Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumHukum & KeadilanKamis, 17 September 2026

Kultum — "Rem yang Bernama Rasa Malu"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَقَامَ الْعَدْلَ مِيْزَانًا لِعِبَادِهِ، وَصَانَ أَعْرَاضَهُمْ عَنْ سُوْءِ الظُّنُوْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan yang baru saja kita lewati adalah pekan yang ramai oleh kabar perkara — koper uang yang diangkut dari sebuah rumah, perkara pengadaan yang masuk jalur hukum, dan satu dugaan kekerasan seksual yang potongan kesaksiannya berkeliling ke hampir semua layar. Malam ini saya tidak ingin membahas perkaranya. Saya ingin membahas kita — yang menontonnya.

Saya mulai dengan satu pertanyaan yang agak mengusik. Pekan ini, berapa kali kita merasa marah kepada kerusakan, dan berapa kali kita benar-benar memperbaiki sesuatu? Kalau jawabannya jauh berbeda, kita sedang berada di wilayah yang disinggung satu ayat pendek. Allah berfirman dalam QS. Ash-Shu'araa: 152:

ٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

"Yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan."

Perhatikan susunan ayat ini, jamaah. Allah tidak berhenti pada kalimat pertama. Kalau ayatnya hanya berbunyi "yang membuat kerusakan di muka bumi", kita semua akan langsung merasa aman, karena kita merasa tidak merusak apa-apa. Tetapi Allah menambahkan bagian keduanya: dan tidak mengadakan perbaikan. Ada dua hal yang dicatat, dan yang kedua itu bukan perbuatan melainkan ketiadaan perbuatan. Ternyata di hadapan Allah, tidak memperbaiki itu sendiri adalah keterangan yang ditulis tentang seseorang.

Nah, di sinilah letak persoalan kita pekan ini. Kemarahan terasa seperti perbuatan. Ketika kita membaca kabar koper uang lalu menulis komentar panjang, dada kita terasa lega, seakan-akan kita sudah melakukan sesuatu untuk keadilan. Padahal yang terjadi hanyalah perpindahan rasa, bukan perbaikan keadaan. Dan celakanya — ini bagian yang perlu kita akui jujur-jujuran malam ini — kadang kemarahan yang kita lepaskan itu justru menambah satu kerusakan baru, tanpa kita sadari sama sekali.

Kabar ketiga pekan ini adalah contoh paling jelas. Ada dugaan kekerasan seksual yang menyeret nama seorang figur publik muda. Kesaksian pihak yang mengaku sebagai korban beredar dalam bentuk potongan video pendek, disalin ulang, diberi keterangan tambahan, bahkan sebagian dijadikan bahan lawakan. Semua orang yang membagikannya merasa sedang membela korban. Tetapi coba kita bayangkan sebentar dengan kepala dingin: kalau yang mengalami itu anak kita sendiri, apakah kita ingin ceritanya diputar jutaan kali sambil ditertawakan sebagian orang? Membela korban dan menjadikan penderitaannya tontonan itu dua perkara yang berbeda, walaupun jari yang menekan tombolnya sama.

Saudara-saudara sekalian, ada satu sifat yang dahulu menjadi rem bagi kita semua, dan pekan ini remnya terasa longgar. Namanya rasa malu. Dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 48- باب ما جاء في حياء رسول الله صلى الله عليه وسلم, Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنه menggambarkan Nabi kita dengan kalimat yang sangat terkenal:

كان صلى الله عليه وسلم أشدّ حياء من العذراء في خدرها

"Beliau ﷺ lebih pemalu daripada seorang gadis dalam pingitannya."

Bacalah perbandingannya pelan-pelan. Yang dipakai sebagai pembanding adalah orang yang paling terlindung dan paling terjaga dari pandangan umum. Dan Nabi kita ﷺ digambarkan lebih pemalu daripada itu. Padahal kepada beliau ﷺ orang-orang membawa perkara mereka untuk diputuskan — kedudukan yang biasanya membuat seseorang terbiasa berhadapan dengan aib orang lain. Sifat malu itu tetap melekat pada beliau.

Rasa malu, jamaah, bukan berarti penakut dan bukan berarti diam terhadap kezaliman. Syariat menegakkan hukum dengan tegas — kitab-kitab fiqh kita memuat bab hukuman yang rinci sekali. Yang dijaga adalah caranya: perkara diselesaikan di tempat perkara memang diselesaikan, bukan diumumkan di pasar untuk ditonton orang banyak. Sedangkan kita hari ini punya pasar yang selalu terbuka, di dalam saku, dua puluh empat jam. Dan setiap kali kita melempar satu aib ke pasar itu, kita sedang menggeser sedikit batas malu kita sendiri — sampai suatu hari tidak ada lagi yang terasa memalukan untuk dibagikan.

Saya juga tidak ingin berdiri di sini seolah saya bersih, jamaah. Jujur saja, saya pun sering membaca kabar perkara sambil merasa itu bagian dari "mengikuti perkembangan", padahal separuhnya sekadar ingin tahu. Kita semua begitu. Anak kita bertengkar dua menit di kamar, kita minta mereka selesaikan diam-diam. Tetapi kabar rumah tangga orang di ujung kota, kita ikuti dari episode pertama sampai terakhir.

Maka sebelum kita pulang malam ini, izinkan saya menawarkan tiga langkah yang bisa dikerjakan dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, buka kembali riwayat pesan kita hari ini, lalu hapus satu kiriman yang berisi aib atau tuduhan terhadap seseorang. Cukup satu. Langkah kecil yang nyata lebih berharga daripada niat besar yang tidak berjalan. Kedua, pilih satu kerusakan kecil yang benar-benar ada di jangkauan tangan kita — kas mushola yang belum pernah dilaporkan terbuka, antrean layanan yang selalu diserobot, upah tukang yang tertunda — lalu perbaiki satu saja pekan ini. Itulah jawaban langsung atas bagian kedua ayat tadi. Ketiga, kalau kita betul-betul mengetahui sebuah kejahatan, sampaikan pada jalur yang berwenang dan dampingi orangnya. Itu menolong. Menyebarkannya ke grup tidak menolong siapa-siapa.

Jamaah yang saya hormati, kita menutup malam ini dengan satu kesadaran sederhana. Allah mencatat dua hal tentang kita: apa yang kita rusak, dan apa yang tidak kita perbaiki. Keramaian pekan ini menawarkan cara yang sangat mudah untuk masuk ke catatan pertama, dan tidak menawarkan apa pun untuk keluar dari catatan kedua. Yang bisa memindahkan kita hanya satu perbaikan kecil yang benar-benar dikerjakan, dimulai dari rumah sendiri.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُصْلِحِيْنَ لَا مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا حَيَاءً يَحْجُبُنَا عَنْ أَعْرَاضِ النَّاسِ، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا وَأَيْدِيَنَا مِنْ أَنْ نُؤْذِيَ بِهِمَا مُسْلِمًا، وَاسْتُرْنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَهْلِيْنَا وَأَرْزَاقِنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan