"Ekonomi Harapan Palsu di Layar Kita"
Buka aplikasi apa saja pekan ini, dan algoritma akan menyodorkan wajah yang sama: seseorang memamerkan tumpukan uang dengan keterangan "hasil main tadi malam." Di kolom komentar, sebagian mengutuk, sebagian bertanya "linknya mana." Sementara itu, di ruang yang lebih sunyi, seorang ayah baru saja kehilangan tabungannya karena tertipu orang yang mengaku teman lama. Dan di lapisan paling atas, publik memperdebatkan diskursus korupsi yang menyebut angka triliunan. Tiga peristiwa yang tampak berjauhan, tetapi menunjuk ke pertanyaan yang sama: mengapa manusia begitu mudah percaya pada harta yang datang tanpa kerja? Tulisan ini tidak hendak berkhotbah, melainkan membedah — dengan empat lensa — mengapa "ekonomi harapan palsu" ini begitu sulit dilawan.
Lensa pertama datang dari ekonomi perilaku. Judi online dirancang di atas prinsip variable reward — hadiah yang muncul acak, persis mekanisme yang membuat mesin slot dan notifikasi media sosial adiktif. Otak manusia mengejar ketidakpastian lebih kuat daripada kepastian. Implikasinya, pemain tidak bertahan karena bodoh, melainkan karena sistemnya memang menabrak titik lemah neurologis. Tetapi celah lensa ini jelas: ia menjelaskan mekanisme, namun gagal menjelaskan mengapa sebagian orang mampu menahan diri sementara yang lain tidak. Kalau semuanya soal desain, mengapa masih ada ruang untuk pilihan?
Lensa kedua datang dari sosiologi. Judol dan pinjol menyebar paling cepat di kelompok yang secara ekonomi terhimpit dan secara sosial merasa tertinggal. Ia menjanjikan mobilitas kelas yang macet oleh struktur — jalan pintas ketika jalan normal terasa tertutup. Implikasinya, memberantas judol tanpa memperbaiki ketimpangan hanyalah menutup satu keran sambil membiarkan tekanannya. Namun celah lensa ini: ia berisiko meromantisasi pelaku sebagai korban murni struktur, dan menghapus tanggung jawab personal sama sekali. Kalau semua adalah salah struktur, di mana letak agensi manusia?
Lensa ketiga datang dari teologi Islam, dibaca sebagai kerangka analitis, bukan vonis. Islam mengharamkan riba dan maysir bukan sekadar karena "aturan", melainkan karena keduanya melanggar prinsip keadilan pertukaran: harta harus berpindah lewat nilai yang diciptakan, bukan lewat pengalihan risiko yang zalim. QS. Ar-Rum: 39 menarik garis tajam — riba yang tampak "bertambah" di mata manusia justru "tidak bertambah di sisi Allah", sebuah kritik terhadap ilusi pertumbuhan tanpa produksi nyata. Implikasinya, larangan ini sebenarnya adalah teori tentang ekonomi yang sehat. Celahnya: kerangka ini menuntut kesadaran transenden yang tidak semua orang miliki, sehingga sulit dijadikan kebijakan publik yang universal. Bisakah prinsip yang berakar pada iman menjadi argumen yang mengikat bagi yang tak beriman?
Lensa keempat datang dari psikologi harapan. Yang dijual judol bukanlah uang, melainkan harapan — ilusi bahwa hidup bisa berubah dalam satu klik. Di masyarakat yang lelah dan pesimis, harapan adalah komoditas paling laku. Implikasinya, melawan judol berarti harus menyediakan sumber harapan alternatif yang nyata: pekerjaan yang bermartabat, komunitas yang menopang, makna yang lebih dalam daripada saldo. Tetapi celahnya: harapan alternatif ini lambat dan tidak spektakuler, sementara judol menawarkan sensasi instan. Bagaimana harapan yang jujur bisa bersaing dengan harapan yang berkilau tapi palsu?
Lalu apa yang bisa dilakukan mahasiswa hari ini, di kos, di kelas, di organisasi? Pertama, kenali diri sendiri: banyak yang memulai dari "coba-coba" saat bosan atau kepepet uang kos akhir bulan; kenali pemicunya sebelum menyalahkan kelemahan. Kedua, jaga lingkaran terdekat — satu teman yang berani bilang "stop, aku pernah lihat ini menghancurkan" lebih berpengaruh daripada seribu poster kampus. Ketiga, kalau punya keterampilan menulis atau desain, gunakan untuk membongkar mekanisme jebakannya, bukan sekadar mengutuk pelakunya. Keempat, di organisasi mahasiswa, rintis dana solidaritas kecil sebagai alternatif nyata ketika teman terhimpit, agar pinjol bukan satu-satunya pintu. Kelima, latih sikap kritis terhadap konten "flexing" — sadari bahwa yang dipamerkan selalu bias, dan yang hancur tak pernah tampil.
Yang penting di sini bukan menemukan satu lensa yang benar dan membuang sisanya. Ekonomi menjelaskan mekanisme, sosiologi menjelaskan konteks, teologi menawarkan prinsip, psikologi menyingkap kebutuhan. Setiap lensa yang dipilih sebagai prioritas akan meninggalkan celah yang hanya bisa ditutup lensa lain. Mungkin justru di persimpangan keempatnya — desain yang menjebak, struktur yang menekan, prinsip yang dilanggar, dan harapan yang dirampas — kita mulai memahami mengapa harapan palsu ini begitu sulit dipatahkan, dan mengapa melawannya menuntut lebih dari sekadar melarang.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah ini soal literasi keuangan, bukan agama? Kenapa harus dibawa-bawa ke dalil?
ASebagian benar — literasi memang krusial. Tapi literasi menjelaskan "bagaimana", bukan "kenapa harus peduli." Dalil di sini bukan dipakai sebagai palu, melainkan sebagai satu kerangka nilai yang kebetulan sejalan dengan temuan ekonomi: harta harus lahir dari nilai nyata. Kamu boleh mengambil prinsipnya tanpa menyetujui teologinya.
- Q · 02
Kalau judol itu pilihan bebas orang dewasa, kenapa orang lain harus ikut campur?
AKebebasan berhenti ketika kecanduan mengambil alih kapasitas memilih itu sendiri — dan judol memang didesain untuk merebutnya. Selain itu, kerugiannya jarang berhenti di individu; ia merembes ke keluarga dan lingkaran terdekat. Ikut campur di sini bukan paternalisme, melainkan mengakui bahwa sebagian jebakan memang melumpuhkan kehendak bebas.
- Q · 03
Bukankah menyalahkan pinjol mengalihkan perhatian dari akar masalahnya, yaitu kemiskinan?
APoin yang adil. Pinjol dan judol memang gejala, bukan penyakit utama. Tapi mengakui akar struktural tidak berarti membiarkan gejalanya menggerus orang hari ini. Dua hal bisa benar sekaligus: perbaiki ketimpangan jangka panjang, sambil bendung jeratan yang sedang menghancurkan rumah tangga sekarang.
- Q · 04
Apa bedanya nasihat "jangan judi" ini dengan moralisme generik yang tidak menyelesaikan apa-apa?
ABedanya pada apakah ia berhenti di larangan atau berlanjut ke alternatif. Moralisme hanya berkata "jangan." Analisis yang serius bertanya: apa yang membuat orang butuh judol, dan apa yang bisa menggantikan kebutuhan itu? Kalau kita hanya melarang tanpa menyediakan jalan lain, kita memang belum melakukan apa-apa.
- Q · 05
Saya sendiri pernah main dan berhenti tanpa merasa itu dosa besar. Apa saya munafik kalau ikut menyuarakan ini?
ATidak. Orang yang pernah di dalam dan keluar justru sering menjadi suara paling kredibel, bukan yang paling munafik. Yang penting bukan kesempurnaan track record, melainkan kejujuran tentang apa yang dilihat. Pengalamanmu adalah data, bukan aib yang menggugurkan hak bicara.
