"Ekonomi Layar dan Logika Untung Instan"
Sebuah keinginan ganjil ramai pekan ini di ruang percakapan digital: bukan sekadar keluhan korban pinjaman online dan judi daring, melainkan hasrat terang-terangan untuk menempuh cara apa pun demi uang — bahkan membayangkan diri sebagai pelaku, bukan korban. Fenomena ini menarik justru karena ia tampak tidak rasional. Setiap orang yang sedikit melek matematika tahu bahwa rumah judi dirancang untuk menang dalam jangka panjang, dan setiap peminjam tahu bunga berbunga akan mencekik. Lalu mengapa jutaan orang tetap masuk? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab hanya dengan moralisme "jangan serakah". Ia menuntut pembacaan berlapis.
Lensa pertama, dari ekonomi perilaku. Manusia secara sistematis melebih-lebihkan peluang menang kecil dan meremehkan kerugian yang pasti. Arsitektur aplikasi judol mengeksploitasi bias ini: kemenangan kecil sesekali memberi sentakan dopamin yang membuat otak mengabaikan akumulasi kekalahan. Implikasinya, persoalan ini bukan semata kelemahan moral individu, melainkan desain sistem yang sengaja membajak cara kerja otak. Tetapi celah lensa ini jelas: jika semua direduksi menjadi mekanisme otak, ke mana perginya tanggung jawab pribadi? Pertanyaan yang muncul: apakah desain yang menjebak menghapus pilihan, atau hanya mempersulitnya?
Lensa kedua, dari sosiologi ketimpangan. Untung instan paling memikat mereka yang merasa pintu naik kelas lewat jalan normal sudah tertutup — upah stagnan, biaya hidup melonjak, mobilitas sosial macet. Judol dan pinjol menjual harapan kepada yang kehabisan harapan. Implikasinya, akar persoalan ada pada struktur ekonomi yang timpang, bukan sekadar individu yang khilaf. Namun celah lensa ini juga ada: jika semua disalahkan pada struktur, mengapa banyak orang dalam kondisi sulit yang sama justru menolak jalan itu? Pertanyaannya: sejauh mana keadaan membentuk pilihan, dan sejauh mana ia sekadar dijadikan alasan?
Lensa ketiga, dari teologi harta dalam Islam. Tradisi Islam menamai untung tanpa kerja yang sepadan sebagai maysir, dan tambahan tanpa pertukaran nilai sebagai riba — keduanya dikategorikan sebagai memakan harta secara batil. Yang menarik, larangan ini bukan sekadar aturan, melainkan diagnosis: ia menempatkan keserakahan, syuh, sebagai penyakit yang membinasakan masyarakat sebelumnya. QS. Al-Baqara: 188 mengingatkan tentang larangan memakan harta dengan jalan batil sebagai prinsip muamalah yang mendasar. Implikasinya, persoalan harta selalu sekaligus persoalan jiwa. Tetapi celah lensa ini bagi pembaca sekuler: bukankah ini sekadar memindahkan otoritas dari pasar ke kitab? Pertanyaannya: dapatkah sebuah larangan etis bertahan tanpa kerangka transendental yang menopangnya?
Lensa keempat, dari psikologi kepuasan. Inti persoalan mungkin bukan uang, melainkan rasa cukup yang tergerus. Ekonomi layar bekerja dengan membuat setiap orang merasa selalu kurang — kurang kaya, kurang cepat, kurang berhasil. Dalam kondisi defisit kepuasan permanen ini, jalan pintas apa pun terasa rasional. Implikasinya, solusi sejati ada pada rekonstruksi standar "cukup", bukan sekadar penindakan aplikasi. Celah lensa ini: bukankah "merasa cukup" bisa menjadi dalih untuk pasrah pada ketidakadilan? Pertanyaan terakhir: di mana garis antara qana'ah yang memerdekakan dan resignasi yang melumpuhkan?
Apa yang bisa dilakukan mahasiswa hari ini, di kos, di kelas, di organisasi? Pertama, audit dompet digital sendiri — periksa apakah ada paylater atau pinjol yang diam-diam mencicil bunga, dan susun rencana pelunasan. Kedua, di grup angkatan, hentikan kebiasaan meneruskan tautan "cuan cepat" atau rekomendasi pinjol; menjadi perantara adalah bentuk keterlibatan. Ketiga, bagi yang punya keterampilan literasi keuangan, buat satu utas atau sesi ringkas yang membongkar matematika judol secara jujur — bukan ceramah, melainkan data. Keempat, bangun budaya saling pinjam tanpa bunga di lingkup kecil, satu kontrakan atau satu organisasi, sebagai bukti bahwa qardh hasan bukan utopia.
Pada akhirnya, pertanyaan poster di awal mungkin tidak menuntut jawaban tunggal. Yang penting bukan menemukan satu sebab final dari fenomena untung instan, melainkan menyadari bahwa setiap lensa — otak, struktur, teologi, kepuasan — menerangi satu sisi sambil menggelapkan sisi lain. Mungkin justru di titik temu keempatnya, di mana desain sistem bertemu ketimpangan, dan keserakahan bertemu hilangnya rasa cukup, persoalan ini menjadi paling jujur untuk dibaca.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya ini murni masalah regulasi? Tutup saja aplikasinya, selesai.
ASebagian benar — penindakan platform memang perlu dan mendesak. Tapi aplikasi yang ditutup muncul lagi dengan nama baru dalam hitungan hari, karena permintaannya masih ada. Regulasi memotong pasokan; ia tidak menyentuh permintaan yang lahir dari ketimpangan dan defisit rasa cukup. Tanpa menggarap sisi permintaan, ini jadi permainan tutup-buka yang tak berujung.
- Q · 02
Kenapa harus pakai kerangka agama untuk masalah ekonomi modern?
ABukan keharusan, melainkan satu lensa di antara lensa lain. Yang menarik, diagnosis Islam tentang riba dan maysir ternyata beririsan dengan temuan ekonomi perilaku tentang bahaya untung tanpa kerja. Boleh saja menolak kerangka transendentalnya, tapi mengabaikan diagnosis yang konvergen dengan data empiris justru tidak ilmiah.
- Q · 03
Apa bedanya nasihat "jangan judol" ini dengan moralisme generik yang gampang diabaikan?
APerbedaannya pada penolakan menyederhanakan. Moralisme generik berhenti di "itu dosa, jangan". Pembacaan berlapis mengakui bahwa orang masuk judol karena desain sistem, tekanan struktural, dan hilangnya rasa cukup — sehingga solusinya pun berlapis, bukan sekadar imbauan. Mengakui kompleksitas adalah lawan dari moralisme dangkal.
- Q · 04
Bukankah menyalahkan "rasa tidak cukup" itu cara halus menyalahkan korban yang memang miskin?
AItu risiko nyata, dan perlu kehati-hatian. Membedakan dua hal penting: kebutuhan riil orang miskin adalah soal keadilan struktural yang tidak boleh diceramahi dengan "bersyukurlah". Yang dibahas di sini adalah defisit kepuasan yang diproduksi ekonomi layar pada semua kelas, termasuk yang berkecukupan. Keduanya berbeda dan tidak boleh dicampur.
- Q · 05
Saya sendiri tidak religius — apakah prinsip ini masih relevan buat saya?
ARelevansinya tidak bergantung pada keyakinan personal. Prinsip bahwa untung tanpa kerja yang sepadan merusak — baik individu maupun masyarakat — bisa diuji secara empiris lewat data kebangkrutan dan kerusakan rumah tangga akibat judol. Kerangka religius menamainya dengan istilah tertentu; tetapi pola kerusakannya teramati lintas keyakinan.
