Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Mahasiswa PackLingkungan & BencanaKamis, 18 Juni 2026

“Kalau bumi berbicara di hari kiamat, kira-kira ia akan membela atau mengadukan kita?

Diskusi terbuka. Boleh kamu setujui, boleh kamu bantah — yang penting kamu pikir.

"Bumi yang Diberi Suara"

Senin pagi 16 Juni, tanah di Palu berguncang dengan kekuatan magnitudo 6,7. Satu nyawa tercatat sebagai korban; banyak keluarga di Sulawesi Tengah mengisi malam-malam berikutnya di tenda darurat. Di feed media sosial, gelombang doa, peta titik gempa, dan pertanyaan tentang kesiapsiagaan menyebar dalam hitungan jam. Pada saat hampir bersamaan, dari ruang publik datang ajakan dari sebuah lembaga keagamaan tentang "pertobatan ekologis" — sebuah istilah yang berusaha mengembalikan diskusi krisis lingkungan ke wilayah ruhani. Dua peristiwa ini, gempa dan retorika pertobatan, bukan kebetulan; keduanya menempatkan satu pertanyaan filosofis di hadapan generasi yang sedang membaca artikel ini: bagaimana memikirkan musibah dalam kerangka iman tanpa jatuh ke fatalisme, dan bagaimana memikirkan krisis ekologi tanpa jatuh ke aktivisme sekuler tanpa akar?

Lensa pertama, dari teologi musibah klasik. Tradisi Islam tidak memperlakukan bencana alam sebagai kebetulan kosmologis. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun — kalimat yang muncul di QS. Al-Baqara: 156 — menempatkan kepemilikan ultimate atas semua yang ditimpa musibah pada Allah Ta'ala. Lensa ini memberi ketenangan eksistensial: tidak ada nyawa yang hilang sia-sia, tidak ada rumah yang runtuh tanpa hikmah. Tetapi celah lensa ini adalah ketika ia disalahgunakan untuk membatalkan tanggung jawab kelembagaan: "ini takdir Allah, bukan urusan tata kota". Pertanyaan yang muncul: bagaimana memegang lensa teologis ini tanpa membiarkannya menutup percakapan tentang kelalaian manusia yang memperparah dampak musibah?

Lensa kedua, dari sosiologi bencana. Disiplin ini menunjukkan bahwa "bencana" sebenarnya adalah persimpangan antara peristiwa alam dan kerentanan sosial yang sudah ada sebelumnya. Gempa adalah peristiwa geologis; tetapi rumah yang tidak tahan gempa, jaringan komunikasi yang rapuh, dan ketidaksetaraan akses bantuan adalah produk kebijakan dan struktur. Lensa ini menarik karena ia menyalurkan kemarahan moral ke arah perbaikan struktural. Tetapi celahnya: kalau didorong terlalu jauh, ia menghapus dimensi misteri dan transendensi yang menjadi sumber daya tahan psikologis pada komunitas religius. Pertanyaan yang muncul: bagaimana mengintegrasikan analisis struktural tanpa menjadikan manusia sekadar produk sistem?

Lensa ketiga, dari ekofilosofi kontemporer. Sejak Lynn White dalam esai 1967 "The Historical Roots of Our Ecological Crisis", muncul argumen bahwa kosmologi tertentu memberi izin untuk eksploitasi alam. Beberapa ahli ekologi Islam — Seyyed Hossein Nasr di antaranya — mengajukan kontra-argumen: tradisi Islam memiliki sumber daya konseptual yang kuat untuk istikhlaf (kekhalifahan) dan mizan (keseimbangan). QS. Al-A'raaf: 128 menegaskan bahwa bumi adalah milik Allah, bukan milik manusia — pernyataan yang membatalkan klaim kepemilikan absolut atas alam. Tetapi celah lensa ini: argumen teologis tidak otomatis menerjemahkan ke perilaku. Banyak masyarakat yang secara doktrinal mengakui istikhlaf tetap membuang sampah ke sungai. Pertanyaan yang muncul: apa yang menjembatani antara doktrin dan disposisi etis sehari-hari?

Lensa keempat, dari psikologi moral dan kebiasaan. Pendekatan ini memfokuskan diri pada bagaimana keyakinan menjadi tindakan. Aristoteles menulis bahwa keutamaan bukan tindakan satu kali; ia adalah kebiasaan yang dipraktikkan berulang sampai menjadi disposisi. Dalam tradisi Islam, tazkiyatun nafs berfungsi serupa: penyucian jiwa lewat ritual berulang yang membentuk karakter. Lensa ini menjelaskan kenapa ajakan "pertobatan ekologis" tidak cukup sebagai retorika; ia harus dirancang sebagai praktik berulang yang membangun disposisi. Tetapi celah lensa ini: kalau didorong terlalu individualistis, ia menumpulkan kritik struktural. Pertanyaan yang muncul: bagaimana merancang ritual ekologis yang sekaligus membentuk disposisi pribadi dan menggerakkan tindakan kolektif?

Empat lensa ini, kalau dirangkai, memberi kerangka yang lebih utuh. Teologi musibah memberi ketenangan eksistensial; sosiologi bencana memberi mata untuk struktur; ekofilosofi Islam memberi vokabulari kekhalifahan; psikologi moral memberi mekanisme transformasi disposisi. Tidak satu lensa pun cukup sendirian. Mahasiswa yang sedang membaca artikel ini bisa mencoba: di kos sendiri, mulai pemilahan sampah dengan dua tempat (organik dan anorganik); di kampus, ajukan satu inisiatif kecil ke himpunan jurusan tentang kebiasaan ekologis di lab atau kantin; di forum diskusi mata kuliah filsafat atau studi agama, angkat hubungan antara istikhlaf dan praktik ekologi kontemporer; di rumah orang tua saat pulang, sisipkan satu obrolan tentang asal sampah keluarga dan kemana akhirnya. Bagi yang sedang menulis tugas akhir atau riset, tema ini — Islamic environmental ethics in disaster response — masih relatif kurang dieksplorasi di literatur berbahasa Indonesia dan menyediakan ruang riset yang nyata. Yang penting bukan ukuran inisiatif; yang penting adalah konsistensi praktik yang membentuk disposisi.

Penutup. Bumi, dalam kosmologi Al-Qur'an, akan diberi suara di hari kiamat. Yauma'idzin tuḥaddiṡu akhbārahā — pada hari itu bumi menceritakan beritanya (QS. Az-Zalzalah: 4). Kalau bumi diberi mulut untuk bersaksi tentang generasi sekarang, kira-kira ia akan bercerita tentang penjaganya yang setia atau tentang penghuninya yang lalai? Pertanyaan ini tidak dijawab dalam satu artikel; ia hanya bisa dijawab dalam kebiasaan sehari-hari yang sabar dan konsisten.

Pertanyaan

  1. Q · 01

    Bukankah membicarakan "pertobatan ekologis" itu mendomestifikasi krisis iklim — mengubah masalah struktural menjadi soal moral individu, dan menjauhkan kritik dari korporasi besar yang sebenarnya jadi penyebab utama?

    A

    Pushback ini valid dan harus dihormati. Pertobatan ekologis individual tidak boleh menggantikan tekanan struktural pada aktor besar — itu strawman yang berbahaya. Tetapi keduanya tidak saling mengalahkan: praktik pribadi membangun disposisi yang membuat seseorang lebih konsisten dalam kritik struktural, dan kritik struktural memberi konteks yang menjaga praktik pribadi dari narsisme moral. Yang ditolak adalah retorika individual sebagai pengganti kebijakan; bukan praktik individual sebagai pelengkap kebijakan.

  2. Q · 02

    Argumen *istikhlaf* itu retoris. Banyak negara yang penduduknya mayoritas Muslim justru punya kinerja lingkungan buruk. Bukankah ini menunjukkan ada gap antara doktrin dan praktik yang tidak bisa ditutup dengan kutipan ayat?

    A

    Persis. Gap antara doktrin dan praktik adalah masalah riil dalam semua tradisi besar — bukan eksklusif Islam. Yang menarik untuk dipikirkan: gap itu bukan bukti bahwa doktrin salah, tetapi bukti bahwa mekanisme transmisi doktrin ke praktik belum dirancang dengan baik. Lensa psikologi moral di artikel di atas justru mengangkat persoalan ini — bagaimana ritual berulang membentuk disposisi. Pertanyaan riset yang lebih produktif: institusi apa yang bisa membangun jembatan itu — masjid, sekolah, keluarga, komunitas?

  3. Q · 03

    Apakah teologi sabar tidak berbahaya saat dipakai oleh pemerintah untuk menenangkan korban bencana dan menghindar dari tanggung jawab struktural?

    A

    Risiko itu nyata dan harus dijaga. Sabar dalam Al-Qur'an tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu dipasangkan dengan keadilan, dengan upaya, dengan amar ma'ruf nahi munkar. Sabar tanpa keadilan adalah penyalahgunaan teologis. Tugas penulis dakwah, ulama, dan akademisi adalah menjaga sabar tetap dalam pasangan etisnya — bukan dilepas sebagai sedatif politik.

  4. Q · 04

    Pertanyaan dari sudut sekuler: kenapa harus pakai kerangka teologis untuk membicarakan krisis ekologi? Bukankah etika lingkungan sekuler sudah cukup?

    A

    Etika lingkungan sekuler memang cukup secara argumentatif. Tetapi pertanyaan praktisnya adalah motivasional: apa yang menggerakkan seseorang untuk konsisten dalam praktik ekologis selama puluhan tahun? Untuk sebagian besar manusia, motivasi yang bertahan adalah motivasi yang terikat ke makna ultimate — entah agama, filsafat eksistensial, atau ideologi politik yang dalam. Kerangka teologis bukan pengganti argumen sekuler; ia adalah sumber daya motivasional bagi komunitas yang sudah berakar di dalamnya.

  5. Q · 05

    Mahasiswa kos di Jakarta tidak punya kekuasaan struktural; saran "pisahkan sampah" terdengar kosmetik. Apa yang sebenarnya bisa dilakukan dari posisi marginal?

    A

    Validasi: ya, posisi mahasiswa kos terbatas. Tetapi pengalaman gerakan ekologis menunjukkan bahwa perubahan disposisi mahasiswa adalah investasi jangka panjang dengan dampak lambat tetapi terkumpul. Mahasiswa yang konsisten memilah sampah selama empat tahun kuliah, lalu menjadi profesional, lalu menjadi pengambil keputusan — adalah generasi yang akan menetapkan norma baru di tempat kerja. Yang terdengar kosmetik di tahun pertama menjadi infrastruktur diam-diam dua puluh tahun kemudian.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan

Diskusi Terbuka

Tulis pikiranmu — setuju, ragu, atau bantah. Kami tidak menghakimi.

Komentar disaring otomatis. Konten umpatan, kata kotor, ajakan judi online (judol / slot / gacor), iklan pinjol, link mencurigakan, atau gibberish akan ditahan.

0/500
  • Belum ada yang berdiskusi. Jadilah yang pertama.
Ruang diskusi lain

Lanjut ngobrol di ruang lain

Setiap pekan kami menerbitkan beberapa ruang diskusi mahasiswa. Pilih yang paling menarik — boleh kamu setujui, boleh kamu bantah.

  • TEKNOLOGI & AIBaru

    “Kalau sebuah negara jadi pabrik kecerdasan buatan dunia, siapa yang menulis spesifikasinya?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • PEKERJA & PERTANIAN RAKYATBaru

    “Kalau bantuannya sudah sampai, kenapa yang lapar masih lapar dan yang haus masih haus?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • INSPIRASI & KISAH PRIBADIBaru

    “Kalau info tercepat soal bencana datang dari akun fanbase bus kota, siapa sebenarnya yang layak dipercaya?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • PENDIDIKAN & SDMBaru

    “Kalau pendidikan bisa dibeli, siapa yang menanggung kerugian ketika penjualnya berhenti di tengah jalan?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • PATOLOGI SOSIAL DIGITALBaru

    “Kalau semua orang sudah tahu bandar selalu menang, kenapa antreannya justru makin panjang?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • AQIDAH & IBADAHBaru

    “Kalau agama itu diterima dan bukan dirancang, kenapa tiap kubu merasa punya versinya sendiri?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • KONFLIK & GEOPOLITIKBaru

    “Kalau perang itu jauh, kenapa yang paling ramai justru yang paling ringan isinya?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • SOSIAL & KELUARGABaru

    “Kalau alasan menunda punya anak adalah biaya, kenapa rumah yang mapan pun banyak yang retak?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • EKONOMI & BISNISBaru

    “Kalau harga adalah urusan pasar, kenapa menaikkannya saat orang panik tetap terasa seperti kejahatan?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • LINGKUNGAN & BENCANABaru

    “Kalau semua orang ikut berduka minggu ini, kenapa yang paling menderita justru paling sedikit ditonton?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • PEMERINTAHAN & KEBIJAKANBaru

    “Kalau sebuah keluarga hilang dari daftar, apakah kemiskinannya ikut hilang dari kenyataan?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • KESEHATAN & KEHIDUPANBaru

    “Kalau niat programnya baik dan anggarannya ada, kenapa yang sampai ke piring anak bisa tetap salah?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • HUKUM & KEADILANBaru

    “Kalau berkasnya belum lengkap, kenapa kolom komentar sudah punya vonis?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka