"Empat Lensa Membaca Perang Layar"
Dalam sepekan terakhir, percakapan tentang eskalasi di sekitar Selat Hormuz dan Teheran kembali memenuhi lini masa Indonesia, berdampingan dengan kabar dari Gaza tentang seratus jenazah yang dievakuasi dari bawah reruntuhan setelah tiga tahun. Namun distribusi perhatian atas dua kabar itu sangat timpang. Materi yang paling banyak ditonton di klaster konflik bukan laporan, melainkan rekaman pribadi seorang tentara bayaran asal Brasil yang merekam tank melintas di perang Rusia–Ukraina untuk akun pribadinya; sementara kabar tentang pemakaman seratus syuhada nyaris tidak bergerak. Timpangnya bukan soal selera individual. Ia gejala struktural yang layak dibedah, dan artikel ini membedahnya lewat empat lensa yang saling menutup celah satu sama lain.
Lensa pertama, ekonomi perhatian. Dalam kerangka ini, kabar bersaing bukan berdasarkan kepentingannya melainkan berdasarkan kemampuannya menahan jempol. Rekaman tank menang karena memberi sensasi kedekatan dengan biaya kognitif nol; kabar pemakaman kalah karena menuntut kesedihan yang tidak menghibur. Implikasinya, urutan kabar yang sampai kepada publik adalah urutan yang disusun oleh insentif platform, bukan oleh urgensi moral. Celah lensa ini: ia menjelaskan mekanismenya tetapi membebaskan penonton dari tanggung jawab, seolah jempol bergerak sendiri. Pertanyaan yang muncul: sejauh mana sebuah insentif eksternal bisa dipakai sebagai alasan atas pilihan yang tetap dilakukan secara sadar setiap malam?
Lensa kedua, fiqih muamalah. Alih-alih memulai dari kategori politik, tradisi fiqih menyediakan kategori yang lebih presisi untuk membaca perampasan: ghashb, yang dirumuskan sebagai penguasaan hak orang lain secara melampaui batas, dengan konsekuensi wajib mengembalikan sekalipun ongkos pengembaliannya berlipat dari nilai barangnya. Lensa ini memindahkan perdebatan dari "siapa yang menang" ke "hak siapa yang belum dikembalikan", sebuah pertanyaan yang tidak bergantung pada hasil pertempuran. Celahnya jelas: kategori yang dirancang untuk sengketa antarindividu tidak otomatis skalabel ke sengketa antarnegara yang melibatkan sejarah panjang dan klaim yang saling bertumpuk. Pertanyaannya: apakah presisi sebuah kategori hukum bertahan ketika ia dipindahkan ke skala yang jauh melampaui rancangan awalnya?
Lensa ketiga, psikologi sosial. Kepastian adalah komoditas yang paling laku di masa krisis, dan judul berhuruf besar menjualnya secara cuma-cuma. Rasa tahu yang diperoleh tanpa pemeriksaan menghasilkan kepercayaan diri yang tidak proporsional terhadap bukti yang dimiliki, dan kepercayaan diri semacam itu berkorelasi dengan permusuhan terhadap yang berbeda pandangan. Gejalanya terlihat pada pergeseran register: ajakan bernada kekerasan beredar sebagai guyonan, sementara catatan teknis dari satuan yang benar-benar menangani pertahanan berjalan sepi. Celah lensa ini: ia cenderung mereduksi seluruh keyakinan politik menjadi bias kognitif, sehingga sikap moral yang sah pun ikut dicurigai. Pertanyaannya: bagaimana membedakan keyakinan yang keliru kalibrasinya dari keberpihakan yang memang punya dasar?
Lensa keempat, teologi pihak ketiga. Al-Qur'an, dalam QS. Al-Hujuraat: 9, tidak berbicara kepada dua kelompok yang berperang melainkan kepada pihak yang menyaksikan, dan kepada pihak itu ia menugaskan islah serta qisth — takaran yang jujur — bahkan setelah kekerasan berhenti. Dalam kerangka ini, penonton bukan kategori netral; ia kategori yang dibebani tugas. Kitab Thalathat al-Usul — ثلاثة الأصول / بسم الله الرحمن الرحيم memuat rumusan Ibn al-Qayyim tentang thaghut sebagai apa pun yang membuat seorang hamba melampaui batasnya — baik sebagai yang disembah, yang diikuti, maupun yang ditaati — dan rumusan itu, dibaca sebagai lensa analitis, menyorot ketaatan tak sadar pada arus yang menentukan apa yang layak dimarahi hari ini. Celahnya: kerangka normatif semacam ini mudah berubah menjadi alasan untuk pasif, karena "mendamaikan" dapat dipakai sebagai nama lain dari tidak bersikap. Pertanyaannya: di titik mana penolakan untuk bersorak berhenti menjadi kejernihan dan mulai menjadi pengecut?
Pada tataran praktis, ada beberapa hal yang terjangkau di ruang kampus. Menetapkan aturan jeda dua puluh empat jam sebelum meneruskan kabar konflik memberi waktu bagi koreksi yang biasanya datang belakangan. Menyusun satu berkas sederhana berisi kabar-kabar yang terbukti keliru sepanjang semester berguna sebagai bahan literasi bagi angkatan berikutnya. Forum jurusan dapat mengundang pengajar hukum internasional dan pengajar fiqih muamalah dalam satu sesi, agar dua kosakata yang biasanya terpisah dipertemukan pada kasus yang sama. Dana solidaritas yang dikumpulkan lembaga kemahasiswaan sebaiknya disalurkan lewat satu lembaga yang menerbitkan laporan publik, dengan pengumuman tertulis dalam dua pekan. Dan di tingkat paling kecil: memeriksa kembali arsip unggahan sendiri, lalu mencabut apa yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sumbernya.
Yang penting bukan menemukan lensa mana yang paling benar. Yang penting adalah menyadari bahwa lensa apa pun yang dipilih sebagai prioritas akan meninggalkan celah yang hanya bisa ditutup lensa lain — dan bahwa kesediaan menahan kesimpulan, di tengah arus yang menjual kepastian secara gratis, adalah bentuk kerja intelektual yang paling tidak populer sekaligus paling dibutuhkan.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah menyerukan "jangan buru-buru menyimpulkan" itu cuma cara halus untuk tidak memihak korban?
AKeberatan ini valid dan sering benar dalam praktik. Bedanya terletak pada apa yang ditunda: menunda kesimpulan tentang detail peristiwa berbeda dari menunda sikap terhadap prinsip. Prinsip bahwa hak yang dirampas wajib dikembalikan tidak menunggu verifikasi lapangan. Yang menunggu verifikasi adalah klaim spesifik tentang siapa melakukan apa pada tanggal berapa.
- Q · 02
Kenapa fiqih harus dibawa-bawa ke isu geopolitik? Bukannya ini ranah hukum internasional?
AKeduanya tidak bersaing. Hukum internasional bekerja pada tataran institusi dan penegakan; kategori fiqih bekerja pada tataran pembentukan sikap seorang Muslim yang tidak punya akses ke institusi itu. Persoalan muncul justru ketika fiqih dipakai untuk mengganti analisis politik, atau sebaliknya.
- Q · 03
Artikel ini menyalahkan penonton, padahal yang punya kuasa itu platform dan negara. Bukankah ini menggeser beban ke pihak yang paling lemah?
ASebagian benar. Beban struktural memang tidak setara. Namun analisis yang meletakkan seluruh sebab di luar diri menghasilkan konsekuensi praktis yang buruk: tidak ada satu pun tindakan yang tersisa untuk dikerjakan. Menyebut tanggung jawab yang kecil bukan berarti menghapus yang besar.
- Q · 04
Apa bedanya seruan semacam ini dengan nasihat moral generik "jangan sebar hoaks"?
APerbedaannya pada objeknya. Seruan generik menyasar informasi palsu; yang dibahas di sini adalah informasi yang mungkin benar tetapi disajikan dalam bentuk yang melatih kepastian tanpa bukti. Kabar yang akurat pun bisa merusak kalibrasi bila dikonsumsi sebagai hiburan.
- Q · 05
Kalau semua orang menahan diri dan sibuk memverifikasi, siapa yang akan bersuara untuk korban?
APertanyaan ini mengasumsikan bahwa suara yang cepat setara dengan suara yang berguna. Dalam banyak kasus yang berulang, koreksi atas klaim yang terburu-buru justru dipakai lawan untuk mendiskreditkan seluruh advokasi. Ketelitian bukan lawan dari keberpihakan; ia prasyaratnya.
