Kisah dari HaditsInspirasi & Kisah PribadiKamis, 17 September 2026
Kisah Pendek — "Duduklah di Jalan Mana Pun"
Pekan yang dipenuhi cerita pribadi selalu berujung pada satu pertanyaan tua: siapa yang masih mau berhenti ketika seseorang datang membawa keperluan. Jawaban paling tenang untuk pertanyaan itu tersimpan dalam satu riwayat yang sangat pendek, dihimpun Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم, bab yang khusus mengumpulkan riwayat tentang kerendahan hati Rasulullah ﷺ. Panjangnya hanya dua kalimat. Dua kalimat itu terjadi di jalanan.
Madinah siang hari. Debu halus mengambang di udara, dinaikkan oleh kaki-kaki yang lewat. Pohon kurma memberi bayangan yang tipis dan bergerak-gerak. Di kota itu ada masjid, ada pasar, ada rumah-rumah berdempetan dari batu dan pelepah. Dan ada jalan-jalan kecil yang menghubungkan semuanya — tempat orang berpapasan, menyapa, lalu berjalan terus.
Riwayat ini sampai melalui Anas bin Malik رضي الله عنه.
Seorang perempuan datang menemui Nabi ﷺ. Catatan kaki kitab menyebut bahwa ia dari kalangan Anshar, sebagaimana tercatat dalam riwayat al-Bukhari, dan dalam satu riwayat ia datang membawa seorang anak kecil. Sebagian catatan pinggir menyebut namanya Ummu Zufar, tukang sisir Khadijah.
Ia tidak membawa surat. Tidak ada nomor antrean, tidak ada perantara, tidak ada hari yang sudah dijadwalkan. Ia hanya datang, lalu berkata:
إنّ لي اليك حاجة
"Sesungguhnya aku punya keperluan kepadamu."
Kalimatnya sesingkat itu. Tidak ada perincian, tidak ada pembukaan panjang. Hanya pengakuan bahwa ada sesuatu yang ia butuhkan, dan orang yang bisa membantunya ada di hadapannya.
Orang yang ia hadapi bukan orang sembarangan di kota itu. Dan keperluan yang ia bawa bukan keperluan yang besar — hanya keperluan satu perempuan, dengan seorang anak kecil di sisinya.
Jawabannya keluar tanpa jeda panjang:
اجلسي في أيّ طريق المدينة شئت أجلس إليك
"Duduklah di jalan Madinah mana pun yang engkau kehendaki, aku akan duduk bersamamu."
Perhatikan apa yang tidak ada di dalam kalimat itu. Tidak ada "nanti". Tidak ada "datanglah ke masjid". Tidak ada "tunggu sampai urusan yang lain selesai". Yang ada justru kebalikannya: hak memilih tempat diserahkan kepada perempuan itu. Jalan mana pun. Yang engkau kehendaki.
Dan pilihan tempatnya bukan ruang penerimaan, bukan majelis, bukan mimbar. Jalan. Tempat paling biasa di kota itu, tempat yang tidak punya pintu dan tidak punya penjaga.
Catatan kaki kitab ini menambahkan satu hal lagi, diambil dari riwayat Muslim:
فخلا معها في بعض الطريق حتى فرغت من حاجتها
"Maka beliau menyendiri bersamanya di sebagian jalan itu, sampai perempuan itu selesai dengan keperluannya."
Catatan itu menjelaskan maksud dari jarak tersebut: agar tidak ada seorang pun yang mendengar keluhan perempuan itu selain beliau ﷺ.
Di situlah kisah ini berubah dari sekadar sopan santun menjadi sesuatu yang lain. Sebab menyediakan waktu adalah satu hal; menyediakan tempat yang tidak bisa didengar orang lain adalah hal yang berbeda. Yang pertama memberi perhatian. Yang kedua memberi perlindungan.
Perempuan itu selesai dengan keperluannya. Riwayat tidak menyebutkan apa keperluannya, dan justru itu bagian dari kebaikannya — sampai hari ini pun, keluhannya tetap tidak didengar orang lain.
Lalu jalan itu kembali menjadi jalan. Debunya kembali turun. Dan Imam at-Tirmidzi rahimahullah meletakkan riwayat ini di bawah judul bab tentang tawadhu'.
Pelajaran
Kerendahan hati dalam kisah ini tidak berbentuk ucapan yang merendah, dan tidak berbentuk penolakan terhadap penghormatan. Bentuknya sangat konkret: menyerahkan pilihan tempat kepada orang yang datang, lalu memastikan keluhannya tidak sampai ke telinga siapa pun. Itu dua keputusan yang biasanya paling sulit diambil oleh orang yang sedang punya kedudukan — karena keduanya berarti melepas kendali atas waktu dan melepas hak untuk menceritakan. Pada zaman ketika keperluan orang lain sangat mudah berubah menjadi tontonan, kisah pendek ini menawarkan ukuran yang sederhana untuk kita pakai: apakah orang yang datang kepada kita pulang dengan keperluannya selesai, dan dengan rahasianya masih utuh. Kalau dua-duanya terjaga, jalan yang kita tempuh hari itu sudah menjadi jalan Madinah.
Sumber Asli
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم
46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم
314- حدثنا عليّ بن حجر. حدثنا سويد بن عبد العزيز عن حميد عن أنس بن مالك رضي الله عنه: «أن امرأة جاءت الى النبيّ صلى الله عليه وسلم فقالت له: إنّ لي اليك حاجة. فقال: اجلسي في أيّ طريق المدينة شئت أجلس إليك».
من الأنصار كما في البخاري وفي رواية ومعها صبي لها. وفي بعض حواشي الشفاء ان اسمها أم زفر ماشطة خديجة.
في رواية مسلم زيادة «فخلا معها في بعض الطريق حتى فرغت من حاجتها، والغرض من البعد حتى لا يسمع بشكواها أحد غيره صلى الله عليه وسلم.