"Ketika Harta Menjadi Ukuran Segalanya"
Pekan ini beredar sederet kabar yang, kalau dibaca berdampingan, membentuk potret ekonomi yang timpang. Ada skema potongan baru pada pencairan Jaminan Hari Tua yang membuat pekerja gelisah. Ada keluarga yang berutang untuk menutup utang pinjaman online. Ada seorang lansia yang kehilangan tabungan besar akibat penipuan investasi berbasis teknologi. Dan ada tiga karyawan percetakan yang ditemukan disekap. Di sisi lain, ada juga kabar cerah: pelaku usaha kecil yang produknya menembus pasar dunia dari modal ratusan ribu rupiah. Pertanyaannya, apakah ekonomi yang kita bangun mengukur keberhasilan dari angka pertumbuhan saja, atau juga dari seberapa aman posisi yang paling lemah? Ini bukan pertanyaan retoris — ini pertanyaan yang menentukan arah kebijakan dan arah nurani sekaligus.
Lensa pertama datang dari ekonomi arus utama. Argumennya: pasar yang efisien akan memaksimalkan kesejahteraan agregat; biarkan modal mengalir ke tempat yang paling produktif, dan kemakmuran akan menetes ke bawah. Implikasinya, penipuan dan jerat utang dianggap sebagai kegagalan informasi yang bisa diperbaiki dengan literasi dan regulasi. Tetapi celah lensa ini terlihat jelas: efisiensi agregat bisa hidup berdampingan dengan penderitaan individu. Pertumbuhan bisa mencatat rekor sementara seorang nenek kehilangan seluruh simpanannya. Pertanyaan yang muncul: kalau kesejahteraan diukur dari rata-rata, siapa yang bertanggung jawab atas yang berada di ekor distribusi?
Lensa kedua datang dari sosiologi. Argumennya: jeratan pinjol dan penipuan investasi bukan sekadar kesalahan individu, melainkan produk dari struktur — ketimpangan akses keuangan, tekanan konsumsi digital, dan kerapuhan jaring pengaman sosial. Implikasinya, menyalahkan korban adalah kekeliruan; yang perlu diubah adalah sistemnya. Namun celah lensa ini juga ada: bila semua tanggung jawab dialihkan ke struktur, ruang bagi tanggung jawab moral personal bisa menyusut sampai nol. Pertanyaan yang muncul: mungkinkah kita mengakui kesalahan struktur tanpa memaafkan keputusan buruk yang tetap ada di tangan individu?
Lensa ketiga datang dari psikologi perilaku. Argumennya: manusia bukan kalkulator rasional; kita rentan pada bias — FOMO, iming-iming untung cepat, dan rasa aman semu dari otoritas palsu yang kini bisa dipalsukan lewat suara dan wajah buatan. Implikasinya, edukasi kognitif dan jeda sebelum bertransaksi lebih efektif daripada sekadar aturan. Tetapi celah lensa ini muncul saat ia berdiri sendiri: memperbaiki bias individu tidak menyentuh insentif pihak yang sengaja mengeksploitasi bias itu. Pertanyaan yang muncul: sejauh mana kita bisa "melatih" nurani konsumen tanpa juga menuntut nurani produsen?
Lensa keempat datang dari etika ekonomi Islam. Di sini, harta bukan tujuan akhir, melainkan amanah — sesuatu yang dititipkan dan akan dipertanggungjawabkan. Prinsip hifz al-mal, menjaga harta, berlaku dua arah: menjaga harta sendiri dari sia-sia, sekaligus menjaga harta orang lain dari dijarah. Larangan riba dalam QS. Aal-i-Imraan: 130 dapat dibaca sebagai lensa analitis: ia menandai bahwa penggandaan kekayaan lewat penderitaan pihak lemah adalah cacat moral, bukan sekadar risiko pasar. Larangan akl amwal an-nas bil-bathil dalam QS. Al-Baqara: 188 memperluasnya ke seluruh perolehan yang batil — dari manipulasi sampai penindasan buruh. Celah lensa ini, jika tidak hati-hati, adalah godaan menjadikannya slogan tanpa mekanisme; prinsip yang indah bisa mandek bila tidak diterjemahkan ke praktik konkret. Pertanyaan yang muncul: bagaimana prinsip amanah bisa berhenti menjadi khotbah dan mulai menjadi desain kelembagaan?
Lalu apa yang bisa dilakukan seorang mahasiswa hari ini, di kos, di kelas, di organisasi? Pertama, di lingkaran pertemanan, bangun kebiasaan "jeda 24 jam" sebelum ikut skema investasi apa pun yang dibawa teman — dan bantu verifikasi legalitasnya bersama-sama. Kedua, di kampus, jadikan literasi keuangan sebagai bahan diskusi jurusan, bukan seminar sekali jadi; kaitkan dengan data konkret jeratan pinjol di kalangan mahasiswa. Ketiga, jika aktif di organisasi yang memegang kas, terapkan transparansi sederhana — catatan masuk-keluar yang bisa diaudit siapa saja — sebagai latihan amanah paling dasar. Keempat, dukung UMKM kampus atau tetangga kos dengan membeli dan mempromosikan, bukan sekadar mengasihani. Kelima, jika ada teman yang terjerat utang, temani mencari jalan keluar tanpa menghakimi; penghakiman hanya mendorong ia bersembunyi sampai masalahnya membesar.
Yang penting bukan menemukan lensa mana yang paling benar, melainkan menyadari bahwa setiap lensa menutupi celah lensa yang lain. Pasar melihat efisiensi tapi buta pada yang di ekor; struktur melihat sistem tapi bisa melarutkan tanggung jawab; psikologi melihat bias tapi lupa insentif; etika melihat amanah tapi bisa berhenti di slogan. Mungkin kejujuran intelektual yang dituntut zaman ini adalah kesediaan memegang keempatnya sekaligus — dan mengakui bahwa ekonomi yang manusiawi lahir bukan dari satu prinsip tunggal, melainkan dari ketegangan yang dijaga dengan sadar.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah ini masalah regulasi dan penegakan hukum, bukan urusan moral personal? —
ASebagian benar; tanpa regulasi yang kuat, nurani individu memang mudah kalah. Tetapi regulasi ditulis, ditegakkan, dan dilanggar oleh manusia. Menaruh semua harapan pada sistem sambil membiarkan nurani kosong hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Keduanya bekerja bersama, bukan bergantian.
- Q · 02
Kenapa harus membawa-bawa agama ke persoalan ekonomi modern yang jelas sekuler? —
AKarena etika ekonomi Islam di sini tidak diajukan sebagai fatwa penutup, melainkan sebagai satu lensa analitis di antara lensa lain. Ia menawarkan kosakata soal amanah dan keadilan yang kebetulan relevan. Menolaknya hanya karena berasal dari tradisi agama sama tidak kritisnya dengan menerimanya tanpa alasan.
- Q · 03
Apa bedanya artikel ini dengan moralisme generik "jadilah orang jujur"? —
AMoralisme generik berhenti pada imbauan. Artikel ini justru menunjukkan bahwa imbauan tanpa mekanisme akan mandek — itulah celah lensa etika yang diakui terbuka. Bedanya ada pada tuntutan agar prinsip diterjemahkan ke desain kelembagaan yang bisa diaudit, bukan sekadar dirasakan.
- Q · 04
Bukankah menyalahkan korban penipuan itu tidak adil, sementara artikel ini seolah menuntut kewaspadaan mereka? —
AJustru lensa sosiologi dan psikologi di atas menolak menyalahkan korban. Menuntut kewaspadaan bukan berarti menyalahkan yang tertipu; ia berjalan seiring dengan tuntutan agar pihak yang mengeksploitasi dihentikan. Tanggung jawab tidak berpindah dari pelaku ke korban hanya karena korban diminta berhati-hati.
- Q · 05
Saya sendiri tidak terlalu religius — apakah prinsip amanah ini masih berlaku buat saya? —
AKonsep amanah bisa dibaca lintas keyakinan sebagai tanggung jawab atas apa yang dititipkan kepada kita: kas organisasi, kepercayaan teman, hak orang yang lebih lemah. Kerangka religius memberinya kedalaman tertentu, tetapi praktiknya — transparansi, tidak menjarah yang batil, menjaga yang rentan — bisa dipegang siapa pun.
