"Toleransi Tanpa Mencairkan Iman"
Setiap kali isu lintas-iman naik ke permukaan, linimasa berubah menjadi medan tempur. Pekan ini pun begitu: perdebatan tentang rumah ibadah, isu orientasi seksual, dan keberagaman beragama kembali memantik adu mulut yang lebih banyak panasnya ketimbang terangnya. Yang menarik untuk dianalisis bukan substansi tiap perdebatan, melainkan satu paradoks: semakin sering kata "toleransi" diucapkan, semakin sering pula ia berakhir dalam pertengkaran. Mengapa konsep yang seharusnya mendamaikan justru menjadi sumber gesekan? Jawabannya mungkin terletak pada bagaimana toleransi itu sendiri dipahami. Ada beberapa lensa yang bisa membantu membongkar persoalan ini, dan masing-masing menyimpan celahnya sendiri.
Lensa pertama, dari filsafat liberal, memahami toleransi sebagai penangguhan penilaian: semua keyakinan diperlakukan sama-sama valid, dan tidak ada yang berhak mengklaim kebenaran. Implikasinya, perbedaan diredam dengan relativisme. Tetapi celah lensa ini tampak ketika diuji: jika semua keyakinan sama validnya, maka tidak ada lagi alasan untuk meyakini apa pun secara sungguh-sungguh, dan paradoksnya, orang yang teguh pada keyakinannya justru dianggap intoleran. Pertanyaan yang muncul: mungkinkah toleransi sejati menuntut kita untuk berhenti meyakini?
Lensa kedua, dari sosiologi, melihat toleransi sebagai mekanisme menjaga ketertiban sosial — sekadar gencatan senjata antarkelompok demi stabilitas. Implikasinya, hidup berdampingan menjadi soal manajemen konflik, bukan soal nilai. Celahnya: gencatan senjata yang tidak berakar pada penghormatan akan runtuh begitu tekanan datang, sebagaimana terlihat ketika satu isu sensitif cukup untuk membakar kembali permusuhan lama. Apakah koeksistensi yang hanya bertumpu pada kalkulasi stabilitas cukup kuat menahan badai?
Lensa ketiga, dari teologi Islam, menawarkan model yang berbeda. Toleransi di sini tidak menuntut peleburan keyakinan; ia justru berdiri di atas kejelasan akidah. Prinsip lakum dinukum waliya din menarik garis tegas antar-keyakinan, sementara prinsip qisth — keadilan — dan birr — kebaikan — mengatur interaksi sosial yang adil dengan semua orang. QS. Al-Mumtahana: 8 menegaskan bahwa berbuat baik dan adil kepada yang hidup damai adalah perintah, bukan konsesi. Celah lensa ini, bagi pembaca sekuler, adalah bahwa ia menolak relativisme: ia tetap mengklaim kebenaran. Tetapi justru di situ letak kekuatannya — ia jujur. Pertanyaannya: bukankah toleransi yang jujur tentang perbedaan lebih jujur daripada toleransi yang berpura-pura tidak ada perbedaan?
Lensa keempat, dari psikologi sosial, mengamati bahwa kekasaran dalam debat agama sering berasal dari rasa tidak aman, bukan dari keyakinan yang kuat. Orang yang akidahnya rapuh cenderung defensif dan agresif; orang yang kokoh cenderung tenang. Implikasinya, agresi daring bukan tanda iman yang kuat, melainkan gejala kerapuhan yang dikompensasi. Celahnya: lensa ini bisa menjadi cara mudah untuk mendiskreditkan lawan tanpa menanggapi argumennya. Namun ia menyodorkan pertanyaan reflektif: ketika kita merasa terdorong menghujat di kolom komentar, apa sebenarnya yang sedang kita pertahankan — kebenaran, atau ego?
Ranah penerapannya bagi mahasiswa cukup banyak, dan semuanya konkret. Di grup angkatan, ketika ada pesan provokatif tentang agama lain, pilihan untuk tidak meneruskannya dan tidak menambahkan komentar yang memperkeruh adalah bentuk disiplin yang nyata. Di ruang diskusi kelas, ketika topik keberagaman muncul, kemampuan merumuskan ketidaksetujuan tanpa menyerang pribadi adalah keterampilan yang bisa dilatih. Di kos atau kontrakan dengan penghuni berbeda keyakinan, kebiasaan kecil seperti menjaga ketenangan saat orang lain beribadah adalah bentuk qisth yang nyata. Dan dalam aktivitas menulis di media sosial, satu aturan sederhana berlaku: menunda tiga detik sebelum mengetik balasan yang dipicu emosi, lalu menimbang apakah kalimat itu menerangi atau membakar.
Pada akhirnya, yang penting bukanlah menemukan rumusan toleransi yang memuaskan semua pihak, melainkan menyadari bahwa setiap model toleransi memikul beban asumsinya sendiri. Model yang meleburkan perbedaan kehilangan kejujuran; model yang sekadar mengelola konflik kehilangan akar; dan model yang berakar pada keyakinan yang jelas harus berani menanggung tuduhan tidak relativis. Mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan "agama mana yang benar" di ruang publik, melainkan "bagaimana kita berlaku adil kepada yang kita yakini keliru" — sebuah pertanyaan yang justru menuntut keyakinan, bukan ketiadaannya.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah mengklaim agama sendiri benar itu sendiri sudah bentuk intoleransi?
ASebagian benar jika klaim itu lalu dipakai untuk memaksa atau merendahkan. Tapi klaim kebenaran dan sikap toleran adalah dua hal berbeda. Seseorang bisa meyakini agamanya benar sambil tetap memperlakukan yang berbeda dengan adil. Yang intoleran bukan keyakinannya, melainkan pemaksaannya. Justru relativisme yang memaksa semua orang berhenti meyakini bisa jadi bentuk intoleransi yang lebih halus.
- Q · 02
Kenapa harus pakai dalil agama untuk bicara toleransi? Bukankah itu malah memperkeruh ruang publik yang plural?
APertanyaan yang adil. Tapi dalil di sini bukan dipakai untuk memaksa orang lain, melainkan untuk menjelaskan dari mana seorang Muslim menarik motivasinya untuk bersikap adil. Justru ketika seseorang berlaku baik karena keyakinannya, sikap itu lebih kokoh daripada sekadar mengikuti norma sosial yang bisa berubah. Ruang publik tidak keruh karena ada keyakinan; ia keruh karena ada pemaksaan.
- Q · 03
Bukankah ini cuma cara halus untuk bilang "agama lain salah tapi kita sopan aja"?
AItu pembacaan yang jujur, dan tidak sepenuhnya keliru. Islam memang meyakini dirinya benar — itu fakta teologis yang tidak disembunyikan. Bedanya, keyakinan itu tidak diterjemahkan menjadi izin untuk merendahkan. Kesopanan di sini bukan topeng, melainkan konsekuensi etis dari keyakinan itu sendiri. Lebih jujur mengakui perbedaan sambil bersikap adil daripada berpura-pura tidak ada perbedaan.
- Q · 04
Kalau toleransi Islam melarang ikut ritual agama lain, bukankah itu eksklusif?
AEksklusif dalam ibadah, inklusif dalam muamalah — dua ranah yang berbeda. Tidak ikut ritual agama lain adalah soal menjaga garis akidah, bukan soal menolak orangnya. Dalam interaksi sosial, ekonomi, dan kemanusiaan, justru keterlibatan dianjurkan. Hampir semua tradisi keagamaan punya batas ritual internalnya sendiri; yang membedakan adalah apakah batas itu disertai keadilan sosial atau tidak.
- Q · 05
Saya sendiri nggak terlalu religius. Apa prinsip ini masih relevan buat saya?
ASangat relevan, karena inti argumennya bisa berdiri tanpa premis teologis: berlaku adil kepada orang yang kamu anggap keliru adalah ujian kematangan, bukan kesalehan semata. Entah kamu menariknya dari iman atau dari etika sekuler, kemampuan menahan diri dari menghina dan tetap adil adalah keterampilan sipil yang langka dan berharga di ruang publik hari ini.
