Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumTeknologi & AIKamis, 17 September 2026

Kultum — "Yang Paling Sulit Diobati Itu Niat"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ، وَلَا تَخْفٰى عَلَيْهِ نِيَّةُ عَبْدٍ فِيْ سِرِّهِ وَعَلَانِيَتِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan yang baru saja kita lewati ini menyisakan satu kabar yang mungkin terlihat sepele tapi menempel di kepala saya berhari-hari. Ada seseorang yang diserbu komentar ramai-ramai di ruang digital. Beberapa saat kemudian dia menulis satu kalimat pendek: dia menangis, dia cemas, dia kewalahan. Dan kalimat itu — kalimat tentang dada yang sesak — justru dibaca oleh jauh lebih banyak orang daripada peristiwa yang membuatnya sesak. Malam ini saya tidak ingin mengajak kita membahas orang yang menulis kalimat itu. Saya ingin mengajak kita membahas diri kita sendiri, yang setiap hari duduk di ruang yang sama.

Saya mau mulai dengan satu pertanyaan yang tidak enak. Ketika kita menekan tombol kirim — entah itu komentar, entah itu unggahan, entah itu meneruskan pesan — apa sebenarnya yang sedang kita cari?

Mari kita dengar dulu satu ayat pendek yang sering kita lewati. Allah berfirman dalam QS. Al-Lail: 11:

وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ

"Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa."

Ayat ini berbicara tentang harta, jamaah. Tetapi coba perhatikan cara ayat ini bekerja. Ia tidak berkata harta itu jelek. Ia hanya memindahkan kita ke satu titik waktu — titik ketika semuanya sudah selesai — lalu bertanya: dari semua yang dikumpulkan, mana yang masih berguna di sana? Dan ketika pertanyaan itu diajukan, tiba-tiba banyak sekali hal yang kita kejar mati-matian berubah ringan. Kita semua pernah merasakannya sebentar, biasanya saat pulang dari pemakaman, lalu lupa lagi tiga hari kemudian.

Sekarang izinkan saya memindahkan pertanyaan yang sama ke tempat yang lebih dekat dengan keseharian kita. Bukan ke tumpukan harta, tetapi ke tumpukan angka yang kita periksa sebelum tidur. Berapa yang melihat. Berapa yang menyukai. Berapa yang membalas. Kita semua punya versi masing-masing dari angka itu, dan kita lebih sering memeriksanya daripada mengakuinya.

Jamaah yang saya hormati, ada nasihat lama yang rasanya ditulis untuk zaman kita. Hadhratussyaikh Hasyim Asy'ari rahimahullah dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / الثاني menulis tentang niat, dan beliau menyebut satu per satu tujuan duniawi yang paling mudah menyelinap:

ولا يقصد به الأغراض الدنيوية من تحصيل الرياسة والجاه والمال، ومباهاة الأقران، وتعظيم الناس له، وتصديره في المجالس ونحو ذلك، فيستبدل الأدنى بالذي هو خير

"Jangan ia tujukan dengan ilmu itu tujuan-tujuan duniawi: memperoleh kepemimpinan, kedudukan, dan harta; berbangga di hadapan teman sebaya; diagungkan manusia; diutamakan di majelis-majelis, dan semisalnya — sehingga ia menukar yang lebih rendah dengan yang lebih baik."

Coba kita baca ulang daftar itu pelan-pelan, jamaah. Mubahatul aqran — berbangga di hadapan teman sebaya. Ta'zhimun nasi lahu — dibesarkan oleh orang. Tashdiruhu fil majalis — didudukkan di depan dalam majelis. Tiga hal ini ditulis berabad-abad lalu, ketika majelisnya masih berupa ruangan dengan tikar. Hari ini majelisnya berupa layar, dan tempat duduk paling depan itu bernama beranda. Penyakitnya sama persis; hanya ruangannya yang berganti.

Dan yang membuat saya merinding adalah kalimat Sufyan ats-Tsauri yang dikutip di halaman yang sama:

ما عالجت شيئاً أشد عليّ من نيتي

"Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku obati daripada niatku."

Seorang ulama besar, yang hafalannya luar biasa, yang zuhudnya diakui — beliau berkata bahwa yang paling berat beliau obati bukan hafalannya, bukan kemalasannya, bukan hartanya. Niatnya. Kalau beliau saja berkata begitu, siapa kita yang merasa niatnya sudah beres?

Di sinilah letak persoalannya bagi kita, jamaah. Kita hidup di ruang yang setiap detiknya memberi hadiah untuk penampilan. Ruang itu tidak bisa melihat niat; ia hanya bisa menghitung. Maka ia akan menghitung, dan hitungan itu akan pelan-pelan mengajari kita apa yang layak dikejar. Bukan dengan ceramah, tetapi dengan angka yang naik dan turun. Ini pendidikan yang sangat efektif justru karena kita tidak merasa sedang dididik.

Ada satu tanda yang bisa kita pakai untuk memeriksa diri, jamaah, dan tandanya sederhana: apa yang kita rasakan ketika sesuatu yang kita kirim ternyata sepi. Kalau yang muncul hanya "ya sudah", niat kita kemungkinan besar masih di tempatnya. Tapi kalau yang muncul adalah rasa kecil hati, rasa ingin menghapus, rasa ingin mengirim ulang di jam yang lebih ramai — di situ ada sesuatu yang perlu diperiksa. Bukan berarti kita berdosa karena merasa begitu; rasa itu manusiawi. Yang berbahaya adalah kalau rasa itu yang kemudian menentukan apa yang kita kirim berikutnya. Karena pada titik itu, bukan lagi kita yang memilih pesan; pesannya yang dipilihkan oleh apa yang laku.

Akibatnya sering halus sekali. Kita tetap mengirim hal yang benar — nasihat yang benar, kabar yang benar, ayat yang benar. Tetapi alasan kita mengirimnya sudah bergeser sedikit. Kita ingin dilihat sebagai orang yang peduli. Kita ingin berada di pihak yang benar sebelum orang lain sempat. Dan ketika itu yang bekerja, kita jadi terburu-buru, karena yang terlambat tidak dapat tempat. Dari ketergesaan itulah lahir kabar yang belum diperiksa, tuduhan yang belum ditimbang, dan serbuan ramai-ramai yang kemudian melahirkan satu unggahan tentang dada yang sesak.

Lalu apa yang bisa kita kerjakan, jamaah? Saya tidak akan meminta kita membuang telepon genggam; itu saran yang enak diucapkan dan tidak pernah dijalankan. Saya hanya ingin menawarkan tiga hal kecil untuk dua puluh empat jam ke depan.

Pertama, sebelum menekan kirim malam ini, berhenti satu tarikan napas dan tanyakan satu kalimat dalam hati: "kalau ini tidak dilihat siapa pun, apakah aku tetap mengirimnya?" Jangan dijawab dengan cepat. Jawaban yang cepat biasanya jawaban yang kita inginkan, bukan jawaban yang benar.

Kedua, pilih satu kebaikan hari ini yang tidak kita ceritakan kepada siapa pun. Satu saja. Antar makanan ke tetangga, bantu orang tua kita, bereskan sesuatu di masjid. Tidak difoto, tidak diceritakan. Itu latihan yang jauh lebih berat daripada kelihatannya, dan hasilnya akan langsung terasa di dada.

Ketiga, kalau pekan ini kita pernah ikut melempar satu kalimat kepada seseorang yang sedang diserbu ramai-ramai, periksa lagi. Kalau kita sudah tidak yakin, hapus. Menghapus itu tidak akan dilihat siapa pun, dan justru itulah kelebihannya.

Jamaah yang saya hormati, mari kita tutup. Zaman ini tidak meminta kita menjadi manusia yang lebih hebat. Zaman ini hanya meminta satu hal yang sederhana dan sangat berat: memeriksa kembali alasan kita melakukan sesuatu, di ruang yang dirancang supaya kita tidak sempat memeriksanya. Semoga Allah menolong kita mengobati yang paling sulit diobati.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا نِيَّاتِنَا، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا وَأَيْدِيَنَا مِنْ أَذَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَوْقَاتِنَا وَأَهْلِيْنَا وَأَوْلَادِنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan