اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَضَعَ الْمِيْزَانَ بِالْقِسْطِ، وَجَعَلَ الْعَدْلَ قِوَامَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari kita buka khutbah pada siang yang berkah ini dengan satu perintah pendek dari Allah Ta'ala, yang panjang sekali akibatnya bagi hidup kita sehari-hari. Allah berfirman dalam QS. Ash-Shu'araa: 182:
وَزِنُوا۟ بِٱلْقِسْطَاسِ ٱلْمُسْتَقِيمِ
"Dan timbanglah dengan timbangan yang lurus."
Ayat ini turun dalam konteks perdagangan, dalam konteks takaran dan neraca di pasar. Tetapi hadirin yang dimuliakan Allah, perintah menimbang tidak pernah berhenti di pasar. Sebab neraca yang miring di tangan pedagang dan penilaian yang miring di dalam hati sama-sama merusak satu hal: hak orang lain untuk diperlakukan setakar dengan keadaannya yang sebenarnya. Yang satu mengurangi beratnya barang, yang lain mengurangi beratnya kebenaran.
Pekan ini, kabar yang sampai kepada kita justru memperlihatkan neraca yang kedua. Ada seseorang yang diserbu ramai-ramai di ruang digital, lalu tak lama kemudian menulis bahwa dirinya menangis, cemas, dan kewalahan. Tulisan itu dibaca sangat banyak orang. Dan kita tahu bagaimana peristiwa seperti ini biasanya berjalan: ribuan orang melepaskan satu kalimat masing-masing, merasa kalimatnya ringan, sementara yang menerima menanggung seluruh timbunannya sekaligus. Tidak ada satu pun dari mereka yang merasa sedang menjatuhkan hukuman. Namun yang tersusun di ujungnya adalah hukuman.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ini pekan yang aneh untuk sebuah kelompok kabar bernama teknologi. Sebab kalau kita telusuri percakapan pekan ini, hampir tidak ada cerita tentang mesin di sana. Tidak ada peluncuran, tidak ada perdebatan aturan, tidak ada temuan besar. Yang ramai justru manusia: seorang guru yang minta izin menyanyi sebentar dan videonya beredar ke mana-mana, satu rekaman ringan seseorang sepulang mendaki gunung, satu unggahan tentang dada yang sesak setelah diserbu komentar. Teknologi pekan ini tidak menjadi berita. Ia hanya menjadi lantai tempat semua ini terjadi.
Justru di situlah letak pelajarannya. Kita sering mengira ujian zaman ini adalah mesinnya. Padahal ujian yang sedang kita hadapi adalah kita sendiri, yang sekarang diberi alat yang memperpendek jarak antara rasa kesal dan tindakan. Dahulu, orang yang marah harus berjalan dulu ke rumah tetangganya untuk menyampaikan kemarahannya. Perjalanan itu sendiri sering meredakan. Sekarang jarak itu tinggal satu sentuhan ibu jari, dan ibu jari bergerak lebih cepat daripada pertimbangan. Yang hilang bukan akhlaknya — yang hilang adalah jeda yang dulu melindungi akhlak kita.
Kabar pekan ini juga memperlihatkan bentuk lain dari timbangan yang miring, yaitu kalimat tanya yang sebenarnya bukan pertanyaan. Kita membacanya di judul-judul yang berteriak soal angka perdagangan lalu ditutup tanda tanya, atau di potongan video yang menanyakan apakah suatu praktik termasuk politik uang. Tuduhannya sampai utuh ke kepala pembaca, tetapi tanggung jawab atas tuduhan itu ditunda. "Saya kan cuma bertanya." Hadirin, dalam timbangan syariat, kalimat semacam ini bukan barang netral. Ia memindahkan beban pembuktian dari yang menuduh kepada yang dituduh, dan itu persis kebalikan dari apa yang diajarkan kepada kita.
Ada lagi satu hal yang perlu kita sadari, hadirin, dan ini mungkin yang paling sering membuat kita salah menilai keadaan. Pekan yang sama ini terbaca sangat berbeda tergantung di permukaan mana kita berdiri. Di satu kanal, suasananya penuh kemarahan; hampir separuh percakapan di sana bernada negatif. Di kanal lain pada pekan yang sama persis, suasananya nyaris seluruhnya tenang — orang duduk menyimak penjelasan panjang tanpa nada marah sama sekali. Di kanal ketiga, kabar berjalan datar seperti pemberitaan biasa. Tiga potret, satu pekan. Maka ketika kita berkata "sekarang orang-orang sudah marah semua", yang sebenarnya kita katakan adalah "tempat yang paling sering saya buka sedang marah". Itu dua kalimat yang sangat berbeda, dan yang kedua jauh lebih jujur. Menimbang dimulai dari kejujuran semacam ini: mengakui bahwa pandangan kita atas dunia datang lewat satu jendela, bukan lewat seluruh dinding.
Dan masih pada pekan yang sama, ada satu kontras yang layak kita renungkan. Ada pembahasan panjang, telaten, dan jujur tentang lahan gambut, sekat kanal, serta akar kebakaran hutan — pembahasan yang tidak bisa diringkas dalam satu kalimat dan tidak menawarkan satu pihak untuk dimarahi. Di sebelahnya, ada rekaman pendek tentang seorang anak yang tertangkap warga saat hendak membakar lahan, beredar dengan kecepatan yang jauh berbeda. Kemarahan memang lebih ringan dibawa daripada kerumitan. Tetapi umat yang hanya sanggup memikul kemarahan akan selalu kalah oleh masalah yang butuh kesabaran.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, maka pertanyaan khutbah kita siang ini bukan "apakah teknologi itu baik atau buruk". Pertanyaan itu sudah terlalu sering diajukan dan terlalu jarang berguna. Pertanyaan kita adalah: ke mana perginya timbangan kita? Sebab Allah tidak memerintahkan kita menolak neraca. Allah memerintahkan kita meluruskannya. Bukan berhenti menimbang, tetapi menimbang dengan al-qisthas al-mustaqim — alat ukur yang lurus, yang tidak dicondongkan oleh rasa suka, oleh rasa benci, oleh keramaian, dan oleh tergesa-gesa.
Dan perhatikan, hadirin, bahwa yang diperintahkan adalah sebuah alat, bukan sebuah perasaan. Ini pembeda yang sangat penting. Timbangan di pasar itu benda yang berada di luar diri pedagang; ia tidak ikut berubah ketika pedagangnya sedang senang atau sedang kesal. Justru karena berada di luar dirinya, ia bisa dipercaya. Sedangkan penilaian kita terhadap orang lain nyaris selalu memakai alat yang berada di dalam dada kita sendiri — dan alat itu memuai ketika kita suka, menyusut ketika kita benci. Maka meluruskan timbangan berarti memindahkan penilaian dari perasaan ke sesuatu yang bisa diperiksa: apa buktinya, siapa sumbernya, apakah yang dituduh sudah diberi kesempatan menjawab. Tiga pertanyaan itu adalah alat. Ia bekerja bahkan ketika hati kita sedang tidak bekerja dengan baik.
Ada alasan lain mengapa kita memerlukan alat di luar diri. Sebab dosa yang paling licin bukanlah dosa yang kita tahu sedang kita lakukan, melainkan dosa yang terasa seperti pembelaan terhadap kebenaran. Orang yang menyerbu seseorang di ruang digital hampir tidak pernah merasa sedang berbuat zalim; ia merasa sedang menegakkan sesuatu. Rasa sedang berada di pihak yang benar itu memabukkan, dan mabuk yang paling berbahaya adalah mabuk yang bernama kebenaran. Karena itulah penilaian tidak boleh kita sandarkan pada rasa yakin semata. Ia perlu disandarkan pada sesuatu yang bisa diperiksa dari luar diri: bukti yang bisa ditelusuri, dan hak orang yang dituduh untuk didengar lebih dulu. Yang bisa kita ambil dari perintah menimbang adalah tepat itu — pakailah alat ukur, bukan perasaan.
Hadirin yang dimuliakan Allah, khazanah kita ternyata sudah lama sekali menyiapkan panduan untuk keadaan seperti ini, jauh sebelum ada layar. Imam al-Ghazali rahimahullah membagi manusia dalam pergaulan kita menjadi tiga golongan: sahabat, kenalan, dan orang-orang yang tidak kita kenal. Lalu beliau menuliskan adab untuk golongan yang ketiga:
Bidayatul Hidayah — أصناف الناس في العلاقة بالمرء / آداب العلاقة بالعوام المجهولين / آداب العلاقة بالاخوان والأصدقاء / شروط الصحبة والصداقة
فإن بليت بالعوام المجهولين، فآداب مجالستهم: ترك الخوض في حديثهم، وقلة الإصغاء إلى أراجيفهم، والتغافل عما يجري من سوء ألفاظهم، والاحتراز عن كثرة لقائهم والحاجة إليهم، والتنبيه على منكراتهم باللطف والنصح عند رجال القبول منهم.
"Jika engkau diuji harus bergaul dengan orang awam yang tidak engkau kenal, maka adab duduk bersama mereka adalah: tidak ikut larut dalam pembicaraan mereka, sedikit memberi telinga terhadap kabar-kabar dusta dan isu-isu murahan mereka, berpura-pura tidak mendengar ucapan-ucapan buruk yang keluar dari mereka, menjaga diri dari terlalu sering berjumpa dan bergantung kepada mereka, serta mengingatkan kemungkaran mereka dengan lembut dan nasihat pada orang-orang yang mau menerima."
Mari kita baca daftar itu pelan-pelan, hadirin, dan bayangkan di mana kita duduk setiap hari. Kita hari ini duduk di sebuah majelis raksasa berisi orang-orang yang tidak kita kenal. Kita tidak tahu nama aslinya, tidak tahu rumahnya, tidak tahu apakah dia sungguh manusia. Dan kepada majelis semacam itulah al-Ghazali berkata: jangan ikut larut, sedikitkan telinga untuk desas-desus mereka, pura-pura tidak dengar ucapan buruk mereka, jangan terlalu sering datang, jangan sampai bergantung kepada mereka. Lima nasihat, dan semuanya masih berdiri tegak setelah sembilan ratus tahun.
Perhatikan satu kata di tengah daftar itu: arajif. Kabar yang beredar tanpa pangkal yang jelas, yang diteruskan bukan karena diperiksa melainkan karena menggetarkan. Kita mengenalnya dengan sangat baik. Ia masuk ke rumah kita lewat grup pesan, dibawa oleh orang yang kita percaya, dan justru karena pembawanya kita percaya, kita berhenti memeriksa isinya. Al-Ghazali tidak memerintahkan kita menutup telinga sepenuhnya; beliau menulis qillatul ishgha' — sedikitkan memberi telinga. Ada takaran di sana. Bukan nol, tetapi jelas jauh lebih sedikit daripada yang kita berikan sekarang.
Dan perhatikan juga kalimat penutupnya, karena di situlah letak rahmatnya. Kemungkaran tetap diingatkan — tidak dibiarkan. Tetapi diingatkan bil-luthfi wan-nushhi, dengan lembut dan dengan nasihat, dan kepada orang-orang yang memang bisa menerima. Ini bukan ajaran untuk diam. Ini ajaran untuk tidak menghabiskan diri pada pertengkaran yang tidak akan mengubah apa pun, lalu menyimpan tenaga untuk teguran yang benar-benar sampai. Betapa banyak dari kita pekan ini yang menghabiskan satu jam berdebat dengan akun tanpa wajah, lalu tidak punya sisa tenaga untuk menegur anak sendiri dengan lembut di meja makan.
Ma'asyiral muslimin, di dalam kitab yang sama, al-Ghazali menukil sabda Rasulullah ﷺ ketika berbicara tentang syarat memilih teman:
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
"Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat."
Dahulu hadits ini kita pahami sebagai nasihat memilih kawan duduk. Hari ini ia punya lapisan tambahan yang tidak kalah serius: siapa yang kita jadikan teman dekat di layar? Suara siapa yang paling sering masuk ke kepala kita sebelum tidur dan sesudah bangun? Sebab yang paling sering kita dengar akan menjadi yang paling terasa wajar, dan yang terasa wajar akan menjadi ukuran kita menilai orang lain. Kalau setiap hari kita menemani suara yang tugasnya membuat kita marah, jangan heran kalau timbangan kita lama-lama condong ke arah marah.
Dan kalau ternyata kita keliru, hadirin — kalau kabar yang kita terima ternyata tidak seperti yang kita sangka — apakah memalukan untuk bertanya dan mengoreksi diri? Hadhratussyaikh Hasyim Asy'ari rahimahullah dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / الحادي عشر menulis tentang seorang alim sekalipun:
أن لا يستنكف أن يستفيد ما لا يعلمه ممن هو دونه منصبًا أو نسبًا أو سنًا، بل يكون حريصًا على الفائدة حيث كانت والحكمة ضالة المؤمن يلتقطها حيث وجدها
"Hendaknya ia tidak segan mengambil faedah atas apa yang tidak ia ketahui dari orang yang lebih rendah kedudukannya, nasabnya, atau usianya; bahkan hendaknya ia bersemangat pada faedah di mana pun ia berada — dan hikmah adalah barang hilang milik seorang mukmin, ia memungutnya di mana pun ia menemukannya."
Di halaman yang sama beliau menukil sebuah bait Arab yang tajam sekali:
وليس العمى طول السؤال وإنما ... تمام العمى طول السكوت على الجهل
"Kebutaan itu bukanlah banyaknya bertanya; kebutaan yang sempurna justru adalah berlama-lama diam di atas kebodohan."
Ma'asyiral muslimin, bait ini membalik seluruh cara kita menjaga gengsi. Kita sering menahan diri untuk bertanya karena takut terlihat bodoh, lalu memilih diam sambil tetap memegang sangkaan yang keliru. Padahal diam yang seperti itulah kebutaan yang sesungguhnya. Di ruang digital, gengsi ini mengambil bentuk yang khas: kita malas menarik komentar yang sudah terlanjur dikirim, karena menariknya berarti mengakui kita sempat salah. Maka komentar itu dibiarkan menggantung di sana, terus melukai, hanya demi menjaga wajah yang sebenarnya tidak sedang dilihat siapa pun.
Hadirin, ada satu lagi harga yang kita bayar dan hampir tidak pernah kita hitung, karena tagihannya tidak pernah datang ke rumah. Harga itu adalah waktu. Hadhratussyaikh Hasyim Asy'ari rahimahullah dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / الثالث menulis nasihat yang keras dan jernih:
أن يبادر شبابه وأوقات عمره إلى التحصيل ولا يغتر بخدع التسويف والتأميل؛ فإن كل ساعة تمضي من عمره لا بدَلَ لها ولا عوض عنها، ويقطع ما يقدر عليه من العلائق الشاغلة والعوائق المانعة عن تمام الطلب وبذل الاجتهاد وقوة الجد في التحصيل فإنها كقواطع الطريق
"Hendaknya ia bersegera pada masa mudanya dan waktu-waktu umurnya untuk mencapai ilmu, dan tidak terpedaya oleh tipuan menunda-nunda serta angan-angan; sebab setiap jam yang lewat dari umurnya tidak ada penggantinya dan tidak ada tebusannya. Dan hendaknya ia memutus apa yang mampu ia putus dari keterikatan yang menyibukkan dan halangan yang merintangi kesempurnaan menuntut ilmu, pengerahan sungguh-sungguh, dan kekuatan kesungguhan dalam mencapainya — sebab semua itu seperti perampok di jalan."
Dua kalimat itu layak kita tuliskan besar-besar di rumah kita. Yang pertama: setiap jam yang lewat tidak ada penggantinya. Bukan "sulit diganti", tetapi lā badala lahā wa lā 'iwadha 'anhā — tidak ada pengganti, tidak ada tebusan. Harta yang habis bisa dicari lagi. Tenaga yang terkuras bisa pulih dengan tidur. Jam yang kita habiskan menggulir layar semalam tidak akan pernah dikembalikan kepada kita, tidak oleh siapa pun, tidak dengan harga berapa pun.
Yang kedua lebih tajam lagi: hal-hal yang menyibukkan itu disebut qawathi'ut-thariq — perampok jalan. Perhatikan pilihan gambarnya, hadirin. Perampok tidak merusak tujuan kita; ia hanya menghentikan kita di tengah jalan, mengambil bekal kita, lalu membiarkan kita berdiri bingung. Kita masih ingin menjadi orang baik. Kita masih ingin hafal, masih ingin dekat dengan anak, masih ingin memperbaiki shalat. Tujuannya tidak hilang. Bekal perjalanannya yang diambil, sedikit demi sedikit, dalam potongan lima menit yang tidak pernah terasa mahal sampai dijumlahkan di akhir pekan.
Dan mengapa kita rela membayar semahal itu? Di sinilah Al-Qur'an menyebut satu penyakit hati dengan sangat terus terang. Allah berfirman dalam QS. Al-Fajr: 20:
وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّۭا جَمًّۭا
"Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan."
Yang dinamai di sini bukan sekadar hartanya, hadirin. Yang dinamai adalah takaran cintanya: hubban jammā, cinta yang menumpuk dan melewati ukurannya. Dan penyakit takaran selalu bekerja dengan cara yang sama, apa pun bendanya. Ketika kita mencintai sesuatu melewati takarannya, kita berhenti menghitung ongkosnya. Itulah sebabnya kita bisa menghitung dengan cermat harga beras di pasar, tetapi tidak pernah sekali pun menghitung berapa jam yang kita serahkan ke layar bulan ini.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, lalu apa lawan dari penyakit takaran ini? Jawaban yang diberikan khazanah kita mengejutkan karena arahnya berlawanan sepenuhnya dengan arah zaman. Dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, sebagaimana dihimpun dalam Nashaihul Ibad — باب السباعي (2/2):
حق على العاقل أن يختار سبعا على سبع :الفقر على الغني ،والذل على العز ،والتواضع على الكبر ،والجوع على الشبع ،والغم على السرور ،والدون على المرتفع ،والموت على الحياة.
"Hak atas orang yang berakal: memilih tujuh atas tujuh — fakir atas kaya, hina atas mulia, tawadhu atas sombong, lapar atas kenyang, sedih atas gembira, kedudukan rendah atas kedudukan tinggi, dan mati atas hidup."
Daftar ini terdengar asing di telinga kita, dan memang seharusnya begitu. Seluruh mesin perhatian yang kita pakai setiap hari dibangun di atas tujuh yang sebaliknya: tampil lebih kaya, tampil lebih mulia, tampil lebih tinggi, tampil lebih kenyang, tampil lebih gembira. Yang dipilih Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma justru sisi yang tidak bisa dipamerkan. Yang bisa kita ambil darinya bukan perintah untuk memiskinkan diri, melainkan satu ukuran untuk memeriksa hati: kalau sebuah pilihan hanya menarik karena ia bisa dilihat orang, maka yang sedang bekerja di dada kita bukan kebaikan, melainkan kebutuhan untuk diakui.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ada yang bertanya: bukankah diam terhadap kemungkaran juga salah? Pertanyaan itu benar dan perlu dijawab dengan jujur. Islam tidak pernah mengajarkan kita diam melihat kezaliman. Yang sedang kita bicarakan bukan diam, melainkan urutan. Dan urutan yang sehat selalu sama: pastikan dulu, baru bersikap. Yang terjadi di ruang digital adalah urutan yang terbalik — bersikap dulu, pastikan belakangan, dan sering kali tidak pernah sampai ke tahap memastikan sama sekali karena kabar berikutnya sudah datang. Umat yang membalik urutan ini akan terlihat sangat aktif membela kebenaran sambil terus-menerus salah sasaran. Dan kesalahan sasaran, hadirin, bukan perkara kecil; ia menimbulkan kezaliman baru atas nama pemberantasan kezaliman.
Dan ada satu ukuran lagi yang perlu kita pegang: seberapa besar kuasa yang dimiliki pihak yang kita kritik. Menegur sebuah kebijakan, menagih janji sebuah lembaga, meminta pertanggungjawaban pemegang amanah publik — itu bagian dari nasihat yang memang diperintahkan, dan dilakukan dengan cara yang baik. Tetapi menyerbu seseorang yang tidak punya apa-apa selain akun, yang tidak punya juru bicara dan tidak punya ruang untuk menjawab, itu bukan menegakkan kebenaran. Itu hanya memilih sasaran yang paling murah. Tenaga umat ini terbatas, hadirin, dan kita akan ditanya ke mana tenaga itu kita belanjakan. Alangkah ruginya kalau seluruh tenaga marah kita habis untuk orang-orang yang paling lemah posisinya, sementara perkara-perkara besar yang benar-benar menentukan nasib banyak orang lewat begitu saja tanpa satu pun dari kita sempat memperhatikannya.
Satu hal terakhir sebelum kita turun ke langkah-langkah praktis, hadirin, dan ini yang paling sering hilang dari pembicaraan tentang dunia digital. Di seberang setiap akun yang kita komentari, ada satu rumah. Ada orang tua yang membaca komentar itu. Ada anak yang teman-temannya ikut membaca. Ada seseorang yang besok pagi tetap harus berangkat bekerja sambil membawa apa yang kita tuliskan semalam. Kita tidak melihat rumah itu, dan justru ketidaktampakan itulah yang membuat lidah kita jauh lebih berani di layar daripada di hadapan orang. Ukuran yang sederhana dan hampir selalu tepat: kalau sebuah kalimat tidak sanggup kita ucapkan sambil menatap wajah orangnya, kalimat itu memang tidak layak dikirim. Bukan karena ia berbahaya bagi kita, tetapi karena keberanian yang hanya muncul saat wajah tidak terlihat bukanlah keberanian.
Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita turunkan semua ini menjadi beberapa langkah yang bisa kita mulai sejak pulang dari masjid siang ini.
Pertama, beri jeda satu malam pada kabar yang membuat marah. Kalau sebuah kabar membuat dada kita panas dan tangan kita ingin segera meneruskannya, justru itulah tandanya kabar tersebut perlu ditahan dulu sampai besok pagi. Kabar yang benar tidak akan rusak karena ditunda semalam; kabar yang keliru akan gugur sendiri dalam semalam. Ini bentuk paling sederhana dari menimbang dengan timbangan yang lurus.
Kedua, periksa siapa yang paling sering kita dengar. Buka daftar akun yang kita ikuti akhir pekan ini. Tandai tiga yang suaranya paling sering masuk ke kepala kita. Tanyakan dengan jujur: apakah tiga suara ini membuat kita lebih sabar dan lebih teliti, atau membuat kita lebih cepat marah dan lebih cepat menyimpulkan? Kalau jawabannya yang kedua, kurangi. Memilih teman dekat itu perintah; hari ini teman dekat kita sebagian ada di dalam saku.
Ketiga, tetapkan satu jam bebas perangkat setiap hari. Pilih satu jam yang sama setiap hari — paling baik antara Maghrib dan Isya — ketika seluruh perangkat di rumah diletakkan di satu tempat. Satu jam saja. Bukan untuk menyiksa diri, tetapi untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita masih memegang kendali atas jam-jam kita, bukan sebaliknya.
Keempat, selesaikan satu pembahasan panjang sampai tuntas sebelum berkomentar. Kalau sebuah isu cukup penting untuk kita komentari, ia cukup penting untuk kita pahami. Luangkan waktu menyelesaikan satu penjelasan utuh — tentang isu lingkungan, tentang isu ekonomi, apa pun yang sedang ramai — sebelum ikut memberi penilaian. Ini ibadah kesabaran yang tidak terlihat oleh siapa pun, dan justru karena itu ia jujur.
Kelima, lakukan satu kebaikan yang tidak didokumentasikan. Pekan ini, kerjakan satu hal baik bagi tetangga atau kerabat tanpa satu pun foto, tanpa satu pun cerita. Antarkan makanan, bantu memperbaiki sesuatu, temani orang tua yang sendirian. Rasakan bagaimana rasanya melakukan kebaikan yang tidak akan pernah dilihat orang. Di situ kita akan tahu seberapa banyak kebaikan kita selama ini yang sebenarnya membutuhkan penonton.
Keenam, minta maaf kalau kita pernah ikut menyerbu. Ini yang paling berat dan paling menyembuhkan. Kalau kita pernah ikut melempar satu kalimat kepada seseorang yang kemudian terbukti tidak seperti yang kita kira, hapuslah, dan kalau masih memungkinkan, sampaikan permintaan maaf. Hak sesama manusia tidak gugur hanya karena pelanggarannya dilakukan beramai-ramai dan terasa ringan bagi masing-masing kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلٰى رِضْوَانِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهٰى عَنْهُ وَزَجَرَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu hal yang perlu kita perjelas sebelum turun dari mimbar ini, supaya khutbah tadi tidak salah dipahami. Menahan diri bukan berarti diam terhadap kezaliman. Justru sebaliknya. Al-Ghazali rahimahullah menutup adab bergaul dengan orang yang tidak dikenal itu dengan perintah mengingatkan kemungkaran — bukan dengan perintah tutup mata. Yang beliau atur adalah caranya dan sasarannya: dengan lembut, dan kepada orang yang masih mungkin menerima. Artinya, tenaga kita terbatas dan harus dibelanjakan dengan bijak. Menghabiskannya pada pertengkaran yang sudah pasti tidak menghasilkan apa-apa bukan keberanian; itu pemborosan.
Kedua, mari kita jujur bahwa yang paling sulit ditimbang bukanlah orang asing, melainkan orang yang sudah kita benci sebelum peristiwanya terjadi. Timbangan kita biasanya masih cukup lurus untuk orang yang netral. Ia mulai miring ketika nama yang muncul adalah nama yang sudah lama tidak kita sukai. Di titik itulah kita paling mudah menerima kabar tanpa memeriksa, karena kabar itu membenarkan perasaan yang sudah ada di dada. Perintah menimbang dengan timbangan yang lurus paling berat justru di sana, dan justru karena berat itulah ia bernilai.
Ketiga, perhatikan bahwa kerusakan yang terjadi di ruang digital hampir selalu berbentuk kerusakan bersama yang tidak terasa oleh siapa pun secara pribadi. Setiap orang hanya menyumbang satu kalimat. Tidak ada yang merasa menjadi pelaku. Tetapi hasil penjumlahannya nyata dan menimpa satu dada yang sungguhan. Dalam keadaan seperti ini, perhitungan yang benar bukanlah "seberapa besar bagianku", melainkan "apakah aku ikut di dalamnya". Sebab di hadapan Allah, tidak ada amal yang hilang hanya karena dikerjakan bersama-sama.
Keempat, hendaklah kita berhenti menuntut zaman berubah lebih dulu sebelum kita berubah. Mesin ini tidak akan menjadi lebih pelan. Umpan yang kita terima tidak akan menjadi lebih sabar. Yang bisa kita kendalikan hanya satu hal, dan itu justru hal yang paling menentukan: jeda di antara membaca dan meneruskan. Jeda itu murah, tidak perlu izin siapa pun, tidak perlu biaya, dan bisa kita mulai sore ini juga. Dari jeda kecil itulah tumbuh kembali kemampuan menimbang yang sedang menipis pada kita semua.
Dan terakhir, hadirin, ingatlah bahwa semua yang berlalu di layar kita hari ini sedang dicatat dengan sangat rapi, oleh pencatat yang tidak pernah lalai dan tidak pernah kehilangan data. Setiap kalimat yang kita kirim, setiap tuduhan yang kita teruskan, setiap jam yang kita belanjakan. Semoga Allah memperbaiki timbangan kita sebelum hari ketika seluruh timbangan dibuka.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا سَلِيْمًا، وَمِيْزَانًا مُسْتَقِيْمًا فِيْ كُلِّ مَا نَقُوْلُ وَنَكْتُبُ وَنَنْشُرُ. اَللّٰهُمَّ جَنِّبْنَا أَنْ نَقُوْلَ عَلٰى أَحَدٍ مَا لَيْسَ فِيْهِ، وَأَنْ نَنْقُلَ خَبَرًا لَمْ نَتَبَيَّنْهُ، وَأَنْ نَكُوْنَ عَوْنًا عَلٰى ظُلْمِ مُسْلِمٍ بِكَلِمَةٍ أَوْ بِسُكُوْتٍ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا وَأَيْدِيَنَا وَأَبْصَارَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَوْقَاتِنَا، وَلَا تَجْعَلْ أَعْمَارَنَا تَذْهَبُ فِيْمَا لَا يَنْفَعُنَا فِيْ دِيْنِنَا وَلَا فِيْ دُنْيَانَا، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَارِنَا آخِرَهَا، وَخَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِمَهَا.
اَللّٰهُمَّ اشْفِ صُدُوْرَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ، وَاجْبُرْ كُلَّ قَلْبٍ كُسِرَ بِكَلِمَةٍ ظَالِمَةٍ، وَارْحَمْ كُلَّ مَنْ أُوْذِيَ بِغَيْرِ حَقٍّ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا وَحَافِظًا، وَاكْشِفْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْكَرْبَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَأَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا، وَاحْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ كُلِّ مَا يُفْسِدُ قُلُوْبَهُمْ وَعُقُوْلَهُمْ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
