"Empat Lensa Membaca Hukuman Kerumunan"
Pekan ini sebuah unggahan beredar luas: seseorang yang baru saja diserbu komentar menuliskan bahwa ia menangis, cemas, dan kewalahan. Unggahan itu sendiri kemudian ditonton oleh sangat banyak orang. Struktur peristiwanya layak dicermati, sebab ia berulang hampir setiap pekan dengan pemeran yang berganti-ganti. Ada satu sasaran, ada ribuan pengirim, dan tidak ada seorang pun yang merasa menjadi penyebab. Pada pekan yang sama, perkara kekerasan seksual yang masih berjalan menjadi salah satu penarik perhatian terbesar, dengan keterangan pihak terduga korban beredar dalam bentuk rekaman. Dua peristiwa itu tampak berbeda, tetapi bekerja dengan mesin yang sama: penilaian publik bergerak jauh lebih cepat daripada prosedur mana pun yang dirancang untuk menilai. Pertanyaan yang muncul bukan apakah kerumunan digital itu buruk, melainkan mengapa ia begitu efisien menghukum dan begitu lambat memperbaiki.
Lensa pertama — ekonomi perhatian. Platform tidak menjual berita; ia menjual waktu perhatian, dan kemarahan adalah bahan yang paling murah untuk menahan perhatian. Implikasinya, konten yang memancing amarah mendapat subsidi struktural, sementara konten yang menjelaskan dengan sabar harus bersaing tanpa subsidi. Celah lensa ini terlihat ketika ia dipakai sendirian: ia menjelaskan insentif, tetapi tidak menjelaskan mengapa sebagian orang tetap menolak ikut. Kalau semuanya insentif, dari mana datangnya minoritas yang menahan diri?
Lensa kedua — psikologi sosial. Dalam kerumunan, tanggung jawab terbagi sampai terasa nol; setiap pengirim merasa hanya menambah satu baris. Implikasinya, kerusakan bersifat kolektif sementara penyesalan tidak pernah kolektif. Celah lensa ini adalah kecenderungannya memaafkan terlalu banyak: bila semua orang hanya menjadi simpul dalam sistem, maka tidak ada seorang pun yang perlu berubah. Pertanyaan yang muncul: pada titik mana sebuah simpul kembali menjadi pelaku?
Lensa ketiga — hukum acara. Sistem hukum modern menyusun tangga status secara berjenjang — terlapor, saksi, tersangka, terdakwa, terpidana — justru karena manusia diketahui cenderung menyimpulkan terlalu cepat. Implikasinya, melompati tangga itu di ruang publik bukan sekadar kekeliruan tata bahasa, melainkan pemindahan hukuman dari lembaga yang bisa dimintai pertanggungjawaban ke kerumunan yang tidak bisa. Celah lensa ini jelas: prosedur juga bisa dipakai untuk mengulur, dan pihak lemah sering kalah persis karena prosedur. Pertanyaannya, bagaimana menuntut proses berjalan tanpa mengambil alih fungsi menghukumnya?
Lensa keempat — tazkiyatun nafs, penyucian motif. Tradisi Islam meletakkan pemeriksaan niat di hulu, bukan di hilir. Bidayatul Hidayah — الرياء menempatkan kekaguman pada diri sendiri sejajar dengan kekikiran dan hawa nafsu sebagai perkara yang membinasakan, dan menggambarkan dengki memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. Sahih Muslim 144a melengkapinya dengan gambar yang lebih halus: fitnah dipaparkan kepada hati seperti tikar yang dianyam batang demi batang, dan hati yang menyerapnya ditandai satu noktah hitam. Sebagai lensa analitis, keduanya memindahkan pertanyaan dari "apakah kalimat ini benar" ke "apa yang dicari oleh orang yang menuliskannya". Celah lensa ini juga nyata: motif tidak bisa diaudit dari luar, sehingga ia mudah berubah menjadi alat untuk mencurigai lawan bicara. Pertanyaannya, apakah kerangka yang hanya bisa diterapkan pada diri sendiri masih berguna untuk menilai fenomena kolektif?
Beberapa langkah kecil tersedia di lingkungan kampus tanpa perlu menunggu perubahan platform. Di kos, memindahkan pengisi daya gawai ke luar kamar memotong setengah jam terakhir sebelum tidur, jam ketika penilaian paling buruk biasanya dibuat. Di kelas dan di laboratorium, kebiasaan menyebut sumber primer sebelum menyimpulkan bisa dipindahkan ke percakapan daring tanpa biaya tambahan. Di organisasi kemahasiswaan, satu aturan internal sudah cukup mengubah banyak hal: perkara yang menyangkut nama baik anggota tidak dibahas di grup umum, melainkan lewat jalur yang disepakati. Di magang, menahan diri untuk tidak meneruskan tangkapan layar percakapan kantor menghemat karier lebih banyak orang daripada yang terlihat. Dan untuk media kampus, satu kebijakan redaksi sederhana bisa memutus pola paling merusak pekan ini: judul yang berbentuk pertanyaan wajib disertai jawaban sementara di paragraf pertama, atau tidak diterbitkan. Semua langkah itu berukuran kecil justru karena kerusakan yang dilawan juga dibangun dari satuan-satuan kecil.
Yang tersisa bukan kesimpulan, melainkan sebuah ketegangan yang tidak bisa dihapus. Menuntut kerumunan diam akan membiarkan yang lemah tidak terdengar; membiarkan kerumunan menghukum akan memindahkan kekuasaan menghakimi kepada pihak yang tidak menanggung akibat apa pun. Lensa mana pun yang dipilih sebagai prioritas, selalu ada lensa lain yang menunjukkan celahnya. Barangkali yang paling jujur bukanlah memilih satu, melainkan menyadari bahwa kecepatan adalah bagian dari masalahnya, dan kesabaran adalah satu-satunya alat yang tidak disubsidi oleh siapa pun.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah ini masalah sistem? Platform yang dirancang begini, kenapa beban moralnya ditimpakan ke pengguna satuan?
AKeberatan itu sebagian besar benar; desain memang memberi subsidi pada kemarahan. Namun analisis sistem tidak meniadakan pilihan pada titik terkecil. Sistem menaikkan probabilitas, bukan menghapus keputusan. Dan secara praktis, satu-satunya variabel yang benar-benar bisa diubah tanpa izin siapa pun adalah variabel pada titik itu.
- Q · 02
Kalau semua orang menahan diri, perkara yang menimpa pihak lemah akan tenggelam. Bukankah keramaian justru yang membuat kasus diproses?
ABetul, dan tulisan ini tidak menyarankan diam. Yang dibedakan adalah dua tindakan yang sering tertukar: menaikkan perkara agar diproses, dan menyebarkan keterangan pihak yang terluka. Yang pertama menambah tekanan pada lembaga; yang kedua menambah beban pada korban. Keduanya terasa sama saat dikerjakan, tetapi akibatnya berlawanan.
- Q · 03
Kenapa harus pakai kerangka agama? Etika sekuler sudah punya perangkat untuk persoalan ini.
APerangkat sekuler memang memadai untuk menjelaskan kerugian dan hak. Yang ditawarkan tradisi Islam di sini bukan penggantinya, melainkan lapisan yang jarang disentuh: pemeriksaan motif sebelum tindakan, pada wilayah yang tidak bisa diaudit siapa pun. Kerangka mana pun akhirnya berhenti di pintu yang sama — apa yang sesungguhnya dicari oleh orang yang menekan tombol kirim.
