بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الصُّلْحَ خَيْرًا، وَأَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهٰى عَنِ الْبَغْيِ وَالْفَسَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الرَّحْمَةُ الْمُهْدَاةُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan yang baru saja kita lewati adalah pekan yang penuh judul. Judul yang menyebut sebuah kapal induk dipukul mundur. Judul yang menyebut pipa minyak di Arab Saudi dibom dan harga melonjak. Judul yang bertanya apakah sebuah markas intelijen benar-benar hancur. Malam ini saya tidak akan membahas perangnya — saya tidak berada di sana, dan begitu pula kita semua. Saya ingin membahas satu hal lain yang justru ada di tangan kita: keributannya.
Saya mulai dengan satu kalimat pendek dari kitab adab yang ditulis para ulama kita untuk menjaga majelis ilmu. Kalimatnya sederhana, tetapi begitu didengar sekali, susah dilupakan.
Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / السابع
أن يصون مجلسه عن اللغط؛ فإن الغلط تحت اللغط، وعن رفع الأصوات واختلاف جهات البحث.
"Hendaklah ia menjaga majelisnya dari laghath — keributan — sebab kesalahan itu terletak di bawah keributan; dan menjaganya dari suara-suara yang meninggi serta dari arah pembahasan yang bercabang-cabang."
Satu potongan kalimat di tengahnya yang ingin saya titipkan malam ini: kesalahan terletak di bawah keributan. Para ulama kita menulis itu untuk ruang belajar. Tetapi coba kita pinjam sebentar untuk ruang kita sendiri — layar telepon genggam sebelum tidur.
Pernahkah kita perhatikan, jamaah, bahwa kabar yang paling ramai justru yang paling jarang kita periksa? Ketika satu kabar dibagikan puluhan kali di grup keluarga, otak kita berhenti bertanya. Ramainya sendiri sudah terasa seperti bukti. Padahal yang bertambah hanyalah jumlah orang yang meneruskan, bukan jumlah orang yang menyaksikan. Dan di bawah keramaian itulah kekeliruan bersembunyi dengan sangat nyaman — sebab di ruangan yang riuh, tidak ada satu pun perkara yang sempat diselesaikan sampai tuntas.
Pekan ini kita mendapat contohnya dengan gamblang. Sebagian judul yang beredar ditutup dengan tanda tanya. Artinya, penulisnya sendiri mengaku belum tahu. Tetapi setelah dibagikan berkali-kali, tanda tanya itu menguap entah ke mana, dan yang tersisa di ingatan kita hanyalah kalimatnya — tanpa tanda tanyanya. Besok pagi kita sudah menceritakannya kepada orang lain sebagai peristiwa yang sudah terjadi.
Saudara-saudara sekalian, ada satu kalimat lagi di kitab adab yang lain, dan kali ini isinya tentang suara.
Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الخامس في آداب سكنى المدارس للمنتهي والطالب / العاشر
ولا يرفع صوته جدًا في تكرار أو نداء أحد أو بحث كيلا يشوش على غيره بل يخفضه ما أمكنه مطلقًا
"Dan janganlah ia mengangkat suaranya terlalu keras dalam mengulang pelajaran, memanggil seseorang, atau membahas sesuatu — agar tidak mengganggu orang lain; bahkan hendaklah ia merendahkan suaranya semampunya secara mutlak."
Bayangkan betapa halusnya adab ini. Yang diatur bukan isi ucapannya, melainkan volumenya. Bukan benar-salahnya, melainkan seberapa keras ia dilontarkan sampai mengganggu orang di sebelah. Dan kita hari ini tinggal di rumah yang penuh suara keras: bunyi ledakan dari video, suara pembawa acara yang berteriak, notifikasi yang bertubi-tubi sejak subuh. Anak kita mengerjakan pekerjaan rumahnya di ruangan yang sama. Ibu kita yang sudah sepuh tidur di kamar sebelah. Sebagian dari mereka memendam takut yang tidak sempat mereka ceritakan, karena di rumah itu tidak pernah cukup sunyi untuk bicara pelan.
Saya jujur saja, jamaah — saya pun begitu. Ada malam ketika saya membuka satu video, lalu satu lagi, lalu satu lagi, sampai tengah malam. Paginya saya tidak menjadi lebih tahu apa-apa tentang perangnya. Saya hanya menjadi lebih cemas, lebih mudah tersinggung kepada orang rumah, dan lebih malas bangun untuk salat malam. Kalau begitu hasilnya, kita perlu jujur menyebut kegiatan itu dengan namanya: bukan mencari kabar, melainkan mengaduk-aduk perasaan sendiri.
Lalu apa yang bisa kita lakukan setelah pulang dari sini malam ini? Tiga hal saja, dan semuanya kecil.
Yang pertama, tentukan satu jam sunyi di rumah kita — misalnya setelah Maghrib sampai Isya. Tidak ada video konflik yang diputar di ruang keluarga pada jam itu. Bukan karena kabarnya tidak penting, tetapi karena rumah butuh satu jam yang tidak diisi teriakan orang asing.
Yang kedua, sebelum meneruskan satu kabar perang, tambahkan satu kalimat jujur di depannya: "ini yang saya baca, saya belum tahu benar atau tidak." Satu kalimat itu memindahkan kita dari barisan penyebar ke barisan yang memeriksa, dan harganya gratis.
Yang ketiga, gantilah satu jam menonton pekan ini dengan satu perbuatan yang bisa dihitung — menyisihkan sebagian rezeki untuk lembaga kemanusiaan yang jelas pertanggungjawabannya, atau menengok tetangga yang sedang kesulitan. Kemarahan yang tidak diubah menjadi perbuatan akan habis sendiri, dan tidak menolong siapa-siapa.
Jamaah yang saya hormati, mari kita tutup. Keributan selalu menawarkan rasa seolah kita sedang terlibat. Tetapi keterlibatan yang sebenarnya diukur dari hal yang sunyi: doa yang dijaga, harta yang dikeluarkan, dan lidah yang ditahan. Malam ini saya ingin menutup dengan munajat yang dikutip dalam kitab Nashaihul Ibad — doa seorang ahli ibadah yang mengakui semua celahnya sendiri, termasuk celah yang paling sering kita alami pekan ini: terbawa oleh teman yang mengajak kepada keburukan.
Nashaihul Ibad — باب الخماسي (3/3)
إِلَهِي طُولُ الْأَمَلِ غَرَّنِي، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِي، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِي، وَالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ عَنِ الْحَقِّ مَنَعَتْنِي، وَقَرِينُ السُّوءِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ أَعَانَنِي. فَأَغِثْنِي يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِينَ، فَإِنْ لَمْ تَرْحَمْنِي فَمَنْ ذَا الَّذِي يَرْحَمُنِي غَيْرُكَ
"Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, nafsu yang menyuruh kepada keburukan telah menghalangiku dari kebenaran, dan teman buruk telah membantuku dalam maksiat. Maka tolonglah aku, wahai Penolong orang-orang yang minta tolong — jika Engkau tidak merahmatiku, siapa lagi yang akan merahmatiku selain Engkau?"
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا وَأَيْدِيْنَا مِنْ أَنْ نَكُوْنَ عَوْنًا عَلَى الْفِتْنَةِ، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا سَكَنًا وَأَمْنًا، وَارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَاكْفِهِمْ بَأْسَ مَنْ ظَلَمَهُمْ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
