Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPendidikan & SDMKamis, 17 September 2026

Kultum — "Niat yang Diobati Setiap Hari"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ada satu unggahan yang dilihat jutaan orang. Isinya pendek sekali: seseorang baru saja diserbu komentar ramai-ramai, lalu menulis bahwa dirinya menangis, cemas, dan kewalahan. Tidak ada penjelasan, tidak ada pembelaan — hanya tiga kata tentang rasa. Dan jutaan orang berhenti untuk membacanya. Malam ini saya ingin mengajak kita berangkat dari situ, tetapi bukan untuk membahas orang itu. Saya ingin membahas sesuatu yang jauh lebih dekat: apa yang sebenarnya sedang kita cari ketika kita belajar, mengajar, dan berbicara di ruang yang sama.

Saudara-saudara sekalian, mari kita mulai dari ayat yang paling awal turun tentang ilmu. Allah berfirman dalam QS. Al-Alaq: 4:

ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ

"Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam."

Ayat ini pendek, tetapi ada satu kata di dalamnya yang layak kita renungkan malam ini: kalam, yaitu pena. Allah menyebut alat yang mencatat. Ilmu diajarkan lewat sesuatu yang meninggalkan jejak, yang tidak hilang begitu suara berhenti. Dan di sinilah pikiran kita biasanya berhenti terlalu cepat: kita mengira yang dicatat hanyalah yang kita tulis. Padahal yang dicatat di sisi Allah jauh lebih luas dari itu. Yang dicatat bukan hanya apa yang kita ketahui, melainkan juga untuk apa kita mengetahuinya.

Dan itulah, jamaah, yang paling sulit. Karena "untuk apa" tidak terlihat oleh siapa pun. Tidak terlihat oleh guru kita, tidak terlihat oleh teman sekelas, tidak terlihat oleh jamaah yang mendengarkan kita bicara. Bahkan sering tidak terlihat oleh kita sendiri.

Saudara-saudara, ada kitab adab yang sangat terkenal di pesantren-pesantren kita, Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / الثاني. Di bagian tentang adab penuntut ilmu, penulisnya menyebut syarat kedua bagi seorang pelajar:

حسن النية في طلب العلم بأن يقصد به وجه الله تعالى والعمل به وإحياء الشريعة

"Niat yang baik dalam menuntut ilmu, yaitu ia menghendaki dengannya wajah Allah Ta'ala, mengamalkannya, dan menghidupkan syariat."

Lalu di halaman yang sama dinukil satu kalimat dari Sufyan ats-Tsauri rahimahullah — kalimat yang, jujur saja, membuat saya kecil ketika pertama kali membacanya:

ما عالجت شيئاً أشد عليّ من نيتي

"Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku obati daripada niatku."

Berhenti sejenak di kata "mengobati". Beliau tidak berkata "meluruskan niat" sekali lalu selesai. Beliau memakai kata yang biasa dipakai untuk penyakit menahun: mengobati. Artinya niat itu seperti tubuh yang gampang sakit lagi. Hari ini sembuh, besok kambuh. Pagi ini jernih, sore ini sudah keruh. Dan yang mengatakan itu bukan orang awam seperti kita — itu seorang imam besar yang ilmunya jauh di atas kita semua.

Sekarang mari kita bawa ke pekan ini. Di ruang belajar mana pun hari ini, hampir semua yang kita kerjakan bisa dilihat orang. Nilai bisa dibandingkan, prestasi bisa diunggah, sertifikat bisa dipajang, kajian bisa direkam. Bukan berarti itu semua buruk — banyak kebaikan menyebar justru karena direkam. Tetapi ada efek samping yang halus sekali. Ketika semua bisa dilihat, perlahan kita mulai memilih pekerjaan berdasarkan apakah ia bisa dilihat. Kita mulai lebih bersemangat pada hal yang ada penontonnya, dan mulai malas pada hal yang tidak ada penontonnya. Padahal justru yang tidak ada penontonnya itulah yang paling jujur menggambarkan siapa kita.

Siapa di sini yang pekan ini pernah merasa lebih bersemangat mengerjakan sesuatu karena ada yang melihat? Tidak usah dijawab. Cukup diakui di dalam hati. Saya juga mengakuinya.

Pekan ini saya membaca satu unggahan lain yang jauh lebih hangat. Seseorang mengenang masa kuliahnya, ketika ia bercerita kepada ibu dan bapaknya bahwa ia sedang mencoba mendaftar beasiswa. Tidak ada kata "viral" di situ, tidak ada prestasi yang dipamerkan — hanya seorang anak yang ingin orang tuanya tahu bahwa ia sedang berusaha. Dan justru kenangan sesederhana itu yang membuat banyak orang ikut terharu. Kenapa? Karena di dalamnya ada sesuatu yang kita rindukan: belajar yang tujuannya jelas dan dekat, yaitu membuat orang tua tenang, bukan membuat orang asing kagum.

Di pekan yang sama, saudara-saudara, kita juga menyaksikan sisi sebaliknya. Lini masa penuh kalimat keras. Sebagiannya ditujukan kepada pejabat negara, sebagiannya berupa sindiran tentang layanan yang disebut gratis tetapi terasa berbiaya. Kemarahan itu punya sebabnya. Tetapi kalau kita jujur, banyak dari kalimat itu tidak lahir dari keinginan memperbaiki apa pun. Ia lahir dari keinginan terlihat berani. Dan itu, kalau kita mau memakai bahasa Sufyan tadi, adalah penyakit niat juga — hanya saja bajunya lebih gagah.

Maka pertanyaan yang ingin saya tinggalkan malam ini begini: apa yang tersisa dari ilmu kita kalau semua penonton dihapus? Kalau tidak ada yang tahu kita membaca, apakah kita tetap membaca? Kalau tidak ada yang tahu kita membantu anak tetangga belajar, apakah kita tetap membantu? Kalau kritik kita tidak akan pernah dibaca siapa-siapa kecuali orang yang kita kritik, apakah kita tetap menyampaikannya?

Jawaban atas tiga pertanyaan itu adalah ukuran niat kita yang sebenarnya. Dan kabar baiknya, niat yang sakit bisa diobati. Bukan sekali seumur hidup, tetapi setiap hari — persis seperti yang dikatakan Sufyan ats-Tsauri rahimahullah.

Saudara-saudara sekalian, sebelum pulang malam ini, izinkan saya menawarkan tiga obat yang bisa kita minum mulai besok pagi.

Yang pertama, satu kalimat sebelum belajar. Setiap kali membuka buku, membuka catatan, atau duduk mendampingi anak mengerjakan tugasnya, ucapkan satu kalimat pelan di dalam hati: aku ingin memahami, bukan ingin menang. Sepuluh detik, tidak lebih.

Yang kedua, satu kebaikan yang tidak direkam. Pekan ini, kerjakan satu hal baik yang tidak akan pernah diketahui siapa pun. Antar anak tetangga mengaji. Bantu seorang adik kelas mengerjakan tugasnya. Bersihkan tempat wudhu. Jangan difoto, jangan diceritakan. Rasakan bedanya di dada — itu bagian dari obatnya.

Yang ketiga, satu pesan terima kasih kepada guru. Malam ini juga, kirim pesan pendek kepada satu orang yang pernah mengajari kita sesuatu — guru ngaji, wali kelas, dosen, atau kakak yang dulu mengajari kita membaca. Sebut satu hal spesifik yang kita ingat darinya. Pesan seperti itu sering sampai di hari ketika orang itu sedang lelah-lelahnya mengajar.

Jamaah yang saya hormati, ijazah dan sertifikat menyimpan apa yang kita ketahui. Niat menyimpan siapa kita. Dan yang akan kita bawa menghadap Allah kelak bukan lembar yang pertama, melainkan yang kedua. Semoga Allah menjaga niat kita, mengobatinya setiap kali ia sakit, dan menjadikan ilmu yang kita punya ilmu yang menenangkan orang di sekitar kita.

Mari kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا، وَنِيَّةً خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ نِيَّاتِنَا كُلَّمَا فَسَدَتْ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنْ حُبِّ الثَّنَاءِ وَخَوْفِ الذَّمِّ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ مُعَلِّمِيْنَا وَأَوْلَادِنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan