Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPemerintahan & KebijakanKamis, 17 September 2026

Kultum — "Cinta Jabatan, Lupa Perhitungan"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ لِكُلِّ عَمَلٍ حِسَابًا وَلِكُلِّ أَمَانَةٍ مِيْزَانًا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الرَّقِيْبُ عَلٰى عِبَادِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan yang baru saja kita lewati ini dipenuhi kabar tentang kursi: satu jabatan besar berganti pemegang, dan hampir semua orang punya pendapat tentangnya. Ada yang senang, ada yang kecewa, ada yang sekadar ikut ramai. Malam ini saya tidak akan menambah pendapat baru tentang kursi itu. Saya ingin mengajak kita melihat sesuatu yang lebih dekat, yang biasanya luput justru karena terlalu dekat.

Coba kita jawab pelan-pelan dalam hati: berapa banyak waktu kita pekan ini habis untuk membicarakan jabatan orang lain, dan berapa banyak waktu kita pakai untuk memeriksa amanah yang sedang kita pegang sendiri? Saya menanyakan ini pertama-tama kepada diri saya.

Dalam kitab Nashaihul Ibad — باب الخماسي (3/3) dikutip sebuah sabda Nabi ﷺ yang terasa seperti ditulis untuk pekan-pekan seperti ini:

سَيَأْتِي عَلَى أُمَّتِي زَمَانٌ يُحِبُّونَ الْخَمْسَ وَيَنْسَوْنَ الْخَمْسَ: يُحِبُّونَ الدُّنْيَا وَيَنْسَوْنَ الْآخِرَةَ، وَيُحِبُّونَ الْحَيَاةَ وَيَنْسَوْنَ الْمَوْتَ، وَيُحِبُّونَ الْقُصُورَ وَيَنْسَوْنَ الْقُبُورَ، وَيُحِبُّونَ الْمَالَ وَيَنْسَوْنَ الْحِسَابَ، وَيُحِبُّونَ الْخَلْقَ وَيَنْسَوْنَ الْخَالِقَ

"Akan datang pada umatku suatu masa: mereka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara — mereka mencintai dunia dan melupakan akhirat, mencintai kehidupan dan melupakan kematian, mencintai istana dan melupakan kuburan, mencintai harta dan melupakan perhitungan, serta mencintai makhluk dan melupakan Sang Pencipta."

Perhatikan pasangan keempat, jamaah: mencintai harta dan melupakan hisab. Yang menarik, sabda ini tidak melarang mencintai harta. Ia menunjukkan letak masalahnya di tempat lain — bukan pada cintanya, tetapi pada lupanya. Harta datang bersama perhitungan; jabatan datang bersama pertanggungjawaban. Yang membuat seseorang tergelincir bukan karena ia memegang uang, melainkan karena ia berhenti membayangkan hari ketika uang itu ditanyakan satu per satu.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Dan begitu hisab dilupakan, semua urusan berubah bentuk. Uang kas yang dipinjam sebentar terasa seperti hak. Selisih belanja yang tidak dilaporkan terasa seperti upah lelah. Fasilitas kantor yang dipakai untuk keperluan keluarga terasa seperti bonus yang wajar. Tidak ada satu pun dari itu yang terasa seperti kejahatan ketika dilakukan — dan justru itulah yang membuatnya berbahaya. Kerusakan besar hampir tidak pernah dimulai dengan keputusan besar; ia dimulai dengan satu hal kecil yang kita izinkan untuk lewat.

Pekan ini kita mendengar kabar tentang belasan koper berisi uang yang disebut ditemukan dalam sebuah penindakan di kantor pertanahan. Saya tidak akan menghakimi siapa pun; prosesnya sedang berjalan dan itu bukan wilayah kita. Yang ingin saya ajak renungkan hanya satu: uang sebanyak itu tidak pernah datang sekaligus. Ia dikumpulkan sedikit demi sedikit, dari hari-hari biasa, oleh orang yang barangkali dulu juga duduk di majelis seperti ini dan merasa dirinya baik-baik saja.

Kita juga mendengar kabar yang lebih sederhana tetapi sama pentingnya: keluhan tentang layanan pernikahan yang dinyatakan gratis namun tidak selalu terasa gratis bagi yang mengurusnya; juga antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar yang membuat sebagian orang kehilangan setengah hari kerjanya. Di tempat-tempat seperti itulah agama kita diuji secara sangat konkret — bukan pada seberapa fasih kita bicara tentang keadilan, melainkan pada apakah kita mau menunggu giliran, dan apakah kita menolak jalan pintas ketika ditawari.

Ada satu sisi lain yang ingin saya singgung malam ini, jamaah, karena ia juga penyakit pekan ini. Cara kita membicarakan pejabat sudah terlalu sering berpindah dari mengoreksi menjadi merendahkan. Di sini saya teringat satu riwayat dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم, ketika Rasulullah ﷺ bersabda:

لا تطروني كما أطرت النّصارى ابن مريم إنّما أنا عبد فقولوا: عبد الله ورسوله

"Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebihan dalam memuji putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan rasul-Nya."

Kalau manusia paling mulia pun menolak dibesar-besarkan, apa yang bisa kita pelajari untuk cara kita berbicara tentang sesama manusia? Yang bisa kita ambil, menurut saya, begini: pujian yang berlebihan dan cacian yang berlebihan sebenarnya lahir dari akar yang sama — kita menaruh manusia di tempat yang bukan tempatnya. Ketika kita mengangkat seseorang terlalu tinggi, kita akan kecewa berlipat ketika ia keliru. Dan ketika kecewa, kita cenderung menjatuhkannya sedalam dulu kita mengangkatnya. Orang yang menempatkan manusia sebagai manusia — bisa benar, bisa salah, tetap wajib dijaga kehormatannya — tidak akan terlempar ke dua ujung itu.

Maka malam ini, jamaah, saya ingin meletakkan dua pekerjaan kecil di tangan kita, yang bisa dikerjakan dalam dua puluh empat jam ke depan.

Yang pertama, periksa satu amanah. Sebelum tidur nanti, ingat satu hal yang sedang kita pegang tetapi bukan milik kita — uang kas, barang pinjaman, data orang lain, janji yang belum ditepati. Pilih satu saja yang paling lama kita tunda, lalu tuntaskan besok. Kalau berupa uang, catat dan laporkan. Kalau berupa barang, kembalikan. Kalau berupa janji, kabari orangnya meskipun hanya untuk mengatakan bahwa kita belum sanggup.

Yang kedua, periksa satu percakapan. Buka kembali pesan atau unggahan terakhir yang kita bagikan tentang seorang pejabat. Tanyakan: apakah yang saya sebarkan itu fakta atau dugaan, dan apakah cara saya menyampaikannya masih menjaga kehormatannya sebagai manusia? Kalau jawabannya membuat kita ragu, hapus atau perbaiki. Itu bukan sikap penakut; itu kehati-hatian yang justru membuat koreksi kita lebih dipercaya.

Jamaah yang saya hormati, kita tidak bisa memilih siapa yang duduk di kursi mana. Tetapi kita selalu bisa memilih menjadi orang yang timbangannya jujur di tempat kita berdiri sekarang. Dan barangkali di situlah perbaikan sebuah negeri sebenarnya dimulai: bukan dari pergantian yang di atas, melainkan dari sekian banyak orang di bawah yang diam-diam menolak menyembunyikan apa pun.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْأُمَنَاءِ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الطَّمَعِ وَالْحَسَدِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْغِيْبَةِ وَالْبُهْتَانِ، وَأَيْدِيَنَا مِنْ كُلِّ حَرَامٍ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَارْزُقْنَا فِيْ بُيُوْتِنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاجْعَلْ أَوْلَادَنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Lihat Briefing Mingguan