Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Di mimbar ini kita biasa berbicara tentang hal-hal besar: keadilan, amanah, akhirat. Jumat ini izinkan kita mulai dari sesuatu yang sangat kecil dan sangat dekat — sebuah piring. Piring yang disiapkan seseorang, dibawa dengan kendaraan, diletakkan di meja sekolah, lalu disuapkan ke mulut anak sekolah dasar yang tidak pernah bertanya siapa yang memasaknya. Anak itu percaya. Kepercayaan itulah yang pekan ini terasa retak di banyak tempat.
Marilah kita buka dengan satu ayat yang pendek, tetapi berat. Allah berfirman dalam Kitab-Nya:
QS. Al-Muddaththir: 44
وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ ٱلْمِسْكِينَ
"dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,"
Perhatikanlah bentuk kalimatnya, hadirin. Ini bukan perintah, bukan larangan, bukan ancaman. Ini sebuah pengakuan. Ayat ini merekam kalimat yang kelak diucapkan sendiri oleh pelakunya, dengan kata "kami", di hadapan kenyataan yang tidak bisa lagi dibantah. Ada hal-hal yang di dunia ini terasa sepele — sekadar tidak mengurus, sekadar tidak menengok, sekadar tidak memberi makan — tetapi kelak diucapkan sebagai pengakuan dengan suara yang bergetar. Dan yang disebut di sana bukan kejahatan besar yang menggemparkan. Yang disebut adalah sesuatu yang tidak dilakukan.
Ma'asyiral muslimin, dari berita pekan ini kita ketahui bahwa program pemberian makan bergizi untuk anak sekolah kembali diikuti kabar keracunan massal, dan kabar itu menjadi percakapan paling ramai di ruang publik. Yang membuat percakapan itu panjang bukan hanya sakitnya anak-anak. Yang membuatnya panjang adalah bagaimana peristiwa itu dibahasakan — keracunan yang dibicarakan seakan hanya sakit perut biasa, dan rasa yang tertinggal di dada banyak orang tua bahwa tidak ada yang benar-benar meminta maaf. Lalu muncul keberatan berikutnya: ketika sesuatu salah, telunjuk bergerak ke bawah, ke arah guru yang justru berdiri paling dekat dengan anak-anak dan paling tidak punya kuasa atas dapur.
Kabar kedua yang sampai kepada kita datang dari udara. Kebakaran lahan dan kabut asap kembali dibicarakan, lengkap dengan penjelasan panjang tentang gambut yang telanjur dikeringkan dan sekat kanal yang seharusnya menahannya. Di tengah percakapan yang berat itu, ada satu kabar kecil yang justru paling menghibur: seseorang yang hendak membakar lahan berhasil dicegah — bukan oleh satuan besar, melainkan oleh petugas pemadam bersama warga yang kebetulan melihat dan tidak diam.
Kabar ketiga lebih sunyi, hadirin, tetapi justru paling banyak ditonton. Pekan ini ramai orang membicarakan duka yang tidak selesai, rasa mati rasa pada usia dewasa, dan cemas yang datang setelah seseorang dihakimi beramai-ramai di lini masa. Berdampingan dengan itu, orang mempertanyakan siapa sebenarnya yang menanggung iuran jaminan kesehatan kita bersama. Bahkan guyonan tentang nama dokter di papan seragam pun beredar luas — lucu di permukaan, tetapi menyimpan satu hal yang tidak lucu: kepercayaan kita pada layanan kesehatan sedang diuji, dan orang mengujinya lewat humor sebelum lewat aduan resmi.
Empat kabar itu tampak berjauhan. Piring anak sekolah, asap di lahan gambut, iuran layanan kesehatan, dan malam panjang seseorang yang tidak bisa tidur. Tetapi jika kita dengarkan baik-baik, keempatnya sedang menanyakan pertanyaan yang sama, hadirin: apakah masih ada yang menjaga? Bukan apakah sistemnya sempurna — tidak ada yang berharap sistem yang sempurna. Yang ditanyakan jauh lebih sederhana dan jauh lebih dalam: adakah orang yang merasa bahwa tubuh saya, napas saya, dan malam saya adalah tanggungannya juga?
Dan di sinilah, ma'asyiral muslimin, syariat kita punya jawaban yang sudah lama tersedia — jauh sebelum istilah-istilah modern tentang kesehatan masyarakat ditemukan. Menjaga jiwa dan raga manusia, hifz an-nafs, adalah salah satu sumbu utama maqashid syariat. Ia bukan kegiatan sosial tambahan setelah ibadah selesai. Ia adalah bagian dari ibadah itu sendiri, dan ia berbentuk fardh kifayah — kewajiban bersama yang gugur dari kita hanya jika ada cukup orang yang menanganinya, dan menjadi dosa bersama bila terbengkalai. Ketika seorang anak sakit karena makanan yang disiapkan atas nama kebaikan, itu bukan sekadar kelalaian teknis. Itu amanah yang belum tertunaikan, dan pertanyaannya akan diajukan kepada kita semua di yaumil hisab, bukan hanya kepada satu-dua orang yang namanya muncul di berita.
Hadirin yang dimuliakan Allah, sebelum kita melangkah lebih jauh, ada satu hal yang harus diluruskan lebih dulu di mimbar ini, karena kalau tidak, seluruh khutbah kita akan salah arah. Ketika musibah menimpa seseorang — seorang anak yang sakit setelah makan di sekolah, seorang ibu yang berat napasnya karena asap, seorang lansia yang badannya sudah tidak sekuat dulu — tidak seorang pun di antara kita berhak menyimpulkan bahwa musibah itu adalah vonis atas dosa mereka. Tidak. Dalam timbangan syariat, sakit yang menimpa seorang mukmin adalah ujian dan penggugur dosa, bukan surat keputusan tentang keburukannya.
Dan untuk itu, dengarlah riwayat berikut. Rasulullah ﷺ sendiri pernah menjadi pihak yang memakan makanan beracun. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu:
Sahih Muslim 2190a
أَنَّ امْرَأَةً، يَهُودِيَّةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِشَاةٍ مَسْمُومَةٍ فَأَكَلَ مِنْهَا فَجِيءَ بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَسَأَلَهَا عَنْ ذَلِكَ فَقَالَتْ أَرَدْتُ لأَقْتُلَكَ . قَالَ " مَا كَانَ اللَّهُ لِيُسَلِّطَكِ عَلَى ذَاكِ " . قَالَ أَوْ قَالَ " عَلَىَّ " . قَالَ قَالُوا أَلاَ نَقْتُلُهَا قَالَ " لاَ " . قَالَ فَمَا زِلْتُ أَعْرِفُهَا فِي لَهَوَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
"Bahwasanya seorang perempuan Yahudi datang kepada Rasulullah ﷺ dengan kambing beracun. Beliau memakannya sedikit. Lalu ia dibawa kepada Rasulullah ﷺ, dan beliau menanyainya. Ia menjawab, 'Aku ingin membunuhmu.' Beliau bersabda, 'Allah tidak akan membiarkanmu menguasai itu' — atau beliau berkata, 'atasku.' Mereka berkata, 'Bolehkah kami bunuh ia?' Beliau menjawab, 'Tidak.' Anas berkata: aku terus mengenali pengaruh racun itu di langit-langit Rasulullah ﷺ."
Ma'asyiral muslimin, perhatikan tiga hal dari riwayat ini, karena ketiganya langsung menyentuh keadaan kita pekan ini.
Pertama, makanan beracun itu sampai ke mulut manusia yang paling mulia di sisi Allah. Kalau ada satu orang di muka bumi yang mustahil sedang dihukum karena dosanya ketika ia sakit, orang itu adalah Rasulullah ﷺ. Maka sejak hari ini, hapuslah dari lidah kita segala kalimat yang menyiratkan bahwa anak-anak yang keracunan itu sedang menerima ganjaran, atau bahwa keluarganya pantas mendapatkannya. Kalimat semacam itu bukan hanya kejam; ia juga salah secara syar'i. Bahkan Anas menyebutkan bahwa pengaruh racun itu masih dikenalinya pada diri beliau ﷺ setelah peristiwanya berlalu. Sakit bisa tinggal lama di tubuh orang yang paling dicintai Allah. Itu bukan tanda murka.
Kedua, lihatlah apa yang pertama kali beliau ﷺ lakukan setelah peristiwa itu: beliau bertanya. Beliau tidak langsung memutuskan, tidak langsung menghukum, tidak langsung mengumumkan kesimpulan. Beliau memanggil dan menanyai. Alangkah jauhnya ini dari kebiasaan kita pekan ini, di mana kesimpulan sudah beredar di ribuan layar sebelum satu pun pertanyaan diajukan kepada orang yang paling tahu duduk perkaranya.
Ketiga — dan ini yang paling berat untuk zaman kita — ketika para sahabat menawarkan pembalasan, beliau ﷺ menjawab dengan satu kata: tidak. Riwayat ini berbicara tentang satu orang dan satu perbuatan, bukan tentang satu kaum; dan yang diteladankan di sini adalah sikap beliau, bukan perbuatan pelakunya. Menuntut agar dapur diperbaiki adalah kewajiban. Menuntut agar seseorang dihancurkan namanya adalah perkara lain. Kita boleh, bahkan harus, menuntut pertanggungjawaban atas proses; kita tidak diizinkan menjadikan seorang manusia sebagai sasaran pelampiasan.
Hadirin yang dimuliakan Allah, dari soal makanan kita beralih ke soal yang lebih halus: bagaimana kita memperlakukan orang yang sedang sakit. Dengarlah riwayat dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha:
Sahih Muslim 2213
لَدَدْنَا رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي مَرَضِهِ فَأَشَارَ أَنْ لاَ تَلُدُّونِي . فَقُلْنَا كَرَاهِيَةُ الْمَرِيضِ لِلدَّوَاءِ . فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ " لاَ يَبْقَى أَحَدٌ مِنْكُمْ إِلاَّ لُدَّ غَيْرُ الْعَبَّاسِ فَإِنَّهُ لَمْ يَشْهَدْكُمْ
"Kami memasukkan obat ke samping mulut Rasulullah ﷺ pada masa sakitnya. Beliau memberi isyarat agar kami tidak melakukannya. Kami berkata, 'Itu hanya keengganan orang sakit terhadap obat.' Ketika beliau pulih, beliau bersabda, 'Tidak akan tertinggal seorang pun di antara kalian kecuali harus diberi obat dengan cara yang sama, selain al-'Abbas — sebab ia tidak menyaksikan kalian.'"
Ma'asyiral muslimin, saya tidak akan menambahkan alasan yang tidak disebutkan oleh riwayat ini. Yang tertulis adalah ini: beliau ﷺ memberi isyarat menolak, isyarat itu ditafsirkan sebagai keengganan biasa seorang pasien, dan tindakan tetap diteruskan. Yang bisa kita ambil darinya sebagai pelajaran — dan ini pembacaan saya, bukan sebab yang dinyatakan riwayat — adalah betapa mudahnya orang yang merawat merasa lebih tahu daripada orang yang dirawat. Kita menafsirkan penolakan sebagai kemanjaan. Kita menerjemahkan keluhan sebagai berlebihan. Kita mendengar "perut saya sakit" lalu menjawab di dalam hati, "ah, paling masuk angin."
Dan di situlah, hadirin, jarak antara riwayat empat belas abad yang lalu dengan ruang kelas pekan ini menjadi sangat pendek. Ketika seorang anak berkata perutnya sakit setelah makan, dan jawaban yang ia terima adalah bahwa itu sakit perut biasa, maka yang sedang terjadi persis seperti kalimat dalam riwayat tadi: isyarat orang sakit ditafsirkan oleh orang yang tidak sedang sakit. Anak itu memberi isyarat. Kita yang memutuskan artinya.
Maka pelajaran pertama yang kita bawa pulang Jumat ini sederhana dan bisa langsung dikerjakan malam nanti: tanyakan dulu, jangan simpulkan dulu. Kepada anak kita. Kepada orang tua kita yang sudah sepuh dan sering berkata "tidak apa-apa" padahal apa-apa. Kepada tetangga yang sudah tiga Jumat tidak kelihatan di saf.
Hadirin yang dimuliakan Allah, sekarang izinkan saya membawa kita ke akar yang lebih dalam, karena semua yang kita bicarakan tadi bermuara ke satu penyakit hati yang oleh para ulama disebut penyakit yang paling sukar disembuhkan. Dalam Bidayatul Hidayah, 'ujub, kibr, dan fakhr disebut sebagai penyakit yang ganas, dan hakikatnya digambarkan dengan sangat tajam:
Bidayatul Hidayah — العجب والكبر والفخر / حديث جامع في معاصي القلب
وهو نظر العبد إلى نفسه بعين العز والاستظام، وإلى غيره بعين الاحتقار والذل
Yaitu seorang hamba memandang dirinya sendiri dengan pandangan kemuliaan dan keagungan, sementara memandang orang lain dengan pandangan rendah dan hina. Dan kitab itu melanjutkan dengan kalimat yang seharusnya membuat kita semua terdiam:
فكل من رأى نفسه خيرا من أحد من خلق الله تعالى فهو متكبر
Setiap orang yang memandang dirinya lebih baik daripada seorang pun dari makhluk Allah, maka ia adalah orang yang takabbur.
Ma'asyiral muslimin, kitab itu memberi kita satu ciri yang bekerja dua arah sekaligus. Disebutkan di sana bahwa orang yang takabbur itu: bila dinasihati, ia mengangkat hidung dan enggan menerima; dan bila menasihati orang lain, ia berlaku kasar. Dua arah, satu penyakit.
Dan bukankah itu persis wajah percakapan kita pekan ini? Di satu sisi ada pihak yang dinasihati lalu mengangkat hidung — keluhan banyak orang tua dijawab dengan kalimat yang memperkecil, sakitnya anak-anak dikerdilkan menjadi keluhan sepele. Di sisi lain ada kita, yang menasihati dengan kasar — mengetik dengan jari yang panas, mencari satu nama untuk dijadikan sasaran, menertawakan orang yang bekerja di layanan kesehatan, dan menuding guru yang justru sedang menunggui anak-anak yang sakit. Kedua-duanya, kata kitab ini, adalah cabang dari pohon yang sama.
Maka obatnya pun disebutkan di halaman yang sama, dan obat itu terasa nyaris mustahil bagi zaman yang gemar menang:
بل ينبغي ألا تنظر إلى أحد إلا وترى أنه خير منك
Bahkan sepatutnya engkau tidak memandang seorang pun kecuali engkau melihat bahwa ia lebih baik darimu.
Hadirin, coba bayangkan bagaimana percakapan pekan ini akan berubah bila kalimat itu kita bawa ke lini masa. Bila seorang pejabat memandang seorang juru masak di dapur penyedia sebagai orang yang lebih baik darinya di sisi Allah. Bila seorang pengguna media sosial memandang seorang perawat yang lelah sebagai orang yang lebih baik darinya. Bila kita memandang guru yang panik menghitung muridnya sebagai orang yang lebih baik dari kita yang hanya menonton dari jauh. Tidak satu pun tuntutan perbaikan yang hilang karena pandangan ini. Yang hilang hanya kekejamannya.
Lalu bagaimana caranya menegur tanpa menjadi kasar? Di sinilah Adab al-'Alim wa al-Muta'allim memberi kita daftar yang sangat konkret tentang akhlak kepada manusia:
Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / الثامن / التاسع
معاملة الناس بمكارم الأخلاق من طلاقة الوجه، وإفشاء السلام وإطعام الطعام، وكظم الغيظ، وكف الأذى عن الناس
Bergaul dengan manusia dengan akhlak yang mulia: wajah yang berseri, menyebarkan salam, memberi makan, menahan kemarahan, dan menahan diri dari menyakiti orang lain.
Perhatikanlah, hadirin, betapa daftar itu mencampur hal-hal yang di kepala kita terpisah. Wajah yang berseri disebut sederajat dengan memberi makan. Menahan marah disebut berdampingan dengan tidak menyakiti. Dalam pandangan syariat, memberi makan orang lapar dan menahan lisan dari menyakiti orang lain adalah dua cabang dari satu pohon akhlak yang sama. Artinya, seseorang yang menyumbang untuk korban keracunan sambil mencaci-maki di kolom komentar sedang membangun dengan tangan kanan dan merobohkan dengan tangan kiri.
Dan kitab yang sama melanjutkan dengan petunjuk yang sangat kita butuhkan pekan ini. Disebutkan bahwa apabila seseorang melihat orang lain yang tidak menegakkan kewajibannya, hendaklah ia membimbingnya dengan lembut dan ramah:
إرشاده بتلطف ورفق كما فعل رسول الله - صلى الله عليه وسلم - مع الأعرابي الذي بال في المسجد
Kitab ini menunjuk kepada cara Rasulullah ﷺ membimbing dengan lembut dalam dua peristiwa yang dikenal — kepada seorang Badui yang kencing di masjid, dan kepada Mu'awiyah bin al-Hakam ketika ia berbicara di dalam shalat. Saya tidak akan menceritakan detail kedua peristiwa itu di mimbar ini lebih jauh dari yang disebutkan kitabnya. Cukuplah satu hal yang ingin saya garis bawahi: kedua orang itu melakukan kesalahan di tempat yang paling sensitif, yaitu di dalam masjid dan di dalam shalat. Dan tetap saja, cara yang dipilih adalah kelembutan. Kalau di situ pun kelembutan yang dipilih, di mana lagi kita merasa berhak menjadi kasar?
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, sampailah kita pada jalan keluarnya. Kalau ayat pembuka tadi merekam pengakuan orang yang tidak memberi makan, maka Al-Qur'an juga merekam jalan yang berlawanan. Allah berfirman:
QS. Al-Balad: 14
أَوْ إِطْعَٰمٌۭ فِى يَوْمٍۢ ذِى مَسْغَبَةٍۢ
"atau memberi makan pada hari kelaparan,"
Dengarlah pilihan katanya, hadirin: bukan sekadar memberi makan, melainkan memberi makan pada hari kelaparan. Ada penanda waktu di situ. Ada keadaan darurat yang disebut. Artinya, nilai sebuah suapan tidak pernah berdiri sendiri; ia ditimbang bersama keadaan ketika suapan itu diberikan. Sepiring nasi di hari yang lapang tidak sama beratnya dengan sepiring nasi di hari ketika orang tidak punya apa-apa. Dan hari-hari seperti itu bukan hanya hari paceklik. Hari ketika seorang ibu harus menunggui anaknya di puskesmas dan dapurnya dingin sejak pagi — itu juga hari kelaparan. Hari ketika seorang kepala keluarga kehilangan pemasukan karena asap membuatnya tidak bisa bekerja — itu juga hari kelaparan.
Dua ayat pendek yang kita baca Jumat ini, hadirin, sebetulnya membentuk satu garis lurus. Yang satu merekam pengakuan orang yang tidak memberi makan. Yang lain menyebut memberi makan di hari kelaparan sebagai amal yang Allah muliakan. Di antara kedua ayat itu, ada kita, hari ini, dengan telepon genggam di tangan dan satu pilihan yang harus diambil sebelum Jumat depan: menjadi penonton, atau menjadi orang yang menjaga.
Maka, ma'asyiral muslimin, izinkan saya menutup khutbah pertama ini dengan beberapa langkah yang bisa kita kerjakan bersama, dan semuanya berukuran kecil supaya benar-benar terjadi, bukan sekadar terdengar bagus di mimbar.
Yang pertama, jadikan bertanya sebagai kebiasaan sebelum menyimpulkan. Malam ini juga, tanyakan kepada anak kita apa yang ia makan hari ini di sekolah, jam berapa, dan bagaimana rasanya di perut. Bukan sebagai interogasi, melainkan sebagai kebiasaan keluarga. Anak yang terbiasa menyebutkan apa yang ia rasakan akan lebih cepat tertolong ketika ada yang benar-benar salah, dan akan lebih sulit diyakinkan bahwa keluhannya tidak penting.
Yang kedua, arahkan tuntutan kita pada proses, bukan pada orang. Kalau kita punya keberatan tentang dapur penyedia makanan di sekolah anak kita, tuliskan keberatan itu sebagai pertanyaan tentang alur kerja: dari jam berapa dimasak, disimpan di mana, berapa lama sampai di meja anak. Pertanyaan tentang proses bisa dijawab dan bisa diperbaiki. Serangan terhadap nama seseorang tidak memperbaiki apa pun, dan sering justru membuat pihak yang kita tuntut menutup pintu.
Yang ketiga, hidupkan kembali sunnah menjenguk. Di antara jamaah kita ada yang pekan ini anaknya sakit, ada yang menunggui orang tuanya di rumah sakit, dan ada yang sedang berat sekali jiwanya tanpa seorang pun tahu. Selepas Jumat ini, pilih satu nama. Datang, atau minimal telepon — bukan mengirim pesan berantai, melainkan menanyakan kabar dengan suara sendiri. Kehadiran adalah obat yang tidak ada di daftar apotek mana pun.
Yang keempat, jaga jari kita sebagaimana kita menjaga lisan. Sebelum meneruskan satu kiriman tentang anak yang sakit, tentang dokter yang ditertawakan, atau tentang guru yang dituding, tanyakan satu hal: apakah ini menolong korban, atau hanya menambah keramaian? Kalau jawabannya yang kedua, berhentilah di jari kita. Satu rantai yang putus di tangan kita adalah sedekah yang tidak terlihat siapa pun.
Yang kelima, sepakati satu jalur lapor yang sederhana di lingkungan kita. Satu nomor yang dikenal semua warga untuk melaporkan bau asap, bakaran terbuka, atau makanan bantuan yang mencurigakan. Peristiwa pekan ini mengajarkan bahwa pencegahan yang berhasil hampir selalu datang dari orang terdekat yang tidak diam, bukan dari lembaga yang jauh.
Yang keenam, sisihkan sedikit untuk hari kelaparan orang lain. Tidak perlu besar. Satu rantang untuk satu rumah yang sedang ada yang sakit, satu kali dalam sepekan. Inilah bentuk paling sederhana dari ayat yang kita baca tadi, dan inilah yang akan kita cari-cari di hari ketika semua amal ditimbang.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ada satu hal dari khutbah pertama tadi yang ingin saya gali sedikit lebih dalam sebelum kita berdoa bersama. Kita tadi berbicara tentang penyakit yang bekerja dua arah: enggan menerima nasihat, dan kasar ketika memberi nasihat. Yang perlu kita sadari adalah bahwa arah kedua jauh lebih mudah menjangkiti orang-orang yang merasa sedang berada di pihak yang benar. Justru karena kita yakin sedang membela anak-anak yang sakit, kita merasa berhak berkata apa saja kepada siapa saja. Padahal kebenaran posisi tidak pernah menjadi izin untuk kekasaran lisan. Di situlah setan masuk lewat pintu yang paling tidak kita jaga — pintu merasa benar.
Hal kedua, hadirin, tentang rasa lelah. Sebagian dari jamaah yang duduk di sini pekan ini sedang menanggung sesuatu yang tidak kelihatan: duka yang belum selesai, kecemasan yang datang tanpa sebab yang jelas, atau rasa mati rasa yang membuat segala sesuatu terasa jauh. Jangan pernah menyimpulkan bahwa keadaan itu adalah tanda lemahnya iman seseorang. Tubuh dan jiwa adalah dua titipan yang bisa sama-sama sakit, dan keduanya sama-sama layak dirawat. Yang dituntut dari kita bukan agar kita tidak pernah lelah, melainkan agar kita tidak membiarkan saudara kita lelah sendirian.
Hal ketiga, tentang harapan. Syariat kita tidak pernah menutup pintu bagi siapa pun yang merasa sudah tidak sanggup. Selama napas masih ada, pintu memohon kepada Allah tidak pernah terkunci, dan tidak ada seorang pun yang boleh memutuskan bahwa dirinya sudah berada di luar jangkauan rahmat-Nya. Kalau ada di antara kita yang malam-malam belakangan ini merasa tidak ada gunanya lagi meminta, hendaklah ia tahu bahwa perasaan itu bukan kenyataan. Dan kepada kita yang keadaannya sedang lapang, ada tugas yang tidak bisa diwakilkan: memperhatikan siapa yang menghilang, siapa yang berubah, siapa yang berhenti menjawab pesan, lalu mendatanginya.
Hal keempat, tentang apa yang kita wariskan. Anak-anak yang pekan ini keracunan akan tumbuh besar dengan satu ingatan: entah ingatan bahwa ketika mereka sakit, orang dewasa di sekitarnya bertanya dan menemani; atau ingatan bahwa ketika mereka sakit, orang dewasa sibuk berdebat dan saling menyalahkan di layar. Kita sedang menulis ingatan itu pekan ini, hadirin, tanpa kita sadari.