Jamaah yang saya hormati, pekan yang baru saja kita lewati ini adalah pekan yang penuh cerita. Layar kita dipenuhi kisah-kisah pribadi yang sederhana dan hangat — pengalaman seseorang sepulang mendaki, seorang guru yang minta izin menyanyi sebentar di kelasnya, kenangan tentang percakapan dengan orang tua soal beasiswa. Ada satu hal kecil yang ingin saya bagikan malam ini, dan itu berangkat dari pertanyaan yang mungkin pernah singgah di hati kita sendiri: kenapa hidup orang lain kelihatan begitu rapi, sedangkan hidup kita naik-turun terus?
Saya mulai dengan sebuah pengakuan yang tercatat dalam Sahih Muslim 2750a. Pelakunya seorang sahabat bernama Hanzhalah al-Usayyidi, salah satu juru tulis Rasulullah ﷺ. Suatu hari Abu Bakr bertemu dengannya dan menanyakan kabarnya. Jawabannya bukan "alhamdulillah baik". Jawabannya mengagetkan:
"Abu Bakr menemuiku lalu bertanya: 'Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?' Aku menjawab: 'Hanzhalah telah munafik.'"
Coba bayangkan beratnya kalimat itu, saudara-saudara sekalian. Ia tidak berkata "saya sedang futur" atau "iman saya sedang turun". Ia memakai kata yang paling menakutkan dalam kamus seorang mukmin, dan ia memakainya untuk dirinya sendiri, di depan Abu Bakr. Lalu ia menjelaskan alasannya:
نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا
Kultum — "Hanzhalah Mengaku, Lalu Ia Ditenangkan" · Dakwah-Lens
"Kami berada di sisi Rasulullah ﷺ, beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala. Lalu ketika kami keluar dari sisi Rasulullah ﷺ, kami sibuk dengan istri, anak, dan ladang kami, sehingga banyak yang terlupa."
Nah, ini dia. Siapa di sini yang malam ini merasa bahwa hatinya jauh lebih lembut ketika sedang duduk di majelis dibanding ketika sedang mengantre di kasir, mengejar setoran, atau menghadapi anak yang rewel? Kalau kita mengangguk, berarti kita sedang mengalami persis apa yang dialami Hanzhalah. Dan yang menarik, Abu Bakr tidak menyanggah. Beliau justru berkata: demi Allah, kami pun mengalami hal serupa.
Dua orang sahabat besar berjalan bersama menuju Rasulullah ﷺ dengan keluhan yang sama. Dan di hadapan beliau, Hanzhalah mengulang pengakuannya dengan kalimat yang sama kerasnya. Yang perlu kita perhatikan adalah apa yang tidak terjadi di situ: tidak ada bentakan, tidak ada tuduhan balik, tidak ada pengusiran. Dari situ kita bisa mengambil satu hal: keadaan yang Hanzhalah rindukan memang keadaan yang tinggi, tetapi ia bukan ukuran normal bagi manusia yang masih punya istri, anak, dan ladang.
Saudara-saudara sekalian, inilah pesan yang ingin saya bawa pulang malam ini. Hati yang naik-turun bukanlah tanda kemunafikan. Ia tanda bahwa kita manusia. Yang berbahaya bukan turunnya, melainkan dua hal lain: menyembunyikannya, dan membiarkannya turun terus tanpa pernah kembali naik.
Mari kita hubungkan dengan pekan ini. Layar kita penuh cerita pribadi yang sudah dipilih potongan terbaiknya. Tidak ada yang salah dengan itu — orang memang berhak memilih apa yang ia bagikan. Tetapi efek sampingnya nyata: kita menonton puncak-puncak orang lain, lalu membandingkannya dengan lembah kita sendiri. Kita melihat orang yang sepertinya selalu bangun subuh, selalu tenang, selalu bersyukur. Lalu kita menyimpulkan bahwa kita saja yang bermasalah. Hanzhalah menyelamatkan kita dari kesimpulan itu, karena ia memperlihatkan bahwa juru tulis Rasulullah ﷺ sendiri pun pernah merasa dirinya rusak.
Ada satu peringatan lagi yang saya kira perlu berdampingan dengan ini. Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana dikutip dalam Nashaihul Ibad — باب الخماسي (3/3):
"Akan datang pada umatku suatu masa: mereka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara — mencintai dunia dan melupakan akhirat, mencintai kehidupan dan melupakan kematian, mencintai istana dan melupakan kubur, mencintai harta dan melupakan hisab, dan mencintai makhluk dan melupakan Sang Pencipta."
Perhatikan pasangan terakhirnya: mencintai makhluk dan melupakan Sang Pencipta. Itu bukan larangan mencintai manusia. Itu peringatan tentang perhatian. Dan pekan ini, perhatian adalah barang yang paling diperebutkan di negeri kita. Hanzhalah lupa karena istri, anak, dan ladang — tiga hal yang halal dan mulia. Kita bisa lupa karena layar, dan layar itu tidak seluruhnya buruk. Bahayanya sama: yang halal pun bisa memenuhi hati sampai tidak ada ruang tersisa.
Lalu apa yang kita bawa pulang malam ini? Tiga hal saja, jamaah, dan semuanya bisa dimulai dalam dua puluh empat jam ke depan.
Pertama, izinkan diri kita menjawab kabar dengan jujur. Besok, kalau ada saudara yang bertanya "apa kabar", coba sekali saja jangan menjawab dengan basa-basi. Hanzhalah tidak menyembunyikan keadaannya dari Abu Bakr, dan justru dari kejujuran itulah ia mendapat ketenangan.
Kedua, tetapkan satu titik kembali setiap hari. Hanzhalah turun ketika keluar dari majelis; ia naik lagi ketika kembali. Kita butuh titik kembali yang tetap — dua rakaat sebelum tidur, satu halaman Qur'an setelah Maghrib, atau dzikir pendek ketika menyalakan motor. Yang penting bukan besarnya, tetapi kembalinya.
Ketiga, kurangi menonton puncak orang lain. Pekan ini, pilih satu waktu tetap — misalnya satu jam setelah Isya — di mana layar diletakkan dan hanya ada kita, keluarga, dan Allah. Hati yang jarang sendirian akan sulit mengenali suaranya sendiri.
Jamaah yang saya hormati, kalau malam ini ada di antara kita yang merasa dirinya paling rusak di ruangan ini, saya ingin berkata: kemungkinan besar kita semua merasa begitu, dan perasaan itu tidak membuktikan apa-apa kecuali bahwa hati kita masih hidup. Hati yang sudah mati tidak menyadari kematiannya. Hanzhalah khawatir dirinya munafik — dan justru kekhawatiran itulah buktinya ia tidak.