"Empat Lensa Membaca Ekonomi Cerita"
Pekan ini memperlihatkan sesuatu yang layak dicatat: di ruang percakapan Indonesia, konten yang paling jauh jangkauannya bukan analisis dan bukan berita, melainkan cerita pribadi berukuran kecil. Pengalaman seseorang sepulang mendaki gunung. Seorang guru yang minta izin menyanyi sebentar di kelasnya. Kenangan seseorang tentang cara ia memberi tahu orang tuanya bahwa sedang melamar beasiswa. Di saat yang sama, dan di ruang yang sama, tersebar pula unggahan tentang seseorang yang baru saja dihakimi ramai-ramai lalu jatuh cemas — dan unggahan itu ikut menjadi salah satu yang paling banyak dibaca. Dua jenis konten ini beredar berdampingan, dibuat dengan alat yang identik, dan diukur dengan metrik yang identik pula. Persoalannya menjadi jelas begitu keduanya diletakkan berdampingan: sistem distribusi yang sama memberi ganjaran kepada cerita yang menyembuhkan dan kepada cerita yang melukai, tanpa membedakan keduanya. Pertanyaan yang muncul bukan pertanyaan moral yang mudah, melainkan pertanyaan struktural — siapa yang sebenarnya menanggung biaya ketika pengalaman pribadi menjadi komoditas.
Lensa pertama — ekonomi perhatian. Dalam kerangka ini, perhatian adalah sumber daya langka, dan cerita yang memicu reaksi emosional memenangkan alokasinya. Implikasinya, tidak ada konspirasi yang diperlukan untuk menjelaskan mengapa kesedihan orang menyebar lebih cepat daripada penjelasan tentang gambut dan sekat kanal; cukup mekanisme insentif. Celah lensa ini: ia menjelaskan distribusi, tetapi tidak menjelaskan kewajiban. Mengetahui bahwa sesuatu menyebar karena insentif tidak memberi tahu siapa pun mana cerita yang layak disebarkan. Pertanyaan yang muncul: apakah sebuah sistem yang netral secara desain bisa tetap dinilai secara moral?
Lensa kedua — psikologi sosial. Dari sini, daya tarik cerita pribadi dibaca sebagai ikatan parasosial: penonton membangun kedekatan sepihak dengan narator, dan kedekatan itu terasa seperti persahabatan meskipun tidak berbalas. Implikasinya, cerita pribadi bekerja bukan karena isinya luar biasa, melainkan karena ia memberi ilusi kedekatan yang murah. Celah lensa ini: ia menempatkan penonton sebagai pihak yang pasif dan tersugesti, padahal dalam kasus penghakiman ramai-ramai penonton justru pelaku aktifnya. Pertanyaan yang muncul: apakah kerumunan yang terbentuk dari ribuan keputusan kecil masih bisa disebut kerumunan, atau ia sesungguhnya kumpulan tanggung jawab individual yang dipecah sampai tak terlihat?
Lensa ketiga — etika privasi dan persetujuan. Kerangka ini membedakan tokoh publik dari orang privat, dan menuntut persetujuan sebelum pengalaman seseorang dijadikan bahan. Implikasinya jelas dan praktis: seseorang yang tidak memegang jabatan publik tidak otomatis menjadi bahan pembicaraan publik hanya karena perbuatannya terekam. Celah lensa ini: persetujuan adalah instrumen hukum, dan instrumen hukum mengandaikan posisi tawar yang setara. Seorang mahasiswa yang menceritakan kemiskinan keluarganya demi peluang beasiswa memberi persetujuan — tetapi persetujuan di bawah tekanan ekonomi tidak membuat pertukaran itu adil. Pertanyaan yang muncul: apakah persetujuan yang sah selalu berarti pertukaran yang etis?
Lensa keempat — tazkiyatun nafs, penyucian jiwa sebagai kerangka analitis. Tradisi ini memindahkan titik penilaian dari akibat ke niat: yang dinilai lebih dulu bukan seberapa jauh cerita tersebar, melainkan untuk apa ia dilepas. QS. Ash-Shams: 8 mengingatkan bahwa jiwa manusia diilhami dua kemungkinan sekaligus, kefasikan dan ketakwaannya — artinya alat yang sama di tangan orang yang sama bisa menghasilkan dua hal yang berlawanan. Implikasinya, kritik terhadap ekonomi cerita tidak berhenti pada desain algoritma, tetapi masuk ke ruang yang tidak bisa diaudit siapa pun. Celah lensa ini justru terletak di kekuatannya: kriteria batin tidak bisa diverifikasi dari luar, sehingga ia tidak dapat dijadikan dasar aturan publik. Pertanyaan yang muncul: apa gunanya kriteria yang paling menentukan justru kriteria yang paling tidak bisa dibuktikan?
Menariknya, tradisi yang sama menyimpan satu contoh tentang cara memperlakukan label yang diberikan kerumunan. Dalam Sahih Muslim 2484c, seorang sahabat dipuji orang banyak sebagai lelaki penghuni surga; ketika hal itu disampaikan langsung kepadanya, ia menjawab bahwa Allah lebih tahu siapa penghuni surga, lalu ia mengalihkan pembicaraan ke peristiwa yang membuat orang berkata demikian. Ia tidak menyangkal, tidak pula menerima. Ia memindahkan otoritas penilaian ke luar dirinya dan ke luar kerumunan — sebuah langkah yang, dibaca sebagai teknik, adalah cara paling ekonomis untuk menolak identitas yang diberikan penonton.
Dari keempat lensa itu bisa diturunkan beberapa langkah yang berada dalam jangkauan mahasiswa. Di kos: pisahkan akun tempat mengunggah pengalaman pribadi dari akun tempat menonton; pemisahan itu memperlambat dorongan untuk membalas perhatian dengan cerita berikutnya. Di kelas dan di lab: sebelum memakai kisah orang lain sebagai contoh dalam presentasi, minta izin lisan sekali, dan ganti detail yang bisa mengidentifikasi orangnya. Di kantin: berhenti meneruskan tangkapan layar tentang orang yang tidak dikenal, dan katakan alasannya sekali saja tanpa berkhotbah. Saat magang: tanyakan sejak awal siapa yang memegang hak atas cerita narasumber jika perusahaan memakainya untuk promosi — pertanyaan itu wajar, dan diamnya justru yang tidak wajar. Di organisasi kemahasiswaan: buat satu aturan tertulis bahwa kisah penerima bantuan tidak dipublikasikan dengan wajah dan nama, kecuali yang bersangkutan sendiri yang memintanya. Terakhir, untuk penelitian dan tugas akhir yang melibatkan informan: perlakukan kutipan sebagai titipan, bukan sebagai data yang sudah menjadi milik peneliti begitu direkam.
Yang tersisa bukan kesimpulan, melainkan ketegangan yang jujur. Cerita pribadi adalah salah satu bentuk komunikasi paling manusiawi yang dimiliki manusia, dan pekan ini membuktikan bahwa daya sembuhnya nyata. Tetapi begitu cerita punya harga, ia punya pasar; dan begitu ia punya pasar, seseorang selalu menanggung biayanya. Yang bisa dilakukan mungkin bukan menutup pasar itu, melainkan memastikan bahwa yang menanggung biayanya adalah orang yang memang memilih untuk membayarnya.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah ini masalah platform dan algoritma, bukan masalah personal? Menyalahkan individu terasa seperti memindahkan beban struktural ke pundak orang kecil.
ASebagian benar. Desain distribusi memang menentukan apa yang menyebar, dan tidak ada etika personal yang bisa mengalahkan insentif sistemik dalam skala besar. Tetapi sistem itu tetap digerakkan oleh keputusan mikro yang jumlahnya jutaan, dan keputusan mikro adalah satu-satunya titik yang bisa diintervensi tanpa izin siapa pun. Analisis struktural dan tanggung jawab personal bukan dua pilihan yang saling meniadakan; yang satu menjelaskan skala, yang lain menjelaskan titik masuk.
- Q · 02
Kenapa agama harus ikut mengurus soal konten? Ini urusan etika komunikasi yang sudah punya disiplinnya sendiri.
AEtika komunikasi memang punya perangkatnya, dan perangkat itu kuat pada level aturan. Yang ditawarkan tradisi keagamaan berada di lapisan yang berbeda: motif. Aturan bisa memberi tahu apa yang boleh diunggah; ia tidak bisa memberi tahu seseorang mengapa ia ingin sekali mengunggahnya. Selama pertanyaan kedua tidak dijawab, kepatuhan pada aturan pertama cenderung berhenti begitu pengawasan berhenti.
- Q · 03
Apa bedanya tulisan ini dengan moralisme generik yang menyuruh orang "jaga niat"? Terdengar sama saja dengan nasihat pengajian.
APerbedaannya terletak pada apa yang dianggap sebagai masalah. Moralisme generik mengandaikan bahwa persoalannya kelemahan individu. Uraian di atas mengandaikan bahwa persoalannya adalah insentif yang bekerja pada individu yang normal. Karena itu langkah yang diturunkan bukan seruan untuk lebih tulus, melainkan pengaturan ulang kondisi — pemisahan akun, aturan organisasi, pertanyaan yang diajukan sejak awal magang.
- Q · 04
Bagaimana dengan mereka yang memang memakai kisah hidupnya untuk bertahan hidup, misalnya pengumpulan dana pengobatan? Apakah itu juga komodifikasi?
ASecara teknis ya, dan itulah sebabnya kerangka persetujuan saja tidak memadai. Yang membedakan biasanya dua hal: siapa yang memegang kendali atas narasi, dan siapa yang memperoleh manfaat utamanya. Kisah yang dibagikan oleh orangnya sendiri, dengan kendali penuh atas apa yang ditampilkan, berada di posisi yang berbeda dari kisah yang dikemas pihak lain untuk membangun reputasi lembaga. Ketidaknyamanan moralnya tidak hilang, tetapi ia bisa ditakar.
- Q · 05
Kalau semua orang berhenti membagikan kisah orang lain, bukankah ketidakadilan justru tidak akan terungkap? Banyak kasus terbongkar karena viral.
ABetul, dan itu keberatan paling kuat terhadap seluruh uraian ini. Publisitas memang berfungsi sebagai mekanisme akuntabilitas terakhir ketika jalur resmi macet. Yang perlu dibedakan adalah sasarannya: mengungkap perbuatan pihak yang memegang kuasa berbeda secara mendasar dari meramaikan kesalahan orang privat yang tidak memegang kuasa apa pun. Garis itu tidak selalu mudah ditarik, tetapi ketiadaan garis yang sempurna bukan alasan untuk menghapus garisnya sama sekali.
