Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumLingkungan & BencanaKamis, 17 September 2026

Kultum — "Yang Bisa Kita Padamkan Malam Ini"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati. Di pekan yang baru saja kita lewati, langit di beberapa daerah kembali menguning oleh asap, sebuah kapal penumpang terbalik di Laut Jawa, dan pencarian orang-orang yang hilang masih berjalan. Ada satu pesan pendek yang ingin saya bagikan malam ini, dan pesannya sangat sederhana.

Boleh saya mulai dengan satu pertanyaan? Ketika kita membaca kabar bencana, apa yang lebih dulu bergerak di dalam diri kita — jari untuk membagikan, atau tangan untuk memeriksa? Saya tanya ini bukan untuk menyindir siapa pun, sebab saya sendiri sering kalah oleh jari saya sendiri.

Ada hadits yang sangat pendek yang ingin saya bacakan. Dari Abu Musa رضي الله عنه: terbakar sebuah rumah bersama penghuninya di Madinah pada suatu malam. Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:

Sahih Muslim 2016

إِنَّ هَذِهِ النَّارَ إِنَّمَا هِيَ عَدُوٌّ لَكُمْ فَإِذَا نِمْتُمْ فَأَطْفِئُوهَا عَنْكُمْ

"Sesungguhnya api ini adalah musuh bagi kalian. Apabila kalian tidur, padamkanlah ia dari kalian."

Perhatikan apa yang terjadi di situ, para jamaah. Sebuah musibah besar baru saja terjadi. Orang-orang wafat di dalam rumah mereka sendiri. Dan ketika kabar itu sampai, Nabi ﷺ tidak membahas dosa mereka, tidak menerka-nerka kenapa mereka pantas mengalaminya. Beliau menoleh kepada yang masih hidup, dan memberi satu perintah yang bisa langsung dikerjakan malam itu juga.

Saya rasa inilah yang paling kita butuhkan pekan ini. Kita terbiasa merespons bencana dengan dua cara yang sama-sama tidak menolong. Cara pertama, kita berspekulasi — tentang dosa korban, tentang tanda-tanda besar, tentang siapa yang pantas disalahkan. Cara kedua, kita hanyut dalam rasa sedih yang tidak berujung pada apa pun. Nabi ﷺ menunjukkan jalan ketiga: akui musibahnya, lalu kerjakan bagian yang memang ada di tangan kita.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Dan bagian yang ada di tangan kita itu ternyata sangat kecil dan sangat rumahan. Api. Kompor yang belum benar-benar mati. Terminal listrik yang ditumpuk empat colokan. Obat nyamuk bakar di dekat gorden. Sampah daun yang dibakar di belakang rumah karena malas menunggu petugas. Kita jarang menganggap itu urusan agama. Malam ini kita belajar bahwa itu urusan agama.

Pekan ini kita juga dengar bahwa sebuah kapal yang berusia puluhan tahun terbalik dan ada nyawa yang tidak tertolong. Kita dengar pula bahwa sebagian kanal video menempelkan kata-kata besar yang menakutkan pada erupsi yang sedang dipantau, menjual kemungkinan terburuk seolah-olah sudah pasti. Dua-duanya berasal dari akar yang sama dengan bara yang kita tinggalkan menyala: sesuatu yang dibiarkan karena terasa kecil, lalu membesar di saat kita tidak melihat.

Saya ingin kita berhenti sebentar di kata "musuh" yang dipakai Nabi ﷺ untuk api. Beliau tidak berkata api itu jahat, dan tidak pula menyuruh kita takut kepadanya sampai tidak berani menyalakan kompor. Api adalah nikmat; ia memasak nasi kita dan menghangatkan rumah kita. Yang beliau ajarkan adalah cara memperlakukannya: sesuatu yang bermanfaat tetapi berbahaya harus dijaga, bukan dibiarkan. Dan penjagaan itu punya waktunya — "apabila kalian tidur". Artinya, pada saat kesadaran kita pergi, pengamanan harus sudah selesai.

Prinsip itu sebenarnya berlaku jauh melampaui kompor, para jamaah. Lahan yang dibuka dengan api juga dimulai dari niat yang masuk akal: ingin cepat, ingin murah, ingin panen tepat waktu. Kapal yang berlayar juga berangkat dari niat yang wajar: ada penumpang yang ingin pulang, ada jadwal yang harus ditepati. Yang membuatnya berubah menjadi musibah bukanlah niat awalnya, melainkan penjagaan yang ditunda sampai kesadaran kita pergi. Kita menunda memeriksa, menunda memperbaiki, menunda berkata "belum aman, tunggu dulu".

Dan inilah yang membuat pesan malam ini bukan pesan untuk orang lain. Tidak ada satu pun dari kita yang mengatur izin berlayar atau mengurus kanal gambut. Tetapi kita semua punya satu sakelar, satu tabung gas, satu tumpukan sampah kering, dan satu jempol. Empat hal itu ada di dalam genggaman kita malam ini, dan kepada empat hal itulah perintah Nabi ﷺ berbicara paling langsung.

Ada satu doa yang diajarkan untuk dibaca ketika kita keluar rumah, dan isinya terasa sangat tepat untuk pekan seperti ini:

Riyad as-Salihin 82

بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

"Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau menyesatkan, dari tergelincir atau digelincirkan, dari berbuat zalim atau dizalimi, dan dari berbuat bodoh atau diperlakukan dengan bodoh."

Lihat betapa lengkapnya doa ini. Kita tidak hanya minta dilindungi dari kejahatan orang lain; kita juga minta dilindungi dari menjadi pelakunya. Bukan hanya jangan sampai kita disesatkan kabar palsu — jangan sampai kita yang menyesatkan orang dengan meneruskannya. Bukan hanya jangan sampai kita diperlakukan dengan bodoh — jangan sampai kita yang berbicara bodoh tentang musibah orang lain.

Maka malam ini, jamaah, saya mengajak kita semua mengambil tiga langkah kecil sebelum tidur. Pertama, keliling rumah satu menit: matikan kompor, cabut colokan yang tidak dipakai, pastikan tidak ada bara yang ditinggal. Kedua, buka kembali satu pesan bencana yang tadi kita teruskan — kalau sumbernya tidak jelas, tarik dan minta maaf di grup itu; itu jauh lebih terhormat daripada diam. Ketiga, sebut dalam doa kita malam ini satu nama atau satu kelompok yang nyata: keluarga yang menunggu kabar, petugas yang menyisir laut, atau tetangga yang sesaknya kambuh karena asap.

Semoga Allah menjadikan tangan kita ringan untuk memadamkan, dan lidah kita berat untuk menyebarkan apa yang tidak kita ketahui. Mari kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بُيُوْتَنَا وَأَهْلِيْنَا مِنَ النَّارِ وَالْغَرَقِ وَكُلِّ سُوْءٍ، وَاجْعَلْ أَيْدِيَنَا خَفِيْفَةً فِي الْخَيْرِ، وَأَلْسِنَتَنَا صَادِقَةً فِي الْكَلَامِ.

اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَنْ فَقَدْنَاهُمْ، وَاجْبُرْ قُلُوْبَ الْمُنْتَظِرِيْنَ، وَارْفَعْ عَنْ بِلَادِنَا الدُّخَانَ وَالْأَذٰى.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Lihat Briefing Mingguan