Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPatologi Sosial DigitalKamis, 17 September 2026

Khutbah Jumat — "Jari yang Ringan, Timbangan yang Berat"

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ اللِّسَانَ أَمَانَةً، وَجَعَلَ الْكَلِمَةَ مَسْؤُوْلِيَّةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Allah berfirman dalam Kitab-Nya, menyebut satu golongan bukan dengan nama mereka, melainkan dengan kebiasaan mereka:

ٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

QS. Ash-Shu'araa: 152 — "yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan".

Perhatikan susunan kalimatnya, hadirin yang dimuliakan Allah. Ayat ini tidak sekadar menyebut orang yang merusak. Ayat ini menggandengkan dua hal: merusak, dan tidak memperbaiki. Seolah-olah kerusakan itu sendiri belum menjadi gambaran yang utuh sampai ditambahkan keterangan yang kedua — bahwa tangan yang sama tidak pernah dipakai untuk membetulkan apa pun. Inilah yang ingin kita renungkan bersama pagi ini. Bukan sebuah nama, bukan sebuah kasus, bukan seseorang yang sedang ramai dibicarakan. Yang disebut ayat ini adalah sebuah kebiasaan: kebiasaan tangan yang ringan merobohkan dan berat membangun.

Dan pekan ini, hadirin, kita semua punya tangan semacam itu. Ia bernama ibu jari.

Dari kabar pekan ini kita ketahui, seseorang di lini masa diserbu komentar ramai-ramai. Beberapa waktu kemudian ia menulis sendiri bahwa setelah peristiwa itu ia menangis, merasa cemas, dan kewalahan. Tulisan itu lalu ikut beredar dan ditonton oleh sangat banyak orang. Mari kita berhenti sebentar di sini, karena inilah potret paling jujur tentang keadaan kita. Orang yang runtuh itu bukan sekadar korban satu kalimat. Ia adalah tempat berkumpulnya ribuan kalimat yang masing-masing pengirimnya merasa tidak melakukan apa-apa. Setiap orang mengetik satu baris, tersenyum tipis, lalu menutup aplikasi dan melanjutkan hidupnya. Tetapi yang menerima tidak menutup apa pun. Ia menerima semuanya sekaligus, dalam satu malam, di satu layar kecil yang ia pegang sendirian.

Ini bukan perkara baru dalam agama kita, hadirin. Yang baru hanyalah skalanya. Dahulu, kalimat menyakitkan berhenti di pagar rumah. Sekarang, kalimat menyakitkan bisa mengepung seseorang dari tujuh ribu arah dalam waktu semalam, dan setiap pengirimnya tetap merasa bersih karena ia "hanya satu orang". Perasaan bersih itulah yang paling perlu kita periksa pagi ini. Sebab dalam timbangan Allah, tidak ada kalimat yang menguap. Yang kita anggap satu tetes, di sana tercatat sebagai satu tetes — dan tetes-tetes itulah yang membentuk banjir.

Kabar kedua pekan ini datang dari ranah yang berbeda, tetapi berjalan dengan mesin yang sama. Ada pergantian pejabat di satu kementerian yang kemudian tidak dibicarakan sebagai kebijakan, melainkan diolah menjadi bahan sorak-sorai dan sindiran. Ada kabar operasi tangkap tangan di sebuah kantor pertanahan daerah, dengan sejumlah koper berisi uang yang ditemukan di sebuah rumah, yang segera dibingkai sebagai amarah rakyat yang bangkit lagi. Ada pula unggahan-unggahan yang menyusun perbandingan bernada menuntut, dirangkai agar terdengar seperti penalaran padahal fungsi utamanya menyalakan emosi.

Hadirin yang dimuliakan Allah, tidak ada yang salah dengan marah pada kezaliman. Marah pada kezaliman adalah tanda hati yang masih hidup. Yang perlu kita periksa adalah apa yang kita lakukan sesudah marah. Sebab di ayat tadi, Allah tidak berhenti pada kata "merusak". Allah menambahkan: "dan tidak mengadakan perbaikan". Artinya, ukuran seorang mukmin bukan pada seberapa keras ia bisa menyebut kerusakan, melainkan pada seberapa sungguh ia ikut membetulkannya. Kalau seluruh energi kita habis untuk menyebutkan kerusakan, dan tidak tersisa sedikit pun untuk memperbaiki, maka kita sedang berdiri di sisi ayat yang tidak kita inginkan.

Ada pula satu bentuk yang lebih halus dan karena itu lebih berbahaya, hadirin. Pekan ini kita bisa melihatnya dengan mudah: tuduhan yang dibungkus tanda tanya. Sebuah judul berteriak tentang kegagalan total, lalu ditutup dengan tanda tanya. Sebuah unggahan bertanya apakah sesuatu itu politik uang atau bukan, tanpa pernah menjawabnya. Pembaca yang tergesa menangkap kesimpulannya, sementara penulisnya masih bisa berkata bahwa ia hanya bertanya. Inilah cara paling murah untuk menumpahkan tuduhan tanpa menanggung beban tuduhan: dampaknya sebesar dakwaan, risikonya seringan pertanyaan.

Dalam timbangan syariat, hadirin, pembungkus tidak mengubah isi. Kalau yang sampai ke hati pendengar adalah tuduhan, maka yang kita pikul adalah tuduhan — betapapun rapi kita menyusun tanda bacanya. Dan ada satu pembedaan sederhana yang bisa kita pegang: antara bertanya untuk mencari tahu dan bertanya untuk menjatuhkan. Yang pertama selalu diikuti kesediaan menerima jawaban. Yang kedua tidak pernah menunggu jawaban sama sekali, sebab jawabannya sudah dititipkan di dalam pertanyaannya.

Maka bertanyalah kepada diri kita masing-masing sebelum menekan tombol kirim: kalau besok ternyata jawabannya adalah "tidak, dugaan itu keliru", apakah saya siap menyebarkan bantahan itu sekeras saya menyebarkan pertanyaannya? Kalau jawabannya jujur "tidak", maka pertanyaan itu bukan pertanyaan. Ia adalah vonis yang sedang menyamar, dan penyamaran di hadapan manusia tidak pernah menjadi penyamaran di hadapan Allah.

Dan perhatikanlah betapa timpangnya perhatian kita, hadirin. Pekan ini ada kabar yang benar-benar menyentuh hajat orang banyak — soal pengembalian pajak yang ditunggu ribuan wajib pajak, soal perdagangan hasil bumi kita di pasar dunia. Kabar-kabar itu lewat nyaris tanpa gema. Sementara perkara yang menyentuh aib satu orang ditonton jutaan kali. Ini bukan tuduhan kepada siapa pun di antara kita; ini keterangan tentang bagaimana hati manusia bekerja ketika tidak dijaga. Hati yang tidak dilatih akan selalu memilih yang paling menggugah, bukan yang paling penting.

Dan kabar ketiga pekan ini, hadirin, adalah yang paling perlu kehati-hatian. Sebuah perkara kekerasan seksual yang masih berjalan menjadi salah satu penarik perhatian terbesar pekan ini. Keterangan pihak yang disebut sebagai terduga korban beredar luas dalam bentuk rekaman, dan di sekitarnya beredar pula unggahan berisi peringatan pemicu. Di sebelahnya, ada unggahan yang meminta warganet ikut menaikkan kasus kekerasan yang menimpa seorang guru di sebuah madrasah.

Saya tidak akan menyebut satu nama pun dari mimbar ini, dan saya mengajak kita semua untuk tidak menyebutnya pula di luar mimbar ini. Bukan karena kita tidak peduli. Justru sebaliknya. Ada perbedaan besar antara dua perbuatan yang sering tertukar pekan ini: menaikkan perkara supaya diproses, dan membedah keterangan orang yang terluka di depan jutaan mata. Yang pertama menolong pihak yang lemah. Yang kedua menambah luka atas nama menolong. Dalam agama kita, aib seseorang — siapa pun ia, dari pihak mana pun ia — bukan barang tontonan. Dan urutan status dalam hukum kita pun perlu kita hormati: terlapor bukan tersangka, tersangka bukan terdakwa, terdakwa bukan terpidana. Di lini masa, keempat tingkat itu sering dilompati sekaligus dalam satu tarikan napas. Di hadapan Allah, lompatan semacam itu bukan kecepatan; itu kelalaian yang akan ditanya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Lalu apa sesungguhnya yang sedang terjadi pada hati kita? Rasulullah ﷺ telah menggambarkannya dengan perumpamaan yang sangat halus dan sangat tepat. Dalam riwayat Muslim, Hudzaifah radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

Sahih Muslim 144a

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَىُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ

"Fitnah-fitnah dipaparkan kepada hati seperti tikar yang dianyam batang demi batang. Hati mana saja yang menyerapnya, ditorehkan padanya satu noktah hitam."

Hadirin yang dimuliakan Allah, renungkan pilihan kata beliau ﷺ. Fitnah tidak digambarkan sebagai badai yang merobohkan pintu. Fitnah digambarkan sebagai anyaman tikar — batang demi batang, helai demi helai. Tidak ada satu pun helai yang terasa berat. Justru di situlah bahayanya. Yang menghancurkan hati bukanlah satu peristiwa besar yang kita sadari, melainkan ribuan helai kecil yang kita serap tanpa pernah kita hitung. Satu unggahan yang kita telan sambil menunggu lampu merah. Satu potongan aib orang yang kita tonton sebelum tidur. Satu komentar kasar yang kita ketik lalu kita lupakan dalam tiga detik. Satu per satu. Batang demi batang.

Dan perhatikan kata kerjanya: أُشْرِبَهَا — "menyerapnya", seperti kain menyerap air. Bukan "menerimanya" dengan sadar, bukan "menyetujuinya" dengan pertimbangan. Hati kita tidak pernah diminta persetujuan. Ia hanya menyerap apa yang kita hadapkan kepadanya. Maka pertanyaan yang jujur untuk diri kita masing-masing pagi ini bukanlah "apakah saya setuju dengan semua yang saya baca", melainkan "berapa jam setiap hari saya menghadapkan hati saya ke sesuatu yang tidak ingin saya serap".

Yang menenangkan dari hadits yang sama, hadirin, adalah bahwa di awal riwayatnya disebutkan pula jenis ujian yang lain — ujian seseorang dalam keluarganya dan tetangganya — dan tentangnya dikatakan:

تِلْكَ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَة

"Itu terhapus oleh salat, puasa, dan sedekah."

Betapa lapangnya agama ini. Gesekan sehari-hari dengan istri, dengan anak, dengan tetangga sebelah rumah — semua itu punya penghapusnya, dan penghapusnya bukan sesuatu yang mahal atau langka. Salat yang kita jaga. Puasa yang kita selipkan di hari Senin dan Kamis. Sedekah yang kita keluarkan meski kecil. Tiga amal yang sederhana, yang justru paling sering kita tinggalkan ketika waktu kita habis terserap ke layar. Maka kalau pekan ini kita merasa hati kita lebih mudah tersinggung, lebih cepat marah, dan lebih gampang menghakimi, boleh jadi bukan orang lain yang berubah. Boleh jadi tiga penghapus itu yang sedang kosong di rumah kita.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Setelah kita memeriksa hati, mari kita periksa cara kita memperlakukan orang yang bersalah. Sebab di sinilah patologi pekan ini paling terang terlihat: kita kehilangan kemampuan menegur tanpa mempermalukan.

Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari rahimahullah menulis dalam kitab adabnya sebuah daftar panjang tentang bagaimana seorang yang berilmu memperlakukan sesamanya:

Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / الثامن / التاسع

معاملة الناس بمكارم الأخلاق من طلاقة الوجه، وإفشاء السلام وإطعام الطعام، وكظم الغيظ، وكف الأذى عن الناس، واحتماله منهم والإيثار، وترك الاستئثار، والإنصاف، وترك الاستنصاف، وشكر التفضل، وإيجاد الراحة، والسعي في قضاء الحاجات

"Bergaul dengan manusia dengan akhlak yang mulia: wajah yang berseri, menyebarkan salam, memberi makan, menahan kemarahan, menahan diri dari menyakiti orang lain, sabar menanggung gangguan dari mereka, mendahulukan orang lain dan meninggalkan sikap mendahulukan diri, bersikap adil pada diri dan tidak sibuk menuntut keadilan untuk diri, mensyukuri kebaikan, memberi kelapangan kepada orang lain, dan berusaha memenuhi hajat orang."

Hadirin, bacalah kembali daftar itu perlahan-lahan sambil membayangkan kolom komentar mana pun pekan ini. Hampir setiap butir di daftar itu adalah kebalikan persis dari apa yang kita temukan di sana. Wajah berseri diganti nada mencibir. Menahan kemarahan diganti melampiaskan kemarahan secepat mungkin supaya tidak keduluan orang lain. Menahan diri dari menyakiti diganti kompetisi siapa yang kalimatnya paling menusuk. Dan yang paling halus: ترك الاستنصاف — meninggalkan sikap sibuk menuntut keadilan untuk diri sendiri. Betapa banyak pertengkaran daring yang sebenarnya bukan tentang kebenaran, melainkan tentang harga diri seseorang yang merasa perlu dimenangkan di depan umum.

Dan pada bagian yang sama, kitab itu menunjukkan jalan keluarnya:

وإذا رأى من لا يقيم صلاته أو طهارته أو شيئًا من الواجبات عليه إرشاده بتلطف ورفق كما فعل رسول الله - صلى الله عليه وسلم - مع الأعرابي الذي بال في المسجد، ومع معاوية بن الحكم لما تكلم في الصلاة.

"Dan jika ia melihat orang yang tidak menegakkan salatnya, atau bersucinya, atau sesuatu dari kewajibannya — hendaklah ia membimbingnya dengan lembut dan ramah, sebagaimana Rasulullah ﷺ lakukan kepada orang Badui yang kencing di masjid, dan kepada Mu'awiyah bin al-Hakam ketika ia berbicara di dalam salat."

Dua peristiwa itu, hadirin, terjadi di tempat dan waktu yang paling terjaga kehormatannya — di dalam masjid, dan di dalam salat. Dan yang diangkat kitab ini dari keduanya bukanlah beratnya pelanggaran, melainkan lembutnya bimbingan. Yang bisa kita ambil darinya adalah satu prinsip sederhana yang nyaris punah di zaman kita: menegur bukanlah kesempatan untuk menunjukkan bahwa kita lebih benar. Menegur adalah pekerjaan memperbaiki, dan pekerjaan memperbaiki selalu lebih berhasil bila dilakukan dengan tangan yang lembut.

Bandingkan dengan kebiasaan kita sekarang. Ketika melihat kekeliruan seseorang, langkah pertama kita bukan menghubunginya. Langkah pertama kita adalah menangkap layar, lalu menunjukkannya kepada orang banyak. Kita menyebutnya amar ma'ruf. Padahal yang bertambah dari perbuatan itu bukan kebaikan orang yang keliru, melainkan perhatian untuk diri kita sendiri. Kalau niat kita benar-benar memperbaiki, mengapa tidak kita mulai dari pesan pribadi — cara yang paling mungkin berhasil dan paling kecil kerusakannya?

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Ada satu lapisan lagi yang perlu kita bongkar, dan ini yang paling dalam. Mengapa begitu banyak orang rela merawat kemarahan? Karena kemarahan, di zaman ini, menghasilkan sesuatu. Ia menghasilkan perhatian. Dan perhatian, pada gilirannya, menghasilkan kedudukan — pengikut, sebutan, kadang penghasilan.

Di sinilah nasihat Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma yang dihimpun Syaikh Nawawi al-Bantani rahimahullah terasa seperti obat yang pahit namun tepat:

Nashaihul Ibad — باب السباعي (2/2)

حق على العاقل أن يختار سبعا على سبع :الفقر على الغني ،والذل على العز ،والتواضع على الكبر ،والجوع على الشبع ،والغم على السرور ،والدون على المرتفع ،والموت على الحياة.

"Hak atas orang yang berakal: memilih tujuh atas tujuh — fakir atas kaya, hina atas mulia, tawadhu atas sombong, lapar atas kenyang, sedih atas gembira, kedudukan rendah atas kedudukan tinggi, dan mati atas hidup."

Hadirin, daftar ini terdengar aneh di telinga kita yang setiap hari dilatih untuk menginginkan kebalikannya. Tetapi bacalah sekali lagi dengan lensa pekan ini. Memilih kedudukan rendah atas kedudukan tinggi — di zaman ketika satu unggahan bernada menghakimi bisa mengangkat nama seseorang dalam semalam, memilih untuk tidak naik adalah perjuangan yang nyata. Memilih tawadhu atas sombong — di zaman ketika merasa paling benar adalah bahan bakar percakapan, memilih untuk berkata "saya belum tahu" adalah kemewahan yang jarang. Ini bukan ajakan supaya kita miskin dan menderita, hadirin. Ini adalah cara orang berakal menutup pintu yang paling sering dimasuki setan: pintu ingin dilihat.

Maka pertanyaan yang perlu kita bawa pulang hari ini sangat pribadi. Ketika saya menekan tombol kirim pekan lalu, apa sebenarnya yang saya cari? Apakah saya ingin keadaan membaik, atau saya ingin terlihat sebagai orang yang peduli? Kedua niat itu menghasilkan kalimat yang nyaris sama di layar, tetapi menghasilkan catatan yang sangat berbeda di sisi Allah.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Ada satu keberatan yang mungkin muncul di hati sebagian kita ketika mendengar khutbah seperti ini. "Kalau semua orang diam, siapa yang akan membela yang lemah? Bukankah dengan bersuara ramai-ramai itulah banyak perkara akhirnya diproses?" Keberatan itu benar, dan saya tidak akan menepisnya. Agama kita tidak pernah mengajarkan diam di hadapan kezaliman. Yang sedang kita perbaiki bukan keberanian bersuara, melainkan cara bersuara.

Maka izinkan saya menawarkan satu pembeda yang sederhana namun tajam, hadirin. Ada suara yang menyebut perbuatannya, dan ada suara yang menghancurkan orangnya. Keduanya terdengar mirip di layar, tetapi keduanya berjalan ke arah yang berlawanan. Suara yang menyebut perbuatan akan berkata: praktik ini keliru, aturannya begini, jalan perbaikannya begitu, dan lembaga yang berwenang perlu bergerak. Suara yang menghancurkan orang akan berkata: lihat wajahnya, lihat masa lalunya, lihat keluarganya, dan mari kita pastikan ia tidak punya tempat berdiri di mana pun lagi. Yang pertama membuat perkara maju. Yang kedua hanya membuat kita puas.

Dan ada satu ujian yang paling mudah untuk membedakan keduanya, hadirin. Tanyakan kepada diri sendiri: seandainya besok pagi orang itu bertaubat, memperbaiki kesalahannya, dan mengembalikan hak-hak yang ia ambil — apa yang saya rasakan? Kalau dada kita lapang dan kita ikut senang, berarti yang kita kejar memang perbaikan. Kalau dada kita justru sempit dan merasa kehilangan bahan pembicaraan, maka bukan keadilan yang sedang kita perjuangkan. Ujian ini tidak bisa ditipu, karena tidak ada seorang pun yang menyaksikan jawabannya kecuali Allah.

Dan perlu kita ingat pula bahwa kerumunan yang menghukum tidak pernah punya satu penanggung jawab di dunia. Ribuan orang menulis satu baris, lalu masing-masing pulang dengan keyakinan bahwa ia bukan penyebab apa pun. Tetapi di hari ketika catatan dibuka, hadirin, tidak ada perhitungan berjamaah untuk perkara semacam ini. Setiap orang membawa barisnya sendiri. Barisan itu mungkin hanya satu kalimat pendek yang kita ketik sambil mengantre. Namun ia tetap kalimat kita, dengan nama kita di atasnya, di hadapan Allah yang tidak pernah kehilangan satu huruf pun.

Maka izinkan saya menutup khutbah pertama ini dengan beberapa langkah yang bisa kita mulai sepulang dari masjid ini.

Pertama, tetapkan jeda satu malam. Bila menemukan kabar yang membuat dada kita panas, jangan teruskan malam itu juga. Tunggu sampai besok pagi. Sebagian besar kabar yang membuat kita marah akan terlihat berbeda setelah satu kali tidur, dan sebagian di antaranya ternyata tidak benar sama sekali.

Kedua, dahulukan pesan pribadi sebelum tangkapan layar. Bila melihat saudara kita keliru, hubungi dia lebih dulu. Kalau ia memperbaiki diri, kita telah menolongnya tanpa mempermalukannya. Kalau ia menolak, kita sudah menunaikan cara yang paling baik lebih dulu.

Ketiga, jangan meneruskan keterangan pihak yang terluka. Untuk perkara yang menyangkut kehormatan seseorang, batasnya jelas: dorong agar perkaranya diproses lewat jalur yang sah, jangan ikut menyebarkan rekaman atau kronologi yang membedah luka orang.

Keempat, isi kembali tiga penghapus itu. Salat yang tertib berjamaah, puasa Senin atau Kamis satu hari pekan ini, dan sedekah meski kecil setiap hari. Ketiganya bukan tambahan; ketiganya adalah perawatan hati yang sedang kita perlukan.

Kelima, tutup malam dengan sesuatu selain layar. Ganti setengah jam terakhir sebelum tidur dengan bacaan Qur'an, meski satu halaman. Hati yang tidur dalam keadaan tenang akan bangun dengan daya tahan yang berbeda.

Keenam, jadilah orang yang memperbaiki, bukan hanya yang menyebut kerusakan. Setiap kali kita mengkritik sesuatu, sertakan satu langkah yang bisa dikerjakan. Itulah pembeda antara golongan yang disebut ayat tadi dan golongan yang kita harapkan menjadi tempat kita berdiri.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ سَتَرَ عُيُوْبَنَا وَلَمْ يَفْضَحْنَا، وَأَمْهَلَنَا وَلَمْ يُعَاجِلْنَا بِالْعُقُوْبَةِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Ada satu hal yang belum sempat kita bicarakan di khutbah pertama, dan ia justru yang paling menentukan. Kita sering mengira bahwa masalah kita adalah kurangnya informasi. Padahal masalah kita adalah kelebihan informasi tanpa kelebihan kesabaran. Setiap hari kita menerima kabar tentang orang-orang yang tidak kita kenal, dari tempat yang tidak pernah kita datangi, tentang perkara yang tidak kita pahami seluk-beluknya — lalu kita diminta segera punya sikap. Dan karena kita tidak punya waktu untuk memahami, kita mengambil jalan pintas: kita memilih pihak. Memilih pihak jauh lebih murah daripada memahami, tetapi ongkosnya ditanggung orang lain.

Ada juga satu perkara yang jarang kita sadari: memilih pihak memberi kita rasa aman. Ketika kita sudah berdiri di satu sisi, kita tidak perlu lagi memikirkan perkaranya; cukup memikirkan lawan kita. Sejak saat itu, setiap kabar baru tidak lagi kita baca untuk mencari kebenaran, melainkan untuk mencari senjata. Rasa aman semacam itu mahal harganya, hadirin, sebab yang kita bayar dengannya adalah kejernihan. Dan seorang mukmin yang kehilangan kejernihan akan tetap rajin beribadah sambil perlahan-lahan kehilangan kemampuan membedakan mana yang benar dari mana yang menguntungkan pihaknya.

Yang perlu kita ingat juga, hadirin, adalah bahwa orang yang kita bicarakan di layar itu punya ibu. Punya anak yang besok pagi berangkat sekolah dan membaca kolom komentar tentang ayahnya. Punya tetangga yang akan menatapnya berbeda selama bertahun-tahun. Ketika kita menambahkan satu kalimat, kita tidak sedang menambah satu kalimat ke sebuah akun; kita sedang menambah satu beban ke sebuah rumah tangga. Rasa jarak yang diberikan layar itu palsu. Yang di seberang sana adalah manusia utuh, selengkap kita.

Dan bagi kita yang memegang mikrofon di lingkungan masing-masing — guru ngaji, pengurus masjid, orang tua, siapa pun yang didengar oleh sepuluh orang atau seribu orang — ada tanggung jawab tambahan yang perlu kita sadari. Orang yang mendengar kita akan meniru bukan kesimpulan kita, melainkan cara kita sampai ke kesimpulan itu. Kalau kita terbiasa menilai cepat, mereka akan menilai lebih cepat lagi. Kalau kita terbiasa memastikan lebih dulu, mereka akan belajar memastikan. Maka jangan sekali-kali kita meneruskan sebuah kabar di grup pengajian hanya karena kita percaya pada pengirimnya. Percaya pada pengirim bukanlah pemeriksaan; itu hanya memindahkan tanggung jawab ke orang yang juga sedang memindahkannya kepada kita, dan begitu seterusnya sampai tidak ada satu pun orang dalam rantai itu yang benar-benar pernah memeriksa.

Akhirnya, hadirin, marilah kita ukur diri dengan satu pertanyaan yang jujur. Seandainya seluruh kalimat yang kita tulis di layar sepanjang tahun ini dibacakan di hadapan keluarga kita — suami, istri, anak-anak, orang tua kita — adakah di antaranya yang membuat kita ingin menunduk? Kalau ada, hari ini adalah hari yang baik untuk menghapusnya, meminta maaf kepada yang tersakiti, dan memulai kebiasaan yang baru.

Dan terakhir, hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita jaga satu keseimbangan. Diam bukan selalu kebaikan. Ada perkara-perkara yang justru wajib disuarakan, ada pihak lemah yang justru perlu dibela, dan agama ini tidak pernah mengajarkan kita menjadi penonton yang tidak peduli. Yang kita perbaiki bukan keberanian bersuara, melainkan cara bersuara: suara yang bertujuan memperbaiki, bukan menghancurkan; yang menyebut perbuatannya, bukan mempermalukan orangnya; dan yang siap menanggung akibatnya bila ternyata keliru. Itulah suara seorang mukmin.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ لِسَانٍ لَا يَحْفَظُ، وَمِنْ عَيْنٍ لَا تَغُضُّ، وَمِنْ يَدٍ تَكْتُبُ مَا يَضُرُّ عِبَادَكَ.

اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْغِيْبَةِ وَالنَّمِيْمَةِ وَالْبُهْتَانِ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْحَسَدِ وَالْحِقْدِ وَالرِّيَاءِ، وَاجْعَلْ كَلَامَنَا إِصْلَاحًا لَا إِفْسَادًا.

اَللّٰهُمَّ اسْتُرْ عُيُوْبَنَا وَعُيُوْبَ إِخْوَانِنَا، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَتَبَّعُ عَوْرَاتِ النَّاسِ، وَاحْفَظْ أَعْرَاضَنَا كَمَا تَحْفَظُ أَعْرَاضَ الصَّالِحِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ كُلَّ مَظْلُوْمٍ كُسِرَ قَلْبُهُ بِكَلَامِ النَّاسِ، وَاجْبُرْ كُلَّ مَنْ أُوْذِيَ فِيْ سُمْعَتِهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، وَعَافِ كُلَّ نَفْسٍ ضَاقَتْ بِمَا لَا تُطِيْقُ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَاحْمِ الضُّعَفَاءَ وَالْأَيْتَامَ وَالنِّسَاءَ مِنْ كُلِّ ظُلْمٍ وَاعْتِدَاءٍ، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا بُيُوْتَ أَمْنٍ وَسَكِيْنَةٍ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ آمِنْ رَوْعَاتِهِمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ بِلَادِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيْمًا، وَلِسَانًا صَادِقًا، وَيَقِيْنًا لَا يَزُوْلُ، وَعِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا وَاسِعًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan