Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPekerja & Pertanian RakyatKamis, 17 September 2026

Kultum — "Amanah yang Kita Pegang Tanpa Sadar"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ada satu kabar kecil yang mungkin terlewat: sebuah keluhan yang ramai dibicarakan tentang layanan yang disebut gratis tetapi tidak terasa gratis, dan rekaman antrean panjang bahan bakar yang mengular di sebuah kota. Dua-duanya bukan berita besar. Tetapi malam ini saya ingin mengambil satu pesan dari sana, dan pesan itu ternyata bukan tentang mereka. Pesan itu tentang kita.

Saudara-saudara sekalian, coba jawab dalam hati. Siapa di sini yang pekan ini memegang uang yang bukan miliknya? Uang kas arisan, iuran keamanan, uang belanja titipan, setoran harian, uang muka pelanggan, kotak amal mushala. Saya yakin hampir semua kita mengangkat tangan dalam hati. Nah, itulah amanah. Dan seringkali kita tidak menyebutnya amanah karena jumlahnya kecil dan tidak ada surat keputusannya.

Ada satu riwayat yang selalu membuat saya diam ketika membacanya. Sahih Muslim 1825. Abu Dzar radhiyallahu 'anhu datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengangkatku untuk suatu jabatan?" Beliau menepuk bahu Abu Dzar dengan tangannya, lalu bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

"Wahai Abu Dzar, sungguh engkau lemah. Sesungguhnya ia adalah amanah, dan pada Hari Kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya padanya."

Perhatikan siapa yang ditolak di sini. Ini bukan orang sembarangan. Ini Abu Dzar, sahabat yang zuhud, yang kejujurannya tidak diragukan. Dan permintaannya pun bukan permintaan yang buruk — ia ingin dipakai, ingin berguna. Tetapi Rasulullah ﷺ tidak menjawab dengan pujian. Beliau menepuk bahunya, dan kalimat pertama yang keluar adalah "engkau lemah".

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Jamaah yang saya hormati, kita hidup di zaman ketika semua orang merasa siap memegang sesuatu. Kita antre jadi pengurus, antre jadi ketua panitia, antre jadi bendahara, dan diam-diam senang kalau nama kita disebut di depan. Riwayat ini tidak melarang itu. Yang ia lakukan adalah memindahkan letak kegembiraannya. Amanah bukan hadiah yang diterima, melainkan beban yang dipikul. Yang gembira saat menerimanya, dan lupa gemetar saat memikulnya, sedang salah membaca barang yang ada di tangannya.

Dan riwayat itu memberi satu jalan keluar yang sangat jelas: kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajibannya. Jadi persoalannya bukan memegang atau tidak memegang. Persoalannya adalah cara mengambil dan cara menunaikan.

Sekarang mari kita bawa ini pulang ke kabar pekan ini. Ketika ada orang mengeluh bahwa sesuatu yang dijanjikan gratis ternyata tidak gratis, yang sedang dipersoalkan bukan besarnya uang. Yang dipersoalkan adalah rasa tidak berdaya: ia tidak tahu harus bertanya kepada siapa, dan urusannya sedang tergantung. Perasaan itu bisa kita kenali, karena kita juga pernah mengalaminya di tempat lain. Dan kalau kita pernah mengalaminya, kita tahu persis betapa mahalnya satu orang yang bersikap lurus di meja seperti itu.

Ada satu riwayat lagi yang menutup semua pintu tawar-menawar. Sahih Muslim 1833a, dari 'Adi bin 'Umairah al-Kindi, ia berkata: aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولاً يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barangsiapa di antara kalian yang kami pekerjakan atas suatu pekerjaan, lalu ia menyembunyikan dari kami satu jarum penjahit atau yang lebih, maka itu adalah ghulul yang akan dibawanya pada Hari Kiamat."

Satu jarum penjahit. Bukan sekarung, bukan sepeti. Satu jarum. Dan ukurannya bukan nilainya, melainkan disembunyikannya. Riwayat ini melanjutkan bahwa seorang laki-laki dari Anshar berdiri dan meminta agar tugasnya diambil kembali, karena ia mendengar kalimat itu. Teks itu tidak menjelaskan apa yang ada di kepalanya; yang bisa kita baca hanyalah bahwa satu kalimat sudah cukup membuat seseorang menimbang ulang beban yang sedang ia pikul.

Saudara-saudara, malam ini saya tidak ingin kita pulang dengan kemarahan pada orang di balik meja yang tidak kita kenal. Saya ingin kita pulang dengan satu pertanyaan yang lebih tidak nyaman: adakah "jarum penjahit" di tangan saya sendiri? Pulpen kantor yang tidak pernah kembali. Kuota yang dipakai untuk urusan pribadi dengan alasan sudah dibayarkan. Sisa uang belanja yang tidak dilaporkan karena terlalu kecil untuk disebut. Waktu kerja yang dijual ke pekerjaan lain. Timbangan di kios yang kita tahu sedikit miring, dan kita biarkan karena sedikit.

Maka ada tiga hal yang bisa kita kerjakan dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, buka satu catatan amanah yang kita pegang malam ini juga — kas, titipan, atau stok — lalu cocokkan angkanya. Kedua, kalau ada selisih, kembalikan besok pagi tanpa menunggu ditanya; yang mengembalikan sebelum ditanya masih punya kehormatan yang utuh. Ketiga, kalau ada tetangga yang kesulitan mengurus sesuatu di kantor layanan pekan ini, temani dia. Satu orang yang berdiri di sampingnya sering lebih menolong daripada sepuluh unggahan kemarahan.

Jamaah yang saya hormati, amanah tidak pernah menunggu kita punya jabatan. Ia sudah ada di tangan kita sejak subuh tadi. Yang ditanya nanti bukan seberapa besar yang kita pegang, melainkan bagaimana kita memperlakukannya ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْأَمَانَةِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْخِيَانَةِ، وَطَهِّرْ أَيْدِيَنَا وَمَكَاسِبَنَا مِنْ كُلِّ حَرَامٍ وَشُبْهَةٍ.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَرْزَاقِنَا، وَأَعِنَّا عَلٰى أَدَاءِ مَا حَمَّلْتَنَا، وَاسْتُرْنَا وَلَا تَفْضَحْنَا يَوْمَ تُعْرَضُ الْأَمَانَاتُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Lihat Briefing Mingguan