اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانًا لِلْعِبَادِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Marilah pada Jumat yang mulia ini kita perbarui takwa — bukan takwa yang hanya hidup di masjid, melainkan takwa yang ikut pulang ke meja kerja kita, ke buku kas kita, ke antrean yang kita ikuti, dan ke jari-jari kita saat mengetik komentar tentang orang lain.
Khutbah kali ini berangkat dari satu ayat yang kita kenal, tetapi jarang kita baca sebagai pelajaran tentang jabatan. Allah berfirman dalam QS. Yusuf: 55:
قَالَ ٱجْعَلْنِى عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلْأَرْضِ ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ
"Berkata Yusuf: 'Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.'"
Perhatikan susunan kalimat Nabi Yusuf 'alaihissalam dalam ayat ini, jamaah. Beliau menyebut posisi, lalu langsung menyebut dua alasan: hafizh — pandai menjaga, dan 'alim — berpengetahuan. Beliau tidak berkata "jadikan aku bendaharawan karena aku pantas", tidak pula "karena aku sudah lama menunggu". Yang beliau ajukan adalah kemampuan menjaga dan kecakapan memahami urusannya. Dalam satu ayat pendek itu, jabatan diletakkan pada tempat yang benar: ia bukan hadiah, bukan pula panggung; ia adalah pekerjaan menjaga milik orang banyak yang menuntut ilmu untuk mengerjakannya.
Dua sifat itu, jamaah, sebaiknya kita pegang sebagai sepasang timbangan yang tidak boleh dipisahkan. Orang yang pandai menjaga tetapi tidak berpengetahuan akan menjaga dengan cara yang salah: ia jujur, tetapi urusannya berantakan, dan kerugian tetap terjadi meskipun tidak ada yang mencuri. Sebaliknya, orang yang berpengetahuan tetapi tidak pandai menjaga akan tahu persis di mana celah-celah sistem berada — dan pengetahuan itu justru menjadi alat yang paling berbahaya di tangannya. Umat yang hanya menuntut kejujuran tanpa menuntut kecakapan akan kecewa oleh niat baik yang tidak sampai; umat yang hanya mengagumi kecakapan tanpa menimbang kejujuran akan dikagetkan oleh kecerdasan yang berbalik arah. Karena itu, ketika kita menilai siapa pun yang dititipi urusan orang banyak — dari ketua panitia di kampung sampai pemegang jabatan yang jauh dari jangkauan kita — dua pertanyaan ini yang layak diajukan bersamaan: apakah ia dapat dipercaya, dan apakah ia menguasai pekerjaannya.
Hadirin yang dimuliakan Allah, kita membaca ayat ini pada pekan yang penuh kabar tentang jabatan. Kabar yang paling ramai sampai kepada kita pekan ini adalah pergantian di pucuk kementerian yang mengurus keuangan negara. Hampir seluruh perbincangan berpusat ke sana: siapa yang berhenti, siapa yang menggantikan, siapa yang merasa lega, siapa yang merasa kehilangan. Kanal-kanal video memperbanyak potongan komentar; lini masa memperbanyak tebakan tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.
Saya tidak akan membawa mimbar ini ke dalam tebak-tebakan itu, jamaah. Bukan karena persoalannya tidak penting, tetapi karena kita sering keliru menilai pentingnya. Yang paling menentukan nasib orang banyak bukanlah nama yang duduk di kursi, melainkan amanah yang dijalankan dari kursi itu. Kursi berganti setiap beberapa waktu; amanah tidak pernah berganti. Dan lebih penting lagi untuk kita yang duduk di sini: amanah tidak berhenti di kursi menteri. Ia turun sampai ke meja kita masing-masing.
Pekan ini ada kabar lain yang jauh lebih sunyi, tetapi menurut saya lebih mengena. Di Palangkaraya, antrean panjang di sebuah stasiun pengisian bahan bakar sampai didatangi langsung oleh Wakil Presiden. Bayangkan orang-orang yang berdiri di antrean itu, jamaah: ada sopir yang kehilangan setengah hari penghasilannya, ada pedagang yang terlambat membuka lapak, ada ayah yang menunda menjemput anaknya. Di antrean itulah kebijakan benar-benar diuji — bukan di ruang rapat, bukan di layar berita.
Kabar berikutnya datang dari ruang yang lebih dekat lagi dengan kehidupan keagamaan kita. Pekan ini beredar luas sebuah sindiran tentang layanan pernikahan di kantor urusan agama yang dinyatakan gratis, tetapi menurut yang menuliskannya tidak benar-benar terasa gratis. Saya tidak akan menghakimi satu kantor atau satu orang dari satu unggahan. Tetapi sindiran yang dibaca ribuan orang itu menunjukkan satu hal yang tidak boleh kita abaikan: di mata umat, ada jarak antara apa yang diumumkan dan apa yang dialami di loket. Jarak itu bukan sekadar urusan administrasi. Jarak itu adalah luka kepercayaan.
Ada pula kabar penindakan: sebuah operasi tangkap tangan di kantor pertanahan di Bogor, di mana belasan koper berisi uang disebut ditemukan di sebuah rumah. Proses hukumnya sedang berjalan dan kita wajib menahan diri untuk tidak memvonis siapa pun dari mimbar ini. Yang boleh kita ambil adalah gambarannya: uang sebanyak itu tidak pernah berpindah dalam satu malam. Ia terkumpul dari banyak transaksi kecil yang, satu per satu, mungkin terasa wajar oleh pelakunya.
Dan kabar yang paling menyayat: keracunan massal pada program pemberian makan bergizi untuk anak sekolah kembali terdengar pekan ini. Yang kemudian ramai bukan perbaikan dapurnya, melainkan perdebatan tentang siapa yang pantas disalahkan — dan bola salah itu sempat menggelinding sampai ke guru-guru di sekolah. Anak-anak yang sakit perutnya nyaris tenggelam di balik ribut-ribut itu, padahal merekalah yang seharusnya berada di tengah perhatian kita.
Lima kabar, satu benang, jamaah: amanah. Dan pertanyaan yang ingin saya tinggalkan di hati kita pagi ini bukan "siapa yang salah di sana", melainkan "di mana letak amanah yang sedang saya pegang, dan apakah ia sedang saya tunaikan".
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, Rasulullah ﷺ memberi kita ukuran yang sangat kecil untuk perkara yang sangat besar ini. Dalam riwayat Sahih Muslim 1833a, 'Adi bin 'Umairah al-Kindi radhiyallahu 'anhu berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولاً يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa di antara kalian yang kami pekerjakan atas suatu pekerjaan, lalu ia menyembunyikan dari kami satu jarum penjahit atau yang lebih, maka itu adalah ghulul yang akan dibawanya pada Hari Kiamat."
Jarum penjahit, jamaah. Bukan peti emas, bukan koper uang. Perhatikan benda yang disebut: yang paling remeh, yang paling mudah dianggap tidak bernilai. Yang bisa kita ambil dari pemilihan benda sekecil itu adalah bahwa ukuran amanah tidak terletak pada nilai barangnya, melainkan pada satu kata yang disebut dalam hadits itu: disembunyikan. Yang merusak bukan besarnya, melainkan gelapnya.
Dan lihatlah apa yang terjadi setelah sabda itu, karena inilah bagian yang paling jarang kita renungkan. Riwayat yang sama menceritakan bahwa seorang laki-laki dari kaum Anshar berdiri mendatangi beliau dan berkata, "Wahai Rasulullah, terimalah kembali tugasmu dariku." Rasulullah ﷺ bertanya, "Ada apa denganmu?" Ia menjawab, "Aku mendengarmu bersabda begini dan begitu." Beliau ﷺ menjawab bahwa beliau tetap mengatakannya: barangsiapa diberi tugas, hendaklah ia membawa segala yang sedikit maupun yang banyak; apa yang diberikan kepadanya, ia ambil; apa yang dilarang darinya, ia tinggalkan.
Perhatikan reaksi sahabat itu, jamaah. Ia tidak berdebat, tidak mencari celah, tidak mencari pembenaran. Ia takut — lalu ia meminta dilepaskan dari jabatannya. Inilah wajah kesehatan jiwa yang hampir hilang dari percakapan kita hari ini: orang yang lebih takut pada hisab jabatannya daripada takut kehilangan jabatannya. Kita hidup di zaman ketika jabatan diperebutkan sampai retak persaudaraan; di zaman itu, gambaran seorang Anshar yang mengembalikan tugas karena satu kalimat peringatan terasa seperti cahaya dari jauh.
Sekarang izinkan saya mendekatkan pelajaran ini ke kita yang duduk di masjid ini. Barangkali tidak ada di antara kita yang memegang anggaran negara. Tetapi hampir semua kita sedang memegang sesuatu yang bukan milik kita. Ada yang memegang uang kas rukun tetangga. Ada yang memegang dana panitia kurban atau panitia pembangunan. Ada yang memegang stok barang di gudang tempat ia bekerja. Ada guru yang memegang uang iuran kelas. Ada bendahara pengajian ibu-ibu yang memegang tabungan jamaah. Ada karyawan yang memegang kartu bahan bakar kantor. Semua itu, dalam timbangan hadits tadi, adalah "pekerjaan" yang kepadanya kita diangkat. Dan jarum penjahitnya hari ini berbentuk lain: sisa kembalian yang tidak dilaporkan, kuota bensin yang dipakai untuk urusan pribadi, satu rim kertas kantor yang dibawa pulang, potongan kecil dari setiap belanja yang tidak pernah dicatat.
Mungkin ada yang bertanya dalam hati: bukankah hal-hal sekecil itu tidak akan pernah ketahuan? Justru di situlah letak pelajarannya, jamaah. Pengawasan manusia selalu punya batas — ia berhenti di pintu ruangan, berhenti di jam kerja, berhenti pada apa yang tercatat di kamera. Pengawasan Allah tidak mengenal batas itu. Orang yang hanya takut pada pengawasan manusia akan jujur ketika dilihat dan longgar ketika sendirian; dan masyarakat yang seluruh kejujurannya bergantung pada kamera akan selalu kalah cepat dari orang yang tahu di mana kamera tidak memandang. Kejujuran yang bisa diandalkan hanyalah kejujuran yang tumbuh dari kesadaran bahwa catatan kita sedang ditulis tanpa terputus.
Ada perbedaan penting yang perlu kita pegang di sini. Hukum negara menangkap yang besar — ia bekerja dengan ambang, dengan bukti, dengan kerugian yang bisa dihitung. Hadits tadi menangkap yang kecil, jauh sebelum perkaranya sampai ke meja hukum. Keduanya tidak bertentangan; keduanya bekerja di lapisan yang berbeda. Tetapi umat yang hanya mengandalkan lapisan pertama akan terus terkejut setiap kali ada kabar penindakan, sebab ia hanya melihat hasil akhir dari proses panjang yang sebenarnya dimulai bertahun-tahun sebelumnya — dimulai dari satu jarum yang disembunyikan dan tidak pernah dipersoalkan oleh siapa pun, termasuk oleh hati pelakunya sendiri.
Dan kita hidup di zaman ketika rantai itu semakin panjang, jamaah. Program-program besar hari ini melibatkan ribuan tangan: ada yang menyusun anggaran, ada yang menandatangani, ada yang membelanjakan, ada yang memasak, ada yang mengantar, ada yang menerima. Semakin panjang rantainya, semakin banyak titik di mana satu orang bisa berkata "selisih sekecil ini tidak akan terasa". Padahal yang menanggung selisih itu bukan angka di laporan, melainkan perut anak-anak, kesehatan orang tua, dan waktu orang-orang yang berdiri mengantre. Maka jawaban yang paling masuk akal bukanlah menunggu pengawasan turun dari atas, melainkan menumbuhkan kebiasaan terbuka dari bawah: catatan yang bisa dibaca siapa saja, laporan yang tidak perlu diminta, dan budaya bertanya yang tidak dianggap penghinaan.
Ma'asyiral muslimin, ada satu pintu yang lebih halus lagi, dan Rasulullah ﷺ menutupnya dengan pertanyaan yang tajam. Dalam riwayat Sahih Muslim 1832c, Abu Humaid as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mempekerjakan seorang laki-laki untuk mengurus sedekah Bani Sulaim. Ketika ia kembali dan diperiksa, ia berkata, "Ini harta kalian, dan ini hadiah." Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
فَهَلاَّ جَلَسْتَ فِي بَيْتِ أَبِيكَ وَأُمِّكَ حَتَّى تَأْتِيَكَ هَدِيَّتُكَ إِنْ كُنْتَ صَادِقًا
"Tidakkah engkau duduk di rumah ayahmu dan ibumu, sampai hadiahmu datang kepadamu — jika engkau jujur?"
Inilah pertanyaan yang seharusnya kita gantung di setiap ruang kerja, jamaah: seandainya aku tidak memegang jabatan ini, apakah hadiah ini tetap datang kepadaku? Kalau jawabannya tidak, maka yang sedang dihadiahi bukan diriku — yang sedang dihadiahi adalah kursiku. Dan kursi itu bukan milikku; ia milik orang banyak yang menitipkannya.
Riwayat itu melanjutkan bahwa Rasulullah ﷺ kemudian berkhutbah di hadapan para sahabat, memuji Allah, lalu menegaskan kembali perkara ini di depan umum — beliau tidak menyimpannya sebagai teguran pribadi di ruang tertutup. Ada pelajaran tata kelola di situ: perkara yang menyangkut harta orang banyak diluruskan secara terbuka, supaya semua orang tahu ukurannya, dan supaya tidak ada yang merasa aturan itu hanya berlaku bagi satu orang yang kebetulan tertangkap.
Dari sini kita bisa membaca ulang kabar pekan ini dengan lebih jernih. Layanan yang dinyatakan gratis tetapi terasa berbiaya di loket — itu bukan sekadar soal tarif; itu soal hadiah yang datang karena kursi. Uang yang menumpuk sampai memenuhi banyak koper — itu bukan peristiwa satu malam; itu akumulasi dari ribuan "ini hadiah" yang tidak pernah ditolak. Dan makanan anak sekolah yang membuat perut mereka sakit — di sana ada rantai panjang orang yang memegang amanah gizi anak-anak kita, dan satu saja mata rantai yang menganggap selisih kecil itu haknya, yang menanggung akibatnya adalah anak orang lain.
Ada satu tempat yang jarang kita sebut sebagai medan amanah, padahal di sanalah amanah paling sering diuji: antrean dan loket. Orang yang berdiri mengantre sedang menitipkan sesuatu yang tidak bisa diganti — waktunya. Setengah hari yang hilang di antrean bahan bakar adalah setengah hari penghasilan yang tidak kembali; satu pagi yang habis di loket karena berkas ditolak tanpa penjelasan adalah satu pagi yang seharusnya menjadi rezeki keluarga. Maka siapa pun yang berada di sisi meja yang melayani — petugas, panitia, pengurus, bahkan kita yang membagikan sesuatu di masjid — sedang memegang waktu orang lain di tangannya. Mempercepat urusan orang yang mendesak, menjelaskan syarat sejak awal agar tidak bolak-balik, dan menjaga urutan supaya tidak ada yang merasa dicurangi: semuanya terdengar teknis, tetapi dalam timbangan syariat itu semua adalah menunaikan amanah. Dan sebaliknya, memperlambat urusan supaya orang menyerah lalu mencari jalan pintas adalah cara paling halus untuk membuka pintu yang kemudian kita ributkan bersama sebagai kerusakan.
Hadirin yang dimuliakan Allah, sampai di sini khutbah ini berbicara kepada mereka yang memegang jabatan. Tetapi sebagian besar kita justru berada di posisi sebaliknya: kita adalah orang-orang yang tidak diberi, yang dilewati, yang melihat orang lain didahulukan. Dan untuk kita, Rasulullah ﷺ juga meninggalkan pesan. Dalam riwayat Sahih Muslim 1845a, Usaid bin Hudhair radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa seorang laki-laki Anshar berbicara berdua saja dengan Rasulullah ﷺ dan berkata, "Tidakkah engkau mempekerjakan aku sebagaimana engkau mempekerjakan si fulan?" Maka beliau ﷺ bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ
"Sungguh kalian akan menemui sepeninggalku atsarah — pengutamaan. Bersabarlah sampai kalian menjumpaiku di telaga."
Atsarah, jamaah, adalah keadaan ketika sebagian orang didahulukan atas sebagian yang lain. Rasulullah ﷺ tidak menghibur sahabat itu dengan janji bahwa keadaan akan selalu adil. Beliau justru memberitahukan bahwa ketidakadilan semacam itu akan terjadi — lalu beliau menunjukkan ke mana pandangan harus diarahkan: ke telaga, ke perjumpaan dengan beliau ﷺ, ke ujung perjalanan yang tidak bisa direbut siapa pun dari kita.
Ini bukan ajakan untuk diam terhadap kezaliman, dan saya tidak ingin ada yang salah paham. Menuntut perbaikan lewat jalan yang benar adalah bagian dari agama. Yang diajarkan hadits ini adalah sesuatu yang lebih dalam: jangan sampai kekecewaan karena tidak kebagian berubah menjadi penyakit yang memakan hati kita sendiri. Ada jarak yang sangat jauh antara orang yang menuntut keadilan dengan hati yang tenang, dan orang yang setiap hari membakar dirinya sendiri dengan kemarahan yang tidak pernah selesai.
Di sinilah, jamaah, saya ingin kita jujur pada diri sendiri. Sebagian dari kemarahan kita terhadap pejabat memang lahir dari cinta pada keadilan. Tetapi sebagian lagi — mari kita akui pelan-pelan — lahir dari rasa tidak kebagian. Keduanya terdengar mirip di mulut, tetapi sangat berbeda di hati, dan yang kedua itulah yang paling cepat merusak lisan kita. Dari sanalah lahir kalimat-kalimat yang pekan ini banyak berseliweran: bukan kritik terhadap kebijakan, melainkan olok-olok terhadap pribadi; bukan tuntutan pertanggungjawaban, melainkan perendahan martabat. Kritik yang tajam adalah hak warga dan kadang kewajiban; mempermainkan kehormatan seorang muslim bukan hak siapa pun.
Maka rumusan yang saya titipkan pagi ini sederhana: koreksi perbuatannya, jaga kehormatan orangnya. Sebut datanya, jangan sebut aibnya. Tuntut perbaikan sistemnya, jangan rayakan kejatuhan pribadinya. Umat yang kehilangan adab dalam mengoreksi pada akhirnya akan kehilangan pengaruhnya dalam memperbaiki — karena orang tidak mendengarkan suara yang membuatnya malu, ia hanya bertahan darinya.
Dan bagi kita yang tidak memegang jabatan apa pun, jangan cepat merasa bebas dari urusan ini. Kita memang bukan pembuat kebijakan, tetapi kita adalah pembayar pajak, pengguna layanan, pemberi suara, dan pengisi ruang percakapan. Di setiap peran itu ada amanahnya sendiri: tidak melebih-lebihkan kabar buruk agar terdengar lebih marah, tidak menyembunyikan kabar baik hanya karena datang dari pihak yang tidak kita sukai, tidak meneruskan tuduhan yang kita sendiri tidak tahu asalnya. Kejujuran informasi adalah amanah publik yang paling merata pembagiannya — hampir semua kita memegangnya, dan hampir setiap hari kita diuji dengannya.
Sabar yang diajarkan dalam hadits tadi juga bukan sabar yang pasif, jamaah. Ia bukan sikap menerima apa adanya sambil berhenti berharap. Sabar di sini berarti menjaga diri tetap lurus selama proses berlangsung: tetap menuntut hak dengan cara yang benar, tetap bekerja dengan sungguh-sungguh meskipun merasa tidak dihargai, tetap menolak jalan pintas meskipun melihat orang lain menempuhnya dan tampak selamat. Itulah sabar yang membangun. Sedangkan sabar yang hanya berupa diam sambil menyimpan dendam bukanlah sabar; ia hanya kemarahan yang ditunda.
Hadirin yang dimuliakan Allah, sebelum kita menutup khutbah pertama ini, izinkan saya menawarkan beberapa langkah yang bisa kita kerjakan mulai pekan ini.
Pertama, lakukan audit amanah pribadi. Ambil satu lembar kertas malam nanti, tulis semua hal yang sedang kita pegang tetapi bukan milik kita — uang, barang, data, kunci, kepercayaan orang. Lalu beri tanda pada satu saja yang paling lama kita tunda pertanggungjawabannya, dan selesaikan pekan ini.
Kedua, bereskan catatan. Bagi yang memegang kas rukun tetangga, kas masjid, kas pengajian, atau dana panitia: buat catatan sederhana yang bisa dibaca orang lain, lalu tempel atau kirimkan ke jamaah. Keterbukaan yang kecil dan rutin jauh lebih menenangkan daripada laporan besar yang datang setahun sekali.
Ketiga, kembalikan yang bukan hak. Kalau ada "hadiah" yang datang karena posisi kita, kembalikan dengan cara yang baik, atau serahkan ke kas lembaga. Kalau sudah terlanjur dipakai, gantilah diam-diam tanpa perlu diumumkan.
Keempat, dampingi satu orang yang sedang mengurus layanan publik. Antar tetangga yang kesulitan mengurus dokumen, temani orang tua yang bingung dengan antrean, bantu mereka yang tidak terbiasa dengan formulir. Ini bentuk khidmah yang tidak memerlukan jabatan apa pun.
Kelima, jaga lisan dan jempol. Sebelum membagikan ulang satu unggahan tentang pejabat, tanyakan tiga hal: benarkah kabarnya, perlukah saya menyebarkannya, dan apakah cara saya menyampaikannya masih menjaga kehormatan orang. Kalau ada satu saja yang tidak terjawab, tahan dulu.
Ketujuh, perbaiki satu proses yang kita kelola. Bagi yang memegang layanan apa pun — pendaftaran pengajian, pembagian bantuan lingkungan, antrean di klinik kecil, penerimaan santri — tuliskan syarat dan urutannya di satu lembar yang bisa dibaca semua orang. Aturan yang terbuka melindungi dua pihak sekaligus: warga dari perlakuan yang tidak setara, dan petugas dari tuduhan yang tidak berdasar.
Keenam, doakan. Doakan mereka yang memegang urusan kaum muslimin agar diberi kejujuran dan kecakapan sekaligus — karena jujur tanpa cakap membuat urusan terbengkalai, dan cakap tanpa jujur membuat urusan dirampas. Mendoakan bukan tanda kita menyetujui semua kebijakan; mendoakan adalah tanda kita masih menginginkan perbaikan, bukan sekadar kehancuran.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَ بِأَدَاءِ الْأَمَانَاتِ إِلٰى أَهْلِهَا، وَأَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu hal yang ingin saya perdalam pada khutbah kedua ini. Kita cenderung membayangkan amanah sebagai beban yang dipikul orang-orang besar di tempat yang jauh. Padahal yang menentukan wajah sebuah negeri justru penjumlahan dari ribuan amanah kecil yang tidak ada beritanya: penjaga toko yang mengembalikan kelebihan bayaran, petugas yang melayani antrean sesuai urutan, guru yang tidak memotong jam pelajaran, bendahara kampung yang menuliskan setiap rupiah. Tidak satu pun dari itu menjadi berita. Tetapi apabila semuanya rusak, tidak ada pergantian pejabat yang bisa memperbaikinya.
Kedua, mari kita jaga cara kita marah. Marah terhadap kerusakan adalah tanda iman masih hidup. Tetapi marah yang kehilangan arah akan berhenti menjadi tenaga perbaikan dan berubah menjadi hiburan — kita menikmati kemarahan itu sendiri, kita mencari alasan baru setiap hari untuk mengulanginya, dan pelan-pelan kita tidak lagi tertarik pada penyelesaian. Tanda paling jelasnya sederhana: ketika ada kabar perbaikan, kita justru kecewa karena kehilangan bahan untuk marah. Kalau tanda itu muncul pada diri kita, yang perlu diperiksa bukan lagi para pejabat, melainkan hati kita sendiri.
Ketiga, jangan biarkan sinisme menutup pintu kebaikan. Di antara orang-orang yang bekerja di layanan publik, di sekolah, di dapur-dapur penyedia makanan anak, di kantor kelurahan, masih banyak yang bekerja dengan jujur, lelah, dan jarang dipuji. Kalau kita menghukum semuanya dengan kecurigaan yang sama, kita sedang mematahkan semangat orang-orang yang justru sedang menahan kerusakan dari dalam. Koreksi yang adil selalu punya alamat yang jelas — ia menyebut perbuatan, bukan menyapu seluruh golongan.
Keempat, mari kita mulai dari genggaman yang paling dekat. Kalau khutbah pagi ini hanya membuat kita lebih pandai menilai orang lain, ia gagal. Ia baru berhasil kalau pekan depan ada satu catatan kas yang lebih rapi, satu hadiah yang dikembalikan, satu antrean yang tidak kita serobot, dan satu jempol yang berhenti sebelum meneruskan kabar yang belum jelas asalnya.
Kelima, mari kita rawat harapan. Ada bahaya lain yang jarang disebut, jamaah: bukan hanya kejujuran yang bisa habis, harapan pun bisa habis. Ketika umat sampai pada keyakinan bahwa segala sesuatu memang sudah rusak dan tidak ada gunanya diperbaiki, maka yang pertama berhenti bukan para pelaku kerusakan — yang pertama berhenti justru orang-orang baik yang lelah. Karena itu setiap kali kita menyampaikan kritik, sertakan juga jalan keluarnya, sekecil apa pun. Setiap kali kita menyebut apa yang gagal, sebut juga satu hal yang masih bisa dikerjakan pekan ini. Dakwah yang sehat tidak pernah berhenti pada diagnosis; ia selalu menunjuk pintu. Dan selama pintu itu masih ditunjukkan, selama itu pula umat punya alasan untuk bangkit lagi setelah setiap kabar yang mengecewakan.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدٰى وَالتُّقٰى وَالْعَفَافَ وَالْغِنٰى، وَنَسْأَلُكَ قُلُوْبًا خَاشِعَةً، وَأَلْسِنَةً صَادِقَةً، وَأَيْدِيَ أَمِيْنَةً، وَأَعْمَالًا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ.
اَللّٰهُمَّ جَنِّبْنَا الْخِيَانَةَ فِيْ قَلِيْلٍ وَكَثِيْرٍ، وَطَهِّرْ أَمْوَالَنَا مِنْ كُلِّ حَرَامٍ وَشُبْهَةٍ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُؤَدِّي الْأَمَانَةَ إِلٰى أَهْلِهَا وَلَا يَبْخَسُ النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَارْزُقْهُمُ الْأَمَانَةَ وَالْعِلْمَ وَالرَّحْمَةَ بِالرَّعِيَّةِ، وَاكْفِهِمْ شَرَّ بِطَانَةِ السُّوْءِ، وَاجْعَلْ أَعْمَالَهُمْ خَالِصَةً لِوَجْهِكَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَطْفَالَنَا وَتَلَامِيْذَنَا فِيْ مَدَارِسِهِمْ، وَاجْعَلْ طَعَامَهُمْ حَلَالًا طَيِّبًا نَافِعًا، وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ، وَبَارِكْ لِمَنْ قَامَ عَلٰى خِدْمَتِهِمْ مِنَ الْمُعَلِّمِيْنَ وَالْعَامِلِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْ كُلَّ مَنْ وَقَفَ فِي الصُّفُوْفِ يَنْتَظِرُ حَاجَتَهُ صَبْرًا وَفَرَجًا قَرِيْبًا، وَيَسِّرْ أُمُوْرَ الضُّعَفَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ بِأَيْدِيْهِمْ، وَلَا تَجْعَلْ رِزْقَهُمْ عَلٰى يَدِ مَنْ يَظْلِمُهُمْ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ عَوْنًا وَنَصِيْرًا، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ مَنِ ائْتَمَنْتَهُ عَلٰى مَالٍ أَوْ عَمَلٍ أَوْ عِلْمٍ أَوْ رَعِيَّةٍ فَأَعِنْهُ عَلٰى أَدَاءِ أَمَانَتِهِ، وَاحْفَظْهُ مِنَ الطَّمَعِ وَالْهَوٰى، وَاجْعَلْ سِرَّهُ خَيْرًا مِنْ عَلَانِيَتِهِ، وَاخْتِمْ لَنَا وَلَهُمْ بِخَيْرٍ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَشَايِخَنَا وَمُعَلِّمِيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
