اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ فِيْ قَصَصِ عِبَادِهِ عِبْرَةً لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ، وَعَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَكُنْ يَعْلَمُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada satu ayat pendek yang menempatkan seluruh percakapan kita pekan ini pada tempatnya. Allah berfirman dalam QS. Ash-Shams: 8:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya."
Perhatikan bagaimana ayat ini menggambarkan jiwa manusia. Bukan sebagai wadah yang kosong, bukan pula sebagai barang yang sudah jadi. Jiwa dilukiskan sebagai sesuatu yang di dalamnya sudah ditanam dua kemungkinan sekaligus: jalan yang merusak dan jalan yang menjaga. Keduanya ada di dalam dada yang sama. Keduanya bisa diaktifkan oleh tangan yang sama. Dan yang menentukan mana yang tumbuh bukanlah bakat, bukan nasib, melainkan pilihan yang kita ambil berulang-ulang setiap hari, sering kali dalam perkara yang kelihatannya sangat sepele.
Hadirin yang dimuliakan Allah, pekan ini kita semua menjadi saksi atas kebenaran ayat itu dalam bentuk yang sangat kontemporer. Dari kabar yang sampai kepada kita, pekan ini adalah pekan cerita. Cerita pribadi membanjiri layar kita, dan yang paling banyak ditonton justru bukan cerita besar. Ada seseorang yang bercerita tentang keadaan tubuhnya setelah pulang mendaki gunung. Ada video singkat seorang guru yang meminta izin kepada murid-muridnya untuk menyanyi sebentar di kelas. Ada kenangan seseorang tentang masa kuliahnya, saat ia memberi tahu ayah dan ibunya bahwa ia sedang melamar beasiswa — sebuah percakapan kecil di rumah yang ternyata menggerakkan ribuan orang untuk mengingat percakapan serupa dengan orang tua mereka sendiri.
Kita perlu berhenti sejenak di sini, karena ini penting untuk dipahami oleh siapa pun yang bekerja di jalan dakwah. Orang Indonesia pekan ini tidak sedang lapar informasi. Mereka sedang lapar cerita yang berukuran rumah. Cerita yang di dalamnya ada meja makan, ada ruang kelas, ada tubuh yang capek, ada orang tua yang tidak tahu apa itu beasiswa tetapi tetap mengangguk. Dan itu bukan tanda kedangkalan. Itu tanda bahwa hati manusia masih bekerja normal: ia mengenali dirinya lewat cerita orang lain, bukan lewat daftar argumen.
Tetapi pada pekan yang sama, jamaah, ruang yang sama juga memperlihatkan wajahnya yang lain. Ada unggahan yang sangat ramai tentang seseorang yang baru saja dihakimi beramai-ramai di lini masa, lalu langsung menangis, cemas, dan kewalahan. Yang membuat unggahan itu menyebar bukan belas kasihan. Yang membuatnya menyebar adalah tontonan. Ada juga sindiran tajam tentang standar ganda di dunia pendidikan: tentang guru yang cepat dipersoalkan karena penampilannya, sementara pelanggaran yang jauh lebih berat justru dianggap wajar. Dan ada potongan-potongan protes mahasiswa baru yang beredar tanpa duduk perkaranya, sehingga yang sampai ke penonton hanyalah keramaian, bukan persoalan.
Maka terlihatlah dua jalan itu berjalan berdampingan di layar yang sama. Cerita yang merawat dan cerita yang melukai. Alatnya sama, jarinya sama, kadang orangnya pun sama. Yang membedakan hanya satu, dan letaknya tidak di aplikasi — letaknya di dada.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ada lagi satu lapisan pekan ini yang tidak boleh kita lewati, dan lapisan inilah yang paling berat. Publik dikejutkan oleh kabar sebuah kapal penyeberangan yang terbalik di Laut Jawa pada pertengahan bulan ini. Dari kabar yang sampai kepada kita, seratus tiga belas korban telah dievakuasi, dan enam orang di antaranya meninggal dunia. Belakangan muncul pula catatan yang membuat banyak orang terdiam: kapal itu sudah berusia hampir empat dekade. Di tempat lain, pencarian terhadap lima jurnalis yang belum kembali masih berjalan; satu jenazah pria ditemukan di Enggano dan aparat masih mencocokkan identitasnya. Di pesisir Selat Sunda, gunung yang kembali bergolak diikuti banjir judul-judul yang menakut-nakuti orang tanpa memberi mereka satu pun langkah yang bisa dikerjakan. Dan di lahan-lahan yang terbakar, seseorang yang hendak menyalakan api lagi berhasil dicegat — bukan oleh operasi besar, melainkan oleh petugas pemadam bersama warga yang kebetulan melihat.
Saya ingin kita berhenti agak lama pada satu hal, jamaah, karena keliru di titik ini akan merusak seluruh khutbah ini. Musibah yang menimpa saudara-saudara kita di laut, di pesisir, dan di lahan yang terbakar bukanlah vonis atas mereka. Tidak ada satu pun di antara kita yang berhak membaca musibah orang lain sebagai hukuman yang pantas ia terima. Dalam timbangan syariat, musibah yang menimpa seorang mukmin adalah ujian dan penggugur dosa, bukan pengumuman tentang keburukannya. Keluarga yang pekan ini menunggu kabar tanpa kepastian sedang menjalani salah satu ujian terberat yang bisa ditanggung manusia. Tugas kita di hadapan mereka bukan menafsirkan, melainkan menemani. Siapa pun yang tergoda membuat konten tentang musibah ini dengan bumbu tafsir siksa — hentikan. Itu bukan dakwah. Itu mengambil untung dari luka orang.
Hadirin yang dimuliakan Allah, sampai di sini kita sudah punya bahan yang cukup untuk bertanya: kalau bercerita sudah menjadi cara utama manusia zaman ini saling menyentuh, lalu bagaimana Islam mengatur pekerjaan bercerita itu? Jawabannya tidak dimulai dari aturan teknis. Jawabannya dimulai dari tempat yang paling dalam, yaitu niat.
Imam Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah membuka kitab Bidayatul Hidayah — بسم الله الرحمن الرحيم dengan peringatan yang keras, dan peringatan itu ditujukan kepada orang yang sedang bersemangat menuntut ilmu — bukan kepada orang jahat, melainkan kepada orang baik yang sedang bersemangat:
أنك إن كنت تقصد بالعلم المنافسة، والمباهاة، والتقدم على الأقران، واستمالة وجوه الناس إليك، وجمع حطام الدنيا؛ فأنت ساع في هدم دينك، وإهلاك نفسك، وبيع آخرتك بدنياك
"Bahwa jika engkau menuntut ilmu dengan maksud berlomba mencari kemuliaan, berbangga-bangga, mengungguli teman sebaya, menarik wajah-wajah manusia kepadamu, dan mengumpulkan remah-remah dunia — maka sesungguhnya engkau sedang berusaha meruntuhkan agamamu sendiri, membinasakan dirimu, dan menjual akhiratmu dengan duniamu."
Perhatikan daftar yang beliau susun, jamaah. Berlomba mencari kemuliaan. Berbangga-bangga. Mengungguli teman sebaya. Menarik wajah-wajah manusia kepadamu. Mengumpulkan remah-remah dunia. Kalimat itu ditulis berabad-abad lalu untuk majelis ilmu yang duduk di atas tikar, tanpa layar, tanpa penghitung penonton. Tetapi coba dengarkan sekali lagi dengan telinga pekan ini. Bukankah itu persis daftar yang menunggu setiap orang yang membuka aplikasi dan menekan tombol rekam? Menarik wajah-wajah manusia kepadamu — hari ini punya satuan, punya grafik, punya pemberitahuan yang berbunyi di malam hari. Dan al-Ghazali tidak berkata bahwa orang itu sekadar keliru. Beliau berkata bahwa orang itu sedang bekerja meruntuhkan agamanya sendiri, sambil merasa sedang membangunnya.
Tetapi beliau tidak berhenti pada ancaman. Pada kalimat berikutnya beliau membuka pintu yang lebar:
وإن كانت نيتك وقصدك، بينك وبين الله تعالى، من طلب العلم: الهداية دون مجرد الرواية؛ فأبشر؛ فإن الملائكة تبسط لك أجنحتها إذا مشيت، وحيتان البحر تستغفر لك إذا سعيت
"Dan jika niat serta maksudmu — antara engkau dan Allah Ta'ala — dalam menuntut ilmu adalah hidayah, bukan sekadar meriwayatkan, maka bergembiralah. Sebab para malaikat membentangkan sayap-sayapnya untukmu ketika engkau berjalan, dan ikan-ikan di laut memohonkan ampun untukmu ketika engkau berusaha."
Dua kalimat itu berdiri berhadapan, dan pekerjaan lahiriahnya sama persis. Orang yang sama, ilmu yang sama, majelis yang sama, bahkan kata-kata yang sama. Yang berbeda hanya arah dada. Al-Ghazali menyebut pembedanya dengan sangat tepat: hidayah, bukan sekadar riwayat. Bukan sekadar menyampaikan supaya tersampaikan, tetapi menyampaikan supaya ada yang selamat.
Inilah, jamaah, timbangan pertama yang ingin saya letakkan di tangan kita semua pekan ini. Sebelum kita bertanya "apakah konten ini akan ramai", kita bertanya lebih dulu: hidayah atau sekadar riwayat? Apakah cerita ini saya bagikan supaya ada orang yang terselamatkan darinya — atau supaya ada orang yang menoleh kepada saya?
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, timbangan pertama tadi mengurus cerita tentang diri sendiri. Sekarang kita masuk ke wilayah yang jauh lebih berbahaya, yaitu cerita tentang orang lain. Dan di sinilah pekan ini kita menyaksikan kerusakan yang paling nyata: orang biasa, yang tidak pernah meminta menjadi tontonan, tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan ribuan orang yang tidak mengenalnya sama sekali.
Al-Ghazali rahimahullah dalam kitab yang sama, pada pasal Bidayatul Hidayah — أصناف الناس في العلاقة بالمرء / آداب العلاقة بالعوام المجهولين / آداب العلاقة بالاخوان والأصدقاء / شروط الصحبة والصداقة, membagi manusia dalam pergaulan kita menjadi tiga golongan: sahabat, kenalan, dan orang yang tidak kita kenal. Lalu beliau memberi adab khusus untuk golongan yang ketiga:
فإن بليت بالعوام المجهولين، فآداب مجالستهم: ترك الخوض في حديثهم، وقلة الإصغاء إلى أراجيفهم، والتغافل عما يجري من سوء ألفاظهم، والاحتراز عن كثرة لقائهم والحاجة إليهم، والتنبيه على منكراتهم باللطف والنصح عند رجال القبول منهم
"Jika engkau diuji harus bergaul dengan orang awam yang tidak engkau kenal, maka adab duduk bersama mereka adalah: tidak ikut larut dalam pembicaraan mereka, sedikit memberi telinga kepada kabar-kabar dusta dan isu murahan mereka, berpura-pura tidak mendengar ucapan-ucapan buruk yang keluar dari mereka, menjaga diri dari terlalu sering bertemu dan bergantung kepada mereka, serta mengingatkan kemungkaran mereka dengan lembut dan nasihat pada orang-orang yang bisa menerima."
Jamaah, dengarkan baik-baik daftar itu, karena daftar itu adalah peta lini masa kita hari ini. Al-Ghazali sedang berbicara tentang majelis orang-orang yang tidak kita kenal — dan bukankah itu definisi paling tepat untuk lini masa? Setiap pagi kita dijatuhkan ke tengah kerumunan besar berisi orang yang tidak kita kenal, yang sedang membicarakan orang lain yang juga tidak kita kenal, tentang peristiwa yang duduk perkaranya tidak kita ketahui.
Dan apa adab pertama yang beliau sebut? Tarku al-khaudh fi haditsihim — tidak ikut larut dalam pembicaraan mereka. Bukan "ikut meluruskan", bukan "ikut menyeimbangkan", bukan "ikut menegur di kolom komentar". Tidak ikut larut. Adab kedua: qillatu al-ishgha' ila arajifihim — sedikit memberi telinga kepada kabar-kabar dusta dan isu murahan. Bukan sekadar tidak menyebarkan; tidak banyak mendengarkan. Sebab telinga yang terlalu lama direndam dalam isu akan berubah seleranya, dan setelah itu lisan akan mengikuti.
Maka ketika pekan ini kita melihat seseorang yang dihakimi ramai-ramai lalu hancur, pertanyaan yang jujur bukanlah "siapa yang salah di sana". Pertanyaan yang jujur adalah: berapa detik dari hidup saya yang saya sumbangkan untuk membesarkan keramaian itu? Sebab keramaian tidak dibangun oleh satu orang jahat. Keramaian dibangun oleh seribu orang baik yang masing-masing merasa hanya menonton sebentar.
Perhatikan pula ujung daftar al-Ghazali, karena beliau tidak menutup pintu amar makruf. Beliau menutup dengan at-tanbih 'ala munkaratihim bil-luthfi wan-nushhi 'inda rijali al-qabuli minhum — mengingatkan kemungkaran mereka dengan lembut dan dengan nasihat, kepada orang-orang yang memang bisa menerima. Jadi bukan diam mutlak. Yang beliau tolak adalah menegur di tengah kerumunan yang sedang panas, kepada orang yang sedang tidak dalam keadaan bisa menerima apa pun. Yang beliau anjurkan adalah menegur di ruang yang lebih kecil, dengan suara yang lebih rendah, kepada orang yang masih punya telinga. Dan pekan ini, ruang itu bukan kolom komentar. Ruang itu adalah pesan pribadi, meja makan, dan obrolan setelah salat.
Hadirin yang dimuliakan Allah, sekarang kita sampai pada bagian ketiga, dan bagian ini untuk mereka yang pekan ini sedang menunggu. Menunggu kabar dari laut. Menunggu hasil pencocokan identitas. Menunggu telepon yang tidak kunjung berdering. Bagi mereka, semua pembicaraan kita tentang adab bercerita terasa jauh, karena yang mereka hadapi bukan layar, melainkan kekosongan.
Untuk mereka, Rasulullah ﷺ menyampaikan sebuah hadits qudsi, yaitu hadits yang di dalamnya beliau meriwayatkan firman Rabb-nya. Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim 2675a, Rasulullah ﷺ bersabda meriwayatkan firman Allah 'azza wa jalla:
يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
"Aku di sisi sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam dirinya, Aku mengingatnya di dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di kerumunan, Aku mengingatnya di kerumunan yang lebih baik darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia mendatangi-Ku berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari kecil."
Jamaah, ada empat hal dalam hadits qudsi ini yang perlu kita pegang erat-erat pekan ini.
Pertama, kalimat pembukanya. Allah menempatkan diri-Nya di sisi sangkaan hamba-Nya. Bagi orang yang sedang menunggu kabar buruk, ini adalah kalimat yang menentukan segalanya. Sebab orang yang menunggu selalu punya dua pilihan sangkaan di dadanya, dan keduanya sama-sama masuk akal secara manusiawi. Yang satu berkata: aku sedang ditinggalkan. Yang lain berkata: aku sedang dipegang, meskipun aku tidak melihat tangannya. Hadits qudsi ini tidak memaksa kita menebak dengan benar apa yang akan terjadi; ia mengajari kita di sisi mana kita berdiri sambil menunggu.
Kedua, "Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku." Perhatikan syaratnya — bukan ketika ia sudah tenang, bukan ketika ia sudah ikhlas, bukan ketika hatinya sudah rapi. Cukup ketika ia mengingat. Seorang ibu yang duduk di dermaga sambil menyebut nama Allah dengan suara patah sedang berada dalam janji ini, meskipun air matanya belum berhenti.
Ketiga, gambaran jarak yang bertingkat: sejengkal dibalas sehasta, sehasta dibalas sedepa. Ini bukan sekadar hitungan; ini cara Allah memberi tahu kita bahwa langkah kecil kita tidak pernah dibalas kecil. Dan itu melegakan sekali bagi orang yang pekan ini merasa tidak sanggup melakukan apa pun yang besar.
Keempat, ujungnya, dan inilah gambar yang paling menggetarkan: siapa yang mendatangi-Nya dengan berjalan, Dia datangi dengan berlari kecil. Bayangkan perbandingan itu, jamaah. Hamba yang lemah, lambat, kehabisan tenaga — dan sambutan yang bergegas. Tidak ada satu pun pintu manusia di dunia ini yang dibuka seperti itu.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ayat yang kita baca di awal tadi mengatakan bahwa dua jalan itu sudah ditanam di dalam jiwa. Pekan ini memperlihatkan kepada kita bahwa keduanya bahkan bisa dijalani dengan alat yang sama: kamera yang sama, aplikasi yang sama, jempol yang sama. Dan tiga daleel yang kita bicarakan tadi memberi kita tiga pertanyaan yang memisahkannya. Untuk cerita tentang diri sendiri: hidayah atau sekadar riwayat? Untuk cerita tentang orang lain: apakah saya sedang larut di majelis orang yang tidak saya kenal? Dan untuk cerita yang belum ada ujungnya: di sisi sangkaan mana saya berdiri sambil menunggu?
Maka izinkan saya menurunkan semua ini menjadi beberapa langkah yang bisa kita kerjakan sejak hari ini juga.
Pertama, tetapkan satu jeda sebelum mengunggah. Sebelum menekan tombol kirim untuk cerita apa pun yang melibatkan orang lain, beri jeda sepuluh menit dan tanyakan satu hal: kalau orang yang saya ceritakan ini membaca unggahan saya besok pagi, apakah ia akan merasa dijaga atau merasa dijual? Kalau jawabannya ragu, jeda itu diperpanjang menjadi satu malam. Kebanyakan unggahan yang kita sesali seumur hidup hanya butuh satu malam untuk batal.
Kedua, keluar dari keramaian yang tidak kita kenal. Pekan ini, pilih satu keramaian di lini masa yang sedang menghakimi orang biasa — orang yang tidak memegang jabatan publik, yang tidak sedang diadili di pengadilan mana pun — lalu tinggalkan. Jangan berkomentar, jangan membagikan ulang, jangan pula mengoreksi. Larut di dalamnya dengan niat meluruskan tetap membuat kita menjadi bahan bakarnya.
Ketiga, pindahkan satu teguran ke ruang pribadi. Kalau pekan ini ada saudara kita yang perlu diingatkan, jangan diingatkan di grup. Kirim pesan berdua, buka dengan menanyakan kabarnya lebih dulu, baru sampaikan keberatan kita dengan kalimat yang paling ringan yang kita sanggup. Lembut dan nasihat, kepada orang yang masih bisa menerima.
Keempat, temani satu keluarga yang sedang menunggu. Kalau di lingkungan kita ada keluarga yang anggotanya sedang dicari atau baru saja kehilangan, jangan menunggu diminta. Datang, duduk, bawakan makanan yang tidak perlu dimasak, dan jangan menafsirkan musibahnya. Cukup katakan bahwa kita ikut mendoakan, lalu diam dan dengarkan.
Kelima, hidupkan kembali dzikir yang pendek dan sering. Hadits qudsi tadi tidak menuntut kita kuat; ia hanya menuntut kita ingat. Pilih satu kalimat dzikir yang sudah kita hafal, tempelkan pada satu kegiatan tetap — saat menyalakan motor, saat mengunci pintu rumah, saat menaruh gelas di meja — dan jaga selama satu pekan penuh. Sejengkal dari kita, sehasta dari-Nya.
Keenam, ceritakan satu kebaikan yang tidak menyebut nama pelakunya. Kalau pekan ini kita melihat tetangga yang menolong, warga yang ikut memadamkan api di kebun sebelah, atau petugas yang bekerja sampai malam, ceritakan perbuatannya tanpa memajang orangnya. Itu cara paling sederhana untuk membuktikan bahwa kita bisa bercerita tanpa memanen wajah orang lain.
Hadirin yang dimuliakan Allah, kita menutup khutbah pertama ini dengan satu kalimat sederhana. Setiap kita sedang menulis sebuah cerita panjang, dan pembacanya bukan orang-orang di lini masa. Pembacanya adalah Allah, yang tidak menghitung berapa banyak yang menonton, tetapi menghitung apa yang kita niatkan ketika tidak ada seorang pun yang menonton. Semoga Allah menjadikan cerita hidup kita cerita yang merawat, dan menjauhkan kita dari menjadi orang yang hidup dari luka orang lain.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ سَتَرَ عُيُوْبَنَا وَلَمْ يَفْضَحْنَا، وَأَمْهَلَنَا وَلَمْ يُعَاجِلْنَا بِالْعُقُوْبَةِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, ada satu hal dari khutbah pertama yang ingin saya gali lebih dalam, yaitu kalimat al-Ghazali tentang "menarik wajah-wajah manusia kepadamu". Kalimat itu terasa keras, tetapi sesungguhnya beliau sedang berbelas kasih kepada kita. Sebab wajah manusia itu jumlahnya terbatas dan perhatiannya sangat cepat berpindah. Orang yang membangun hidupnya di atas wajah-wajah yang menoleh akan menghabiskan sisa umurnya untuk menjaga agar wajah-wajah itu tidak berpaling — dan itu pekerjaan yang tidak pernah selesai, tidak pernah cukup, dan tidak pernah memberi rasa aman.
Kita juga perlu jujur bahwa peringatan itu tidak hanya berlaku untuk pembuat konten. Ia berlaku untuk kita semua. Ada orang yang menarik wajah manusia lewat kamera, ada yang lewat cerita di warung kopi, ada yang lewat kalimat merendah yang sebetulnya minta dipuji, dan ada pula yang lewat mimbar. Alatnya berbeda, penyakitnya satu. Maka jangan kita merasa aman hanya karena tidak punya akun.
Sisi lain yang ingin saya angkat adalah soal telinga. Al-Ghazali menyebut "sedikit memberi telinga" sebelum menyebut apa pun tentang lisan. Ini urutan yang sangat cermat. Kita biasanya menjaga mulut, tetapi membiarkan telinga terbuka lebar sepanjang hari. Padahal telinga yang setiap hari direndam dalam kabar buruk tentang orang akan pelan-pelan kehilangan rasa kagetnya. Dan hati yang kehilangan rasa kaget terhadap aib orang lain adalah hati yang sudah mulai sakit, meskipun lisannya masih terjaga.
Terakhir, jamaah, mari kita kembali kepada mereka yang sedang menunggu. Salah satu bentuk ibadah paling sunyi dalam Islam adalah menemani orang yang sedang berduka tanpa menyodorkan penjelasan. Kita sering merasa harus berkata sesuatu yang bijak, padahal yang dibutuhkan orang berduka biasanya bukan kalimat, melainkan kehadiran yang tidak buru-buru pulang. Kalau kita tidak tahu harus berkata apa, itu justru pertanda kita sedang menghormati beratnya. Duduk saja. Bawakan air. Doakan. Itu sudah lebih dari cukup, dan Allah menghitungnya.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيْمَا جَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيْرُ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوْءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الَّذِيْنَ غَرِقُوْا فِيْ الْبَحْرِ، وَاغْفِرْ لَهُمْ، وَاجْعَلْ مَا أَصَابَهُمْ طَهُوْرًا لَهُمْ وَرِفْعَةً فِيْ دَرَجَاتِهِمْ، اَللّٰهُمَّ اخْلُفْ عَلٰى أَهْلِيْهِمْ خَيْرًا، وَثَبِّتْ قُلُوْبَهُمْ بِالصَّبْرِ الْجَمِيْلِ.
اَللّٰهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْ إِخْوَانِنَا مَفْقُوْدًا لَا نَعْلَمُ مَكَانَهُ، فَأَنْتَ تَعْلَمُ مَكَانَهُ، اَللّٰهُمَّ تَوَلَّهُ بِرَحْمَتِكَ، وَأَنْزِلْ عَلٰى أَهْلِهِ السَّكِيْنَةَ، وَعَجِّلْ لَهُمُ الْفَرَجَ وَالْخَبَرَ الَّذِيْ تَقَرُّ بِهِ أَعْيُنُهُمْ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَحْفَظَ أَلْسِنَتَنَا مِنْ أَعْرَاضِ النَّاسِ، وَأَسْمَاعَنَا مِنْ سَمَاعِ مَا لَا يَحِلُّ، وَأَيْدِيَنَا مِنْ نَشْرِ مَا يُؤْذِيْ عِبَادَكَ، وَقُلُوْبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَحُبِّ الثَّنَاءِ.
اَللّٰهُمَّ اسْتُرْ عُيُوْبَنَا كَمَا سَتَرْتَهَا فِي الدُّنْيَا، وَلَا تَفْضَحْنَا يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتُرُ عَلٰى إِخْوَانِهِ فَتَسْتُرَ عَلَيْهِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا وَحَافِظًا، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ بَحْرِنَا وَبَرِّنَا وَجَوِّنَا، وَاحْفَظْ مُسَافِرِيْنَا فِيْ سُفُنِهِمْ وَطُرُقِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَأَصْلِحْ لَنَا أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
