhkan adalah kehadiran yang bersedia ikut menunggu. Membawakan makanan tanpa banyak bicara. Menawarkan tumpangan. Menjaga anak-anak. Itu semua adalah ihsan yang disebut di awal ayat, dan Ibn Katsir menyebut balasannya ada di dunia dan di akhirat.
Tanya-Jawab
T: Kalau saya membaca ayat ini, apakah artinya saya berdosa kalau masih menangis dan belum bisa menerima?
J: Tidak ada dalam penjelasan Ibn Katsir maupun Ath-Thabari yang menyamakan sabar dengan tidak menangis. Ath-Thabari memaknai sabar sebagai bertahan atas apa yang dialami di dunia — dan yang dialami itu memang berat, sehingga rasa sakitnya diakui, bukan disangkal. Menangis bukan lawan dari sabar; putus asa dari rahmat Allah yang menjadi lawannya.
T: Apa maksudnya pahala "tanpa batas"? Apakah itu kiasan saja?
J: Ibn Katsir mengutip al-Auza'i yang mengatakan pahala orang sabar tidak ditimbang dan tidak ditakar, melainkan pahala yang sangat besar. Ath-Thabari membawakan ucapan Qatadah, "Tidak, demi Allah, tidak ada di sana takaran dan tidak ada timbangan." Keduanya menempatkan sabar di luar sistem hitungan yang biasa, dan as-Suddi menunjuk tempat pemenuhannya: di surga.
T: Bagian "bumi Allah itu luas" terasa tidak nyambung dengan kesabaran. Bagaimana memahaminya?
J: Ibn Katsir dan Ath-Thabari sama-sama membawakan pandangan Mujahid bahwa kalimat itu berkaitan dengan hijrah — berpindah dari negeri syirik menuju negeri Islam, bersungguh-sungguh, dan menjauhi berhala. Jadi ayat ini memasangkan dua hal: ada keadaan yang harus ditinggalkan dengan berpindah, dan ada keadaan yang hanya bisa dilewati dengan bertahan.
T: Saya ingin menghibur tetangga yang anggota keluarganya belum ditemukan. Apa yang sebaiknya saya katakan?
J: Yang paling aman adalah tidak memastikan apa yang belum pasti — jangan berkata "pasti selamat", jangan pula berkata "sudah tidak ada". Ayat ini menyebut ihsan sebelum menyebut sabar, dan Ibn Katsir menjelaskan bahwa orang yang berbuat baik memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat; kehadiran dan bantuan praktis sering lebih menghibur daripada kalimat. Bila ada pertanyaan yang menyangkut keputusan syar'i keluarga tersebut, antarkan mereka kepada ulama, jangan dijawab sendiri.
Tulisan ini adalah renungan tadabbur, berbantuan AI, bukan tafsir muktamad — untuk pendalaman makna dan keputusan pribadi, rujuklah ahli tafsir dan ulama yang mu'tabar.
