Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْخَلْقَ لِيَعْبُدُوْهُ، وَجَعَلَ الْعِبَادَةَ زِيْنَةَ الْأَيَّامِ الْهَادِئَةِ كَمَا جَعَلَهَا مَلْجَأً فِيْ أَيَّامِ الْفِتَنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Marilah kita buka khutbah ini dengan satu firman Allah yang menetapkan, sejak awal, untuk apa sebenarnya kita diciptakan dan apa yang membuat sebuah ibadah bernilai:
QS. Al-Bayyina: 5
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."
Ayat ini menyebut tiga hal berturut-turut, dan urutannya tidak acak. Pertama, menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan — itu urusan hati. Kedua, mendirikan shalat — itu urusan tubuh yang berdiri lima kali sehari. Ketiga, menunaikan zakat — itu urusan harta yang berpindah tangan kepada orang lain. Hati, tubuh, harta. Ketiganya disebut sebagai satu paket, lalu ditutup dengan kalimat yang tenang tetapi tegas: dan yang demikian itulah agama yang lurus. Tidak disebut di sana bahwa agama yang lurus adalah agama yang ramai. Tidak disebut bahwa ia adalah agama yang menunggu musim.
Hadirin yang dimuliakan Allah, pekan yang baru saja kita lewati adalah pekan yang sunyi bagi percakapan keagamaan. Tidak ada polemik besar tentang akidah. Tidak ada musim ibadah yang menggerakkan jadwal seluruh kampung. Kalau kita membuka layar dan mencari peristiwa keagamaan yang layak menjadi bahan khutbah, kita akan pulang dengan tangan kosong. Bulan ini Rabi'ul Akhir, bulan yang tidak menuntut apa-apa dari kita secara khusus. Dan justru karena itulah pekan ini menjadi ujian yang lebih jujur daripada pekan-pekan besar.
Sebab ada satu pertanyaan yang hanya bisa dijawab pada pekan seperti ini: kalau tidak ada Ramadhan, tidak ada Idul Adha, tidak ada rombongan haji yang dilepas, tidak ada kajian akbar di alun-alun — apa yang tersisa dari ibadah kita? Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi jawabannya adalah potret paling akurat tentang keadaan iman kita masing-masing. Karena apa yang tersisa saat tidak ada yang memanggil, itulah yang sesungguhnya kita miliki. Sisanya hanyalah reaksi terhadap suasana.
Ma'asyiral muslimin, meskipun tidak ada peristiwa keagamaan yang besar, bukan berarti pekan ini kosong. Kabar yang sampai kepada kita justru berat. Ada perbincangan tentang gempa dan buletin badan meteorologi yang penjelasannya dibaca sepotong-sepotong, lalu ditafsirkan sendiri-sendiri oleh orang yang tidak berada di lokasi. Ada keluhan yang cukup pedih dari seseorang yang meminta agar warga di Pulau Jawa berhenti menebak-nebak tentang apa yang terjadi di Sulawesi, karena tebakan dari jauh itu menyakiti mereka yang sedang berada di dalamnya.
Ada pula kesaksian seorang terduga korban kekerasan seksual yang menceritakan kronologinya sambil menahan tangis, dan kesaksian itu ditonton oleh jutaan orang. Satu unggahan saja, tetapi gemanya melebihi seluruh perbincangan lain di pekan yang sama. Beredar juga permintaan tolong agar sebuah dugaan pengeroyokan terhadap seorang guru laki-laki di sebuah madrasah aliyah negeri di Nganjuk — yang disebut berujung pada wafatnya beliau — ikut diperhatikan publik. Dan di sela-sela semua itu, kabar tentang penindakan korupsi tetap berjalan, seolah menjadi latar yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu tulisan pendek pekan ini yang rasanya ditulis khusus untuk kita semua yang duduk di sini. Bunyinya kira-kira begini: kalau kita merasa tidak nyaman hanya karena melihat berita buruk, bayangkan orang-orang yang berada di dalam berita buruk itu — korban bencana, korban kekerasan. Kalimat itu pendek. Tetapi ia menyingkap satu jarak yang jarang kita ukur dengan jujur: jarak antara terganggu dan terkena. Kita terganggu; mereka terkena. Kita bisa menutup layar; mereka tidak bisa menutup hidupnya.
Dan di antara kabar-kabar berat itu, hidup tetap berjalan seperti biasa. Ada guru yang minta izin menyanyi sebentar di depan kelasnya, dan orang-orang menyukainya. Ada yang bercerita tentang pulang dari mendaki gunung. Ada yang menulis bahwa setelah dirujak ramai-ramai di lini masa, ia langsung menangis, cemas, dan merasa kewalahan. Inilah pekan kita: campuran antara duka yang besar, keseharian yang biasa, dan luka-luka kecil yang ditanggung sendirian.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, pertanyaannya sekarang: ibadah macam apa yang cocok untuk pekan seperti ini? Ibadah yang bagaimana yang tidak runtuh ketika tidak ada perayaan, dan tidak lumpuh ketika kabar terasa berat?
Rasulullah ﷺ telah memberi kita jawabannya, dan jawaban itu mengejutkan karena betapa kecilnya ukuran yang beliau sebutkan.
Sahih Muslim 2818a
سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا فَإِنَّهُ لَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ أَحَدًا عَمَلُهُ
"Luruskanlah, mendekatlah, dan bergembiralah; sebab amalan seseorang tidak akan memasukkannya ke surga."
Para sahabat langsung menyahut. Mereka bertanya: engkau pun, wahai Rasulullah? Beliau menjawab bahwa beliau pun demikian, kecuali Allah menyelimuti beliau dengan rahmat dari-Nya. Lalu beliau melanjutkan dengan kalimat yang menjadi kunci khutbah kita pagi ini:
وَاعْلَمُوا أَنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ
"Dan ketahuilah, amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu walaupun sedikit."
Hadirin yang dimuliakan Allah, perhatikan baik-baik kalimat ini. Yang dijadikan ukuran bukan besarnya, bukan ramainya, bukan sulitnya. Yang dijadikan ukuran adalah adwamuhu — yang paling terus-menerus. Dan di belakangnya ditambahkan satu kalimat yang seolah mendahului keberatan kita: wa in qalla, walaupun sedikit. Seakan-akan Allah dan Rasul-Nya sudah tahu bahwa kita akan berkata, "Tetapi amal saya kecil sekali." Jawabannya sudah disiapkan sebelum keberatan itu keluar dari mulut kita: walaupun sedikit.
Ini bukan kompromi. Ini adalah penetapan standar yang berbeda sama sekali dari standar yang biasa kita pakai. Standar kita biasanya adalah puncak — momen di mana kita paling khusyuk, malam di mana kita paling lama berdiri, bulan di mana kita paling rajin. Standar yang disebutkan dalam hadits ini adalah lantai — titik terendah yang tetap kita pijak setiap hari, bahkan ketika sedang tidak bersemangat, bahkan ketika tidak ada yang menyaksikan, bahkan ketika pekan itu sunyi dan biasa saja seperti pekan ini.
Dan perhatikan bagian pertama hadits itu, yang sering terlewat: amalan seseorang tidak akan memasukkannya ke surga. Kalimat ini menutup satu pintu yang sering kita ketuk tanpa sadar — pintu merasa cukup karena sudah banyak beramal. Amal kita bukan alat tukar. Amal kita adalah tanda bahwa kita sedang berjalan ke arah yang benar, dan yang memasukkan kita ke surga tetaplah rahmat Allah. Karena itu beliau menyebut tiga perintah sebelumnya: luruskanlah arahnya, mendekatlah semampunya, dan bergembiralah. Bergembira, bukan cemas. Iman yang sehat itu berjalan dengan harapan, bukan dengan ketakutan yang melumpuhkan.
Ma'asyiral muslimin, kalau ibadah yang dicintai adalah yang berkelanjutan, maka pekan yang sunyi seperti pekan ini bukan pekan libur. Ia justru pekan pengukuran. Ramadhan mengukur kemampuan kita berpuncak; pekan biasa mengukur kemampuan kita bertahan. Dan Allah, sebagaimana kita dengar dari sabda Nabi-Nya ﷺ, lebih mencintai yang kedua.
Namun hadirin, ada keberatan lain yang mungkin muncul di hati kita, dan keberatan ini jujur: bagaimana mungkin beribadah dengan tenang ketika kabar di sekeliling begitu berat? Ketika ada anak yang menjadi korban, ada guru yang wafat dalam dugaan kekerasan di sekolahnya sendiri, ada orang yang menangis setelah dihujani komentar, ada saudara kita di Sulawesi yang rumahnya terguncang sementara orang-orang di pulau lain sibuk menebak-nebak? Bukankah ibadah di tengah keadaan seperti itu terasa seperti lari dari kenyataan?
Justru sebaliknya. Dan di sinilah Rasulullah ﷺ mengucapkan satu kalimat yang sangat pendek tetapi mengubah seluruh cara kita memandang keadaan seperti ini.
Sahih Muslim 2948a
الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَىَّ
"Beribadah di tengah al-harj (kekacauan & pembunuhan) seperti hijrah kepadaku."
Hadirin yang dimuliakan Allah, resapi perbandingan yang dipakai di sini. Kata yang dipilih adalah hijrah — perpindahan yang menuntut seseorang meninggalkan tempat berpijaknya demi mendekat kepada Rasulullah ﷺ. Dan ibadah di tengah kekacauan disandingkan dengan itu. Bukan disamakan pahalanya dengan sedekah sekian, bukan dengan puasa sekian hari — melainkan dengan hijrah.
Mengapa perbandingan itu terasa pas? Yang bisa kita ambil dari gambarannya begini: dalam keadaan kacau, orang yang tetap beribadah sedang melakukan sesuatu yang secara batin mirip dengan berhijrah. Ia memindahkan dirinya. Bukan memindahkan tubuhnya dari satu kota ke kota lain, tetapi memindahkan hatinya dari kerumunan yang panik menuju tempat berpijak yang tidak ikut goyang. Ketika semua orang bergerak ke arah gaduh, ia bergerak ke arah sujud. Itu perpindahan yang sama beratnya, dan sama sunyinya.
Maka jangan pernah kita berkata, "Nanti saja kalau keadaan sudah tenang, baru saya perbaiki shalat saya." Keadaan tidak akan pernah menunggu. Yang justru terjadi adalah kebalikannya: semakin gaduh keadaannya, semakin tinggi nilai ibadah yang tetap ditegakkan di dalamnya. Pekan ini kabar yang sampai kepada kita berat. Berarti pekan ini harga sebuah shalat subuh berjamaah sedang naik, bukan turun.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, sampai di sini mungkin ada yang bertanya: kalau begitu, apa sebenarnya yang paling mendasar? Di antara sekian banyak amalan, mana yang menjadi dasar dari segalanya? Pertanyaan itu pernah diajukan Rasulullah ﷺ sendiri kepada seorang sahabatnya, Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, dalam sebuah perjalanan. Mu'adz duduk membonceng di belakang beliau, tidak ada yang memisahkan keduanya kecuali bagian belakang pelana. Tiga kali beliau memanggil namanya, dan tiga kali Mu'adz menjawab, "Labbaika ya Rasulallah wa sa'daika." Lalu beliau bertanya tentang hak Allah atas hamba-hamba-Nya. Mu'adz menjawab bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Maka beliau bersabda:
Sahih Muslim 30a
فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
"Sesungguhnya hak Allah atas hamba-hamba adalah bahwa mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada dua hal yang layak kita renungkan dari cara hadits ini disampaikan. Pertama, isinya. Hak Allah atas kita hanya dua kalimat: beribadah kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sederhana sekali. Tidak berbelit. Inilah lantai dasar yang di atasnya semua bangunan lain didirikan — shalat kita, puasa kita, sedekah kita, kejujuran kita di tempat kerja, kelembutan kita di rumah. Semuanya berdiri di atas dua kalimat itu.
Kedua, cara beliau menyampaikannya. Beliau tidak langsung berceramah. Beliau memanggil nama sahabatnya tiga kali, berjalan sebentar di antara panggilan-panggilan itu, memberi jeda, baru kemudian bertanya. Ada kesabaran yang luar biasa di sana. Ada penghormatan kepada lawan bicara. Yang bisa kita ambil dari cara ini: kebenaran yang paling mendasar sekalipun tidak disampaikan dengan cara yang menghakimi atau tergesa-gesa. Ia disampaikan berdua, di atas satu tunggangan, dengan nama yang dipanggil satu per satu.
Bandingkanlah itu dengan cara kita menyampaikan kebenaran hari ini. Pekan ini kita membaca tentang seseorang yang dirujak beramai-ramai lalu menangis dan merasa kewalahan. Dirujak — artinya banyak orang menyerbu sekaligus, masing-masing merasa sedang menyampaikan yang benar. Mungkin sebagian dari mereka memang benar. Tetapi kebenaran yang disampaikan oleh kerumunan berhenti menjadi nasihat; ia berubah menjadi hujan batu. Rasulullah ﷺ memanggil nama Mu'adz tiga kali dalam kesunyian perjalanan. Kita memanggil orang dengan seribu akun sekaligus di ruang terbuka.
Ma'asyiral muslimin, ini membawa kita ke lapisan berikutnya. Ibadah yang benar tidak pernah berhenti di dalam masjid. Allah menyandingkan perintah beribadah dengan daftar panjang tentang bagaimana kita memperlakukan manusia — dan daftar itu disusun melingkar, dari yang terdekat ke yang terjauh.
QS. An-Nisaa: 36
۞ وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًۭا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًۭا فَخُورًا
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri."
Hadirin yang dimuliakan Allah, perhatikan susunannya. Ayat ini dibuka dengan perintah yang sama persis dengan yang kita dengar dari sabda Nabi ﷺ tadi: sembahlah Allah, jangan sekutukan Dia. Lalu tanpa jeda, tanpa ayat baru, tanpa ganti pokok pembicaraan, Allah langsung melanjutkan ke ibu-bapa. Lalu kerabat. Lalu anak-anak yatim. Lalu orang miskin. Lalu tetangga dekat, lalu tetangga jauh, lalu teman yang duduk di sisi kita, lalu orang yang sedang dalam perjalanan, lalu mereka yang berada di bawah tanggungan kita.
Lingkaran itu melebar pelan-pelan, dan tidak satu pun di antaranya abstrak. Semuanya punya nama, punya wajah, punya alamat. Inilah ukuran yang paling sulit kita hindari: kalau ibadah kita benar, orang-orang di lingkaran terdekat kita akan merasakannya lebih dulu daripada siapa pun. Ibu kita akan merasakannya. Tetangga sebelah rumah akan merasakannya. Anak yatim di kampung kita akan merasakannya.
Dan ayat ini ditutup dengan peringatan yang tidak terduga: Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. Kenapa peringatan tentang kesombongan justru muncul di ujung daftar tentang berbuat baik? Yang bisa kita ambil darinya: kebaikan yang dipamerkan akan merusak dirinya sendiri. Orang yang berbuat baik sambil membanggakan kebaikannya sedang membangun dan meruntuhkan pada saat yang sama. Dan di sinilah ayat ini bertemu dengan ayat pembuka khutbah kita tadi — mukhlishina lahud-din, memurnikan ketaatan. Ikhlas bukan hiasan tambahan bagi amal. Ikhlas adalah pondasinya.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita satukan semuanya. Pekan ini sunyi dari peristiwa keagamaan, tetapi penuh oleh kabar duka. Di pekan seperti itu, agama yang lurus adalah agama yang murni niatnya, tetap shalatnya, dan mengalir hartanya kepada orang lain. Ukurannya bukan puncak, melainkan kelangsungan. Nilainya justru naik ketika keadaan gaduh. Dasarnya hanya dua kalimat: menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya. Dan buahnya harus terasa pada ibu-bapa, kerabat, yatim, orang miskin, dan tetangga — dekat maupun jauh.
Maka izinkan khatib menutup khutbah pertama ini dengan beberapa langkah yang bisa kita mulai hari ini juga, bukan pekan depan:
Pertama, tetapkan satu amalan kecil yang tidak akan kita putus selama tiga puluh hari ke depan. Satu saja, dan pilih yang benar-benar ringan — dua rakaat sebelum subuh, satu halaman Al-Qur'an setiap habis maghrib, atau sepuluh kali istighfar sebelum tidur. Ukuran keberhasilannya bukan besarnya, melainkan tidak putusnya. Tulis di kertas kecil, tempel di tempat yang kita lihat setiap hari.
Kedua, kembalikan satu shalat fardhu ke masjid. Bukan lima sekaligus — satu. Pilih yang paling mungkin, lalu jaga di waktu yang sama setiap hari sampai tubuh kita hafal jalannya. Kelangsungan dibangun oleh kebiasaan, dan kebiasaan dibangun oleh pengulangan yang sama pada jam yang sama.
Ketiga, sandingkan setiap ibadah dengan satu perbuatan yang menyentuh manusia. Setelah shalat maghrib, telepon ibu atau bapak barang tiga menit. Setelah subuh, kirim satu pesan kepada saudara yang sedang sakit. Setelah jumatan hari ini, mampir ke rumah tetangga yang sudah lama tidak terlihat. Lingkaran dalam ayat tadi dimulai dari yang paling dekat, dan yang paling dekat biasanya yang paling sering kita lewati.
Keempat, ubah cara kita menyampaikan kebenaran. Kalau kita melihat kesalahan seseorang di ruang terbuka, tahan jempol. Kirim pesan berdua. Panggil namanya dengan hormat. Beri jeda sebelum bicara, seperti jeda perjalanan antara tiga panggilan kepada Mu'adz. Nasihat yang benar disampaikan untuk memperbaiki orangnya, bukan untuk memenangkan penontonnya.
Kelima, sisihkan sedekah dalam jumlah yang sama setiap pekan. Nominalnya boleh sangat kecil. Yang penting angkanya tetap dan waktunya tetap — misalnya setiap Jumat pagi, sebelum berangkat kerja. Zakat dan sedekah disebut berdampingan dengan shalat dalam ayat pembuka tadi; keduanya sama-sama menuntut keteraturan, bukan keajaiban.
Keenam, doakan mereka yang berada di dalam berita. Bukan hanya merasa tidak nyaman membacanya, tetapi menyebut mereka dalam sujud kita — saudara-saudara kita yang rumahnya terguncang, anak-anak yang menjadi korban, keluarga guru yang kehilangan. Doa adalah bentuk paling sunyi dari kepedulian, dan ia tersedia bagi kita semua tanpa kecuali.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ لَا يَضِيْعُ عِنْدَهُ عَمَلٌ وَإِنْ قَلَّ، وَلَا يُنْسَى لَدَيْهِ خَيْرٌ وَإِنْ خَفِيَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu hal yang ingin khatib gali lebih dalam dari khutbah pertama tadi. Kita sering mengira bahwa ujian iman selalu berbentuk musibah besar. Padahal ujian yang paling banyak menjatuhkan orang bukanlah musibah, melainkan kebiasaan. Musibah datang sekali dan membuat kita berlari ke masjid. Kebiasaan datang setiap hari dan pelan-pelan membuat kita lupa jalan ke sana. Pekan yang sunyi seperti pekan ini adalah pekan kebiasaan, bukan pekan musibah. Dan justru di sanalah banyak orang kalah tanpa merasa sedang bertanding.
Kedua, tentang kalimat walaupun sedikit. Ada bahaya halus dalam memahaminya. Sebagian orang menjadikannya alasan untuk selamanya berhenti di jumlah yang paling kecil, lalu merasa aman. Padahal yang dipuji bukan sedikitnya, melainkan terus-menerusnya. Sedikit itu keringanan agar kita sanggup memulai, bukan atap yang melarang kita bertumbuh. Orang yang memulai dengan satu halaman setiap hari, kalau ia benar-benar tidak memutusnya, akan mendapati dirinya setahun kemudian berada di tempat yang tidak pernah ia bayangkan.
Ketiga, tentang ibadah di tengah kegaduhan. Perbandingan dengan hijrah itu bukan sekadar kiasan penyemangat. Hijrah menuntut keberanian untuk terlihat berbeda dari orang banyak. Begitu pula orang yang tetap tenang dan tetap beribadah ketika semua orang di sekelilingnya sedang sibuk marah. Ia akan terlihat aneh. Ia akan dianggap tidak peduli. Padahal ia sedang memilih tempat berpijak, bukan sedang menutup mata — sebab yang membedakan keduanya adalah apakah ia ikut bergerak menolong dengan tangannya setelah ia bangun dari sujudnya.
Keempat, tentang lingkaran ihsan dalam ayat tadi. Kalau kita jujur, bagian yang paling sering terlewat bukanlah anak yatim atau orang miskin — melainkan tetangga dan teman yang duduk di sisi kita. Keduanya terlalu dekat sehingga menjadi tidak terlihat. Kita mengenal nama seorang tokoh di layar lebih baik daripada nama orang yang tinggal tiga rumah dari kita. Memperbaiki hal ini tidak butuh program besar; ia butuh satu ketukan pintu dan satu pertanyaan yang tulus tentang kabar.
Terakhir, hadirin yang dimuliakan Allah, ingatlah bahwa semua yang kita bicarakan pagi ini berdiri di atas rahmat Allah, bukan di atas kehebatan amal kita. Rasulullah ﷺ sendiri menyebut bahwa amal seseorang tidak akan memasukkannya ke surga. Maka bekerjalah dengan tenang, teruslah melangkah dengan kecil tetapi tidak putus, dan gantungkan harapan pada rahmat-Nya — bukan pada catatan prestasi kita sendiri.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ أَحَبَّ أَعْمَالِنَا إِلَيْكَ أَدْوَمَهَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي الْقَلِيْلِ الَّذِيْ نُدَاوِمُ عَلَيْهِ، وَلَا تَجْعَلْ عِبَادَتَنَا مَوْقُوْفَةً عَلٰى مَوَاسِمَ تَأْتِيْ وَتَذْهَبُ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَنَا نُوْرًا فِيْ أَخْلَاقِنَا، وَاجْعَلْ زَكَاتَنَا رَحْمَةً لِجِيْرَانِنَا، وَاجْعَلْ إِخْلَاصَنَا سَتْرًا لَنَا يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلَا تَكُنْ عَلَيْهِمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَآمِنْ رَوْعَاتِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ الْطُفْ بِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ زُلْزِلَتْ بُيُوْتُهُمْ وَاضْطَرَبَتْ أَرْضُهُمْ، اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَهُمْ، وَاحْفَظْ أَنْفُسَهُمْ وَأَوْلَادَهُمْ، وَاجْعَلْ مَا أَصَابَهُمْ طَهُوْرًا لَهُمْ وَرَفْعَةً فِيْ دَرَجَاتِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَطْفَالَنَا مِنْ كُلِّ أَذًى وَظُلْمٍ، وَاحْفَظْ طُلَّابَنَا فِيْ مَدَارِسِهِمْ وَمَعَاهِدِهِمْ، وَارْحَمْ مُعَلِّمِيْنَا الَّذِيْنَ عَلَّمُوْنَا الْخَيْرَ، اَللّٰهُمَّ اجْبُرْ قُلُوْبَ كُلِّ مَنْ كُسِرَ قَلْبُهُ بِظُلْمٍ لَمْ يَجِدْ لَهُ نَاصِرًا إِلَّا أَنْتَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاغْفِرْ لِمَوْتَانَا وَمَوْتَى الْمُسْلِمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
