"Solidaritas yang Habis dalam Sekali Scroll"
Sepanjang pekan ini, lini masa dipenuhi kabar konflik: video berlabel siaran langsung dari kawasan Teluk, gambar rumah yang dirobohkan di tanah Palestina, penilaian sebuah lembaga hak asasi manusia internasional bahwa pelanggaran gencatan tergolong kejahatan perang, dan langkah sebuah negara jiran menutup pintu bagi warga negara penjajah. Reaksi publik nyaris seragam: marah, sedih, membagikan ulang, lalu — dalam hitungan detik — melanjutkan scroll ke konten berikutnya, tak jarang ke sorak final sepak bola dunia. Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang layak dibedah dengan dingin: mengapa solidaritas kolektif yang begitu meluap justru begitu cepat menguap? Empat lensa berikut mencoba menjelaskannya, dan masing-masing membawa celahnya sendiri.
Lensa pertama, dari ekonomi perhatian. Platform digital dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan, dan emosi terkuat — kemarahan, kengerian — adalah bahan bakar paling efisien. Implikasinya, konten konflik yang paling ekstrem justru paling tersebar, terlepas dari kebenarannya. Tetapi celah lensa ini jelas: jika kepedulian hanya produk sampingan dari algoritma, maka ia bukan kepedulian, melainkan refleks yang dipanen. Pertanyaan yang muncul: mungkinkah solidaritas yang lahir dari desain platform bertahan ketika algoritma memindahkan sorotannya ke isu lain pekan depan?
Lensa kedua, dari ekonomi politik. Boikot dan tekanan konsumen dibingkai sebagai bentuk perlawanan warga biasa terhadap struktur kekuasaan yang timpang. Implikasinya, pilihan belanja menjadi tindakan politik. Namun celahnya ganda: boikot yang tidak cermat dapat memukul pekerja lokal yang tak bersalah, dan konsumsi simbolik mudah berhenti sebagai gestur yang menenangkan hati nurani tanpa mengubah apa pun. Pertanyaan yang menggantung: kapan sebuah tindakan ekonomi benar-benar menekan yang zalim, dan kapan ia sekadar terapi rasa bersalah bagi pelakunya sendiri?
Lensa ketiga, dari etika dan teologi keadilan. Tradisi Islam menawarkan konsep mizan, 'adl, dan qist — bahwa perdamaian sejati harus berdiri di atas keadilan, bukan sekadar ketiadaan konflik. QS. Al-Hujuraat: 9 mengingatkan bahwa ketika dua pihak bertikai, yang berlaku aniaya harus dihentikan lebih dulu, baru kemudian didamaikan dengan adil. Implikasinya, netralitas yang dingin di hadapan penindasan bukanlah kebajikan. Tetapi celahnya: siapa yang berwenang mendefinisikan "yang aniaya"? Klaim keadilan mudah berubah menjadi kebenaran-diri yang menutup ruang dialog. Pertanyaannya: bagaimana menuntut keadilan tanpa jatuh ke dalam kesombongan moral yang justru mengaburkan keadilan itu sendiri?
Lensa keempat, dari sosiologi identitas. Solidaritas dengan sesama in-group memperkuat kohesi dan memberi makna kolektif. Implikasinya, membela Palestina memperkuat rasa keumatan. Namun celahnya berbahaya: solidaritas in-group yang tidak diawasi mudah berubah menjadi permusuhan buta terhadap seluruh out-group — termasuk tetangga berbeda agama yang tak ada kaitannya dengan konflik. QS. Aal-i-Imraan: 64 justru menawarkan arah sebaliknya: mencari kalimah sawa, titik pijak bersama lintas keyakinan. Pertanyaan yang tersisa: mungkinkah membela kelompok sendiri secara total sekaligus menjaga keadilan terhadap yang di luar kelompok, ketika naluri kolektif cenderung menuntut pemihakan yang mutlak?
Pada tataran praktis, ruang yang tersedia bagi mahasiswa sebenarnya konkret. Di kos dan kampus, verifikasi sebelum menyebarkan konten konflik dapat menjadi kebiasaan yang mengurangi peredaran hoaks. Kelompok studi jurusan dapat menyusun kajian ekonomi politik boikot yang berbasis data, bukan emosi, agar tekanan yang dipilih tepat sasaran dan tidak melukai pekerja lokal. Donasi yang dikelola kolektif oleh lembaga mahasiswa, dengan pelaporan transparan, mengubah simpati sesaat menjadi kontribusi terukur. Dan forum lintas-iman di kampus dapat menjadi bukti bahwa penolakan atas kezaliman tidak identik dengan permusuhan terhadap pemeluk agama lain. Langkah-langkah ini sederhana, tetapi justru kesederhanaannya yang membuatnya bertahan lebih lama daripada satu unggahan viral.
Pada akhirnya, yang penting bukanlah menemukan satu lensa yang paling benar, melainkan menyadari bahwa lensa apa pun yang dijadikan prioritas selalu menyisakan celah yang harus ditutup oleh lensa lain. Solidaritas yang matang bukan yang paling nyaring, melainkan yang sanggup bertahan setelah algoritma memindahkan sorotannya — dan yang tetap adil bahkan ketika kemarahan sedang berada di puncaknya.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah ini masalah struktural — geopolitik negara besar — jadi apa gunanya tindakan individu seperti donasi atau boikot?
ASebagian benar: individu tidak akan mengubah peta kekuasaan global. Tetapi dikotomi "struktural versus individual" itu palsu. Struktur dibentuk oleh agregat perilaku, termasuk perilaku konsumsi dan tekanan opini. Tindakan individu tidak bermakna sebagai solusi tunggal, melainkan sebagai bagian dari tekanan kolektif yang, bila terorganisir, punya bobot. Yang sia-sia adalah tindakan individu yang berhenti sebagai gestur; yang bermakna adalah yang terhubung ke gerakan.
- Q · 02
Kenapa agama harus dibawa-bawa ke isu geopolitik? Bukankah ini justru menambah polarisasi?
APertanyaan wajar. Tetapi konflik ini sejak awal melibatkan klaim identitas dan keadilan, dan agama menyediakan kerangka etika yang jelas soal penindasan. Bahayanya bukan pada membawa agama, melainkan pada menyempitkan agama menjadi bahan bakar permusuhan. Digunakan dengan benar, tradisi keadilan justru menuntut pembelaan atas yang tertindas sekaligus melarang kezaliman balik terhadap yang tak bersalah.
- Q · 03
Bagaimana membedakan solidaritas tulus dari sekadar mengikuti tren agar tidak dianggap tak peduli?
