Alasan utamanya biaya. Mainstream RSS gratis (kami tarik tiap 2 jam), YouTube Data API juga gratis, dan X relatif murah (~$0.0004 per post). Tapi Instagram (~$0.0023 per post via apify/instagram-hashtag-scraper) dan TikTok (~$0.004 per post via clockworks/free-tiktok-scraper) menagih per item, dan budget Apify kami $29/bulan. Karena itu kami batasi limit per keyword (IG 60, TT 20) dan jalankan mingguan tiap Rabu malam, bukan harian seperti mainstream RSS.
Lalu kenapa tetap discrape meskipun jumlahnya kecil? Karena IG dan TikTok memberi gambaran percakapan dari audiens yang sama sekali berbeda — terutama Gen Z. Pola bahasa, isu yang viral, format konten, dan reaksi emosional di TikTok sangat berbeda dari mainstream news atau X (yang lebih dewasa/news-reader). Bahkan sampel kecil ~600–1.500 post per minggu cukup untuk menangkap signal: kategori dakwah mana yang sedang ramai di Gen Z, miskonsepsi yang muncul, dan format konten yang efektif untuk audiens muda. Tanpa scrape IG/TT, briefing dakwah jadi bias ke audiens news-reader (mayoritas 30+ tahun).