"Menakar Nilai Seorang Guru"
Pekan ini seorang guru besar melempar sebuah klaim yang menampar: penghasilan dosen di Indonesia disebut termasuk yang terendah di Asia Tenggara. Di ruang sidang tertinggi, kesaksian tentang gaji para pengajar non-tetap mengangkat angka yang sulit dipercaya. Di media sosial, seorang guru sekolah swasta menuturkan pengabdian bertahun-tahun dengan honor yang bahkan dianggap "sudah besar" oleh pemberi kerja. Ada semacam disonansi kolektif di sini: masyarakat sepakat ilmu itu mulia, guru itu pahlawan, pendidikan itu investasi masa depan. Tetapi angka di slip gaji berkata sebaliknya. Pertanyaannya bukan sekadar "kenapa gaji guru rendah?", melainkan lebih dalam: bagaimana sebuah masyarakat menentukan nilai dari sesuatu yang katanya tak ternilai?
Lensa pertama datang dari ekonomi pasar. Argumen ini bilang: harga ditentukan oleh penawaran dan permintaan, bukan oleh kemuliaan. Guru banyak, hambatan masuk relatif rendah, maka upahnya tertekan — sesederhana itu. Implikasinya, seruan moral untuk "menghargai guru" adalah naif karena melawan hukum pasar. Tetapi celah lensa ini menganga: pasar hanya menghargai apa yang bisa diukur dan diperdagangkan dalam jangka pendek. Nilai seorang guru justru terletak pada dampak jangka panjang yang tak muncul di kuartal berikutnya — sebuah generasi yang beradab. Kalau pasar buta pada nilai yang tertunda puluhan tahun, apakah pasar benar-benar alat yang tepat untuk menakar guru?
Lensa kedua dari sosiologi kekuasaan. Argumen ini menyatakan: upah rendah bukan soal pasar murni, melainkan soal siapa punya daya tawar. Guru honorer dan dosen non-tetap adalah pihak yang lemah posisi tawarnya di hadapan yayasan dan lembaga besar. Implikasinya, ketimpangan ini adalah cermin relasi kuasa, bukan sekadar angka. Celahnya: lensa ini pandai mendiagnosis, tetapi sering berhenti pada kemarahan struktural tanpa memberi jalan keluar yang bisa dijalankan individu. Kalau semuanya soal struktur, apakah masih ada ruang bagi tanggung jawab moral orang per orang — termasuk konsumen jasa pendidikan yang justru menekan tawar?
Lensa ketiga dari teologi Islam. Di sini prinsip qist — keadilan dalam menegakkan hak — menjadi alat baca. Nabi ﷺ pernah menyatakan bahwa sebuah umat tak akan disucikan jika hak yang lemah tidak ditegakkan dari yang kuat, sebuah gagasan yang selaras dengan seruan menegakkan timbangan dengan adil dalam QS. Hud: 85. Implikasinya, menghargai guru bukan sekadar kebaikan hati, melainkan syarat keberkahan kolektif. Celah lensa ini bagi pembaca sinis: bukankah ini terdengar seperti moralisme yang mengawang, jauh dari APBN dan struktur gaji yang riil? Pertanyaan yang muncul: bisakah prinsip normatif seperti qist diterjemahkan menjadi kebijakan konkret, atau ia selamanya hanya khotbah?
Lensa keempat dari psikologi nilai. Argumen ini menyoroti paradoks kognitif: manusia cenderung menghargai apa yang langka dan mahal, dan meremehkan apa yang tersedia melimpah dan gratis. Ilmu dari guru terasa "gratis" karena selalu ada, maka otak kolektif meremehkannya — sampai ia hilang. Implikasinya, rendahnya penghargaan pada guru sebagian adalah bias persepsi, bukan hanya ekonomi. Celahnya: menjelaskan bias tidak otomatis mengoreksinya. Pertanyaan yang tergantung: kalau memang otak kita cenderung meremehkan yang melimpah, bagaimana sebuah budaya bisa sengaja melatih diri untuk menghargai kembali?
Lalu apa yang bisa dilakukan seorang mahasiswa hari ini, di ruang yang nyata? Di kelas, kebiasaan kecil bisa digeser: hadir tepat waktu, menyimak dengan sungguh, dan tidak memperlakukan dosen honorer sebagai pelayan administrasi. Di organisasi kampus, honor pemateri dan tutor bisa dinormalkan sebagai anggaran wajib, bukan "seikhlasnya" yang sering berarti tak ada. Di lingkaran belajar, tutor sebaya bisa dihargai dengan pengakuan yang jujur, bukan diperlakukan sebagai fasilitas gratis. Dan dalam skala lebih luas, mahasiswa yang kelak memegang kebijakan bisa mengingat hari ini: bahwa standar upah pendidik adalah pilihan politik, bukan takdir pasar. Langkah paling konkret pekan ini mungkin sesederhana ini — mengucapkan terima kasih yang tulus kepada satu pengajar, dan berhenti menganggap ilmunya murah karena ia memberikannya dengan cuma-cuma.
Yang penting di sini bukanlah menemukan satu jawaban tunggal tentang berapa "seharusnya" nilai seorang guru. Yang penting adalah menyadari bahwa setiap lensa — pasar, kuasa, teologi, psikologi — menerangi satu sisi sambil menggelapkan sisi lain. Masyarakat yang hanya membaca guru lewat pasar akan kehilangan dimensi keberkahan; yang hanya membaca lewat teologi akan kehilangan mekanisme praktisnya. Barangkali kedewasaan sebuah bangsa diukur justru dari kemampuannya memegang beberapa lensa sekaligus tanpa memilih yang paling nyaman.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya ini murni masalah anggaran negara yang terbatas, kenapa dibawa-bawa ke agama dan moral?
ASebagian benar — anggaran memang terbatas dan itu kendala nyata. Tapi keterbatasan anggaran tidak menjelaskan mengapa pos tertentu selalu menang dan pendidik selalu kalah dalam antrean prioritas. Pilihan prioritas itulah yang sarat nilai. Agama masuk bukan untuk menambah anggaran secara ajaib, melainkan untuk menantang cara kita menyusun urutan prioritas itu.
- Q · 02
Kalau menghargai guru itu soal keberkahan umat, kenapa negara-negara sekuler yang tak bicara keberkahan justru menggaji guru tinggi?
AJustru menarik. Negara-negara itu sampai pada kesimpulan praktis yang sama — bahwa memuliakan pendidik menentukan masa depan bangsa — lewat jalur yang berbeda. Ini menunjukkan prinsipnya universal, bukan monopoli agama. Bahasa keberkahan hanya memberi alasan yang lebih dalam bagi kesimpulan yang sebenarnya bisa dicapai akal sehat mana pun.
- Q · 03
Bukankah menghargai guru secara individual itu tak berguna kalau sistemnya yang rusak?
AAksi individual memang tidak mengganti reformasi struktural, dan keliru kalau dianggap cukup. Tapi budaya menghargai tumbuh dari akumulasi sikap individual, dan tekanan untuk reformasi struktural sering lahir dari kesadaran yang menyebar orang per orang. Keduanya bukan pilihan biner; yang satu memupuk yang lain.
- Q · 04
Kenapa mahasiswa harus peduli soal gaji dosen, toh kita cuma numpang belajar sebentar lalu lulus?
AKarena mutu ilmu yang kamu terima berkorelasi dengan kondisi orang yang mengajarkannya. Dosen yang harus mengajar di lima kampus demi bertahan hidup sulit memberi bimbingan terbaik. Kepedulian ini bukan altruisme murni — sebagiannya adalah kepentingan langsung atas kualitas pendidikan yang sedang kamu bayar.
- Q · 05
Apa bedanya artikel ini dengan seruan moralistik generik "hormatilah gurumu" yang sudah kita dengar sejak SD?
ABedanya pada bongkarannya. Seruan generik berhenti pada imbauan; artikel ini justru mempertanyakan mengapa imbauan itu selalu gagal — karena bertabrakan dengan logika pasar, relasi kuasa, dan bias persepsi. Menghormati guru tidak akan bertahan sebagai slogan; ia butuh diterjemahkan ke keputusan konkret soal upah dan prioritas.
