"Empat Lensa Membaca Polemik Agama"
Sepanjang awal September, satu buku yang membingkai praktik keislaman seorang figur publik nasional beredar dan langsung memicu perdebatan luas, termasuk sanggahan dari sebagian kalangan ulama. Yang terjadi setelahnya berlangsung dengan pola yang mudah dikenali oleh siapa pun yang pernah mengamati lini masa: dengan cepat, perdebatan berpindah dari pertanyaan tentang isi menuju pertanyaan tentang keberpihakan, dan pertanyaan tentang keabsahan cara beragama seseorang ikut beredar di dalamnya. Fenomena ini menarik bukan karena kebaruannya — pola serupa berulang setiap kali agama bersinggungan dengan politik — melainkan karena ia memperlihatkan sesuatu tentang cara sebuah masyarakat menyimpan pengetahuan keagamaannya. Artikel ini tidak menilai buku itu, tidak menilai penyusunnya, dan tidak menilai para penyanggahnya. Yang dibongkar adalah mekanismenya, lewat empat lensa yang saling menutupi celah satu sama lain.
Lensa pertama, dari sosiologi identitas. Agama, dalam masyarakat yang terpolarisasi, berfungsi sebagai penanda kelompok sebelum ia berfungsi sebagai sistem keyakinan. Implikasinya, pernyataan keagamaan dibaca terlebih dahulu sebagai sinyal afiliasi: pertanyaan pertama yang muncul di benak pembaca bukan "benarkah ini" melainkan "ini pihak siapa". Celah lensa ini terletak pada determinismenya. Bila keyakinan seluruhnya adalah produk keanggotaan kelompok, tidak ada penjelasan bagi orang yang mengubah pendiriannya justru ketika perubahan itu merugikan kelompoknya sendiri — dan orang semacam itu selalu ada. Pertanyaan yang muncul: apa yang tersisa dari sebuah keyakinan setelah semua fungsi sosialnya dikupas habis?
Lensa kedua, dari ekonomi perhatian. Materi keagamaan yang sampai ke layar tidak diseleksi berdasarkan kekuatan argumennya, melainkan berdasarkan kemampuannya menahan perhatian. Konsekuensinya sistematis: potongan paling emosional beredar paling jauh, nuansa tidak punya nilai distribusi, dan posisi paling berani terlihat paling meyakinkan semata karena paling sering muncul. Celah lensa ini adalah kekeliruan kategori. Ia menjelaskan mengapa sebuah pandangan tersebar, bukan apakah pandangan itu benar; dan bila dipakai berlebihan, ia berubah menjadi alasan yang nyaman untuk membubarkan setiap keberatan sebagai sekadar produk algoritma. Pertanyaan yang muncul: bagaimana membedakan pandangan yang salah dari pandangan yang sekadar tidak menguntungkan secara distribusi?
Lensa ketiga, dari epistemologi otoritas. Setiap tradisi pengetahuan yang panjang menyelesaikan masalah keterbatasan individu dengan mendelegasikan penilaian kepada mereka yang menempuh jalur pelatihan tertentu. Dalam tradisi Islam, delegasi ini punya nama dan mekanismenya sendiri, dari sanad sampai ijazah. Implikasinya, keberatan awam terhadap keputusan lembaga keagamaan tidak otomatis setara dengan keberatan yang lahir dari kajian. Celah lensa ini nyata dan tidak boleh disembunyikan: otoritas bisa dibajak oleh kepentingan, dan seruan "serahkan pada ahlinya" kerap dipakai untuk menghentikan pertanyaan yang sah. Pertanyaan yang muncul: dengan alat apa seseorang menilai otoritas, bila alat penilaian itu sendiri hanya dimiliki oleh otoritas?
Lensa keempat, dari teologi penerimaan. Dalam kerangka ini, posisi manusia terhadap wahyu adalah posisi penerima, bukan perancang; kategori yang dipakai adalah taslim dan qabul, penyerahan dan penerimaan. Konsekuensi metodologisnya cukup tajam: ukuran keabsahan sebuah amalan bukan popularitas penganjurnya, melainkan ada tidaknya tuntunan atasnya — prinsip yang terbaca lugas dalam Riyad as-Salihin 1647, bahwa amalan yang tidak ada tuntunannya tertolak. Lensa ini menjelaskan mengapa penamaan agama dengan sebuah nama personal terasa janggal secara struktural, bukan sekadar tidak sopan. Celahnya justru terletak pada kekuatannya. Ukuran itu tetap membutuhkan manusia yang membaca dan menerapkannya, sehingga perselisihan tidak lenyap — ia hanya berpindah tempat, dari perselisihan tentang siapa yang berwenang menuju perselisihan tentang bagaimana teks dibaca. Pertanyaan yang muncul: apakah sebuah kriteria objektif masih berguna bila penerapannya tidak pernah bisa lepas dari penafsir?
Turunan praktisnya di lingkungan kampus cukup sederhana. Di kos, satu kebiasaan kecil bisa diuji selama sepekan: menunda respons dua jam terhadap setiap konten keagamaan yang memancing emosi, lalu memeriksa apakah dorongan membalasnya masih ada. Di kelas dan di ruang organisasi, perbedaan pendapat keagamaan bisa dipisahkan secara eksplisit dari penilaian atas pribadi — sebuah aturan forum satu kalimat sudah cukup, dan efeknya terlihat pada rapat pertama. Di lingkungan himpunan dan lembaga dakwah kampus, satu sesi bulanan bisa dialokasikan khusus untuk menelusuri sumber satu amalan yang lazim dikerjakan, lengkap dengan kitab dan nomornya, tanpa membahas tokoh mana pun. Di laboratorium dan ruang kerja kelompok, kebiasaan mencantumkan rujukan yang sudah menjadi standar akademik dapat diperlakukan sebagai satu keterampilan yang sama dengan menelusuri dalil — keduanya melatih otot yang identik. Dan untuk keterampilan yang lebih sulit, tersedia latihan yang tidak menyenangkan tetapi efektif: menuliskan argumen terkuat dari pihak yang tidak disetujui, dalam bentuk yang akan diakui adil oleh pihak itu sendiri, sebelum menyusun bantahan.
Ada catatan tambahan yang jarang dibicarakan, dan Nashaihul Ibad — باب العشاري (6/6) menghimpun sebuah nukilan hikmah yang menyinggungnya dengan cara yang mengejutkan langsung: di antara daftar panjang perkara yang dianjurkan untuk ditinggalkan, tercantum cinta kepada kepemimpinan dan permusuhan. Dalam konteks polemik keagamaan yang berlangsung di ruang publik, dua hal itu justru merupakan bahan bakar utamanya — keinginan tampil sebagai pihak yang memimpin penilaian, dan kenikmatan memiliki lawan yang jelas.
Yang tersisa dari keempat lensa itu bukanlah satu jawaban, melainkan sebuah pola. Setiap lensa yang dipilih sebagai lensa utama akan menyisakan celah yang hanya bisa ditutup oleh lensa lain, dan kesadaran atas hal itu adalah satu-satunya hal yang membedakan pembacaan yang matang dari pembacaan yang sekadar berpihak lebih cepat. Persoalannya barangkali bukan menemukan versi agama yang paling benar, melainkan menyadari bahwa kata "versi" itu sendiri sudah merupakan jawaban terhadap pertanyaan yang keliru.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah ini cuma masalah politik yang dibungkus agama? Kenapa dibahas dengan kerangka teologis segala?
ASebagian besar memang politik, dan analisis politiknya sah. Tetapi ada sisa yang tidak habis dijelaskan oleh politik: pertanyaan tentang atas dasar apa sebuah amalan disebut benar tetap berdiri bahkan setelah semua kepentingan politik selesai dihitung. Mengabaikan sisa itu sama saja dengan menganggap tidak ada orang yang benar-benar peduli pada kebenaran — asumsi yang secara empiris juga tidak kuat.
- Q · 02
Kalau kriterianya "ada tuntunannya", bukankah itu cuma memindahkan perdebatan ke soal siapa yang berhak menafsirkan?
ABetul, dan artikel ini menyebutnya sebagai celah lensa keempat. Tetapi memindahkan perdebatan bukan hal sepele. Perdebatan tentang cara membaca teks punya aturan main, jejak literatur, dan cara menilai argumen; perdebatan tentang loyalitas kubu tidak punya satu pun dari ketiganya. Memindahkan persoalan ke ruang yang punya aturan adalah kemajuan, meskipun bukan penyelesaian.
- Q · 03
Bukankah menyeru "jangan menilai iman orang" itu sendiri sebuah cara untuk membungkam kritik terhadap penyimpangan?
AAda risiko itu, dan risikonya nyata. Yang membedakan keduanya adalah objeknya. Menilai sebuah pernyataan atau praktik — apakah ada dasarnya, apakah penalarannya sahih — adalah pekerjaan yang wajar dan diperlukan. Menyimpulkan status keimanan seseorang adalah operasi yang berbeda jenis, membutuhkan pengetahuan tentang batin, dan tidak tersedia bagi siapa pun yang berdiri di luar orang itu.
- Q · 04
Argumen soal ekonomi perhatian terdengar seperti alasan untuk tidak bertanggung jawab. Bukankah manusia tetap yang memilih?
AKeduanya bisa benar sekaligus. Lingkungan yang dirancang untuk memancing reaksi cepat menaikkan biaya untuk bersikap tenang, tanpa menghapus kemungkinan bersikap tenang. Analogi yang lazim dipakai adalah desain jalan: jalan lebar dan lurus menaikkan kecepatan rata-rata pengendara, dan itu tidak membebaskan pengendara yang menabrak. Penjelasan struktural mengurangi rasa heran, bukan mengurangi tanggung jawab.
- Q · 05
Artikel seperti ini biasanya berakhir netral supaya aman. Bukankah netralitas juga sebuah posisi?
ANetralitas memang sebuah posisi, dan artikel ini tidak mengklaim berdiri di luar. Yang dilakukan bukan menahan penilaian atas segala hal, melainkan memilih objek penilaian: mekanisme perdebatan dinilai secara terbuka, sementara status keagamaan individu tidak dinilai karena alatnya memang tidak tersedia. Perbedaan antara netral dan berhati-hati terletak pada apakah alasan pembatasannya dinyatakan atau disembunyikan.
