"Romantisme Kisah Inspiratif dan Celahnya"
Setiap pekan, timeline dipenuhi kisah-kisah yang mengharukan: guru yang mengabdi empat dekade dengan gaji tak layak, penjual koran yang setengah abad setia pada pekerjaan yang sekarat, ibu-ibu yang menyisihkan dua ribu rupiah sampai bisa memperbaiki ratusan rumah, anak penjual kerupuk yang lolos seleksi nasional tanpa malu berdagang. Kita menontonnya, kita terharu, kita bagikan. Lalu kita lanjut scroll. Ada pola menarik yang jarang dipertanyakan di balik derasnya konten inspiratif ini: ia hampir selalu merayakan ketabahan individu, tetapi nyaris tidak pernah menyentuh struktur yang membuat ketabahan itu perlu. Guru itu dipuji karena bertahan empat puluh tahun; jarang ada yang bertanya kenapa gajinya bisa serendah itu selama empat puluh tahun.
Lensa pertama, dari sosiologi: kisah inspiratif berfungsi sebagai katup emosional. Ia memberi publik rasa hangat dan harapan tanpa menuntut perubahan apa pun. Implikasinya, semakin banyak kisah "orang kecil yang tetap bertahan", semakin nyaman masyarakat menerima ketidakadilan sebagai lanskap yang normal. Tetapi celah lensa ini jelas: tidak semua kisah ketabahan adalah pembiusan. Ada kisah yang justru membangkitkan solidaritas nyata — donasi mengalir, kebijakan dievaluasi. Pertanyaan yang muncul: kapan sebuah kisah menghibur, dan kapan ia menggerakkan?
Lensa kedua, dari ekonomi: romantisasi kemiskinan menggeser tanggung jawab dari sistem ke individu. Kalau seorang guru bisa "ikhlas" dengan gaji rendah, maka gaji rendah itu seolah bukan lagi masalah yang harus diperbaiki. Implikasinya berbahaya — kesabaran dijadikan alasan untuk menunda keadilan. Namun ada celah: menuntut struktur berubah tidak otomatis mengharuskan kita meremehkan ketabahan individu. Keduanya bisa berjalan bersama. Pertanyaannya, apakah mengapresiasi kesabaran seseorang berarti melegitimasi ketidakadilan yang menimpanya?
Lensa ketiga, dari teologi Islam: konsep sabar dalam Islam bukanlah pasrah pasif. QS. Al-Baqara: 155 menyandingkan ujian dengan "kabar gembira bagi orang yang sabar" — tetapi sabar di sini adalah keteguhan yang tetap aktif berikhtiar, bukan penerimaan tanpa perlawanan. Dalam kerangka amanah dan adl, membiarkan seorang guru dibayar tidak layak justru merupakan pengabaian tanggung jawab kolektif. Implikasinya, iman yang benar tidak melarang kita memperbaiki keadaan; ia mewajibkannya sebagai fardh kifayah. Celah lensa ini: prinsip ini sering dikutip selektif — dipakai untuk menuntut kesabaran korban, jarang dipakai untuk menuntut keadilan dari yang berkuasa. Pertanyaan yang tersisa: siapa yang lebih sering diminta bersabar, yang lemah atau yang kuat?
Lensa keempat, dari psikologi media: otak manusia menyukai narasi tokoh tunggal karena ia mudah dicerna dan memicu empati cepat. Sebuah wajah yang bertahan lebih menggerakkan emosi daripada grafik data ketimpangan. Implikasinya, konten inspiratif akan selalu menang secara algoritmik atas analisis struktural yang membosankan. Tetapi celah lensa ini: empati terhadap tokoh, jika dikelola, bisa menjadi pintu masuk menuju kesadaran struktural — banyak gerakan besar berawal dari satu wajah. Pertanyaannya, mungkinkah kita mengubah keharuan sesaat menjadi perhatian yang bertahan?
Secara praktis, ada beberapa hal yang bisa dicoba mahasiswa pekan ini tanpa harus menunggu perubahan besar. Ketika membagikan sebuah kisah inspiratif, tambahkan satu kalimat yang menunjuk akar persoalannya — bukan sekadar "salut, Pak Guru", tetapi juga "kok bisa ya gaji guru honorer segini?". Di ruang kelas atau lab, biasakan bertanya "kenapa" dua tingkat lebih dalam dari yang biasanya ditanyakan. Bagi yang punya kemampuan menulis atau membuat konten, coba padukan wajah manusia dengan konteks datanya — buat empati dan analisis berjalan berdampingan, karena keduanya saling menguatkan. Dan dalam hidup sendiri, jangan gunakan "sabar" sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki hal yang memang bisa diperbaiki.
Pada akhirnya, kisah inspiratif tidak salah — yang perlu dijaga adalah agar keharuan tidak menjadi titik akhir. Yang penting bukan memilih antara mengapresiasi ketabahan atau menuntut keadilan, melainkan menyadari bahwa keduanya justru saling melengkapi: satu merawat kemanusiaan kita, yang lain menjaga akal sehat kita. Lensa apa pun yang dijadikan prioritas, selalu ada lensa lain yang menutupi celahnya.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah ini terlalu sinis? Orang lagi berbuat baik kok malah dicurigai. —
AKritik yang wajar. Artikel ini tidak mencurigai orang yang berbuat baik; ia mempertanyakan cara kita mengonsumsi kisahnya. Mengagumi guru itu tetap sahih. Yang dipersoalkan adalah ketika kekaguman berhenti di air mata dan tidak pernah sampai ke pertanyaan tentang kondisinya. Sinisme membunuh harapan; skeptisisme yang sehat justru menjaganya agar produktif.
- Q · 02
Kenapa Islam yang harus dibawa ke soal gaji guru? Ini kan urusan kebijakan publik. —
AKarena Islam sejak awal memang berbicara soal amanah, keadilan, dan hak orang yang bekerja. Memisahkan agama dari keadilan sosial justru penyempitan yang baru. Konsep fardh kifayah menegaskan bahwa memastikan hak sesama tertunaikan adalah kewajiban kolektif umat, bukan cuma urusan pembuat kebijakan. Jadi ini bukan menempelkan agama secara paksa, melainkan mengembalikannya ke fungsi aslinya.
- Q · 03
Bukankah menuntut sistem berubah itu utopis? Realistisnya ya kita bertahan saja. —
ASebagian benar — perubahan struktural memang lambat dan tidak pasti. Tapi "bertahan saja" dan "menuntut perbaikan" bukan pilihan yang saling meniadakan. Seseorang bisa tetap sabar menjalani hidupnya sambil ikut menyuarakan perubahan. Yang utopis justru berharap keadaan membaik sementara tidak ada seorang pun yang berani menunjuk akar masalahnya.
