Poster Question
Apa artinya "memukul tongkat niat" pada Asyura 1448 H bagi mahasiswa yang sedang berjuang antara kuliah, idealisme, dan keletihan modern — dan apakah satu hari puasa di tengah semester libur cukup menjadi pintu hijrah personal yang serius?
Artikel
Lensa pertama — Asyura sebagai data historis. Hari ke-sepuluh Muharram adalah salah satu tanggal dengan dokumentasi paling rapi dalam tradisi Ibrahimi. Tradisi puasa pada hari itu sudah dipraktikkan kaum Quraisy jahiliyah jauh sebelum Rasulullah ﷺ diutus — Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari 3831 bahwa Quraisy berpuasa di hari itu, dan Rasulullah ﷺ pun ikut berpuasa sejak di Mekah. Di Madinah, beliau menemukan komunitas Yahudi mengikuti tradisi yang sama, dengan rasional yang berbeda: hari Musa 'alaihissalam diselamatkan dari Firaun. Rasulullah ﷺ menerima rasional itu, mendukungnya dengan teologi tauhid yang sama, dan menambahkan dimensi baru: "Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian" (Sahih Muslim 1130c). Asyura bukan ritual yang diciptakan — ia adalah tradisi yang dimurnikan dan diteruskan dalam jalur kenabian.
Lensa kedua — Asyura sebagai struktur fiqh. Status hukumnya jelas: sunnah, tidak wajib. Tetapi keutamaannya tidak ringan. Bulugh al-Maram 700 dari Abu Qatadah mencatat sabda Rasulullah ﷺ bahwa puasa Asyura menghapus dosa satu tahun yang lampau. Berbeda dari Arafah (dua tahun: lampau dan akan datang), Asyura hanya menghapus yang lampau. Ulama fiqh kontemporer sepakat: yang dimaksud "dosa" di sini adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa besar yang memerlukan taubat khusus (taubat nasuha dengan empat syarat: berhenti, menyesal, bertekad tidak mengulangi, mengembalikan hak orang yang dirugikan). Dimensi sunnah lain yang sering terlupa adalah Tasu'a (9 Muharram). Riwayat Ibnu Abbas dalam Sahih Muslim 1134b mencatat niat Rasulullah ﷺ pada tahun terakhir hayatnya: "Sekiranya aku masih hidup tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan juga." Tujuannya menurut ulama: membedakan praktik Muslim dari Yahudi yang hanya berpuasa hari ke-sepuluh. Pasangan 9-10 menjadi pola yang dianjurkan kuat.
Lensa ketiga — Asyura sebagai fenomena psikososial. Kalender Hijriah berfungsi sebagai struktur ulang terhadap pengalaman waktu. Modernitas memaparkan mahasiswa pada satu kalender dominan — kalender Gregorian, kalender akademik, kalender semester. Kalender Hijriah, jika diaktifkan, memberi axis kedua — sistem koordinat alternatif untuk menempatkan diri dalam waktu. Asyura adalah salah satu titik koordinat paling kuat di axis itu. Penelitian dalam ilmu sosial agama menunjukkan bahwa praktik ritual periodik (puasa, doa harian, peringatan) memiliki efek pada self-continuity — rasa kontinuitas identitas dari masa lalu menuju masa depan. Asyura, dengan kombinasi narasi historis (Musa, Firaun, pembebasan), praktik fisik (puasa), dan rasional teologis (syukur atas keselamatan), berfungsi sebagai anchor point psikologis bagi mahasiswa yang mungkin sedang mengalami fragmentasi identitas akibat tekanan akademik, ekspos lintas-budaya, dan dis-orientasi nilai.
Lensa keempat — Asyura sebagai pertanyaan personal. Pertanyaan poster di awal artikel ini bisa dirumuskan ulang: dapatkah satu hari puasa benar-benar menjadi pintu hijrah personal? Jawabannya tergantung pada bagaimana hari itu dikemas. Asyura yang dijalani sebagai checklist — bangun, niat, puasa, selesai — adalah Asyura yang menghasilkan rahmat tetapi tidak menghasilkan transformasi. Asyura yang dijalani sebagai renungan — dimulai dengan kesadaran bahwa hari ini Allah menyelamatkan kaum yang ditindas dari Firaun, diteruskan dengan pertanyaan apa "Firaun internal" yang masih menindas diri sendiri, diakhiri dengan istighfar dan niat konkret — adalah Asyura yang berpotensi menjadi titik balik. Imam al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah mengingatkan pada bab Adab al-Siyam: puasa adalah pengosongan, bukan sekadar penahanan. Yang dikosongkan bukan hanya lambung, tetapi juga keterikatan pada kebiasaan-kebiasaan yang menarik diri jauh dari Allah. Mahasiswa yang berpuasa Tasu'a dan Asyura tahun 1448 ini, jika menempatkan dua hari itu sebagai retreat tauhid — bukan sebagai ritual rutin — bisa menemukan dirinya keluar dari Mesir-Mesir kecil yang selama ini menahan langkahnya.
