"Empat Lensa Membaca Kerukunan Beragama"
Pekan ini linimasa dipenuhi materi yang saling bertolak belakang soal relasi antar-umat beragama: satu video mengangkat kembali perdebatan lama secara berseberangan, satu unggahan menyoal perlakuan terhadap Muslim di negara lain, satu klaim membandingkan mutu institusi pendidikan berbeda agama, dan ada pula nada kesal ketika kritik datang dari pemeluk agama lain. Tidak satu pun dari ini baru. Yang menarik dianalisis bukan isinya satu per satu, tapi pola di baliknya: kenapa isu lintas-iman selalu punya kapasitas membuat orang yang biasanya tenang jadi reaktif dalam hitungan detik? Empat lensa berikut mencoba membedah pertanyaan itu — dan masing-masing punya celah yang layak dipertanyakan balik.
Lensa pertama, dari psikologi sosial. Manusia punya kecenderungan alami mengelompokkan dunia menjadi "kelompok kami" dan "kelompok mereka" — mekanisme yang dulunya membantu kelangsungan hidup kelompok kecil, tapi di era digital berubah jadi bahan bakar polarisasi instan. Implikasinya, konten yang menegaskan batas kelompok akan selalu lebih mudah viral dibanding konten yang meredakannya. Tapi celah lensa ini: kalau semuanya cuma soal insting biologis, kenapa ada begitu banyak orang, dari generasi ke generasi, yang berhasil melawan insting itu dan hidup rukun lintas kelompok? Pertanyaannya: insting itu memang ada, tapi apakah ia benar-benar tak terelakkan, atau justru paling sering dibiarkan tanpa dilawan?
Lensa kedua, dari ekonomi media. Algoritma platform digital dioptimalkan untuk durasi tonton, dan konten yang memicu emosi negatif — termasuk kemarahan lintas-agama — punya durasi tonton yang lebih tinggi daripada konten yang menenangkan. Implikasinya, kreator dan bahkan media arus utama punya insentif ekonomi untuk membingkai isu lintas-iman secara adversarial. Celahnya: kalau ini murni soal insentif algoritma, kenapa ada juga konten rukun dan damai yang tetap viral? Barangkali bukan algoritmanya yang jadi penentu tunggal, tapi seberapa besar penonton yang justru ikut memberi "makanan" pada konten yang memancing amarah itu lewat komentar dan share.
Lensa ketiga, dari sejarah sosial Indonesia. Konflik antar-komunitas seperti Ambon di penghujung 1990-an menunjukkan bahwa kerukunan yang tampak sudah mengakar puluhan tahun ternyata bisa runtuh dalam hitungan hari ketika kecurigaan dibiarkan menumpuk tanpa penjernihan. Implikasinya, kerukunan bukan kondisi default yang otomatis bertahan, melainkan sesuatu yang harus dirawat aktif. Celahnya: fokus berlebihan pada sejarah konflik bisa membuat orang trauma dan justru makin curiga, bukan makin waspada secara sehat. Pertanyaannya: bagaimana caranya belajar dari sejarah kelam tanpa mengubahnya jadi bahan bakar kecurigaan baru?
Lensa keempat, dari kerangka teologis. Prinsip qist (keadilan) dalam Islam, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Maaida: 8, menuntut sesuatu yang lebih berat daripada sekadar toleransi pasif — ayat itu justru melarang kebencian pada satu golongan mendorong sikap tidak adil. Implikasinya, kerangka ini menolak dua ekstrem sekaligus: baik sikap memusuhi yang berbeda, maupun sikap melebur perbedaan sampai kehilangan identitas. Celahnya: prinsip ini gampang diucapkan tapi berat dipraktikkan justru pada saat paling dibutuhkan — ketika kita sedang marah. Pertanyaannya: apakah keadilan yang hanya berlaku saat hati sedang tenang benar-benar bisa disebut keadilan?
Keempat lensa ini punya benang yang sama: masalahnya jarang soal kurangnya pengetahuan tentang toleransi secara teori, dan lebih soal jarak antara apa yang kita tahu benar dengan apa yang benar-benar kita praktikkan saat emosi sedang tinggi.
Ada beberapa langkah yang bisa dicoba mulai pekan ini, di lingkup yang realistis untuk mahasiswa. Di grup kelas atau organisasi, biasakan bertanya "sumbernya dari mana" sebelum ikut berkomentar pada isu lintas-iman yang viral — praktik sederhana ini sejalan dengan adab intelektual klasik yang mengajarkan bahwa mengakui "aku belum tahu betul" (lā adrī) adalah bagian dari ilmu, bukan tanda kebodohan. Di kos atau kontrakan yang biasanya berisi teman-teman lintas-daerah dan kadang lintas-keyakinan, coba inisiatif kecil seperti makan bersama tanpa embel-embel diskusi berat — kedekatan personal biasanya jauh lebih efektif meredam prasangka dibanding argumen di atas kertas. Di ruang diskusi kampus, kalau ada teman yang melontarkan generalisasi kasar tentang satu agama, latihan sederhana yang bisa dicoba adalah bertanya balik dengan tenang: "itu berlaku untuk semua orang di agama itu, atau untuk oknum tertentu saja?" — pertanyaan yang sering cukup untuk menghentikan generalisasi tanpa perlu jadi konfrontasi.
Tidak ada satu lensa pun di atas yang cukup sendirian menjelaskan kenapa isu lintas-iman selalu mudah memanas. Yang mungkin lebih jujur untuk diakui: setiap lensa menerangi satu sisi sekaligus menyembunyikan sisi lain, dan kombinasi keempatnya baru memberi gambaran yang agak utuh — meski tetap belum selesai. Pertanyaan yang lebih layak dibawa pulang bukan "lensa mana yang paling benar", tapi "lensa mana yang paling sering saya lupakan saat saya sendiri sedang emosi membaca linimasa."
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya ini soal politik identitas, bukan soal agama? Kenapa dibawa ke kerangka teologis segala?
APolitik identitas memang sering jadi mesin penggerak, tapi kerangka agama tetap relevan karena ia menyediakan standar yang tidak bergantung pada siapa yang sedang diuntungkan secara politis saat itu. Keadilan dalam Islam dituntut berlaku bahkan kepada pihak yang tidak disukai — standar yang lebih berat daripada sekadar loyalitas kelompok.
- Q · 02
Kenapa yang selalu diminta introspeksi itu umat Islam? Giliran ada pihak lain yang intoleran, kok jarang dibahas?
AFokus refleksi ke dalam bukan berarti pihak lain bebas dari tanggung jawab yang sama — itu di luar kendali analisis ini. Tapi secara praktis, satu-satunya perilaku yang benar-benar bisa dikendalikan langsung oleh siapa pun adalah perilakunya sendiri, dan itulah kenapa titik masuknya selalu dari dalam.
- Q · 03
Kalau saya nggak terlalu religius, masih relevan nggak bahas ini pakai kerangka agama?
ARelevan, karena empat lensa yang dibahas berasal dari disiplin berbeda — psikologi, ekonomi media, sejarah, teologi — dan bisa dipakai terpisah maupun bersama. Kerangka teologis di sini berfungsi sebagai satu lensa analitis di antara yang lain, bukan syarat mutlak untuk memahami persoalannya.
- Q · 04
Bukannya kadang kritik dari luar itu valid? Kenapa harus buru-buru dianggap sebagai serangan?
AValiditas sebuah kritik dan nada penyampaiannya adalah dua hal yang berbeda. Kritik yang valid tetap layak didengar meski datang dari luar; yang perlu diwaspadai bukan isinya, melainkan dorongan untuk merespons setiap kritik dengan generalisasi balik yang sama kasarnya.
- Q · 05
Ngomongin kerukunan kayak gini, apa bedanya sama relativisme yang bilang semua agama sama aja?
ABerbeda secara mendasar. Keadilan terhadap yang berbeda tidak menuntut pengakuan bahwa semua keyakinan sama benarnya — ia hanya menuntut perlakuan yang adil kepada orangnya, terlepas dari perbedaan keyakinan itu. Meyakini satu kebenaran secara penuh dan memperlakukan yang berbeda secara adil adalah dua hal yang bisa berjalan bersamaan, bukan saling meniadakan.
