"Empat Lensa Membaca Perang Jauh"
Sepekan terakhir, linimasa mahasiswa Indonesia dipenuhi satu jenis konten yang bentuknya seragam: judul panjang berhuruf besar tentang konflik Timur Tengah, sebagian ditutup tanda tanya, sebagian menyebut angka kerugian yang tidak disertai rujukan. Di kanal video, nadanya nyaris seluruhnya gelap. Di ruang kelas, konflik itu muncul dalam bentuk lain lagi — sebagai perdebatan antar-teman yang, bila ditelusuri, sama-sama bersumber dari potongan video yang sama. Fenomena ini menarik justru karena satu alasan yang jarang diakui: tidak seorang pun peserta perdebatan itu memiliki akses terhadap peristiwanya. Yang diperdebatkan bukan kejadian, melainkan representasi kejadian. Artikel ini tidak berusaha menentukan siapa yang benar di medan yang jauh itu; ia menawarkan empat lensa untuk membaca posisi kita sendiri, lengkap dengan celah masing-masing lensa.
Lensa pertama — ekonomi energi. Lensa ini membaca konflik sebagai gangguan pasokan. Selat, pipa, dan terminal adalah titik-titik sempit tempat sebagian besar energi dunia berpindah; gangguan di titik itu menaikkan harga minyak, dan kenaikan harga minyak merambat ke biaya logistik, lalu ke harga pangan di negara pengimpor seperti Indonesia. Implikasinya, kecemasan warga tentang harga bukanlah kepicikan, melainkan pembacaan yang rasional atas rantai transmisi. Tetapi celah lensa ini jelas: harga tidak hanya digerakkan oleh pasokan nyata, melainkan juga oleh ekspektasi dan spekulasi. Sebagian kenaikan justru diciptakan oleh antisipasi terhadap kabar — termasuk kabar yang belum terbukti. Pertanyaan yang muncul: jika harga bisa bergerak karena narasi, sejauh mana mereka yang memproduksi narasi ikut bertanggung jawab atas beban yang ditanggung rumah tangga termiskin?
Lensa kedua — ekonomi perhatian. Lensa ini membaca konflik sebagai komoditas. Format video panjang hidup dari durasi tonton, dan durasi tonton paling murah dibeli dengan emosi. Maka judul interogatif menjadi instrumen yang efisien: ia menyampaikan klaim tanpa menanggung beban pembuktian, dan tetap aman secara editorial karena secara teknis hanya bertanya. Implikasinya, konflik yang jauh perlahan berubah bentuk menjadi serial dengan tokoh, episode, dan penonton setia. Celah lensa ini terletak pada asumsinya bahwa penonton sepenuhnya pasif. Permintaan juga membentuk pasokan; kanal-kanal itu memproduksi kemarahan karena kemarahan memang dicari. Pertanyaan yang muncul: jika audiens adalah bagian dari mesinnya, apakah kritik terhadap media masih memadai tanpa kritik terhadap kebiasaan menonton?
Lensa ketiga — fiqh klasik tentang keamanan jalan. Tradisi hukum Islam mengenal kategori tersendiri untuk kejahatan yang merampas rasa aman di jalur perjalanan, dan kategori itu dibedakan dari pencurian biasa.
Fath al-Qarib — كتاب أحكام الحدود / • قطاع الطريق
Kitab itu menerangkan bahwa pelakunya disebut demikian karena keberadaannya membuat orang-orang terhalang menempuh jalan disebabkan rasa takut kepadanya. Yang patut diperhatikan dari perumusan itu adalah objek kerusakannya: bukan sekadar barang yang diambil, melainkan rasa aman publik yang hilang. Implikasinya, dalam kerangka klasik sekalipun, menakut-nakuti orang banyak sudah merupakan kerusakan tersendiri, terlepas dari hasil materialnya. Celah lensa ini serius dan harus dinyatakan terbuka: kategori tersebut dirumuskan untuk pelaku individual di dalam satu wilayah hukum, bukan untuk relasi antar-negara yang bersenjata, sehingga memindahkannya begitu saja ke peta geopolitik adalah lompatan yang tidak sah secara metodologis. Pertanyaan yang muncul: apakah prinsip di baliknya — bahwa rasa aman publik adalah hak yang dilindungi — masih dapat dipertahankan tanpa menyeret perangkat hukumannya?
Lensa keempat — etika normatif tentang islah. Lensa ini bertolak dari QS. Al-Hujuraat: 9, yang mengatur sikap pihak ketiga ketika dua kelompok beriman berperang: mendamaikan lebih dulu, menghentikan pihak yang melampaui batas bila ia menolak berhenti, lalu kembali kepada keadilan sesudahnya. Struktur ini menolak dua jalan pintas sekaligus — netralitas yang menyamakan pemukul dengan yang dipukul, dan keberpihakan yang menganggap kemenangan menghapus kewajiban adil. Celahnya terletak pada satu kata: pihak ketiga. Dalam praktik geopolitik, tidak ada pihak ketiga yang benar-benar netral; setiap penengah punya kepentingan energi, perdagangan, atau keamanan sendiri. Pertanyaan yang muncul: ketika penengah tidak netral, siapa yang berwenang menetapkan pihak mana yang melampaui batas — dan apa akibatnya bila penetapan itu selalu datang dari pihak yang paling kuat?
Ada ruang tindakan yang tersedia bagi mahasiswa, dan ruang itu lebih kecil tetapi lebih nyata daripada yang ditawarkan linimasa. Di kelas, sebuah kelompok studi dapat menetapkan aturan sederhana untuk satu semester: setiap klaim tentang konflik yang dibawa ke diskusi harus disertai sumber primer beserta tanggalnya, dan klaim tanpa sumber dicatat sebagai hipotesis, bukan sebagai fakta. Di organisasi kampus, penggalangan dana kemanusiaan lebih bermanfaat bila disertai audit sederhana yang dipublikasikan: berapa terkumpul, lewat lembaga mana, dan bukti penyaluran apa yang diterima. Di kos dan di kantin, kebiasaan yang paling mahal justru yang paling sederhana — menahan diri meneruskan video yang sumbernya tidak diketahui, dan menolak menjadikan teman yang berbeda pandangan sebagai musuh pengganti untuk musuh yang tidak terjangkau. Untuk mahasiswa yang menulis, satu praktik kecil punya dampak besar: mencantumkan tingkat keyakinan pada setiap klaim — terkonfirmasi, dilaporkan satu sumber, atau klaim sepihak. Praktik itu tidak mengurangi keberpihakan pada korban; ia justru membuat keberpihakan itu sulit dipatahkan.
Yang tersisa pada akhirnya bukan pilihan lensa mana yang paling benar, melainkan kesadaran bahwa setiap lensa membeli kejelasan dengan harga tertentu. Lensa ekonomi menjelaskan harga tetapi melewatkan nyawa. Lensa media menjelaskan mesinnya tetapi melewatkan penderitaan yang nyata di balik tayangan. Lensa fiqh menawarkan prinsip tetapi tidak menawarkan yurisdiksi. Lensa etika menawarkan arah tetapi mensyaratkan penengah yang tidak tersedia. Membaca keempatnya bersamaan tidak menghasilkan kepastian — ia hanya menutup jalan pintas yang selama ini paling ramai ditempuh: merasa sudah tahu hanya karena sudah menonton.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah menunda penilaian sampai bukti lengkap itu sama saja dengan membela pihak yang kuat, karena yang lemah tidak punya alat untuk membuktikan?
AKeberatan itu valid dalam banyak kasus — beban pembuktian memang jarang netral. Yang ditawarkan di sini bukan penundaan keberpihakan, melainkan pemisahan antara dua hal: prinsip yang bisa dipegang tanpa data (nyawa non-kombatan tidak boleh dijadikan alat tekan) dan klaim peristiwa yang membutuhkan data (siapa menembak apa pada tanggal berapa). Prinsipnya bisa dinyatakan hari ini juga; klaim peristiwanya yang perlu sabar.
- Q · 02
Kenapa fiqh abad pertengahan dibawa-bawa ke urusan geopolitik modern? Bukankah itu anakronisme?
ABetul, dan artikel ini menyebutnya secara terbuka sebagai celah. Yang dipinjam bukan perangkat hukumannya, melainkan cara kitab itu mendefinisikan kerusakan: rasa aman publik diperlakukan sebagai objek yang dilindungi, bukan sekadar efek samping. Sebagai kategori analitis, rumusan itu tetap berguna untuk menilai tindakan yang menjadikan ketakutan massal sebagai alat.
- Q · 03
Kalau semua pihak ketiga punya kepentingan, bukankah seruan islah hanya slogan?
ASeruan islah memang tidak menyelesaikan masalah legitimasi penengah. Tetapi ia tetap mengikat pada tingkat yang lebih rendah, yaitu tingkat pelaku sehari-hari: seseorang yang tidak dapat mendamaikan dua negara masih dapat memilih untuk tidak memperluas permusuhan di lingkungannya sendiri. Skalanya berbeda, arahnya sama.
- Q · 04
Bukankah fokus pada "jangan sebar hoaks" mengalihkan perhatian dari kezaliman yang sebenarnya?
ABisa, bila berhenti di situ. Karena itu verifikasi diletakkan sebagai syarat, bukan sebagai tujuan. Advokasi yang dibangun di atas klaim rapuh akan runtuh pada satu bantahan, dan yang dirugikan bukan si penyebar, melainkan korban yang hendak dibela.
- Q · 05
Apa gunanya donasi kecil dari mahasiswa dibandingkan skala kerusakan yang ada?
ASecara agregat, dampaknya kecil dan tidak perlu dilebih-lebihkan. Yang berubah secara signifikan justru pelakunya: kebiasaan menyisihkan mengubah hubungan seseorang dengan isu dari menonton menjadi menanggung. Perubahan itu yang biasanya bertahan setelah topiknya tidak lagi ramai.
