"Bencana yang Bukan Sekadar Takdir"
Pekan ini sebuah pesantren terendam air hingga beberapa meter, dan dalam narasi yang beredar, penyebabnya bukan semata curah hujan ekstrem melainkan hutan di hulu yang telah dibabat untuk perkebunan sawit dan pertambangan. Di saat yang sama, percakapan publik dipenuhi kecemasan tentang pemadaman listrik bergilir dan kerapuhan pasokan energi. Dua peristiwa yang tampak berbeda ini sebenarnya menanyakan satu hal yang sama: sejauh mana sebuah bencana adalah "takdir", dan sejauh mana ia adalah konsekuensi dari pilihan manusia? Pertanyaan ini bukan sekadar perdebatan teologis di ruang kuliah — ia menentukan ke mana kita mengarahkan tanggung jawab.
Lensa pertama, dari teologi: bencana dibaca sebagai qadha dan qadar. Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah, demikian prinsip yang ditegaskan dalam QS. At-Taghaabun: 11. Implikasinya menenangkan — ada makna di balik penderitaan, dan hati yang beriman akan dibimbing. Tetapi celah lensa ini muncul ketika ia dipakai sebagai dalih: jika semua sudah takdir, untuk apa repot memperbaiki tata kelola hutan? Pertanyaan yang muncul: apakah keimanan pada takdir membatalkan kewajiban ikhtiar, ataukah justru menuntutnya?
Lensa kedua, dari ekologi politik: bencana dibaca sebagai produk dari relasi kuasa atas sumber daya. Hutan dibabat karena ada insentif ekonomi, izin yang longgar, dan pengawasan yang lemah; banjir adalah biaya yang ditanggung oleh yang paling tidak diuntungkan dari proses itu. Implikasinya, "bencana alam" sebagian besar adalah bencana yang dirancang oleh keputusan manusia. Celah lensa ini: ia bisa tergelincir menjadi determinisme yang menafikan peran alam sama sekali, seolah setiap longsor pasti ada konspirasi di baliknya. Pertanyaan yang muncul: di mana garis antara kelalaian manusia dan kejadian alam murni?
Lensa ketiga, dari etika lingkungan Islam: konsep istikhlaf — manusia sebagai khalifah, pemegang amanah atas bumi, bukan pemiliknya. Bumi adalah milik Allah yang dipusakakan kepada hamba yang Dia kehendaki, sebagaimana diingatkan QS. Al-A'raaf: 128, dan merusaknya adalah ifsad fil-ardh. Implikasinya, menjaga lingkungan naik status dari "pilihan gaya hidup" menjadi tanggung jawab moral-religius, bahkan fardh kifayah. Celah lensa ini: ia kuat secara normatif tetapi sering lemah secara institusional — prinsip amanah jarang diterjemahkan menjadi mekanisme akuntabilitas yang konkret. Pertanyaan yang muncul: bagaimana sebuah nilai moral diubah menjadi sistem yang mengikat?
Lensa keempat, dari psikologi sosial: bagaimana masyarakat memproses musibah kolektif. Ketika listrik padam atau air naik, respons yang muncul cenderung berkutub — antara fatalisme pasif ("ya sudah, nasib") dan kemarahan yang mencari kambing hitam. Keduanya melepaskan tekanan emosional tetapi tidak menghasilkan tindakan korektif. Celah lensa ini: ia menjelaskan perilaku tetapi tidak otomatis memberi jalan keluar. Pertanyaan yang muncul: adakah sikap ketiga yang menampung kesedihan tanpa melumpuhkan, dan kemarahan tanpa menyalahkan secara membabi buta?
Menariknya, keempat lensa bertemu pada satu titik praktis. Solusi yang masuk akal bagi mahasiswa hari ini bukan memilih satu lensa lalu membuang yang lain, melainkan menempatkannya berurutan: terima bahwa ada dimensi takdir yang tak kita kuasai, lalu bertanggung jawab penuh atas dimensi yang kita kuasai. Di kos, itu bisa berarti audit kecil-kecilan: berapa sampah plastik yang dihasilkan kamar kita seminggu, dan bisakah dipangkas. Di kampus, itu bisa berarti mendorong kantin mengurangi kemasan sekali pakai, atau mengangkat isu tata kelola lingkungan kampus dalam forum jurusan dengan data, bukan slogan. Di organisasi, itu bisa berarti merancang kegiatan tanggap bencana yang berbasis lingkungan terdekat — bukan menunggu bencana besar untuk bergerak. Yang dihindari adalah dua hal: aktivisme tanpa pemahaman, dan pemahaman tanpa tindakan.
Pada akhirnya, perdebatan tentang "takdir atau ulah manusia" mungkin salah dibingkai sejak awal. Mukmin yang matang tidak memilih satu di antara keduanya; ia memegang dua tali sekaligus — menyerahkan hasil kepada Allah sambil menanggung penuh tanggung jawab atas sebab. Yang penting bukan menemukan jawaban final atas siapa yang harus disalahkan, melainkan menyadari bahwa setiap lensa yang dipilih sebagai prioritas akan selalu menyisakan celah yang ditutupi oleh lensa lain.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah ini cuma cara halus menyalahkan korban? Orang yang rumahnya kebanjiran kan nggak nebang hutan sendiri.
APushback yang valid, dan harus dijaga. Membaca bencana sebagai konsekuensi struktural justru menunjuk ke pengambil keputusan dan sistem insentif, bukan ke korban. Bahaya menyalahkan korban muncul ketika analisis dipersempit ke perilaku individual yang lemah daya tawarnya. Maka analisis yang jujur memisahkan dua hal: tanggung jawab proporsional dengan kuasa, dan solidaritas yang tak bersyarat kepada yang tertimpa.
- Q · 02
Kenapa harus pakai kerangka agama? Bukankah analisis lingkungan bisa berdiri sendiri secara ilmiah?
ABisa, dan memang seharusnya berbasis data. Tetapi kerangka *istikhlaf* tidak menggantikan sains; ia menambahkan lapisan motivasi dan akuntabilitas moral yang sains tidak sediakan. Sains menjelaskan bagaimana banjir terjadi; etika menjelaskan mengapa kita wajib peduli. Keduanya saling melengkapi, bukan bersaing.
- Q · 03
Audit sampah di kamar kos terdengar remeh dibanding korporasi yang membabat ribuan hektar. Apa bukan pengalihan isu?
ASkala memang timpang, dan itu nyata. Tindakan individual bukan pengganti reformasi kebijakan. Tetapi keduanya tidak saling meniadakan: konsistensi pada skala kecil membangun kredibilitas dan kebiasaan yang dibutuhkan untuk menuntut perubahan besar. Orang yang menuntut akuntabilitas korporasi sambil acuh pada jejaknya sendiri kehilangan sebagian daya argumennya.
- Q · 04
Kalau semua sudah ditakdirkan Allah, bukankah ikhtiar lingkungan jadi sia-sia secara teologis?
AJustru sebaliknya. Dalam kerangka ini, ikhtiar adalah bagian dari takdir itu sendiri, bukan lawannya. Manusia tidak diminta mengetahui takdir lebih dulu lalu bertindak; ia diminta berusaha maksimal, lalu menyerahkan hasil. Fatalisme yang melumpuhkan justru bukan ajaran tentang takdir, melainkan kesalahpahaman atasnya.
- Q · 05
Bagaimana kalau saya setuju secara intelektual tapi tetap apatis dalam praktik? Apa gunanya analisis ini?
AItu kondisi yang jujur dan banyak dialami. Gunanya analisis bukan untuk langsung mengubah perilaku, melainkan menutup pintu pembenaran. Apatisme yang sadar lebih rapuh daripada apatisme yang merasa benar. Kesenjangan antara tahu dan bertindak adalah ruang yang biasanya digeser bukan oleh argumen besar, melainkan oleh satu langkah kecil yang dijalankan konsisten.
