"Hijrah yang Bukan Cosplay"
Pekan lalu hampir seluruh feed kampus dipenuhi ucapan tahun baru hijriah 1448 H — gambar Ka'bah, video pergantian kiswah, kutipan motivasi dari tokoh agama. Tone-nya seragam: ajakan transformasi diri. Tetapi pertanyaan yang jarang diangkat di postingan itu adalah: apa sebenarnya struktur peristiwa hijrah yang kita rayakan? Bukan momen mistis, bukan pula sekadar reset psikologis tahunan. Hijrah Nabi ﷺ adalah perpindahan fisik yang diiringi pendirian sebuah sistem masyarakat baru — Shahifah Madinah, piagam tertulis yang mengatur hubungan antar-suku Anshar, Muhajirin, Yahudi, hingga musyrikin yang masih tinggal di Madinah. Hijrah bukan emosi individual, melainkan rekayasa kelembagaan. Pertanyaannya: kenapa hijrah versi 2026 kita berhenti di ranah simbolik?
Lensa pertama, dari sosiologi agama, hijrah modern terjebak dalam apa yang sering disebut "performative religiosity" — religiositas yang lebih banyak ditampilkan ke depan kamera dibanding dijalankan di balik layar. Perayaan kolektif memberikan kepuasan in-group yang cepat tanpa biaya nyata. Implikasinya, mahasiswa Muslim Indonesia hari ini lebih familiar dengan teknik posting refleksi hijriah dibanding dengan struktur perjanjian Madinah itu sendiri. Tetapi celah lensa ini: tidak semua performativitas kosong. Sebagian post justru menjadi pintu masuk literasi bagi yang sebelumnya pasif. Pertanyaan yang muncul: kapan persisnya simbol berhenti berfungsi sebagai pintu masuk dan mulai menjadi pengganti substansi?
Lensa kedua, dari psikologi kebiasaan, hijrah-sebagai-event mengabaikan temuan dasar bahwa perubahan perilaku jangka panjang dibangun lewat sistem kecil yang berulang, bukan lewat momen besar yang puitis. Setiap penelitian habit formation menunjukkan bahwa identitas baru terbentuk lewat 30-60 hari pengulangan, bukan lewat malam tahun baru. Implikasinya, "resolusi hijriah" yang ditulis sekali setahun memiliki retensi yang setara dengan resolusi tahun baru Masehi — keduanya patah dalam 2-3 minggu. Tetapi celah lensa ini: sebagian momen besar memang menjadi pemicu yang sah untuk perubahan, terutama bagi orang yang belum punya momentum internal. Pertanyaannya: bagaimana memanfaatkan momen besar sebagai trigger sistem kecil, bukan sebagai substitusi sistem?
Lensa ketiga, dari ekonomi politik, gelombang ucapan tahun baru hijriah secara sistematis dimanfaatkan oleh industri konten untuk mempertahankan attention economy. Algoritma platform mendorong format pendek-emosional ("hijrah dimulai dari niat") dibanding format panjang-analitis ("apa konsekuensi struktural hijrah?"). Implikasinya, percakapan publik tentang hijrah terdorong ke ranah affektif dan menjauh dari ranah kelembagaan. Tetapi celah lensa ini: tidak setiap konten pendek itu kosong; sebagian justru destilasi dari pemikiran panjang. Pertanyaannya: di mana garis antara distilasi yang menyiapkan pembaca masuk lebih dalam, dan reduksi yang membuat pembaca tertipu sudah cukup?
Lensa keempat, dari teologi, hijrah dalam pengertian syar'i justru mensyaratkan satu pasangan tindakan: meninggalkan (tark) dan memulai (ibtida'). Hadits Nabi ﷺ yang masyhur mendefinisikan muhajir sebagai "orang yang meninggalkan apa yang Allah larang" — kata kerjanya aktif, kontinyu, individual. QS. Al-Baqara: 278 menggunakan kata dzaru (tinggalkan) untuk riba — verba imperatif, bukan opsi. Implikasinya, hijrah yang otentik secara teologis adalah hijrah yang menyentuh perilaku haram individual (riba, ghibah, pengabaian salat, eksploitasi pekerja) dan mendirikan perilaku wajib individual (tauhid, salat, zakat, ihsan). Tetapi celah lensa ini: pendekatan murni individual mengabaikan dimensi struktural hijrah Nabi ﷺ — yang mendirikan masyarakat, bukan hanya saleh sendiri-sendiri. Pertanyaannya: bagaimana mahasiswa Muslim menyeimbangkan hijrah pribadi yang otentik dengan hijrah struktural yang membentuk lingkungan?
Jawaban praktis untuk mahasiswa hari ini, sebagaimana sering ditegaskan oleh Riyad as-Salihin 1102, terletak pada tiga hal yang Allah ridhai dan tiga hal yang Dia tidak sukai. Yang diridhai: ibadah yang murni, persatuan, dan tidak berpecah belah. Yang tidak disukai: qila wa qala (gosip), banyak bertanya yang tidak perlu, dan idha'atu al-mal (menyia-nyiakan harta). Tiga hal yang tidak disukai itu mengkristal di kehidupan mahasiswa: gosip di grup WA jurusan, cancelling yang menyebar tanpa verifikasi, dan kebiasaan paylater yang mengikis tabungan untuk konsumsi yang tidak diperlukan. Hijrah konkret pekan ini bagi seorang mahasiswa adalah mengaudit satu kebiasaan dari tiga ini — uninstall satu aplikasi paylater, tutup satu grup WA gosip, atau menahan diri dari membagikan satu postingan yang belum diverifikasi. Di tingkat komunitas, bisa berupa membuat satu kesepakatan kecil di organisasi: tidak ada gosip soal anggota di chat grup, atau aturan transparansi finansial yang jelas. Itulah Shahifah versi mahasiswa — piagam mikro yang ditulis, ditandatangani bersama, dan dijalankan dengan konsisten.
Yang penting bukan menemukan resolusi yang sempurna pada malam pertama Muharram, melainkan memahami bahwa hijrah dalam tradisi Nabi ﷺ tidak pernah merupakan acara individual yang berdiri sendiri. Ia adalah perpindahan yang menghasilkan sistem. Selama tahun baru hijriah kita masih berhenti di story IG dan caption refleksi, kita baru menyentuh kulit dari peristiwa besar yang kita rayakan. Substansi hijrah ada di sistem kecil yang kita bangun dan jaga konsistensinya — apakah dalam diri, dalam keluarga, atau dalam komunitas tempat kita tinggal.
Pertanyaan
- Q · 01
"Bukankah ini argumen elitis? Mahasiswa biasa nggak punya kapasitas membangun 'sistem' apa pun. Cukup nggak kalau cuma berniat baik?"
ANiat baik adalah pintu, tetapi pintu yang tidak dilalui tidak membawa ke kamar. Argumen ini bukan tentang membangun lembaga besar. Membangun sistem bisa berarti membuat aturan harian sederhana: jam tidur tetap, jadwal salat yang tidak digeser kuliah, kesepakatan tidak makan sambil scrolling. Skala mikro itu sistem yang sah. Yang elitis justru asumsi bahwa hanya tokoh besar yang bisa "membangun sistem".
- Q · 02
"Kenapa harus selalu lewat lensa Islam? Banyak teman saya yang non-Muslim juga punya etika baik tanpa konsep hijrah."
AArgumen ini valid sebagian — etika tidak monopoli satu tradisi. Tetapi tulisan ini ditujukan ke audiens yang sudah memiliki identitas Muslim dan sedang merayakan hijriah; cocok jika kerangka yang dibawa adalah kerangka internal Islam. Bagi yang punya tradisi etis lain, prinsip "ganti event-thinking dengan system-thinking" tetap berlaku — kata kunci hijrahnya bisa diganti, esensinya tidak.
- Q · 03
"Bukankah membahas paradoks pemuka agama di artikel hijrah justru menambah ketidakpercayaan publik terhadap lembaga Islam?"
AAda risiko itu, dan harus dibedakan dari niat membakar lembaga. Membahas paradoks bukan untuk meruntuhkan, melainkan untuk meningkatkan standar. Lembaga yang tidak boleh dikritik adalah lembaga yang otomatis korup — itu pola umum institusional. Kritik yang sehat justru memperkuat lembaga, asal disampaikan dengan akurasi data dan hormat pada mayoritas yang lurus.
- Q · 04
"Kalau hijrah Nabi adalah membangun Shahifah Madinah, kenapa kita tidak fokus pada politik kelembagaan saja? Bukankah artikel ini terlalu individualistik?"
APertanyaan ini menyentuh tegangan klasik antara *fardh 'ain* (kewajiban individual) dan *fardh kifayah* (kewajiban kolektif) dalam fiqih. Keduanya tidak saling meniadakan. Artikel ini memang condong ke skala individual karena audiensnya mahasiswa di level personal — tetapi sistem mikro yang dibangun individu akan menjadi materi mentah untuk sistem makro yang lebih luas. Tidak ada negara hukum yang lahir dari masyarakat yang tidak teratur di tingkat rumah tangga.
- Q · 05
"Saya nggak rajin salat dan masih banyak utang paylater. Apakah saya berhak ngomong soal hijrah sama sekali?"
APertanyaan ini menyentuh akar kejujuran intelektual. Kekosongan moral tidak menghapus kapasitas untuk merefleksikan. Justru sebaliknya — kesadaran akan jarak antara cita-cita dan praktik adalah pintu masuk hijrah yang otentik. Yang berbahaya bukan orang yang sadar akan kekosongannya dan tetap bicara; yang berbahaya adalah yang merasa sudah lengkap dan tidak punya keinginan bergerak.
