"Siapa yang Layak Dipercaya Saat Panik"
Pekan ini sebaran abu vulkanik dari Anak Krakatau menjadi kabar besar, dan di tengah kabar itu muncul satu pengakuan yang lebih menarik daripada beritanya sendiri. Seorang pengguna media sosial menulis bahwa ia mengetahui jangkauan sebaran abu bukan dari kanal resmi, melainkan dari sebuah akun penggemar rute bus kota. Kalimat itu bernada olok-olok, tetapi ia menyimpan persoalan yang serius dan berlapis: dalam situasi genting, kepercayaan publik ternyata tidak mengalir mengikuti garis kewenangan. Ia mengalir mengikuti garis kehadiran. Pertanyaan yang muncul dari sana bukan pertanyaan teknis tentang saluran informasi, melainkan pertanyaan epistemik tentang bagaimana sebuah masyarakat memutuskan siapa yang layak didengar.
Lensa pertama datang dari studi informasi. Dalam keadaan darurat, nilai sebuah informasi ditentukan oleh dua variabel yang saling menekan: akurasi dan kecepatan. Kanal resmi mengoptimalkan variabel pertama karena ia menanggung konsekuensi hukum atas kesalahan; akun penggemar mengoptimalkan variabel kedua karena ia tidak menanggung apa pun. Implikasinya, publik yang sedang panik akan selalu tertarik pada kanal yang cepat. Tetapi celah lensa ini jelas: kecepatan yang tidak diverifikasi adalah kecepatan menuju kesalahan yang sama-sama cepat. Pertanyaannya kemudian menjadi apakah kecepatan dan akurasi memang harus dipertukarkan, atau apakah pertukaran itu sebenarnya hasil dari desain kelembagaan yang bisa diubah.
Lensa kedua datang dari sosiologi. Kepercayaan bukan properti dari lembaga, melainkan properti dari hubungan. Akun penggemar rute bus punya sesuatu yang tidak dimiliki kanal besar mana pun: rekam jejak kehadiran harian di wilayah yang sangat sempit. Ia sudah dibaca setiap hari jauh sebelum bencana datang, sehingga ketika bencana datang ia sudah berada di dalam lingkaran kebiasaan pembacanya. Implikasinya, modal kepercayaan dibangun pada hari-hari biasa, bukan pada hari krisis. Celahnya, kepercayaan berbasis kebiasaan tidak memiliki mekanisme koreksi. Ketika akun semacam itu salah, tidak ada yang menuntut, dan tidak ada yang mencabut.
Lensa ketiga datang dari ekonomi perhatian. Setiap akun yang konsisten mengunggah sedang menabung perhatian, dan perhatian itu dapat dicairkan pada momen krisis. Struktur insentifnya lugas: semakin sering hadir, semakin besar simpanan. Implikasinya, siapa pun yang rajin dapat menjadi rujukan tanpa perlu izin siapa pun — sebuah demokratisasi yang nyata. Celah lensa ini terletak pada arah insentifnya. Perhatian tidak dibayar oleh kebenaran; ia dibayar oleh keterkejutan. Maka sistem yang sama yang memungkinkan seorang penggemar bus menjadi berguna juga memungkinkan penyebar kepanikan menjadi kaya secara sosial.
Lensa keempat datang dari khazanah Islam, dan menariknya ia tidak berbicara tentang saluran, melainkan tentang saksi. QS. Al-Burooj: 3 menyebut "yang menyaksikan dan yang disaksikan" — sebuah pasangan yang menempatkan kesaksian, bukan pengumuman, sebagai kategori dasar. Dalam kerangka ini, orang yang berbicara tentang sebuah peristiwa dinilai dari posisinya terhadap peristiwa itu, bukan dari jabatannya. Contoh laporan-diri yang jujur terekam dalam Sahih Muslim 7017, ketika Ka'b bin Malik menceritakan sendiri perihal ketertinggalannya dari perang Tabuk dan justru menyertakan detail yang merugikan dirinya: bahwa ia tidak pernah merasa lebih kuat dan lebih lapang daripada ketika ia tertinggal. Implikasinya, kredibilitas adalah fungsi dari kesediaan menanggung kerugian atas ucapan sendiri. Celahnya, standar sekuat itu bersifat personal dan sulit diskalakan; sebuah masyarakat tidak dapat menggantungkan sistem peringatan dini pada kejujuran individu semata.
Dari keempat lensa itu, ruang tindakan yang tersedia bagi mahasiswa justru cukup konkret dan berukuran kecil. Kelompok studi di jurusan dapat membangun arsip sederhana berisi tautan sumber primer untuk isu yang berulang di kampusnya, sehingga saat kabar mendadak muncul, verifikasi tidak dimulai dari nol. Organisasi mahasiswa dapat menetapkan satu aturan minimum sebelum meneruskan kabar: ada nama orang yang bisa dihubungi, atau kabar itu ditahan. Mahasiswa yang aktif di media sosial dapat memilih satu wilayah pengamatan yang sangat sempit — kos-kosan, fakultas, satu kelurahan — lalu hadir di sana secara konsisten pada hari-hari biasa, karena di situlah modal kepercayaan sesungguhnya dikumpulkan. Dan bagi yang bergerak di pers kampus, koreksi yang ditulis terbuka atas kesalahan sendiri bernilai lebih besar daripada sepuluh laporan yang tidak pernah salah karena tidak pernah berani menyimpulkan.
Persoalannya pada akhirnya tidak selesai dengan memilih satu lensa dan membuang tiga lainnya. Kanal resmi akan selalu lebih lambat karena ia menanggung akibat; kanal warga akan selalu lebih cepat karena ia tidak. Yang mungkin bisa dikerjakan bukan meniadakan salah satunya, melainkan memindahkan sebagian beban kejujuran dari lembaga ke individu yang bersedia menanggungnya. Dan ukuran sebuah masyarakat yang sehat barangkali bukan seberapa cepat kabar sampai, melainkan berapa banyak orang di dalamnya yang bersedia mengakui ketika kabar yang mereka sampaikan ternyata keliru.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah ini cuma masalah literasi digital? Kenapa harus dibawa ke ranah agama?
ALiterasi digital menjawab pertanyaan "bagaimana memverifikasi", dan itu penting. Yang tidak dijawabnya adalah pertanyaan "mengapa seseorang mau menanggung kerugian demi berkata benar ketika berbohong lebih menguntungkan". Pertanyaan kedua itu bersifat motivasional, bukan teknis, dan di situlah kerangka keagamaan punya sesuatu yang spesifik untuk ditawarkan. Keduanya bekerja pada lapisan yang berbeda dan tidak saling menggantikan.
- Q · 02
Kalau kanal resmi memang lambat, bukankah wajar publik pindah? Kenapa itu dipersoalkan?
APerpindahannya wajar dan bahkan rasional. Yang dipersoalkan bukan perpindahannya, melainkan tidak adanya lapisan koreksi di tempat baru. Kanal resmi lambat tetapi dapat dituntut; kanal warga cepat tetapi tidak dapat dituntut. Sebuah ekosistem informasi yang hanya berisi kecepatan tanpa pertanggungjawaban akan bekerja sangat baik sampai hari pertama ia salah besar.
- Q · 03
Argumen soal "kehadiran mengalahkan jabatan" terdengar seperti pembenaran untuk influencer. Tidak berbahaya?
ABerbahaya bila berhenti di situ, dan artikel ini memang menyebut celahnya. Kehadiran menjelaskan mengapa kepercayaan berpindah; ia tidak membenarkan ke mana kepercayaan itu berpindah. Deskripsi bukan justifikasi. Yang bisa disimpulkan hanyalah bahwa lembaga yang ingin dipercaya saat krisis perlu hadir juga pada hari-hari biasa, bukan hanya muncul ketika ada yang perlu diumumkan.
- Q · 04
Kita mahasiswa, tidak punya kuasa apa-apa atas sistem informasi nasional. Apa gunanya membahas ini?
ASkala kuasanya memang kecil, dan artikel ini tidak mengklaim sebaliknya. Namun sistem informasi nasional tersusun dari ribuan simpul kecil, dan satu kelompok studi yang membiasakan verifikasi sebelum meneruskan kabar adalah salah satu simpul itu. Perubahan pada tingkat simpul tidak menyelesaikan persoalan nasional, tetapi tanpa simpul yang sehat, perbaikan di tingkat mana pun tidak akan bertahan.
- Q · 05
Bukankah menuntut orang mengakui kesalahan secara terbuka itu tidak realistis di budaya kita?
ASecara empiris memang jarang terjadi, dan biaya sosialnya nyata. Tetapi kelangkaan sebuah praktik bukan bukti bahwa praktik itu mustahil; ia lebih menunjukkan bahwa insentifnya belum ada. Ketika koreksi terbuka mulai dibaca sebagai tanda kompetensi alih-alih tanda kelemahan, biayanya turun. Perubahan semacam itu berjalan lambat dan biasanya dimulai dari komunitas kecil yang saling kenal.
