Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada satu ayat yang turun untuk mengatur perang, tetapi perintah pertamanya justru tidak ditujukan kepada yang berperang. Ia ditujukan kepada yang menyaksikan. Allah berfirman dalam QS. Al-Hujuraat: 9:
وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱقْتَتَلُوا۟ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنۢ بَغَتْ إِحْدَىٰهُمَا عَلَى ٱلْأُخْرَىٰ فَقَٰتِلُوا۟ ٱلَّتِى تَبْغِى حَتَّىٰ تَفِىٓءَ إِلَىٰٓ أَمْرِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا بِٱلْعَدْلِ وَأَقْسِطُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ
"Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil."
Hadirin yang dimuliakan Allah, perhatikan susunan kalimatnya, sebab di situlah seluruh pelajaran pekan ini terletak. Ayat ini membuka dengan gambaran dua pihak yang sudah saling angkat senjata — keadaan paling panas yang bisa dibayangkan. Lalu perintah yang jatuh pertama kali bukan "pilihlah pihak yang benar", bukan pula "diamlah, itu bukan urusanmu". Perintah pertamanya adalah: damaikanlah. Orang ketiga, yang berdiri di luar pertikaian, ternyata punya tugas. Ia tidak dibiarkan menjadi penonton.
Kemudian ayat itu melanjutkan dengan sangat jujur. Kalau ternyata satu pihak melampaui batas dan tidak mau berhenti, ia tidak boleh dibiarkan. Islam tidak mengajarkan netralitas yang buta, yang menyamakan tangan yang memukul dengan kepala yang dipukul. Tetapi lihatlah bagaimana ayat ini ditutup. Bahkan setelah kezaliman dihentikan, perintahnya kembali kepada adil dan qisth. Bukan kepada dendam, bukan kepada balasan yang setimpal-lebih, bukan kepada kemenangan yang dirayakan di atas penderitaan. Dan kalimat terakhirnya adalah kalimat yang paling perlu kita bawa pulang siang ini: sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Kabar yang sampai kepada kita pekan ini menempatkan ayat itu tepat di depan mata. Dari berita pekan ini kita dengar klaim bahwa Iran memukul mundur sebuah kapal induk Amerika dan menghabisi pangkalan militernya di kawasan Timur Tengah. Kita dengar pula kabar bahwa sebuah jaringan pipa minyak di Arab Saudi dibom, harga minyak dunia menembus seratus dolar per barel, dan lima juta barel per hari hilang dari peredaran. Kabar ketiga datang dalam bentuk pertanyaan: benarkah markas intelijen Israel hancur setelah fasilitas energinya diserang — disertai peringatan keras seorang kepala negara kepada seorang perdana menteri agar tidak memperpanjang perkara.
Dan di sinilah, jamaah, kejujuran pertama yang harus kita ucapkan dari mimbar ini. Tidak satu pun dari kita yang berdiri atau duduk di ruangan ini menyaksikan peristiwa-peristiwa itu. Kita menerimanya sebagai klaim. Sebagian besar sampai kepada kita bukan sebagai laporan seorang saksi, melainkan sebagai judul tayangan yang dirancang supaya diklik. Bahkan sebagiannya ditutup dengan tanda tanya, yang artinya penulisnya sendiri mengaku belum tahu. Maka orang beriman yang jujur akan berkata: saya mendengar kabar ini, saya belum tahu kebenarannya. Kalimat sesederhana itu hari ini terasa langka, padahal ia adalah pangkal dari seluruh sikap yang benar.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada yang berubah di zaman kita, dan perubahan itu perlu kita sadari dengan tenang. Dahulu, kabar perang sampai berminggu-minggu setelah kejadian, dibawa oleh musafir yang bisa ditanyai wajahnya. Hari ini kabar perang sampai dalam hitungan detik, dibawa oleh potongan gambar yang tidak bisa ditanyai apa-apa. Yang bertambah adalah kecepatan dan jumlahnya; yang berkurang adalah kemampuan kita memeriksa. Dan ketika kecepatan naik sementara kemampuan memeriksa turun, yang tumbuh subur bukan pengetahuan, melainkan kegaduhan.
Kegaduhan itu, jamaah, tidak berhenti di dalam telepon genggam. Ia masuk ke rumah. Ia mengubah cara kita makan malam, cara kita menjawab pertanyaan anak, bahkan cara kita memandang tetangga yang kebetulan berbeda pendapat tentang perang yang sama-sama tidak kita saksikan. Tidak sedikit rumah tangga yang menjadi tegang bukan karena perang di seberang benua, melainkan karena perdebatan tentang perang itu di grup percakapan keluarga. Ada persahabatan yang renggang bukan karena rudal, melainkan karena tangkapan layar.
Dan ada pula lapisan yang lebih dekat lagi ke perut kita. Kabar tentang harga minyak yang melonjak segera berubah menjadi kecemasan tentang harga angkutan, harga beras, dan harga telur di pasar dekat rumah. Kecemasan itu wajar, hadirin, dan tidak pantas ditertawakan oleh siapa pun yang belanjanya tidak pernah dihitung ulang. Tetapi kecemasan yang tidak dikelola melahirkan dua perilaku yang sama-sama merusak: sebagian orang tergoda menimbun dan berspekulasi seolah rasa aman bisa dibeli lebih dulu daripada tetangga, dan sebagian lain justru lumpuh — merasa persoalan ini terlalu besar, lalu berhenti melakukan apa pun kecuali mengeluh bersama-sama.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Maka inilah pertanyaan khutbah kita siang ini. Di tengah perang yang tidak kita mulai, tidak kita saksikan, dan tidak bisa kita hentikan — apa sebenarnya amanah yang Allah letakkan di pundak kita? Jawabannya tidak berada di ruang strategi militer yang memang bukan bidang kita. Jawabannya berada di tiga ruang kecil yang seratus persen berada dalam kuasa kita: apa yang kita teruskan dengan jari kita, apa yang kita keluarkan dari harta kita, dan bagaimana kita memperlakukan saudara kita sendiri yang berdiri paling dekat dengan kita.
Ruang pertama adalah tangan kita sendiri. Imam al-Ghazali rahimahullah menulis satu pasal pendek tentang adab kedua tangan, dan pasal itu terasa seperti ditulis untuk zaman papan ketik.
Bidayatul Hidayah — آداب اليدين / آداب الرجلين
وأما اليدان: فاحفظهما عن أن تضرب بهما مسلما، أو تتناول بهما مالا حراما، أو تؤدي بهما أحدا من الخلق، أو تخون بهما في أمانة أو وديعة، أو تكتب بهما ما لا يجوز النطق به، فإن القلم أحد اللسانين، فاحفظ القلم عما يجب حفظ اللسان عنه.
"Adapun kedua tangan, maka jagalah keduanya dari memukul seorang Muslim, dari mengambil harta haram, dari menyakiti seorang pun dari makhluk Allah, dari mengkhianati amanah atau titipan, dan dari menulis sesuatu yang tidak halal untuk diucapkan. Karena sesungguhnya pena adalah salah satu dari dua lisan. Maka jagalah pena dari apa-apa yang lisan wajib dijaga darinya."
Hadirin yang dimuliakan Allah, bacalah urutan daftar itu pelan-pelan. Yang pertama disebut adalah memukul. Yang terakhir disebut adalah menulis. Keduanya diletakkan dalam satu kalimat, di bawah satu anggota badan yang sama. Bagi kebanyakan kita, memukul terasa sebagai kejahatan dan menulis terasa sebagai kebiasaan. Tetapi kitab ini menaruh keduanya berdampingan, lalu memberi alasannya dengan satu kalimat yang menutup semua pintu pembelaan: pena adalah salah satu dari dua lisan.
Yang bisa kita ambil dari kalimat itu, jamaah, adalah sebuah timbangan baru untuk perbuatan yang selama ini tidak kita hitung sebagai perbuatan. Meneruskan sebuah kabar perang yang belum kita periksa bukanlah peristiwa netral. Ia adalah pekerjaan tangan. Dan pekerjaan tangan itu punya jejak: satu klaim palsu tentang siapa membantai siapa, kalau diteruskan sepuluh ribu kali, sanggup mengubah cara satu kampung memandang satu kelompok manusia selama bertahun-tahun. Kita tidak akan pernah tahu berapa banyak kebencian yang lahir dari jari kita, karena kebencian tidak mencantumkan nama pengirimnya.
Dan perhatikan pula frasa yang mudah terlewat di tengah daftar itu: menyakiti seorang pun dari makhluk Allah. Bukan "seorang Muslim" saja — makhluk Allah. Pagar yang dipasang kitab ini jauh lebih lebar daripada pagar yang biasa kita pasang sendiri. Pada pekan ketika layar kita penuh gambar orang-orang yang tidak kita kenal namanya, pelajaran itu mendesak: darah orang yang bukan tentara, di pihak mana pun ia berdiri, bukan angka dalam skor pertandingan. Ia nyawa yang kelak ditanyakan.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Ruang kedua adalah kegaduhan. Ada satu adab majelis yang ditulis oleh para ulama kita, dan kalimat pembukanya terdengar seperti diagnosa atas grup percakapan kita hari ini.
Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / السابع
أن يصون مجلسه عن اللغط؛ فإن الغلط تحت اللغط، وعن رفع الأصوات واختلاف جهات البحث.
"Hendaklah ia menjaga majelisnya dari laghath — keributan — sebab kesalahan itu terletak di bawah keributan; dan menjaganya dari suara-suara yang meninggi serta dari arah pembahasan yang bercabang-cabang."
Satu potongan kalimat di tengahnya layak kita hafalkan: kesalahan terletak di bawah keributan. Artinya, kegaduhan bukan sekadar mengganggu telinga — ia adalah tempat persembunyian. Di dalam ruangan yang riuh, kekeliruan tidak akan tertangkap, karena tidak ada satu pun yang sempat diperiksa sampai tuntas. Dan inilah persis keadaan ruang percakapan kita pekan ini: satu klaim belum selesai diperiksa, tiga klaim baru sudah masuk; satu pertanyaan belum dijawab, sepuluh potongan video sudah menumpuk di atasnya.
Kitab yang sama melanjutkan dengan dua nasihat yang saling melengkapi. Yang pertama tentang waktu bertindak.
ويتلطف في دفع ذلك من مباديه قبل انتشاره وثوران النفوس
"Dan hendaklah ia berlemah lembut dalam meredam hal itu sejak awal mulanya, sebelum ia menyebar dan sebelum jiwa-jiwa memanas."
Yang kedua tentang tujuan berkumpul.
وأن مقصود الاجتماع ظهور الحق وصفاء القلوب وطلب الفائدة
"Dan bahwa maksud dari perkumpulan itu adalah tampaknya kebenaran, bersihnya hati-hati, dan mencari faedah."
Jamaah yang dimuliakan Allah, dua kalimat itu memberi kita ukuran yang sangat praktis. Ukuran pertama: waktu terbaik menghentikan perselisihan adalah sebelum ia menyebar dan sebelum dada memanas — bukan sesudah dua pihak saling melempar tangkapan layar semalam suntuk. Ukuran kedua: setiap perkumpulan, termasuk grup percakapan keluarga, punya maksud yang seharusnya dijaga. Kalau setelah sepekan sebuah grup tidak menghasilkan satu pun kebenaran yang lebih jelas, tidak membuat hati siapa pun lebih bersih, dan tidak memberi faedah kepada seorang pun — maka yang tersisa dari perkumpulan itu hanyalah keributan, dan kita sudah tahu apa yang bersembunyi di bawahnya.
Ruang ketiga, hadirin, adalah kejujuran kita dalam menamai kezaliman. Kita hidup di zaman ketika penilaian tentang siapa yang zalim sering ditentukan lebih dahulu oleh siapa pelakunya, baru kemudian oleh apa perbuatannya. Kitab fiqh kita mengajarkan urutan yang terbalik. Dalam bab tentang ghashb, perampasan hak, definisinya diletakkan tanpa sedikit pun menyebut siapa pelakunya.
Fath al-Qarib — كتاب أحكام البيوع وغيرها من المعاملات كقراض وشركة / • الغصب
وهو لغةً أخذ الشيء ظُلمًا مجاهرة، وشرعا الاستيلاء على حق الغير عُدْوانًا.
"Ghashb secara bahasa adalah mengambil sesuatu secara zalim dengan terang-terangan; dan secara syara' adalah menguasai hak orang lain dengan melampaui batas."
Dua kata kunci di situ: hak orang lain, dan melampaui batas. Tidak ada tambahan "kecuali kalau pelakunya sebangsa dengan kita", tidak ada pengecualian "kecuali kalau yang dirampas adalah pihak yang tidak kita sukai". Definisi itu berdiri sendiri, dan justru karena berdiri sendiri, ia bisa dipakai menimbang siapa saja — termasuk menimbang diri kita sendiri. Inilah yang membedakan keadilan dari keberpihakan. Keberpihakan menanyakan siapa yang berbuat; keadilan menanyakan apa yang diperbuat.
Dan di sinilah ayat pembuka khutbah kita tadi menutup lingkarannya. Setelah memerintahkan agar pihak yang melampaui batas dihentikan, Allah tidak menutup ayat dengan "maka kalian menang". Allah menutupnya dengan perintah berlaku adil, lalu menyebutkan bahwa Dia mencintai orang-orang yang berlaku adil. Kemenangan bukan tujuan akhir; keadilan yang tujuan akhirnya. Maka seorang mukmin tidak pernah punya izin untuk bergembira atas jatuhnya korban di kalangan orang yang tidak ikut berperang, di pihak mana pun mereka lahir, dan tidak pernah punya izin untuk membenarkannya dengan alasan apa pun.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Mungkin ada yang bertanya dalam hati: bukankah semua ini terlalu besar untuk kita? Kita tidak punya kapal, tidak punya kursi di forum dunia, tidak punya apa-apa selain telepon genggam dan dompet yang tipis. Jawaban syariat atas pertanyaan itu selalu sama: keadilan dilatih dari perkara yang paling kecil. Kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim menukilkan sebuah riwayat tentang seorang Anshar yang datang bertanya kepada Nabi ﷺ, lalu datang pula seorang laki-laki dari Tsaqif sesudahnya. Maka Nabi ﷺ bersabda kepada yang datang belakangan:
Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / العاشر
يا أخا ثقيف إن الأنصاري قد سبقك بالمسألة فاجلس كيما نبدأ بحاجة الأنصاري قبل حاجتك.
"Wahai saudara Tsaqif, sungguh orang Anshar ini telah mendahuluimu dalam pertanyaan — maka duduklah, agar kita memulai dengan kebutuhan orang Anshar sebelum kebutuhanmu."
Renungkanlah perkara yang sedang dijaga di situ, jamaah. Bukan perbatasan negara, bukan perjanjian damai, melainkan urutan antrean bertanya. Hak sekecil itu pun ditegakkan oleh manusia paling mulia. Dan dari situ kita belajar satu hal yang menyelamatkan: orang yang tidak sanggup jujur pada antrean di pengisian bahan bakar, tidak perlu berharap suaranya berbobot ketika berbicara tentang keadilan bangsa-bangsa. Keadilan besar tidak jatuh dari langit; ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dirawat bertahun-tahun.
Ruang keempat, dan ini yang paling sering terlupakan: saudara yang berdiri paling dekat dengan kita. Allah berfirman dalam QS. Al-Hujuraat: 10:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."
Ayat ini datang persis sesudah ayat tentang dua kelompok yang berperang, dan susunannya sangat rapi. Setelah berbicara tentang konflik berskala besar, Allah mengembalikan kita kepada satuan yang paling kecil: dua orang. Bukan dua tentara, bukan dua bangsa — dua saudara. Seolah Allah hendak berkata bahwa umat yang tidak sanggup mendamaikan dua orang di kampungnya tidak akan sanggup berbuat apa-apa untuk dua bangsa di seberang benua.
Dan lihatlah ujung ayatnya: bertakwalah, supaya kamu dirahmati. Rahmat disebut sebagai buah, bukan sebagai hak yang otomatis. Umat yang merindukan pertolongan Allah untuk saudara-saudaranya yang tertindas sedang diajari cara memantaskan diri menerimanya: perbaiki hubungan yang retak di antara kalian sendiri lebih dahulu.
Hadirin yang dimuliakan Allah, sebelum kita masuk ke bagian terakhir, izinkan saya mengingatkan satu hal supaya perhatian kita tidak disangka musiman. Keterikatan kita dengan tanah yang sedang berdarah di sana bukan tren yang lahir pekan ini. Ia sudah ada di dalam bait-bait aqidah yang dihafal anak-anak kita di langgar, jauh sebelum ada layar sentuh. Perhatikan bait berikut dari sebuah nazham akidah yang lazim dihafal di pesantren kita:
'Aqidat al-'Awam — بيت 46-50
وقـبـلَ هـجـرةِ الـنبيِّ الإسرا · مـن مـكـةٍ ليلاً لقدسٍ يُدْرَى
"Dan sebelum peristiwa hijrah Nabi ﷺ telah terjadi peristiwa Isra' — yaitu perjalanan beliau pada suatu malam dari kota Makkah menuju Baitul Maqdis, sebagaimana telah masyhur diketahui."
Anak-anak kita menghafal bait itu dengan nada yang riang, tanpa tahu bahwa nama tempat yang mereka sebut adalah nama yang sama dengan yang mereka dengar di berita. Maka doa kita untuk penduduk negeri itu bukan solidaritas yang ikut-ikutan; ia lahir dari akidah yang sudah kita warisi. Tetapi justru karena begitu, doa itu menuntut kesungguhan, bukan sekadar tagar.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, sebelum khutbah pertama ini saya tutup, izinkan saya menyebut beberapa langkah yang bisa kita mulai pekan ini.
Pertama, tetapkan satu aturan sederhana di setiap grup percakapan yang kita ikuti: kabar perang tidak diteruskan tanpa menyebut siapa yang mengklaimnya. Kalimat "saya belum tahu benar atau tidak" bukan tanda bodoh; ia tanda jujur.
Kedua, ganti satu jam menonton kanal konflik pekan ini dengan satu perbuatan yang bisa dihitung: menyisihkan sebagian rezeki melalui lembaga kemanusiaan yang jelas pertanggungjawabannya, lalu menuliskan berapa yang benar-benar sampai. Kemarahan yang tidak berubah menjadi apa pun akan habis sendiri, dan yang tersisa hanyalah dada yang lelah.
Ketiga, selesaikan satu perselisihan yang ada di dekat kita — dua tetangga yang tidak bertegur sapa, dua kerabat yang saling mendiamkan sejak lebaran lalu. Datangi keduanya secara terpisah, dengarkan tanpa memihak, dan tawarkan satu titik temu.
Keempat, jaga pasar dan warung kita. Bila harga memang naik karena sebab yang nyata, naikkan seperlunya dan terangkan kepada pembeli; jangan menimbun barang untuk menunggu harga yang lebih tinggi di atas kesulitan tetangga sendiri.
Kelima, temani anak-anak kita menghadapi gambar-gambar yang tidak pantas mereka tonton sendirian. Jangan biarkan mereka tidur dengan ketakutan yang tidak sempat mereka ceritakan kepada siapa pun.
Keenam, jadikan doa untuk saudara-saudara kita yang tertindas sebagai amalan tetap, bukan sekadar reaksi ketika ada kabar besar. Doa yang dijaga diam-diam setiap malam lebih berat timbangannya daripada seribu komentar yang ditulis dengan dada berdebar.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَ بِالْإِصْلَاحِ بَيْنَ الْمُتَنَازِعَيْنِ، وَأَحَبَّ الْمُقْسِطِيْنَ فِيْ كُلِّ حَالٍ، وَنَهٰى عَنِ الْبَغْيِ وَالْعُدْوَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu hal yang ingin saya gali lebih dalam pada khutbah kedua ini. Kita cenderung mengira bahwa lawan dari kezaliman adalah kemarahan. Padahal kemarahan itu murah, jamaah. Ia datang sendiri, tanpa diundang, dan ia habis sendiri pula dalam beberapa jam. Yang mahal adalah kesediaan memeriksa, dan yang lebih mahal lagi adalah kesediaan menolong ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Sebuah umat bisa saja sangat marah setiap malam selama bertahun-tahun, dan tidak menghasilkan satu gelas air pun bagi orang yang ditangisinya.
Tentang itu, ada perumpamaan yang sangat tajam dalam kitab Bidayatul Hidayah. Imam al-Ghazali rahimahullah menggambarkan seseorang yang menginginkan harta, tetapi meninggalkan bercocok tanam, berdagang, dan segala bentuk usaha, lalu duduk berpangku tangan sambil menyebut-nyebut kemurahan Allah. Kata beliau, siapa pun yang mendengar ucapan orang seperti itu pasti akan menganggapnya bodoh dan menertawakannya — padahal apa yang ia sebut tentang kemurahan Allah itu benar. Lalu beliau membalik cermin itu ke arah pembacanya:
Bidayatul Hidayah — القول في معاصى القلب / الحسد
فكذلك يضحك عليك أرباب البصائر في الدين إذا طلبت المغفرة بغير سعى لها
"Maka demikian pula para pemilik mata batin dalam agama akan menertawakanmu, manakala engkau mencari ampunan tanpa usaha untuk meraihnya."
Bacalah kalimat itu sekali lagi dengan tenang, jamaah. Perumpamaannya tentang harta, tetapi sasarannya tentang akhirat. Dan yang bisa kita ambil darinya pekan ini adalah cermin yang ketiga: solidaritas yang berhenti di perasaan. Kita ingin saudara-saudara kita di negeri yang jauh itu tertolong, tetapi kita tidak menyisihkan apa pun; kita ingin fitnah berhenti, tetapi kita ikut memutar bahan bakarnya setiap malam; kita ingin umat ini kuat, tetapi kita tidak sanggup menegur diri sendiri dalam perkara sekecil antrean. Pertolongan Allah memang milik-Nya sepenuhnya, dan Dia Maha Kuasa memberi tanpa sebab. Tetapi sunnah-Nya di dunia ini menghubungkan hasil dengan usaha — dan berpangku tangan sambil menunggu keajaiban bukanlah tawakal, melainkan kemalasan yang memakai pakaian tawakal.
Ada satu hal lagi yang perlu kita sadari, dan ini menyangkut anak-anak kita. Mereka sedang belajar dari kita pekan ini — bukan dari kalimat yang kita ucapkan, melainkan dari kebiasaan yang mereka lihat. Anak yang setiap malam melihat orang tuanya menonton potongan kekerasan sambil makan, sedang diajari bahwa penderitaan manusia adalah tontonan. Anak yang melihat orang tuanya menutup layar, lalu menengadahkan tangan berdoa untuk orang yang tidak dikenalnya, sedang diajari bahwa penderitaan manusia adalah tanggung jawab. Dua anak itu akan tumbuh menjadi dua orang dewasa yang sangat berbeda, dan keduanya tidak pernah diberi ceramah apa pun.
Maka marilah kita tutup dengan kesadaran yang sederhana. Perdamaian dunia tidak dimulai dari meja perundingan yang tidak kita hadiri. Bagi kita, ia dimulai dari grup percakapan yang kita ikuti, dari antrean yang kita hormati, dari tetangga yang kita datangi, dan dari dua saudara yang kita damaikan sebelum matahari terbenam. Itulah bagian kita, dan atas bagian itulah kita akan ditanya — bukan atas bagian yang memang tidak pernah Allah letakkan di pundak kita.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ أَنْ نَظْلِمَ أَوْ نُظْلَمَ، وَأَنْ نَقُوْلَ عَلٰى أَحَدٍ مَا لَا نَعْلَمُ، وَأَنْ نَنْقُلَ خَبَرًا لَمْ نَتَبَيَّنْهُ، وَأَنْ تَكُوْنَ أَيْدِيْنَا عَوْنًا عَلَى الْفِتْنَةِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا وَأَقْلَامَنَا شَاهِدَةً لَنَا لَا عَلَيْنَا، وَاحْفَظْ بُيُوْتَنَا مِنَ الْخُصُوْمَةِ، وَمَجَالِسَنَا مِنَ اللَّغَطِ، وَقُلُوْبَنَا مِنَ الشَّحْنَاءِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ عَوْنًا وَنَصِيْرًا، وَعَافِ مَرْضَاهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَاجْبُرْ قُلُوْبَ الثَّكَالٰى وَالْيَتَامٰى.
اَللّٰهُمَّ احْقِنْ دِمَاءَ الْأَبْرِيَاءِ فِيْ كُلِّ أَرْضٍ، وَاحْفَظِ الْأَطْفَالَ وَالنِّسَاءَ وَالشُّيُوْخَ، وَمَنْ لَا نَاصِرَ لَهُمْ إِلَّا أَنْتَ.
اَللّٰهُمَّ اكْفِفْ بَأْسَ الْمُعْتَدِيْنَ، وَرُدَّهُمْ إِلَى أَمْرِكَ رَدًّا جَمِيْلًا، وَاهْدِ مَنْ ضَلَّ مِنْهُمْ، وَأَطْفِئْ نَارَ الْحَرْبِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَرْزَاقِنَا، وَاكْفِنَا شَرَّ الْغَلَاءِ وَالضِّيْقِ، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا، وَلَا الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْ أَوْلَادَنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاحْفَظْ قُلُوْبَهُمْ مِنَ الْخَوْفِ وَالْقَسْوَةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
