Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Mari kita buka khutbah pada siang ini dengan satu wasiat yang tidak pernah usang, untuk diri khatib lebih dahulu dan untuk kita semua: bertakwalah kepada Allah dalam perkara yang tampak, dan bertakwalah kepada-Nya dalam perkara yang tersembunyi — termasuk dalam keputusan-keputusan kecil yang kita ambil ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Ada satu gambaran di dalam Al-Qur'an yang pekan ini terasa sangat dekat dengan apa yang kita lihat di layar. Allah berfirman:
QS. Al-Qalam: 20
فَأَصْبَحَتْ كَٱلصَّرِيمِ
"Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita."
Hadirin yang dimuliakan Allah, khatib perlu berterus terang di depan jamaah: kita tidak sedang menafsirkan ayat ini sebagai ramalan tentang kebakaran lahan di negeri kita. Ayat ini punya konteksnya sendiri di dalam surahnya, dan kita tidak akan melangkah melampaui apa yang kita ketahui. Yang kita ambil hanya gambarannya — sebuah lahan hijau yang berubah menjadi hitam pekat, dan perubahan itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Gambaran itu saja sudah cukup untuk membuat kita terdiam. Sebab pekan ini, gambar seperti itu bukan lagi perumpamaan. Ia adalah foto yang dikirim orang ke grup keluarga kita.
Khutbah Jumat — "Api yang Lahir dari Keputusan Kita" · Dakwah-Lens
Dari berita pekan ini kita ketahui, titik-titik api kembali menyala di lahan dan kabut asap menebal di sejumlah daerah. Kebakaran juga melalap sebagian kawasan Bromo. Yang membedakan percakapan pekan ini dari tahun-tahun sebelumnya adalah mulai masuknya penjelasan teknis ke ruang publik: orang mulai membicarakan gambut, membicarakan kanal-kanal yang mengeringkan lahan, membicarakan mengapa api di lahan gambut bisa menjalar di bawah permukaan dan tidak mati hanya dengan disiram dari atas. Ini kemajuan yang patut kita syukuri. Sebab selama ini kita terbiasa memperlakukan asap sebagai cuaca — sesuatu yang datang sendiri dan pergi sendiri. Padahal ia bukan cuaca. Ia adalah akibat.
Pada pekan yang sama, ramai diperbincangkan pula kabar seseorang yang hendak membakar hutan dan keburu ditangkap petugas pemadam kebakaran bersama warga. Kita tidak akan menyebut nama dan tidak akan menghakimi siapa pun dari mimbar. Tetapi izinkan khatib menaruh kabar itu bersebelahan dengan kabar tentang gambut dan kanal tadi. Di satu sisi ada keputusan besar bertahun-tahun tentang bagaimana sebuah lahan dikelola. Di sisi lain ada keputusan yang sangat kecil: satu tangan, satu korek, satu sore. Dan keduanya bermuara ke langit yang sama, ke paru-paru yang sama, ke anak-anak yang sama yang malam itu batuk di kamarnya.
Kabar berat berikutnya datang dari laut. Publik dikejutkan oleh terbaliknya KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa pada 13 September. Sebanyak 113 korban berhasil dievakuasi, dan enam di antaranya meninggal dunia. Percakapan yang menyusul tidak berhenti pada peristiwanya; orang mulai menyoroti bahwa kapal itu telah berusia 39 tahun. Kita sebutkan angka ini bukan untuk menuding siapa pun dari mimbar, melainkan karena ia menyimpan pelajaran yang keras: ada jarak waktu yang sangat panjang antara sebuah keputusan perawatan yang ditunda dan sebuah kabar duka yang tiba-tiba.
Hadirin yang dimuliakan Allah, Al-Qur'an menyebut laut dengan gambaran yang jarang kita bayangkan ketika naik kapal. Allah berfirman:
QS. At-Tur: 6
وَٱلْبَحْرِ ٱلْمَسْجُورِ
"Dan laut yang di dalam tanahnya ada api."
Kita tidak akan menafsirkan lebih jauh dari apa yang tertulis. Namun satu hal bisa kita renungkan bersama: laut disebutkan dalam Kitab-Nya dengan nada yang besar dan mengandung kedalaman yang tidak kita kuasai. Kita naik ke atasnya setiap hari seolah ia jalan biasa. Padahal ia bukan jalan biasa. Dan sesuatu yang bukan biasa menuntut kesiapan yang bukan seadanya.
Dan kesiapan itu, jamaah, bukan hanya urusan pemilik kapal. Ia juga urusan kita yang menjadi penumpang. Berapa kali kita naik ke sebuah perahu yang sudah jelas kelebihan muatan karena tidak enak menolak, atau memaksakan berangkat karena tiket sudah telanjur dibeli? Menolak naik ketika keadaan tidak layak bukanlah sikap penakut; itu bentuk menjaga jiwa yang dititipkan Allah kepada kita. Dan mengingatkan orang lain untuk tidak memaksakan diri, dengan bahasa yang halus, adalah bagian dari nasihat yang diperintahkan agama ini.
Dari arah Selat Sunda, kabar lain menyusul. Erupsi Anak Krakatau terjadi, dan pada saat yang sama pencarian lima jurnalis yang hilang masih berlangsung. Pekan ini ditemukan jenazah seorang pria di Enggano, dan polisi sedang mencocokkan DNA-nya dengan para jurnalis yang hilang itu. Mari kita berhati-hati di sini, jamaah. Sampai hari ini pencocokan itu belum selesai. Maka yang pantas kita lakukan bukan menyimpulkan, melainkan mendoakan — mendoakan mereka yang hilang, mendoakan keluarga yang menunggu dalam ketidakpastian, dan mendoakan para petugas yang masih mencari di laut dan di pantai.
Dan di tengah semua kabar itu, ada satu hal lagi yang tidak kalah mengganggu. Sebagian kanal video memilih judul yang berteriak, menempelkan ancaman gelombang besar dan kata tsunami pada erupsi yang sedang dipantau otoritas, lalu memanen klik dari ketakutan orang. Judul semacam itu menjual kemungkinan terburuk seolah-olah sudah menjadi kepastian. Kita perlu menyebutnya dengan jujur: itu bukan kabar, itu dagangan. Dan yang membelinya adalah ibu-ibu yang panik di kompleks kita, orang tua yang meneruskan tautan itu ke grup keluarga, dan anak-anak yang malamnya tidak bisa tidur.
Inilah tema khutbah kita siang ini, hadirin yang dimuliakan Allah: api yang lahir dari keputusan kita. Bukan hanya api di lahan gambut. Juga api kecil di dapur kita, api yang menjalar dari perawatan yang ditunda, dan api yang menyala di layar ketika satu kalimat yang tidak kita verifikasi kita teruskan ke seratus orang.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu hadits yang sangat pendek tetapi menyimpan cara Nabi ﷺ membaca musibah, dan pekan ini hadits itu terasa seperti ditulis untuk kita. Dari Abu Musa رضي الله عنه: terbakar sebuah rumah bersama penghuninya di Madinah pada suatu malam. Ketika kabar tentang keadaan mereka sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
"Sesungguhnya api ini adalah musuh bagi kalian. Apabila kalian tidur, padamkanlah ia dari kalian."
Perhatikan baik-baik, jamaah, apa yang tidak beliau ﷺ ucapkan. Sebuah rumah terbakar bersama penghuninya. Kabar itu sampai kepada Nabi ﷺ. Dan yang keluar dari lisan beliau bukanlah vonis atas orang-orang yang meninggal itu. Beliau tidak berkata bahwa mereka sedang dihukum. Beliau tidak mengurai dosa apa yang membuat mereka pantas terbakar. Beliau menoleh kepada yang masih hidup dan memberi satu perintah keselamatan yang sangat praktis: api itu musuh, maka padamkan sebelum tidur.
Inilah pelajaran pertama yang ingin khatib tanamkan dalam-dalam siang ini. Musibah yang menimpa seorang mukmin adalah ujian dan penghapus dosa, bukan surat keputusan bahwa ia sedang dihukum. Tidak ada satu pun dari kita yang diberi wewenang untuk membaca takdir orang lain dan menyimpulkan bahwa korban kebakaran, korban kapal tenggelam, atau keluarga jurnalis yang hilang itu sedang menerima balasan. Kalau ada ucapan semacam itu di grup kita, di kolom komentar kita, atau bahkan di majelis kita — hentikan. Itu bukan hanya kasar. Itu melampaui batas ilmu kita.
Pelajaran kedua dari hadits yang sama sama pentingnya. Setelah beliau ﷺ menolak menghakimi korban, beliau tidak lantas menutup pembicaraan dengan kalimat pasrah. Beliau justru menunjuk satu tindakan yang ada di dalam genggaman manusia. Api adalah musuh — maka perlakukan sebagai musuh. Jangan tinggalkan ia menyala ketika kesadaranmu pergi. Ini adalah teologi yang sangat seimbang, jamaah: takdir tetap milik Allah, sementara kelalaian tetap tanggung jawab kita. Orang beriman tidak menukar salah satu dengan yang lain.
Sekarang mari kita turunkan hadits ini ke pekan yang baru saja kita lewati. Api yang membakar lahan bukan api yang turun dari langit; ia dinyalakan seseorang, di suatu sore, untuk alasan tertentu. Gambut yang kering bukan takdir cuaca semata; ia kering karena air di dalamnya dialirkan keluar bertahun-tahun. Kapal berusia 39 tahun tidak menua dalam semalam; ia menua di depan mata banyak orang yang punya wewenang untuk memeriksanya. Kalau Nabi ﷺ memerintahkan kita memadamkan bara di rumah sebelum tidur, maka semangat yang sama meminta kita memeriksa apa yang kita tinggalkan menyala di luar rumah: tumpukan sampah yang dibakar di belakang pagar, kabel yang mengelupas di plafon musala, lahan yang dibersihkan dengan cara paling murah karena paling cepat menghasilkan.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, pertanyaannya kemudian: mengapa manusia sering tetap melangkah ke arah bahaya padahal peringatan sudah terdengar? Nabi ﷺ pernah menggambarkan hal ini dengan perumpamaan yang sangat hidup. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Perumpamaanku seperti seorang laki-laki yang menyalakan api. Ketika api itu menerangi sekitarnya, kupu-kupu dan binatang-binatang yang masuk ke api mulai berjatuhan ke dalamnya. Ia mencoba menghalangi mereka, namun mereka mengalahkannya dan terjun ke dalamnya. Beliau berkata: itulah perumpamaanku dan perumpamaan kalian. Aku memegang ikat pinggang kalian menjaga dari neraka. 'Marilah menjauh dari neraka! Marilah menjauh dari neraka!' Tetapi kalian mengalahkan aku, terjun ke dalamnya."
Hadirin, mari kita jujur tentang apa yang sedang dibicarakan hadits ini. Perumpamaan ini berbicara tentang neraka dan tentang kasih sayang Nabi ﷺ yang menahan umatnya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Itu makna aslinya, dan khatib tidak akan menggesernya. Namun ada satu pola manusiawi yang beliau ﷺ lukiskan di situ, dan pola itu bisa kita kenali di banyak tempat: cahaya yang menarik, peringatan yang sudah terdengar, tangan yang sudah menahan — dan langkah yang tetap maju.
Pola itulah yang kita saksikan pekan ini dalam bentuknya yang paling duniawi. Sudah bertahun-tahun peringatan tentang bahaya membuka lahan dengan api disampaikan, dan setiap musim kering ia tetap dilakukan karena hitungannya lebih murah. Sudah ada aturan tentang kelaikan kapal dan jadwal pemeriksaan, dan setiap tahun ada saja yang berangkat dengan doa sebagai satu-satunya pengaman. Sudah banyak orang tahu bahwa judul yang berteriak itu palsu, dan tetap saja jari kita menekan bagikan karena rasanya penting. Yang membuat kita celaka jarang berupa ketidaktahuan. Yang membuat kita celaka biasanya adalah tahu, lalu tetap melangkah.
Maka yang bisa kita ambil sebagai pelajaran turunan dari perumpamaan tadi adalah ini: peringatan hanya berguna kalau ada yang berhenti. Dan orang pertama yang bisa kita hentikan hari ini hanyalah diri kita sendiri. Bukan korporasi, bukan kementerian, bukan pemilik kapal. Diri kita, pagar kita, dapur kita, jempol kita.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada dua kalimat yang harus kita pegang bersamaan dan tidak boleh dipisahkan. Kalimat pertama: segala yang terjadi berada dalam ketetapan Allah, dan seorang mukmin yang tertimpa musibah sedang diuji sekaligus dibersihkan. Kalimat kedua: kelalaian tetap dihisab sebagai kelalaian, dan tidak boleh disembunyikan di balik kata takdir. Orang yang hanya memegang kalimat pertama akan berhenti bekerja dan menyebut semuanya sudah suratan. Orang yang hanya memegang kalimat kedua akan menjadi keras hati, sibuk mencari siapa yang salah, dan lupa mendoakan. Iman yang sehat memegang keduanya: hati yang berserah, dan tangan yang tetap memperbaiki.
Dan izinkan khatib menambahkan satu adab yang pekan ini sangat dibutuhkan, yaitu adab kepada mereka yang sedang menunggu. Di beberapa rumah di negeri ini, ada keluarga yang belum tahu apakah orang yang mereka cintai masih hidup atau sudah wafat. Mereka tidak bisa berduka dengan tuntas, dan tidak bisa berharap dengan tenang. Kepada mereka, kalimat yang paling tidak menolong justru yang paling sering kita kirim — "sudah takdirnya", "yang sabar ya". Benar secara akidah, tetapi terlalu cepat secara manusia. Yang mereka butuhkan adalah kehadiran: seseorang yang duduk, mendengar, mengantarkan makanan, mengurus hal-hal kecil yang tidak sempat mereka urus. Rasa sabar itu tumbuh lebih baik di dekat orang yang menemani daripada di dekat orang yang menasihati.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, di sinilah khatib harus menyampaikan satu peringatan yang justru berkaitan dengan cara sebagian orang berbicara tentang bencana pekan ini. Ada hadits yang sering muncul di layar kita setiap kali langit menguning oleh asap. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Bersegeralah beramal sebelum enam perkara: Dajjal, ad-Dukhan, dabbat al-ardh, terbitnya matahari dari barat, urusan umum, dan kematian khusus salah seorang dari kalian."
Hadirin yang dimuliakan Allah, dengarkan baik-baik. Hadits ini adalah perintah untuk bersegera beramal. Itu inti dan seluruh kekuatannya. Adapun ad-Dukhan yang disebut di dalamnya adalah salah satu tanda besar yang punya pembahasannya sendiri di dalam ilmu syariat — dan ia bukan kabut asap karhutla yang kita hirup pekan ini. Khatib tegaskan sekali lagi dari mimbar ini, supaya tidak ada satu pun jamaah yang pulang membawa kesalahpahaman: menyamakan asap kebakaran lahan dengan ad-Dukhan dalam hadits ini tidak punya dasar, dan menyebarkannya hanya menambah kepanikan tanpa menambah ilmu.
Justru ada riwayat dari seorang sahabat yang memperlihatkan bahwa perkara tanda-tanda ini tidak sesederhana yang beredar di layar kita. Dari 'Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه, beliau berkata:
"Lima tanda sudah berlalu: ad-Dukhan, al-Lizam, ar-Rum, al-Bathsyah, dan terbelahnya bulan."
Perhatikan, jamaah: seorang sahabat besar menyatakan bahwa ad-Dukhan itu sudah lewat. Khatib tidak akan memperpanjang pembahasan ini di atas mimbar, sebab bukan itu keperluan kita siang ini. Yang bisa kita ambil sebagai pelajaran cukup satu dan sangat praktis: penamaan tanda-tanda besar adalah bahasan yang punya riwayat dan ahlinya sendiri — ia bukan label yang boleh kita tempelkan sendiri pada kabar yang baru lewat di layar sore tadi. Dan sikap yang diperintahkan hadits pertama kepada kita bukanlah menghitung tanda, melainkan bersegera beramal. Bukan menebak kapan dunia berakhir, tapi menyegerakan kebaikan selagi tangan masih bisa bergerak.
Maka ketika kita melihat kabut asap, respons seorang mukmin bukanlah membuat video berjudul besar tentang akhir zaman. Responsnya adalah: siapa tetangga kita yang punya bayi dan tidak punya penyaring udara? Siapa lansia di gang kita yang sesaknya kambuh? Masjid kita punya berapa masker yang bisa dibagikan Jumat ini? Itulah bersegera beramal.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ini membawa kita kepada bagian terakhir khutbah pertama: lidah dan jempol kita. Dalam kitab Bidayatul Hidayah dijelaskan bahwa lisan adalah anggota tubuh yang paling kuat pengaruhnya atas diri kita dan atas seluruh makhluk, dan bahwa tidaklah manusia ditelungkupkan ke dalam neraka di atas batang hidungnya kecuali oleh hasil panen lisannya. Kitab itu lalu membawakan sebuah riwayat:
Bidayatul Hidayah — الأول الكذب / الثاني الخلف في الوعد / الثالث الغيبة
"Sungguh, ada seseorang yang mengucapkan satu kata untuk menertawai sahabat-sahabatnya, sehingga karena kata itu ia tergelincir ke dasar Jahannam sejauh tujuh puluh tahun perjalanan."
Satu kata, jamaah. Bukan satu kitab fitnah, bukan satu kampanye kebencian. Satu kata yang dilempar untuk mencari tawa. Kalau sebuah kata yang dimaksudkan untuk bercanda saja bisa seberat itu, bagaimana dengan sebuah judul yang sengaja dibuat untuk menakut-nakuti ribuan orang demi klik? Bagaimana dengan tangkapan layar yang kita teruskan ke grup keluarga tanpa kita periksa, lalu membuat seorang ibu di kampung menelepon anaknya sambil menangis karena mengira ada gelombang besar datang?
Kitab yang sama membawakan riwayat berikutnya: ketika seseorang gugur di medan perang lalu ada yang berkata "berbahagialah ia dengan surga", Rasulullah ﷺ menjawab:
"Tahukah engkau? Boleh jadi ia dahulu berbicara tentang sesuatu yang tidak berguna baginya, dan kikir terhadap sesuatu yang tidak pula mengayakannya."
Betapa beratnya timbangan ini, hadirin. Bahkan kemuliaan seorang yang gugur di medan perang pun tidak boleh kita klaim seenaknya. Maka bagaimana mungkin kita merasa berhak menyimpulkan nasib akhirat orang-orang yang tenggelam di Laut Jawa, atau para jurnalis yang hilang dan keluarganya masih menunggu hasil pencocokan identitas? Diamlah dari urusan yang bukan milik kita, dan doakanlah. Itu jauh lebih aman bagi lidah kita, dan jauh lebih berguna bagi mereka.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, izinkan khatib menutup khutbah pertama ini dengan beberapa langkah yang bisa kita kerjakan mulai pekan ini — bukan gagasan besar, melainkan pekerjaan sunyi yang ada di dalam jangkauan tangan kita.
Pertama, periksa api di rumah sendiri sebelum tidur. Kompor, colokan yang menumpuk di satu terminal, obat nyamuk bakar, sisa bara di tungku belakang. Jadikan ini kebiasaan malam, bukan kepanikan musiman. Perintah Nabi ﷺ tadi sangat konkret; laksanakan secara konkret.
Kedua, hentikan membakar sampah di lingkungan kita. Banyak dari kita ikut menyumbang asap tanpa merasa ikut menyumbang. Sepakati di tingkat rukun tetangga satu aturan sederhana: tidak ada pembakaran sampah, titik. Sediakan gantinya — jadwal angkut bersama, lubang kompos di ujung gang.
Ketiga, pasang aturan verifikasi di grup kita. Satu kalimat yang disepakati bersama: kabar bencana hanya diteruskan kalau sumbernya jelas. Kalau ragu, tahan. Menahan satu kabar palsu selama sepuluh menit lebih bernilai daripada menjadi orang pertama yang membagikannya.
Keempat, pilih satu keluarga terdampak dan dampingi sampai tuntas. Bukan sekali antar sembako lalu selesai, melainkan ditengok berulang sampai keadaan mereka benar-benar pulih.
Kelima, doakan dengan nama dan wajah. Jangan berhenti pada doa umum. Sebutkan dalam sujud kita: para penyintas di laut, keluarga yang menunggu kabar, petugas pemadam yang paru-parunya menanggung asap paling banyak, dan para pencari yang masih menyisir pantai.
Keenam, beranilah menunda. Kalau cuaca meragukan, kalau kendaraan belum layak, kalau perahu terlalu penuh — menunda bukan kelemahan iman. Menunda adalah bentuk syukur atas nyawa yang dititipkan kepada kita.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu hal dari khutbah pertama yang ingin khatib gali sedikit lebih dalam sebelum kita berdoa bersama. Ketika Nabi ﷺ mendengar kabar sebuah rumah yang terbakar bersama penghuninya, beliau memilih untuk berbicara tentang api, bukan tentang dosa orang-orang yang wafat itu. Pilihan itu bukan kebetulan. Itu adalah cara beliau menjaga dua hal sekaligus: kehormatan orang yang tertimpa musibah, dan akal sehat orang yang masih hidup. Kita sering gagal menjaga keduanya. Kita mudah menebak-nebak dosa korban, dan pada saat yang sama malas memeriksa bara di rumah sendiri.
Yang kedua, perhatikan bahwa perintah beliau ﷺ ditujukan kepada orang biasa, bukan kepada penguasa. Padamkan api sebelum tidur — itu pekerjaan tangan sendiri di rumah sendiri. Ini penting bagi kita yang mudah merasa kecil di hadapan masalah sebesar kebakaran lahan dan keselamatan pelayaran. Memang benar ada bagian yang hanya bisa diselesaikan oleh kebijakan dan pengawasan; kita doakan agar para pemegang amanah dimudahkan dan diluruskan. Tetapi Islam tidak pernah membiarkan seorang mukmin berdiri tanpa pekerjaan. Selalu ada satu simpul yang bisa kita ikat dengan tangan kita sendiri.
Yang ketiga, jamaah, ujian pekan ini juga menguji mulut kita. Ada dua arah kesalahan yang sama-sama berbahaya. Yang pertama membesar-besarkan — menempelkan kata bencana besar pada peristiwa yang sedang dipantau, demi perhatian. Yang kedua meremehkan — berkomentar dari jauh tentang penderitaan saudara kita di daerah lain seolah kita lebih tahu keadaan mereka daripada mereka sendiri. Keduanya lahir dari akar yang sama: berbicara tentang sesuatu yang bukan urusan kita dan tidak kita ketahui. Orang beriman menutup mulutnya di titik itu dan membuka tangannya.
Yang keempat, mari kita ingat bahwa musibah adalah ujian dan pembersih, bukan pengadilan. Kita tidak tahu timbangan siapa pun. Bisa jadi seorang yang wafat dalam kesulitan justru sedang diangkat derajatnya, sementara kita yang menonton dari rumah yang aman sedang lalai. Maka sikap yang pantas adalah rendah hati, bukan menghakimi; bersegera beramal, bukan menghitung tanda.
Akhirnya, hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita tutup dengan doa.