Kisah dari HaditsPatologi Sosial DigitalKamis, 17 September 2026
Kisah Pendek — "Perempuan yang Membebaskan Seratus Rumah"
Pekan ini lini masa dipenuhi orang ramai yang bergerak bersama-sama untuk menjatuhkan satu orang. Ada kisah lama tentang orang ramai yang bergerak bersama-sama ke arah yang berlawanan. Kisah itu tersimpan di sela catatan penyunting pada Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 54- باب ما جاء في ميراث رسول الله صلى الله عليه وسلم, kitab Imam at-Tirmidzi rahimahullah tentang perangai Rasulullah ﷺ — sebuah keterangan ringkas tentang seorang perempuan dari Bani al-Mushthaliq dan apa yang terjadi pada kaumnya setelah satu keputusan.
Tahun kelima setelah hijrah. Pasukan bergerak ke tanah Bani al-Mushthaliq, dan hari itu kemudian dikenal dengan nama hari al-Muraisi'.
Ketika debu turun, yang tersisa adalah barisan tawanan. Di antara mereka ada seorang perempuan, putri al-Harits dari Khuza'ah. Namanya Barrah. Suaminya, Musafi' bin Shafwan, gugur pada hari itu juga.
Dalam satu hari ia kehilangan dua hal sekaligus: suaminya dan kemerdekaannya. Pagi itu ia seorang perempuan merdeka. Sore itu namanya masuk ke dalam pembagian tawanan, dan jatuh ke bagian seorang lelaki bernama Tsabit bin Khunais.
Di tengah semua itu, ia masuk Islam.
Kemudian Rasulullah ﷺ mengganti namanya.
وكان اسم جويرية برة، فسماها رسول الله صلى الله عليه وسلم جويرية
"Dahulu nama Juwairiyah adalah Barrah, lalu Rasulullah ﷺ menamainya Juwairiyah."
Sebuah nama baru untuk seseorang yang seluruh hidupnya baru saja runtuh. Bukan pengumuman, bukan perayaan. Hanya satu kata yang diganti, dan seseorang yang kemarin hanyalah bagian dari daftar kembali memiliki sebutan yang dipilihkan untuknya.
Tsabit bin Khunais lalu membuat perjanjian kitabah dengannya — perjanjian tebusan: bila ia sanggup melunasi sejumlah harta, ia merdeka.
Maka ia berjalan menemui Rasulullah ﷺ untuk meminta bantuan atas tebusannya.
Yang datang bukan seorang tokoh, bukan utusan, bukan delegasi. Seorang tawanan, sendirian, meminta tolong untuk membayar harga dirinya sendiri.
Jawaban yang ia terima tidak berhenti pada permintaannya.
أو خير لك من ذلك أن أؤدي عنك كتابتك وأتزوجك
"Maukah sesuatu yang lebih baik dari itu bagimu: aku lunasi tebusanmu, dan aku menikahimu."
Ia menjawab: ya.
Dan perkara itu pun dilaksanakan.
Kabar itu sampai kepada orang-orang: Rasulullah ﷺ telah menikahi perempuan dari Bani al-Mushthaliq. Lalu mereka menyebut kalimat yang mengubah segalanya: mereka ini besan Rasulullah ﷺ.
Dan orang-orang pun bergerak.
فأرسلوا ما كان في أيديهم من سبي المصطلق فلقد اعتق بها مائة من أهل بيت بني المصطلق
"Maka mereka melepaskan tawanan Bani al-Mushthaliq yang ada di tangan mereka. Sungguh, karena dirinya, seratus keluarga dari Bani al-Mushthaliq dimerdekakan."
Seratus rumah. Bukan seratus orang — seratus rumah tangga, dengan ayah, ibu, anak-anak, kakek nenek di dalamnya. Semuanya pulang.
Dan al-Harits, ayahnya, kemudian masuk Islam.
Perawi kisah ini menutup keterangannya dengan satu kalimat pendek yang terdengar seperti kesaksian seumur hidup:
فما أعلم امرأة كانت بركة على قومها منها
"Maka aku tidak mengetahui seorang perempuan pun yang lebih menjadi berkah bagi kaumnya daripada dia."
Juwairiyah radhiyallahu 'anha hidup panjang setelah itu. Ia wafat pada tahun kelima puluh enam hijriah, pada masa kekhalifahan Mu'awiyah, dalam usia enam puluh lima tahun. Marwan bin al-Hakam, yang saat itu menjabat gubernur Madinah, menyalatkan jenazahnya.
Tidak ada dalam keterangan itu catatan tentang harta yang ia tinggalkan. Yang tercatat adalah seratus rumah yang pintunya terbuka karena satu keputusan yang memuliakannya.
Pelajaran
Yang mengubah nasib seratus keluarga bukan sebuah kebijakan, bukan pidato, dan bukan gerakan yang dirancang. Yang mengubahnya adalah satu keputusan memuliakan seorang perempuan yang saat itu berada di posisi paling lemah yang bisa dibayangkan — kehilangan suami, kehilangan kedudukan, dan berdiri sebagai tawanan. Ketika orang yang paling tidak berdaya itu diperlakukan dengan hormat, orang banyak di sekitarnya ikut bergerak ke arah yang sama. Kerumunan ternyata bisa bergerak serentak untuk melepaskan, bukan hanya untuk menghukum; yang menentukan arahnya adalah teladan yang pertama kali mereka lihat. Di zaman ketika satu kalimat bisa mengepung seseorang dalam semalam, kisah ini menunjukkan bahwa satu perlakuan yang memuliakan juga bisa membebaskan dalam semalam. Arah kerumunan hampir selalu ditentukan oleh orang pertama yang berani memberi contoh.
Sumber Asli
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 54- باب ما جاء في ميراث رسول الله صلى الله عليه وسلم
Teks berikut adalah catatan (ta'liq) atas bab tersebut dalam cetakan Ihya' at-Turats, tempat keterangan tentang Juwairiyah radhiyallahu 'anha dihimpun.
جويرية: هي أم المؤمنين: بضم الجيم وفتح الواو وهي بنت الحارث الخزاعية سباها الرسول صلى الله عليه وسلم يوم المريسيع، وهي غزو بني المصطلق في السنة الخامسة من الهجرة
وكانت جويرية تحت مسافع بن صفوان ذي الشفرين فقتل يوم المريسيع وكان اسم جويرية برة، فسماها رسول الله صلى الله عليه وسلم جويرية
وقد وقعت جويرية بنت الحارث في سهم ثابت بن خنيس فأسلمت وكاتبها فجاءت رسول الله تستعين في كتابتها فقال أو خير لك من ذلك أن أؤدي عنك كتابتك وأتزوجك قالت نعم، ففعل فبلغ الناس أنه تزوجها فقالوا اصهار رسول الله صلى الله عليه وسلم فأرسلوا ما كان في أيديهم من سبي المصطلق فلقد اعتق بها مائة من أهل بيت بني المصطلق، فما أعلم امرأة كانت بركة على قومها منها
وأبوها الحارث أسلم كما في تاريخ دمشق/ الاسماء للنووي