Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita semua mendengar kabar yang saling bertabrakan. Di satu sisi ada kabar ekspor yang menguat dan pengembalian pajak yang mulai melegakan sebagian orang; di sisi lain ada rekaman antrean panjang di pompa bensin yang menyebar jauh lebih cepat daripada kabar baik itu, dan pergantian menteri keuangan yang ditonton jutaan orang sambil bertanya-tanya soal harga bulan depan. Malam ini saya tidak akan membahas satu pun kebijakan itu. Saya ingin mengajak kita melihat sesuatu yang lebih dekat: cara kita menghitung untung dan rugi.
Ada satu perumpamaan yang sangat indah dalam Bidayatul Hidayah — توطئة:
فالفرض رأس المال، وهو أصل التجارة وبه تحصل النجاة، والنفل هو الربح وبه الفوز بالدرجات
"Maka yang fardhu itu ibarat modal pokok, ialah dasar perniagaan, dan dengannya tercapai keselamatan. Sedangkan yang sunnah itu ibarat laba, dan dengannya diraih kemenangan berupa derajat-derajat yang tinggi."
Saudara-saudara sekalian, coba renungkan pilihan kata itu. Kitab ini tidak memakai bahasa langit yang jauh. Ia memakai bahasa pedagang, bahasa orang yang setiap hari berhitung: modal pokok dan laba. Yang wajib adalah modal pokok kita — shalat lima waktu, kejujuran, menunaikan hak orang lain. Yang sunnah adalah labanya — sedekah tambahan, shalat malam, puasa Senin Kamis. Dan kita semua tahu satu hukum dagang yang paling dasar: tidak ada pedagang yang mengejar laba sambil membiarkan modal pokoknya habis. Kalau modalnya habis, labanya tidak akan pernah ada.
Tetapi jujur saja, jamaah, di situlah kita sering terbalik. Kita sibuk mengejar tambahan-tambahan yang terlihat, sementara yang pokok kita biarkan bocor pelan-pelan. Ada yang rajin bersedekah di depan orang, tetapi upah pekerjanya tertahan berminggu-minggu. Ada yang tidak pernah absen di kegiatan, tetapi utang kepada tetangganya sudah dua tahun tidak disinggung. Ada yang rutin mengaji, tetapi timbangan di warungnya sedikit miring sejak lama. Itu semua bukan laba, jamaah. Itu laba yang dibayar dengan mencicil modal pokok sendiri.
Pekan ini rasanya pas untuk kita periksa ulang, karena begitu banyak orang sedang berhitung. Kabar yang sampai kepada kita menyebut sindiran tajam tentang layanan pencatatan nikah yang dijanjikan tanpa biaya tetapi tidak selalu terasa begitu ketika dijalani. Kita juga mendengar pertanyaan yang ramai tentang batas antara pemberian yang wajar dan politik uang. Dua-duanya sebenarnya pertanyaan yang sama: kapan sesuatu yang kecil mulai merusak yang pokok? Jawabannya, biasanya, jauh lebih cepat daripada yang kita kira.
Dan modal pokok kita bukan hanya ibadah. Ia juga mencakup cara kita mencari nafkah. Dalam Fath al-Qarib — كتاب أحكام الزكاة / • شروط وجوب زكاة الزروع والثمار / • زكاة التجارة ada definisi perdagangan yang sangat sederhana:
والتجارة وهي التقليب في المال لغرض الربح
"Perdagangan adalah memutar harta dengan tujuan keuntungan."
Perhatikan, saudara-saudara, tidak ada satu kata pun yang mencela keuntungan di sana. Islam tidak pernah memusuhi orang yang mencari untung. Yang diatur bukan keuntungannya, melainkan caranya berputar: dengan akad yang jelas, dengan takaran yang lurus, dengan hak orang lain yang ditunaikan, dan dengan zakat yang dikeluarkan ketika sudah sampai ukurannya. Banyak di antara kita yang punya usaha kecil merasa zakat perdagangan itu urusan pengusaha besar. Padahal syaratnya sudah lama disebutkan dengan jelas dalam kitab yang sama, dan ukurannya mengikuti aturan emas dan perak — bukan mengikuti seberapa besar kita merasa diri kita.
Ada satu kebiasaan kita yang lucu kalau dipikir-pikir. Kita sanggup menghabiskan setengah jam membandingkan harga di tiga aplikasi demi selisih dua ribu rupiah, tetapi tidak pernah meluangkan lima menit untuk menghitung apakah ada hak orang lain yang masih tertahan di tangan kita. Yang satu kita sebut hemat, yang satu lagi kita sebut nanti saja. Padahal, kalau memakai perumpamaan tadi, yang pertama itu urusan laba dan yang kedua itu urusan modal pokok.
Siapa di antara kita yang pekan ini pernah merasa lelah karena angka-angka? Saya termasuk. Dan justru karena itu pertanyaannya perlu dibalik: bukan berapa yang kita dapat pekan ini, melainkan berapa banyak yang kita dapat dengan cara yang tidak membuat kita perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun.
Saya tahu, jamaah, malam ini banyak dari kita pulang dengan kepala yang penuh hitungan. Cicilan, uang sekolah, harga yang naik diam-diam. Saya tidak akan berkata "sabar saja" dan berhenti di situ, karena itu terlalu murah. Yang ingin saya katakan begini: justru ketika himpitan terasa paling kuat, di situlah modal pokok kita paling mudah tergerus. Orang yang terjepit lebih mudah membenarkan pemasukan yang sumbernya samar, lebih mudah menunda hak orang lain, lebih mudah berkata "nanti dulu" pada yang wajib. Dan setiap kali itu terjadi, bebannya justru bertambah, bukan berkurang.
Maka sebelum kita pulang malam ini, izinkan saya menawarkan tiga langkah kecil untuk dua puluh empat jam ke depan. Pertama, tulis satu hak orang lain yang masih tertahan di tangan kita — upah, utang, barang pinjaman — lalu tentukan tanggal pastinya, dan kabari orangnya malam ini juga. Kedua, periksa satu sumber pemasukan yang selama ini kita hindari untuk dipikirkan; kalau hati kita sudah lama tidak enak, jangan tunggu ada yang menegur. Ketiga, sisihkan sesuatu yang kecil untuk diberikan tanpa diketahui siapa pun, sebagai tanda bahwa kita masih percaya pada perniagaan yang dijamin tidak merugi.
Modal pokok dulu, jamaah, baru laba. Itu berlaku di pasar, dan ternyata berlaku juga di hadapan Allah.