"Empat Lensa Membaca Kabut Asap"
Pekan ini langit di beberapa daerah kembali menguning. Titik api menyala di lahan, kebakaran juga melalap sebagian kawasan Bromo, dan percakapan publik untuk pertama kalinya dalam beberapa musim tidak berhenti pada foto langit oranye — sebagian orang mulai membicarakan gambut, kanal, dan mengapa api di lahan gambut tidak mati hanya dengan disiram dari atas. Pergeseran itu menarik, sebab ia memindahkan asap dari kategori "cuaca buruk" ke kategori "akibat dari keputusan". Pertanyaannya kemudian bukan lagi kapan asap akan hilang, melainkan keputusan siapa yang menghasilkannya, dan mengapa keputusan yang sama berulang setiap tahun meskipun kerugiannya sudah diketahui semua pihak. Empat lensa berikut membaca persoalan itu dari sudut yang berbeda, dan masing-masing meninggalkan celah yang tidak bisa ditutupnya sendiri.
Lensa pertama, dari ekonomi insentif. Membuka lahan dengan api adalah metode termurah per satuan luas, dan yang menanggung biayanya bukan pihak yang menyalakannya melainkan penduduk di radius ratusan kilometer. Implikasinya, selama biaya kerusakan tidak pernah masuk ke pembukuan pelaku, pembakaran akan selalu menjadi pilihan rasional. Celah lensa ini: ia menjelaskan motif tetapi tidak menjelaskan kegagalan. Penegakan hukum sudah ada, denda sudah ada, dan pembakaran tetap berlangsung. Pertanyaan yang muncul: apakah masalahnya pada besaran sanksi, atau pada jarak antara yang membuat aturan dan yang menanggung asap?
Lensa kedua, dari ekologi lahan basah. Gambut adalah tanah organik yang hanya aman selama basah; ketika air dikeluarkan lewat kanal untuk membuatnya layak ditanami, lapisan itu berubah menjadi bahan bakar yang menyimpan api di bawah permukaan. Implikasinya, pemadaman dari udara bisa memadamkan yang terlihat tanpa menyentuh yang membakar. Celah lensa ini: ia teknokratis. Kanal tidak menggali dirinya sendiri, dan keputusan mengeringkan lahan diambil dalam kerangka kebijakan dan investasi tertentu. Pertanyaan yang muncul: apakah persoalan gambut adalah persoalan hidrologi, atau persoalan tata kuasa atas lahan yang kebetulan berwujud hidrologi?
Lensa ketiga, dari sosiologi media. Bencana kini adalah komoditas perhatian. Pekan ini sebagian kanal video memasang judul tentang gelombang laut besar, ditempelkan pada erupsi yang sedang dipantau otoritas, dan judul semacam itu mengalahkan buletin resmi dalam perebutan klik. Implikasinya, informasi yang menenangkan selalu kalah bersaing melawan informasi yang menakutkan. Celah lensa ini: ia terlalu mudah berhenti pada kreator individual. Insentif dibentuk oleh mesin distribusi, sementara kemarahan publik biasanya berhenti pada satu akun. Pertanyaan yang muncul: menghukum satu kanal mengubah apa, kalau struktur yang memberinya imbalan tetap utuh?
Lensa keempat, dari teologi. Dalam kerangka istikhlaf, bumi adalah titipan dan manusia adalah pemegang amanah yang akan ditanya, bukan pemilik yang bebas. Kerangka ini juga menolak satu kesimpulan yang sering muncul di kolom komentar: bahwa korban bencana sedang dihukum. Sahih Muslim 2016 merekam bahwa ketika sebuah rumah di Madinah terbakar bersama penghuninya, yang diucapkan Nabi ﷺ bukan vonis atas mereka yang wafat, melainkan instruksi keselamatan bagi yang masih hidup: api adalah musuh, padamkan sebelum tidur. Musibah, dalam kerangka ini, adalah ujian; kelalaian tetap tanggung jawab manusia. Celah lensa ini: bahasa amanah gampang menyusut menjadi moralisme personal — imbauan agar tiap individu menjaga lingkungan — yang justru membebaskan pemegang keputusan besar dari sorotan. Pertanyaan yang muncul: bagaimana menjaga agar kosakata amanah tetap menuntut pertanggungjawaban struktural, bukan sekadar kesalehan pribadi?
Di ruang kampus, keempat lensa itu bisa diturunkan menjadi kerja yang berukuran mahasiswa. Jurusan teknik lingkungan, geografi, dan kehutanan punya data spasial titik api yang sering menganggur setelah tugas akhir; menyusunnya menjadi ringkasan satu halaman yang bisa dibaca perangkat desa adalah pekerjaan nyata. Mahasiswa komunikasi bisa membangun arsip sederhana berisi judul-judul menyesatkan pekan ini beserta klarifikasi resminya, lalu menyebarkannya di grup angkatan, bukan sebagai kampanye moral melainkan sebagai layanan verifikasi. Di kos dan kantin, kebiasaan menahan kiriman video bencana selama sepuluh menit sebelum meneruskannya adalah eksperimen perilaku yang murah dan mudah diukur. Unit kegiatan mahasiswa yang punya jaringan ke desa dampingan bisa menambahkan satu agenda kecil pada program kerja yang sudah ada: mendata rumah warga yang masih membakar sampah harian dan mencari alternatif pembuangan bersama. Dan bagi yang menulis, satu artikel yang menjelaskan mengapa api gambut tidak mati dengan disiram akan lebih berguna daripada sepuluh unggahan yang menyalahkan.
QS. Al-Qalam: 20 menyimpan satu gambar yang sulit dilupakan — sebuah kebun yang berubah menjadi hitam seperti malam yang gelap gulita. Gambar itu tidak menjelaskan sebab, tidak menunjuk pelaku, dan tidak menghibur. Ia hanya memperlihatkan akibat. Mungkin di situlah letak kegunaannya bagi perdebatan ini: setiap lensa di atas sibuk memperebutkan penjelasan, sementara akibatnya sudah lebih dulu tiba dan tidak menunggu siapa pun menang berdebat. Yang penting bukan menemukan lensa mana yang paling benar, melainkan menyadari bahwa lensa mana pun yang dipilih sebagai prioritas akan meninggalkan satu celah yang hanya bisa ditutup oleh lensa lain.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah ini murni masalah struktural? Mahasiswa yang menahan kiriman video sepuluh menit tidak akan memadamkan satu titik api pun.
ABenar, dan klaim sebaliknya memang berlebihan. Tetapi struktur bukan entitas yang melayang di luar perilaku; ia dibentuk oleh jutaan keputusan kecil yang saling menguatkan, termasuk keputusan meneruskan kabar yang menaikkan kepanikan dan menurunkan kepercayaan pada informasi resmi. Perubahan perilaku tidak menggantikan perubahan kebijakan, tetapi tanpa kepercayaan publik, kebijakan yang benar pun kehilangan pijakan.
- Q · 02
Kenapa agama harus ikut campur? Ini persoalan hidrologi dan tata kelola lahan, bukan persoalan iman.
ALensa teologis di atas memang tidak berpretensi menggantikan hidrologi. Fungsinya berbeda: ia menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab data, yaitu mengapa kerusakan yang terukur tetap dipilih. Kerangka amanah menyediakan bahasa pertanggungjawaban yang berlaku juga ketika pengawasan tidak hadir — dan justru di titik itulah sebagian besar pembakaran terjadi.
- Q · 03
Argumen "musibah itu ujian, bukan hukuman" terdengar seperti cara halus menghindari pertanyaan siapa yang salah.
A
