Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumKesehatan & KehidupanKamis, 17 September 2026

Kultum — "Datang, Tanya, Lalu Doakan"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا تُقَدَّرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنَ الْقَوِيَّ خَيْرٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, para jamaah sekalian. Pekan yang baru saja kita lewati adalah pekan yang berat untuk banyak keluarga. Kabar yang sampai kepada kita berisi anak-anak sekolah yang sakit setelah makan, perdebatan tentang layanan kesehatan dan siapa yang menanggung iurannya, serta asap kebakaran lahan yang kembali dibicarakan. Di sela-sela semua itu, ada kabar yang lebih sunyi dan justru paling banyak ditonton — orang-orang membicarakan duka yang tidak selesai, rasa mati rasa di usia dewasa, dan cemas yang datang setelah seseorang dihakimi beramai-ramai di lini masa.

Malam ini saya tidak ingin membahas siapa yang salah. Sudah cukup banyak orang mengerjakan pekerjaan itu pekan ini. Saya ingin membahas satu hal yang justru paling sedikit dikerjakan: apa yang kita lakukan ketika seseorang di dekat kita sedang tidak baik-baik saja.

Mari kita mulai dari satu ayat yang sangat pendek. Allah berfirman:

QS. Al-Balad: 14

أَوْ إِطْعَٰمٌۭ فِى يَوْمٍۢ ذِى مَسْغَبَةٍۢ

"atau memberi makan pada hari kelaparan,"

Perhatikan, jamaah, ada dua kata yang tidak boleh kita lewatkan: hari kelaparan. Allah tidak sekadar menyebut memberi makan. Allah menyebut waktunya. Artinya, nilai satu piring itu naik dan turun tergantung kapan ia diberikan. Sepiring nasi di hari lapang adalah kebaikan biasa. Sepiring nasi yang datang pada hari ketika seseorang sedang tidak sanggup memasak — karena anaknya sakit, karena ia sendiri sakit, karena hatinya sedang remuk — nilainya lain sama sekali. Dan saya kira sebagian dari kita pekan ini punya tetangga yang sedang menjalani hari seperti itu, tanpa kita tahu.

Sekarang, izinkan saya membacakan satu riwayat yang menurut saya adalah salah satu adegan paling lembut dalam sunnah Nabi kita ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda dan bertindak dalam riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu:

Sahih Muslim 2688a

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِي بِهِ فِي الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِي فِي الدُّنْيَا ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ - أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ - أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ

"Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk seorang muslim yang telah lemah hingga menjadi seperti anak burung. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, 'Apakah engkau pernah berdoa atau memohon sesuatu kepada Allah?' Ia menjawab, 'Ya, aku biasa berkata: Ya Allah, apa yang akan Engkau azabkan kepadaku di akhirat, segerakanlah ia bagiku di dunia.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda, 'Subhanallah, engkau tidak akan mampu menanggungnya — tidakkah engkau katakan: Ya Allah, berilah kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan, dan lindungilah kami dari azab neraka?' Lalu beliau berdoa untuknya, dan Allah menyembuhkannya."

Jamaah yang saya hormati, mari kita perlambat riwayat ini, karena di dalamnya ada tiga gerakan yang sangat kita butuhkan pekan ini.

Gerakan pertama: beliau datang. Riwayat ini tidak dimulai dengan nasihat. Ia dimulai dengan kaki yang melangkah. Orang itu sudah begitu lemah sampai digambarkan seperti anak burung — dan yang pertama terjadi bukan ceramah, melainkan kunjungan. Ini teguran halus buat kita semua, termasuk buat saya. Kita ini generasi yang sangat cepat memberi nasihat dan sangat lambat mengangkat pantat dari kursi. Kita mengetik "yang sabar ya" dalam tiga detik, lalu merasa urusan sudah selesai.

Gerakan kedua: beliau bertanya. Perhatikan pertanyaannya, jamaah — beliau menanyakan apa yang biasa orang itu panjatkan. Beliau tidak langsung menceramahi, tidak langsung mendiagnosis, tidak langsung menyimpulkan. Beliau membuka ruang supaya orang yang sedang menderita itu berbicara lebih dulu. Dan karena beliau bertanya, keluarlah satu kalimat yang mengagetkan: ternyata orang itu sudah lama berdoa agar hukumannya disegerakan saja di dunia. Itu kalimat seorang yang sudah kehabisan harapan pada dirinya sendiri. Kalimat semacam itu tidak akan pernah kita dengar kalau kita datang hanya untuk berbicara.

Siapa di sini yang pekan ini sempat bertanya, dengan sungguh-sungguh, kepada satu orang saja: "kamu lagi gimana sebenarnya?" — lalu diam dan benar-benar mendengarkan jawabannya? Saya jujur saja, saya sendiri sering lupa.

Gerakan ketiga: beliau membetulkan arah doanya, lalu mendoakannya. Dan lihatlah betapa lembut cara membetulkannya. Beliau tidak berkata "doamu salah, kamu kurang iman". Beliau menawarkan kalimat pengganti — doa yang meminta kebaikan, bukan doa yang meminta hukuman dipercepat. Sesudah itu, beliau tidak pergi begitu saja; beliau berdoa untuk orang itu. Riwayat ini ditutup dengan kalimat yang pendek dan menenangkan: lalu Allah menyembuhkannya.

Dan perhatikan satu hal lagi, jamaah. Lelaki itu bukan orang yang jauh dari Allah — ia justru orang yang rajin berdoa. Hanya saja doanya sudah berbelok arah, dari meminta kebaikan menjadi meminta hukuman dipercepat. Artinya, seseorang bisa tetap beribadah sambil diam-diam kehilangan harapan pada dirinya sendiri, dan dari luar kita tidak akan pernah tahu. Yang membuatnya ketahuan bukan pengamatan kita, melainkan pertanyaan kita.

Jamaah sekalian, inilah yang ingin saya bawakan malam ini. Ketika seseorang sedang berat sekali jiwanya, sampai-sampai ia merasa lebih baik dihabisi saja sekarang daripada nanti, maka yang ia butuhkan bukan orang yang menghakimi isi kepalanya. Ia butuh orang yang datang, orang yang bertanya, dan orang yang mendoakan. Dan perhatikan: dalam riwayat tadi, tidak ada satu pun kalimat yang menyalahkan orang sakit itu atas keadaannya. Tidak ada. Itu penting sekali untuk kita ingat pekan ini, ketika banyak sekali orang merasa berhak menilai kualitas iman orang lain dari seberapa tegar mereka kelihatan.

Maka izinkan saya mengajak kita semua mengerjakan tiga hal sebelum matahari terbit besok. Pertama, pilih satu nama — satu saja — dari orang yang pekan ini menghilang dari grup, berhenti membalas pesan, atau kelihatan berubah. Kedua, hubungi dia dengan suara sendiri, bukan dengan pesan berantai, dan tanyakan satu pertanyaan terbuka lalu diam mendengarkan. Ketiga, sebutkan namanya dalam doa kita malam ini, meski hanya satu kalimat. Datang, tanya, lalu doakan. Itu saja. Tiga gerakan yang tidak butuh gelar, tidak butuh biaya, dan tidak ada satu pun dari kita yang tidak sanggup mengerjakannya.

Dan kalau malam ini justru kita sendiri yang sedang berat, ketahuilah bahwa pintu meminta kepada Allah tidak pernah dikunci untuk siapa pun. Perasaan bahwa kita sudah tidak layak meminta itu bukanlah kenyataan; ia hanya perasaan. Mintalah kebaikan, jangan meminta dipercepat hukumannya — sebagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan kalimat pengganti kepada lelaki dalam riwayat tadi.

Mari kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَعَافِ أَبْدَانَنَا وَأَبْدَانَ أَوْلَادِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ طَعَامِنَا وَشَرَابِنَا

اَللّٰهُمَّ آنِسْ كُلَّ وَحِيْدٍ، وَاشْرَحْ صَدْرَ كُلِّ مَهْمُوْمٍ، وَارْزُقْنَا قُلُوْبًا تَحْضُرُ لِإِخْوَانِهَا قَبْلَ أَنْ تَحْكُمَ عَلَيْهِمْ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan