Ada dua ayat pendek yang turun paling awal kepada Nabi kita ﷺ, dan keduanya berbicara tentang satu hal saja: mengajar. Allah berfirman dalam QS. Al-Alaq: 4:
ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ
"Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam."
Lalu Allah berfirman dalam QS. Al-Alaq: 5:
عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
"Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
Perhatikan urutannya, jamaah. Sebelum manusia disebut sebagai yang berilmu, Allah lebih dulu menyebut diri-Nya sebagai Yang Mengajar. Ilmu tidak pernah dimulai dari kita. Ia datang, dititipkan, lalu kita diminta merawatnya. Setiap huruf yang kita kuasai hari ini — huruf hijaiyah yang diajarkan seorang guru ngaji di surau, rumus yang dijelaskan seorang guru di papan tulis, istilah asing yang kita pelajari di bangku kuliah — semuanya sampai kepada kita melalui tangan orang lain, dan semua tangan itu bersambung kembali kepada Yang Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. Kesadaran sesederhana ini, kalau benar-benar hidup di dada, sudah cukup untuk mengubah cara kita memperlakukan ilmu dan cara kita memperlakukan orang yang mengajarkannya.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Pekan ini, bila kita mendengarkan percakapan publik tentang dunia pendidikan, kita akan menemukan sesuatu yang ganjil. Percakapannya menyusut. Yang tersisa bukan perdebatan tentang apa yang seharusnya diajarkan, melainkan potongan-potongan perasaan. Kabar yang sampai kepada kita pekan ini antara lain begini: seseorang diserbu komentar ramai-ramai di lini masa, lalu menulis pendek bahwa dirinya menangis, cemas, dan kewalahan — dan justru tulisan pendek itulah yang paling banyak dilihat orang. Sebuah rekaman singkat berbahasa Melayu memperlihatkan seorang guru yang meminta izin bernyanyi sejenak, sebuah momen kecil yang hangat, dan rekaman itu ikut beredar luas. Ada pula kabar mahasiswa baru di sebuah kampus negeri yang menyuarakan protes, tanpa kejelasan lanjut tentang apa yang sebenarnya mereka tuntut.
Tiga kabar itu tidak berhubungan satu sama lain. Tetapi ketiganya menunjukkan hal yang sama: ruang belajar kita sudah lama pindah tempat. Ia tidak lagi berhenti di pagar sekolah dan gerbang kampus. Ia berlanjut di layar, di kolom komentar, di grup pesan wali murid, di potongan video berdurasi belasan detik. Dan di ruang yang baru itu, aturan mainnya berbeda. Di kelas, seorang anak yang salah menjawab akan dibetulkan gurunya. Di layar, seorang yang salah bicara akan dihakimi seribu orang yang tidak mengenalnya, tanpa seorang pun merasa bertanggung jawab atas hasil akhirnya.
Ada satu kabar lagi pekan ini yang lebih tajam. Beredar keluhan bahwa ukuran yang dipakai untuk menilai seorang guru tidak pernah sama: penampilan bisa berujung sanksi, sementara pelanggaran yang jauh lebih berat justru dimaklumi dan didiamkan. Kita perlu berhati-hati di sini, jamaah. Yang sampai kepada kita adalah keluhan yang beredar, bukan putusan yang sudah ditetapkan atas seseorang, dan mimbar ini tidak akan menghakimi siapa pun yang tidak ada di hadapan kita. Tetapi keluhan itu sendiri sudah menjelaskan sesuatu. Ia lahir dari pengalaman panjang melihat timbangan yang dipakai berubah-ubah sesuai siapa yang sedang ramai dibicarakan. Dan timbangan yang berubah-ubah adalah awal dari hilangnya rasa aman — bagi murid maupun bagi yang mengajar.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada pekan yang sama pula, lini masa menyimpan kalimat-kalimat yang sangat kasar, sebagiannya ditujukan kepada pejabat negara, sebagiannya berupa sindiran getir tentang layanan yang disebut gratis tetapi terasa tetap berbiaya. Khatib tidak sedang mengatakan bahwa kritik itu terlarang; menyampaikan keberatan kepada penguasa adalah bagian dari nasihat, dan diamnya kita atas kemungkaran bukan kebaikan. Yang sedang kita amati adalah bentuknya. Ketika hinaan menjadi cara paling murah untuk ikut terlibat, yang kita latih bersama-sama bukanlah keberanian, melainkan kebiasaan merendahkan. Dan anak-anak kita menonton semua itu. Mereka belajar dari kita jauh lebih banyak lewat cara kita marah daripada lewat nasihat yang kita ucapkan setelah marah.
Di titik inilah khutbah pekan ini ingin mengajak kita berhenti sejenak. Kita terbiasa mengukur keberhasilan pendidikan dengan benda-benda yang bisa dipegang: ijazah, nilai, akreditasi, sertifikat pelatihan, gelar yang ditulis di depan dan di belakang nama. Semua itu ada gunanya dan tidak perlu kita rendahkan. Tetapi ada empat perkara yang dalam tradisi ilmu kita justru diletakkan lebih dulu, sebelum semua benda itu, dan pekan ini kita sangat membutuhkannya.
Empat perkara itu disebut dengan sangat ringkas oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah pada pembuka kitabnya, Thalathat al-Usul — ثلاثة الأصول / بسم الله الرحمن الرحيم:
الأولي: العلم. وهو معرفة الله، ومعرفة نبيه، ومعرفة دين الإسلام بالأدلة.. الثانية: العمل به. الثالثة: الدعوة إليه. الرابعة: الصبر على الأذى فيه
"Pertama: Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya. Kedua: Mengamalkan ilmu tersebut. Ketiga: Berdakwah kepadanya. Keempat: Bersabar atas gangguan dalam menjalankannya."
Empat perkara, satu urutan. Dan urutan itu bukan hiasan. Ilmu diletakkan pertama karena tanpanya, amal berjalan tanpa arah dan dakwah berubah menjadi keributan. Dalam kitab yang sama, penulisnya mengingatkan bahwa Imam al-Bukhari rahimahullah pernah memberi judul salah satu bab kitabnya dengan kalimat yang sangat padat:
باب العلم قبل القول والعمل
"Bab: ilmu sebelum berkata dan berbuat."
Jamaah yang dimuliakan Allah, coba kita timbang pekan kita sendiri dengan urutan ini. Berapa kali kita berkomentar tentang sesuatu yang belum kita ketahui duduk perkaranya? Berapa kali jempol kita bergerak lebih dulu daripada pertanyaan "sebenarnya apa yang terjadi?" Kalau kabar tentang seorang guru sampai kepada kita dalam bentuk potongan tiga kalimat, dan dalam hitungan detik kita sudah punya kesimpulan lengkap tentang orangnya, maka yang sedang kita jalankan bukan urutan ilmu-lalu-berkata, melainkan kebalikannya. Dan sebuah masyarakat yang membalik urutan ini akan selalu sibuk, selalu ramai, tetapi tidak pernah benar-benar belajar.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Sesudah urutan, ada persoalan yang lebih dalam lagi, yaitu niat. Imam al-Ghazali rahimahullah membuka kitabnya Bidayatul Hidayah — بسم الله الرحمن الرحيم dengan sebuah peringatan yang keras kepada penuntut ilmu. Beliau menulis bahwa apabila seseorang menuntut ilmu untuk bersaing mencari kemuliaan dunia, berbangga-bangga, mengungguli teman sebaya, menarik perhatian manusia, dan mengumpulkan remah-remah dunia, maka:
فأنت ساع في هدم دينك، وإهلاك نفسك، وبيع آخرتك بدنياك
"Maka engkau sedang berusaha meruntuhkan agamamu sendiri, membinasakan dirimu, dan menjual akhiratmu dengan duniamu."
Kalimat itu berat, jamaah. Dan beliau tidak berhenti pada ancaman. Di kalimat berikutnya beliau membuka pintu harapan:
وإن كانت نيتك وقصدك، بينك وبين الله تعالى، من طلب العلم: الهداية دون مجرد الرواية؛ فأبشر
"Dan jika niat serta maksudmu — antara engkau dan Allah Ta'ala — dalam menuntut ilmu adalah hidayah, bukan sekadar riwayat, maka bergembiralah."
Perhatikan betapa tipis jarak antara dua keadaan itu. Bahan bacaannya sama, ruang kelasnya sama, gurunya sama, ijazahnya sama. Yang membedakan hanya satu hal yang tidak terlihat oleh siapa pun: untuk apa. Dan karena ia tidak terlihat, ia gampang sekali bergeser tanpa kita sadari. Kita mulai dari ingin memahami, lalu perlahan berubah menjadi ingin dianggap memahami. Kita mulai dari ingin bermanfaat, lalu berubah menjadi ingin terlihat bermanfaat. Pergeseran itu tidak pernah diumumkan; ia hanya terjadi, sedikit demi sedikit, sampai suatu hari kita mendapati diri lebih peduli pada tanggapan orang daripada pada kebenaran yang kita bawa.
Al-Ghazali rahimahullah juga menukil sabda Nabi ﷺ di halaman pembuka itu:
من أعان على معصية ولو بشطر كلمة كان شريكا فيها
"Barangsiapa menolong suatu kemaksiatan walau dengan separuh kata, maka ia bersekutu di dalamnya."
Separuh kata, jamaah. Bukan sepuluh paragraf, bukan pidato panjang. Separuh kata sudah cukup untuk menjadikan seseorang bersekutu. Pada zaman ini, separuh kata itu punya bentuk yang sangat akrab: satu komentar pendek yang ikut menimpali, satu kalimat sindiran yang ditambahkan ke tumpukan yang sudah menggunung, satu unggahan yang kita teruskan tanpa memeriksa. Kita merasa hanya menambahkan satu butir ke dalam karung besar, karena itu kita merasa tidak menanggung apa-apa. Padahal karung itu tidak pernah penuh oleh satu orang; ia penuh justru karena banyak orang sama-sama merasa hanya menambahkan satu butir.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Kalau sisi pertama adalah tanggung jawab penuntut ilmu, maka sisi kedua adalah kedudukan orang yang mengajar. Dan di sinilah agama kita berbicara dengan nada yang sangat lembut. Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / الأول / الثاني, dinukilkan sabda Rasulullah ﷺ:
"Sesungguhnya Allah Ta'ala, para malaikat-Nya, dan penghuni langit dan bumi — sampai semut di lubangnya — bershalawat bagi pengajar kebaikan kepada manusia."
Bayangkan luasnya, jamaah. Langit dan bumi didatangkan, lalu didatangkan pula seekor semut di dalam lubangnya — makhluk paling kecil yang bahkan tidak kita lihat sepanjang hari — dan semut itu pun ikut mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. Kalau seekor semut yang tidak pernah duduk di kelas pun ikut mendoakan, lalu bagaimana pantasnya sikap kita yang justru duduk di kelas itu, yang anak-anaknya dititipkan, yang hidupnya berubah karena guru-guru itu?
Pertanyaan ini bukan ajakan untuk membela siapa pun secara membabi buta. Kitab yang sama justru memberi jalan yang berbeda dari dua ekstrem yang kita kenal hari ini. Hari ini pilihan yang tersedia di lini masa hanya dua: membela habis-habisan, atau menghabisi ramai-ramai. Tradisi ilmu kita menawarkan jalan ketiga, yaitu menegur dengan urutan. Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / الثالث عشر dijelaskan tahapannya:
فإن لم ينته نهاه عن ذلك سرًا، ويكتفي بالإشارة مع من يكتفي بها، فإن لم ينته نهاه عن ذلك جهرًا
"Jika ia tidak berhenti, ia dilarang secara rahasia; cukup dengan isyarat bagi orang yang cukup dengan isyarat. Jika masih tidak berhenti, ia dilarang secara terang-terangan."
Sembunyi dulu, baru terang-terangan. Isyarat dulu bagi yang cukup dengan isyarat. Urutan ini menjaga dua hal sekaligus: kebenaran tetap ditegakkan, dan kehormatan orang tidak dihancurkan sebelum ia sempat memperbaiki diri. Yang kita lakukan hari ini justru terbalik — kita mulai dari tahap paling akhir, di panggung paling ramai, pada menit paling awal. Dan ketika seseorang sudah telanjur dipermalukan di hadapan ribuan orang, pintu perbaikannya tertutup bukan karena ia tidak mau berubah, melainkan karena tidak ada lagi ruang baginya untuk berubah tanpa kehilangan muka.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada satu lagi yang perlu kita dengar, dan ini berlaku untuk kita semua yang merasa punya ilmu, sekecil apa pun. Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / الثاني dinukil sabda Rasulullah ﷺ:
العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ
"Para ulama itu adalah pewaris para nabi."
Lalu — dan inilah bagian yang sering terlewat — dinukil pula perkataan 'Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه:
"Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah pula untuknya sikap tenang dan wibawa."
Perhatikan, jamaah: ketenangan dan kewibawaan itu disebut sebagai sesuatu yang dipelajari, sama seperti ilmunya dipelajari. Ia bukan bawaan watak, bukan hadiah usia, bukan efek samping dari banyaknya bacaan. Ia latihan tersendiri. Artinya seseorang bisa sangat tahu dan tetap sangat gaduh. Bisa hafal banyak dalil dan tetap tidak sabar mendengar orang lain selesai bicara. Bisa bergelar panjang dan tetap merendahkan orang yang tidak setuju dengannya. Dan justru orang semacam inilah yang paling banyak merusak nama ilmu di mata orang awam — bukan karena ilmunya salah, melainkan karena caranya membawa ilmu itu membuat orang enggan mendekat.
Maka bila pekan ini kita mendapati lini masa penuh dengan kalimat keras, termasuk dari orang-orang terdidik, kita tidak cukup menyalahkan zaman. Yang perlu kita akui adalah bahwa ada satu pelajaran yang luput kita ambil: sakinah dan waqar tidak pernah diajarkan di ruang mana pun yang kita lewati. Kita belajar isi, kita tidak belajar cara membawanya.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Imam al-Ghazali rahimahullah
Bidayatul Hidayah — أصناف الناس في العلاقة بالمرء / آداب العلاقة بالعوام المجهولين / آداب العلاقة بالاخوان والأصدقاء / شروط الصحبة والصداقة
memberi panduan yang sangat praktis untuk zaman seperti ini. Beliau berbicara tentang adab bergaul dengan orang awam yang tidak kita kenal:
فإن بليت بالعوام المجهولين، فآداب مجالستهم: ترك الخوض في حديثهم، وقلة الإصغاء إلى أراجيفهم، والتغافل عما يجري من سوء ألفاظهم
"Maka jika engkau diuji harus bergaul dengan orang awam yang tidak engkau kenal, adab duduk bersama mereka adalah: tidak ikut larut dalam pembicaraan mereka, sedikit memberi telinga kepada kabar-kabar dusta dan isu-isu murahan mereka, dan berpura-pura tidak mendengar ucapan-ucapan buruk yang keluar dari mereka."
Kalimat itu ditulis berabad-abad sebelum ada layar sentuh, tetapi ia menggambarkan lini masa kita dengan tepat. Setiap hari kita duduk di sebuah majelis raksasa bersama orang-orang yang tidak kita kenal. Kabar yang belum jelas berseliweran. Ucapan buruk datang bertubi-tubi. Dan tiga adab itu — tidak ikut larut, sedikit menyimak, berpura-pura tidak mendengar — adalah tiga tombol yang sebenarnya sudah ada di tangan kita sejak dulu, hanya jarang kita pakai.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada sisi lain lagi yang perlu kita dengar, dan kali ini sisi yang paling jarang dibicarakan. Kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / الفصل الأول في آدابه في نفسه / النوع الأول membuka bab tentang adab seorang pengajar bukan dengan metode, bukan dengan kurikulum, bukan dengan cara menyusun materi. Ia membuka dengan satu hal yang sama sekali tidak terlihat dari luar ruang kelas:
دوام مراقبة الله تعالى في السر والعلن والمحافظة على خوفه في جميع حركاته وسكناته وأقواله وأفعاله
"Senantiasa merasa diawasi oleh Allah Ta'ala dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, serta menjaga rasa takut kepada-Nya dalam segenap gerak dan diamnya, dalam segenap ucapan dan perbuatannya."
Alasannya disebut tepat sesudah itu: sebab seorang pengajar adalah pemegang amanah atas ilmu yang dititipkan kepadanya dan atas pendengaran serta pemahaman yang dikaruniakan kepadanya. Perhatikan kata "amanah" di situ, jamaah. Amanah adalah barang yang dititipkan dan kelak diminta kembali. Artinya, ilmu bukan milik yang mengajarkan. Ia hanya lewat. Dan setiap barang titipan selalu punya hari ketika pemiliknya datang menagih.
Dalam bab yang sama dinukil satu perkataan Imam asy-Syafi'i rahimahullah yang layak kita tulis besar-besar di dinding setiap ruang belajar:
ليس العلم ما حُفِظَ, العلم ما نَفَعَ
"Ilmu bukanlah apa yang dihafal; ilmu adalah apa yang bermanfaat."
Ini kalimat yang mengubah seluruh ukuran. Kalau ilmu diukur dari yang dihafal, maka lomba kita adalah lomba menumpuk. Siapa yang paling banyak membaca, siapa yang paling banyak menyimpan kutipan, siapa yang paling cepat menjawab. Tetapi kalau ilmu diukur dari yang bermanfaat, maka lombanya berubah total: apa yang berubah pada diri kita, pada keluarga kita, pada tetangga kita, karena kita tahu hal itu? Dan pada ukuran yang kedua, seseorang yang hanya menguasai sedikit tetapi mengamalkannya bisa berada jauh di atas orang yang menguasai banyak tetapi tidak menggerakkan apa-apa.
Jamaah yang dimuliakan Allah, bila ukuran itu kita pakai untuk menimbang pekan ini, hasilnya cukup mengagetkan. Percakapan tentang pendidikan pekan ini menyusut. Yang tersisa bukan gagasan tentang bagaimana anak-anak kita belajar, melainkan potongan-potongan perasaan dan penghakiman. Kalau ilmu diukur dari yang bermanfaat, maka kita sedang menyaksikan sebuah masyarakat yang sangat banyak berbicara tentang orang, dan sangat sedikit berbicara tentang cara memperbaiki keadaan orang.
Padahal pada pekan yang sama ada juga kabar yang hangat, dan kabar itu justru datang dari hal yang paling sederhana. Beredar sebuah kenangan: seseorang mengingat masa kuliahnya, ketika ia memberitahu ibu dan bapaknya bahwa ia sedang mencoba mendaftar beasiswa. Tidak ada prestasi yang dipamerkan di sana. Yang tersisa dari ingatan itu hanyalah satu adegan: seorang anak yang ingin orang tuanya tahu bahwa ia sedang berusaha. Dan justru itu yang menyentuh banyak orang. Sebab di dalamnya ada sesuatu yang kita rindukan bersama — belajar yang tujuannya dekat, jelas, dan bisa dipegang.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / الثالث menyebut satu tugas pengajar yang pekan ini terasa sangat mendesak, yaitu membangkitkan minat murid pada ilmu:
أن يرغبه في العلم وطلبه في أكثر الأوقات بذكر ما أعد الله تعالى للعلماء من منازل الكرامات وأنهم ورثة الأنبياء وعلى منابر من نور يغبطهم الأنبياء والشهداء
"Hendaknya ia membangkitkan minat murid pada ilmu dan menuntutnya di sebagian besar waktu, dengan menyebutkan apa yang Allah Ta'ala siapkan bagi para ulama berupa kedudukan-kedudukan kemuliaan, bahwa mereka adalah pewaris para nabi, dan bahwa mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat para nabi dan syuhada merasa iri kepada mereka."
Perhatikan cara kitab ini bekerja, jamaah. Ia tidak menyuruh pengajar menakut-nakuti murid dengan nilai dan ancaman tidak naik kelas. Ia menyuruh pengajar memperlihatkan kepada murid betapa mulianya jalan yang sedang mereka tempuh. Dua pendekatan ini menghasilkan manusia yang berbeda. Yang pertama menghasilkan orang yang belajar supaya tidak dihukum, dan berhenti belajar begitu hukuman itu hilang. Yang kedua menghasilkan orang yang belajar karena ia melihat ada cahaya di ujung jalan, dan terus berjalan bahkan ketika tidak ada seorang pun yang mengawasi.
Dan menariknya, kitab ini melanjutkan dengan sesuatu yang sangat membumi. Sesudah membangkitkan minat, pengajar diminta membimbing murid secara bertahap pada hal yang membantunya meraih ilmu, yaitu:
من الاقتصار على الميسور وقدر الكفاية من الدنيا والقناعة بذلك عن شغل القلب
"Mencukupkan diri dengan apa yang tersedia dan seukuran kecukupan dari dunia, serta merasa cukup dengan itu — agar hati tidak tersibukkan."
Inilah bagian yang hampir hilang dari percakapan kita tentang pendidikan hari ini. Kita membicarakan biaya, fasilitas, gawai, bimbingan belajar, dan segala yang perlu ditambah. Sangat jarang kita membicarakan seni merasa cukup — padahal hati yang tersibukkan oleh keinginan yang tidak habis-habis adalah hati yang paling sulit diajak duduk tenang membaca satu halaman sampai selesai.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada satu nukilan lagi yang terasa seperti cermin untuk zaman kita. Dalam kitab Nashaihul Ibad — باب الخماسي (3/3) dinukil sabda Nabi ﷺ:
"Akan datang pada umatku suatu masa: mereka mencintai lima dan melupakan lima. Mereka mencintai dunia dan melupakan akhirat; mencintai kehidupan dan melupakan kematian; mencintai gedung-gedung dan melupakan kuburan; mencintai harta dan melupakan hisab; serta mencintai makhluk dan melupakan Sang Pencipta."
Lima pasang itu bukan lima larangan yang berbeda, jamaah. Ia satu penyakit dengan lima wajah, dan penyakitnya adalah lupa pada yang di belakang layar. Kita mencintai yang terlihat dan melupakan yang tidak terlihat. Persis seperti yang tadi kita bicarakan tentang ilmu: kita mencintai ijazahnya karena ia bisa dipegang, dan melupakan niatnya karena ia tidak bisa difoto.
Di kitab yang sama dinukil pula munajat seorang ahli ibadah, sebuah pengakuan jujur yang mungkin juga pengakuan kita:
"Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, nafsu yang menyuruh kepada keburukan telah menghalangiku dari kebenaran, dan teman buruk telah membantuku dalam maksiat. Maka tolonglah aku, wahai Penolong orang-orang yang meminta tolong — jika Engkau tidak merahmatiku, siapa lagi yang akan merahmatiku selain Engkau?"
Lihat betapa jujurnya. Ia tidak menyalahkan zaman, tidak menyalahkan pemerintah, tidak menyalahkan orang lain. Ia menyebut angan-angannya sendiri, cintanya sendiri pada dunia, nafsunya sendiri, dan pilihan temannya sendiri. Empat dari lima yang ia sebut adalah hal-hal yang ada di dalam kendalinya. Dan barangkali itulah yang paling hilang dari percakapan publik pekan ini: kesediaan menyebut bagian kita sendiri sebelum menyebut kesalahan orang lain.
Jamaah yang dimuliakan Allah, semua yang kita bicarakan ini bermuara pada satu hal. Sebuah negeri tidak dibangun oleh gedung sekolahnya, dan sebuah generasi tidak dibentuk oleh jumlah gelarnya. Keduanya dibangun oleh manusia yang bisa dipercaya memegang apa yang dititipkan kepadanya — dan kepercayaan itu lahir dari empat perkara tadi, bukan dari lembar ijazah. Kita tidak sedang diminta mengurus seluruh negeri. Kita sedang diminta mengurus satu ruang belajar yang ada dalam jangkauan tangan kita.
Jamaah yang dimuliakan Allah, mari kita turunkan semuanya menjadi langkah yang bisa kita kerjakan mulai hari ini.
Pertama, periksa niat sebelum membuka catatan atau membuka layar. Cukup satu kalimat di dalam hati: aku belajar ini untuk memahami, bukan untuk menang berdebat. Lakukan setiap kali kita duduk belajar, termasuk saat mendampingi anak mengerjakan tugasnya.
Kedua, terapkan urutan ilmu sebelum berkata. Sebelum meneruskan kabar apa pun tentang seseorang pekan ini, tahan satu malam. Kalau besok pagi kita masih merasa perlu meneruskannya, periksa dulu sumbernya. Sebagian besar kabar tidak akan lolos dari dua saringan sederhana itu.
Ketiga, kembalikan teguran ke urutan yang benar di lingkungan kita sendiri. Kalau ada guru ngaji, pengurus, atau tetangga yang keliru, temui empat mata lebih dulu. Jadikan grup pesan tempat terakhir, bukan tempat pertama.
Keempat, doakan guru anak-anak kita dengan nama. Malam ini, sebutkan satu nama guru — guru ngaji di surau, wali kelas, dosen pembimbing — lalu doakan kebaikannya. Pekan ini, kirimkan satu pesan terima kasih yang jujur kepadanya.
Kelima, sediakan waktu untuk belajar hal yang tidak menghasilkan apa-apa secara duniawi. Lima belas menit membaca kitab atau tafsir, tanpa direkam, tanpa diunggah. Ini latihan langsung melawan pergeseran niat yang tadi kita bicarakan.
Keenam, latih anak-anak kita menahan jari. Tunjukkan satu komentar kasar di layar, lalu tanyakan kepada mereka: kalau orang itu adik kita, apakah kalimat ini pantas dikirim? Anak-anak menangkap ukuran seperti ini jauh lebih cepat daripada nasihat panjang.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ijazah akan tertulis di atas kertas dan disimpan di lemari. Empat perkara tadi tertulis di dalam dada dan dibawa ke hadapan Allah. Semoga Allah menjadikan ilmu kita ilmu yang menenangkan, bukan ilmu yang menggelisahkan orang di sekitar kita.
Ada satu hal yang perlu kita perdalam sedikit lagi sebelum turun dari mimbar ini. Ketika tadi disebutkan bahwa ketenangan dan kewibawaan adalah sesuatu yang dipelajari, itu berarti ia juga bisa dilatih oleh siapa saja — termasuk oleh kita yang bukan ulama, bukan guru, bukan siapa-siapa. Latihannya sederhana dan tidak memerlukan majelis khusus: menunggu sampai orang selesai bicara sebelum menjawab, mengakui ketika kita tidak tahu, dan tidak menjadikan setiap perbedaan pendapat sebagai pertandingan yang harus dimenangkan. Tiga latihan itu bisa dimulai malam ini juga, di meja makan rumah kita sendiri.
Perkara kedua yang perlu kita renungkan adalah tentang kedudukan guru. Kita sering berpikir bahwa memuliakan guru berarti membelanya dalam segala keadaan. Padahal bukan itu. Memuliakan guru berarti memperlakukan mereka sebagai manusia yang terhormat sekaligus manusia yang bisa keliru — dan karena itu berhak ditegur dengan cara yang menjaga, bukan dengan cara yang menghancurkan. Komunitas yang memuliakan gurunya adalah komunitas yang punya jalur teguran yang jelas, bukan komunitas yang tidak pernah menegur.
Perkara ketiga, dan ini yang paling dekat dengan kita: anak-anak kita sedang menonton. Mereka menonton cara kita membaca kabar, cara kita menyebut nama orang yang tidak kita sukai, cara kita berbicara tentang guru mereka di depan mereka. Semua nasihat tentang akhlak yang kita sampaikan akan ditimbang oleh mereka dengan satu ukuran: apakah orang yang menasihati ini melakukannya sendiri. Ilmu berpindah dengan cepat lewat keteladanan dan dengan lambat lewat ceramah — dan kita pekan ini sedang mengajar mereka, sadar ataupun tidak.
Perkara terakhir, jangan sampai kita menyimpulkan bahwa persoalan ini terlalu besar untuk kita. Tidak ada di antara kita yang bisa memperbaiki dunia pendidikan negeri ini sendirian. Tetapi setiap kita bisa memperbaiki satu ruang belajar yang ada dalam jangkauan tangannya: satu kelas ngaji di surau, satu meja belajar di rumah, satu grup wali murid, satu anak yang bertanya. Perbaikan yang besar selalu tersusun dari yang sekecil itu, dan tidak ada satu pun dari yang kecil itu yang luput dari catatan Allah.