Tujuan sesi. Menanamkan satu kebiasaan yang bisa langsung diuji anak esok harinya: mendahulukan orang lain pada hal kecil, dan memilih kata yang lembut ketika kesal. Sesi berlangsung 15-20 menit dan dirancang untuk tiga rentang usia yang berbeda. Pemicunya adalah suasana pekan ini, ketika lini masa dipenuhi kalimat keras dan seseorang yang diserbu komentar menuliskan bahwa dirinya kewalahan.
Materi yang dibutuhkan. Dua benda sejenis dengan kualitas berbeda — dua pensil (satu baru, satu pendek), dua potong buah, atau dua gelas. Satu catatan kecil berisi kalimat dalil di bawah ini. Telepon genggam diletakkan di ruangan lain selama sesi berlangsung.
Dalil sesi. Imam al-Ghazali rahimahullah dalam Bidayatul Hidayah — آداب العلاقة بالمعارف menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah memetik dua ranting siwak — satu bengkok dan satu lurus. Beliau ﷺ memberikan yang lurus kepada sahabat yang menyertainya, dan menahan yang bengkok untuk diri beliau sendiri. Dalam bab yang sama dinukil sabda beliau ﷺ:
مَا اصْطَحَبَ اثْنَانِ قَطُّ إِلَّا وَكَانَ أَحَبُّهُمَا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَرْفَقَهُمَا بِصَاحِبِهِ
"Tidaklah dua orang bersahabat melainkan yang paling Allah Ta'ala cintai di antara keduanya adalah yang paling lembut kepada sahabatnya."
Untuk anak SD cukup dibacakan terjemahannya. Untuk SMP dan SMA, teks Arab di atas boleh ikut dibacakan satu kali, tanpa tafsir panjang.
Skrip 1 — Anak SD, saat makan malam (5-7 menit)
Langkah 1 (2 menit). Letakkan dua benda sejenis di meja, satu jelas lebih bagus. Ajukan pertanyaan pembuka, lalu tunggu jawaban tanpa memberi isyarat mana yang "benar".
"Nak, ini ada dua pensil. Yang satu baru, yang satu sudah pendek. Kalau Bunda minta kamu bagi dengan adik, kamu ambil yang mana?"
Langkah 2 (3 menit). Tanggapi sesuai jawabannya.
- Jika anak memilih yang bagus untuk dirinya: jangan dikoreksi dengan nada kecewa. Balas, "Wajar, semua orang suka yang bagus. Coba dengar cerita ini dulu." Lalu ceritakan kisah dua ranting siwak dengan kalimat sederhana.
- Jika anak memberikan yang bagus kepada adiknya: tanyakan alasannya, jangan langsung memuji. Balas, "Kenapa kamu pilih begitu?" Setelah ia menjawab, baru sampaikan kisah dua ranting siwak.
- Jika anak menolak membagi sama sekali: jangan dipaksa dan jangan dilabeli pelit. Balas, "Boleh, hari ini belum. Bunda ceritakan satu cerita dulu, besok kita coba lagi."
Langkah 3 (1 menit). Tutup dengan kalimat yang tidak menggurui.
"Rasulullah ﷺ ambil yang bengkok, yang lurus beliau kasih ke temannya. Besok, coba satu kali saja seperti itu ya."
Skrip 2 — Anak SMP, di mobil atau saat perjalanan (5 menit)
Langkah 1 (2 menit). Mulai dari peristiwa pekan ini, tanpa menyebut nama akun siapa pun.
"Kamu lihat nggak, minggu ini ada orang yang dikomentari ramai-ramai sampai dia nulis kalau dia nggak kuat? Menurut kamu, orang yang komen itu mikir nggak ya waktu ngetik?"
Langkah 2 (2 menit). Dengarkan jawabannya sampai selesai. Jangan memotong.
- Jika anak menjawab "nggak mikir, cuma ikut-ikutan": lanjutkan, "Kalau satu orang nambah satu komen, kira-kira yang dirasakan orangnya jadi berapa?"
- Jika anak membela yang berkomentar karena "orangnya emang salah": jangan dibantah langsung. Balas, "Bisa jadi. Tapi menghukum orang dan memperbaiki orang itu beda ya. Yang mana yang lagi terjadi di situ?"
- Jika anak diam atau menjawab "nggak tahu": jangan dipancing terus. Balas, "Nggak apa-apa. Coba perhatikan saja minggu ini, nanti ceritakan."
Langkah 3 (1 menit). Bacakan terjemahan dalil sesi, lalu tutup dengan satu kalimat.
"Yang paling Allah cintai dari dua orang yang bersama adalah yang paling lembut ke temannya. Bukan yang paling benar, tapi yang paling lembut."
Skrip 3 — Anak SMA, sebelum tidur (5-7 menit)
Langkah 1 (2 menit). Bahas kejadian di lingkungan terdekat, bukan tokoh publik.
"Di grup angkatan kamu, pernah nggak ada orang yang dibahas ramai-ramai padahal orangnya ada di grup itu juga?"
Langkah 2 (3 menit). Arahkan ke urutan menegur, bukan ke penilaian orangnya.
- Jika anak menjawab pernah dan ia ikut di dalamnya: jangan dihakimi. Balas, "Bunda juga pernah ada di posisi itu. Kalau diulang sekarang, kamu mau ubah bagian yang mana?"
- Jika anak mengaku diam saja: hargai. Balas, "Diam itu sudah lumayan. Tapi ada satu tingkat di atasnya — japri orangnya, tanya dia baik-baik saja atau nggak."
- Jika anak berkata tidak peduli: jangan didebat. Balas, "Oke. Simpan saja pertanyaannya: kalau yang dibahas itu kamu, kamu ingin ada yang ngapain?"
Langkah 3 (1 menit). Tutup dengan tawaran konkret, bukan perintah.
"Minggu ini, pilih satu orang yang lagi sepi, kirim satu pesan biasa aja. Nggak usah bahas apa-apa."
Catatan untuk pelaksana. Sesi ini gagal bila berubah menjadi ceramah. Ukuran keberhasilannya bukan anak setuju, melainkan anak mau menjawab lebih dari satu kalimat. Jangan mengaitkan sesi dengan hukuman apa pun, dan jangan mengulang topik yang sama lebih dari dua kali sepekan. Bila anak menyinggung nama teman atau gurunya, jangan ikut menilai orang tersebut di depan anak — catat saja dan tindak lanjuti terpisah. Bila sesi dilakukan lebih dari satu anak sekaligus, pastikan yang lebih kecil mendapat giliran bicara lebih dulu.
Penutup sesi. Akhiri dengan doa pendek yang dibaca bersama, lalu matikan lampu tanpa menambah nasihat apa pun.
"Ya Allah, jadikan lisan kami lembut kepada saudara kami, dan jauhkan kami dari menyakiti orang yang tidak bisa membela dirinya."
