"Empat Lensa Membaca Bencana Berulang"
Ada sebuah desa yang, delapan bulan setelah bencana menerjangnya, dilaporkan belum tersentuh bantuan sama sekali. Pekan ini kabar itu datang lagi dari Aceh, wilayah yang bahkan belum selesai membenahi bekas banjir besar ketika gempa beruntun kembali mengguncang. Di tempat lain, sebuah kapal tenggelam dan seorang kakek hilang setelah menyerahkan pelampung terakhirnya. Sementara di banyak daerah, kemarau dan krisis air menjadi kabar tahunan yang nyaris kehilangan daya kejutnya. Yang menarik untuk dianalisis bukan bencananya semata — bencana selalu ada — melainkan pola pengulangannya: tempat yang sama, tragedi yang serupa, dan respons publik yang hangat sesaat lalu menguap. Fenomena ini menolak dijelaskan oleh satu disiplin tunggal. Ia menuntut dibaca dari beberapa lensa sekaligus, dan setiap lensa, sebagaimana akan terlihat, menyimpan celahnya sendiri.
Lensa pertama datang dari ekologi dan ilmu kebumian. Dari sudut ini, bencana yang berulang di lokasi yang sama jarang murni "alami"; ia sering diperparah oleh tata kelola lahan — hutan yang gundul mempercepat banjir dan longsor, eksploitasi air tanah mengeringkan sumur, pemukiman di zona rawan memperbesar korban. Implikasinya jelas: banyak "takdir" sebenarnya berkelindan dengan keputusan manusia. Tetapi celah lensa ini adalah reduksionisme teknokratis — ia cenderung mengubah setiap tragedi menjadi soal drainase, tanggul, dan tata ruang, seolah manusia hanya variabel teknis tanpa hati dan tanpa makna. Pertanyaan yang muncul: jika semua bisa direkayasa, mengapa masyarakat yang tahu daerahnya rawan tetap enggan berubah?
Lensa kedua berangkat dari ekonomi-politik dan tata pemerintahan. Ia menyorot ketimpangan pemulihan: mengapa satu wilayah cepat mendapat perhatian sementara desa lain menunggu berbulan-bulan. Distribusi bantuan, kata lensa ini, mengikuti peta kuasa dan visibilitas media, bukan peta kebutuhan. Implikasinya mendorong advokasi dan transparansi anggaran. Namun celahnya: lensa ini rawan menempatkan seluruh beban pada negara dan struktur, sehingga individu serta komunitas merasa terbebas dari tanggung jawab — "itu urusan pemerintah" menjadi alibi untuk diam. Pertanyaannya: bila negara memang lamban, apakah warga berhak ikut lamban?
Lensa ketiga adalah lensa teologis. Islam membaca bumi bukan sebagai milik manusia, melainkan amanah. QS. Al-A'raaf: 128 mengingatkan bahwa "bumi ini kepunyaan Allah, dipusakakan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki" — manusia hanyalah khalifah yang dititipi, bukan pemilik yang bebas mengeksploitasi. Dari lensa ini, merusak lingkungan adalah ifsad fil-ard, pengkhianatan amanah, dan menelantarkan korban adalah kelalaian atas fardh kifayah. Lensa ini memberi bobot moral yang tidak dimiliki dua lensa sebelumnya. Tetapi ia juga punya celah ganda: di satu ujung, ia bisa disalahpahami menjadi fatalisme ("semua sudah takdir, buat apa bertindak"), dan di ujung lain menjadi menyalahkan korban ("mereka ditimpa musibah karena dosa mereka") — dua penyimpangan yang justru bertentangan dengan semangat aslinya. Pertanyaan yang layak diajukan: bagaimana membedakan penerimaan takdir yang aktif dari kepasrahan yang malas?
Lensa keempat meminjam kacamata psikologi sosial. Ia menjelaskan mengapa simpati publik memuncak lalu redup: fenomena disaster fatigue dan solidaritas performatif — belasungkawa yang tulus sebagai perasaan, tetapi berhenti di layar tanpa berubah menjadi tindakan. Lensa ini jujur membongkar jarak antara emosi dan aksi. Celahnya: sinisme yang berlebihan bisa melumpuhkan — jika semua simpati dicurigai palsu, maka tak ada lagi alasan untuk berbuat baik. Pertanyaannya: mungkinkah simpati yang tulus tetap bernilai meski tidak sempurna berbuah?
Empat lensa, empat celah. Dan di sinilah letak sintesisnya: tidak ada satu lensa pun yang mampu menutup celahnya sendiri, tetapi masing-masing menambal celah yang lain. Lensa ekologi butuh lensa teologis agar tidak kehilangan makna; lensa teologis butuh lensa ekonomi-politik agar penerimaan takdir tidak berubah menjadi pembiaran; lensa psikologi menjaga agar semua tetap membumi pada perilaku nyata. QS. At-Taghābun: 11 menautkan semuanya — musibah datang dengan izin Allah, tetapi hati yang beriman "diberi petunjuk", dan petunjuk itu berwujud gerak, bukan lumpuh.
Lalu apa yang bisa dilakukan di ruang mahasiswa, hari ini? Cukup banyak, dan tidak perlu menunggu menjadi pejabat. Di tingkat kampus, komunitas mahasiswa bisa menyelenggarakan penggalangan terverifikasi untuk satu titik bencana konkret — memilih lokasi yang justru kurang tersorot media, bukan yang sedang viral, sebagai koreksi langsung atas celah lensa kedua. Mahasiswa teknik dan lingkungan bisa menyusun catatan sederhana tentang zona rawan di sekitar kampus atau kampung halaman, lalu membagikannya ke perangkat desa. Di kos dan kantin, kebiasaan menghemat air dan mengurangi sampah bisa dijadikan norma kelompok, bukan sekadar imbauan poster. Dan di ruang diskusi jurusan, alih-alih berhenti pada perdebatan "salah siapa", pembahasan bisa diarahkan pada pemetaan tanggung jawab berlapis — apa yang menjadi domain negara, komunitas, dan individu — agar analisis tidak mandek jadi saling tuding.
Pada akhirnya, membaca bencana yang berulang bukan soal menemukan satu penjelasan pemenang. Yang lebih jujur adalah mengakui bahwa lensa apa pun yang dipilih sebagai prioritas, selalu ada lensa lain yang sedang menutupi celahnya. Barangkali di situlah letak kedewasaan berpikir: bukan pada kepastian yang sempit, melainkan pada kemampuan memegang beberapa kebenaran sekaligus tanpa membuang yang lain.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah ini murni masalah tata kelola dan infrastruktur? Kenapa harus dibawa-bawa ke agama? —
ASebagian besar validitasnya diakui: drainase dan tata ruang memang menyelesaikan banyak hal yang doa saja tidak bisa. Tetapi tata kelola menjawab "bagaimana", sedangkan agama menjawab "mengapa harus peduli sejak awal". Motivasi menjaga bumi sebagai amanah justru membuat tata kelola punya fondasi moral yang bertahan ketika insentif ekonomi tidak ada.
- Q · 02
Kalau semua sudah takdir Allah, bukankah usaha mitigasi jadi sia-sia? —
AJustru sebaliknya. Konsep takdir dalam Islam tidak meniadakan sebab-akibat; Nabi Musa diperintahkan "mohon pertolongan dan bersabarlah" sekaligus tetap memimpin kaumnya bertindak. Menerima takdir yang aktif berarti berusaha maksimal lalu berserah pada hasil — bukan berdiam lalu menyebutnya kepasrahan.
- Q · 03
Bukankah menyebut "bencana karena dosa" itu menyalahkan korban yang tidak bersalah? —
AKekhawatiran itu tepat dan penting. Membaca musibah sebagai teguran kolektif berbeda jauh dari menuduh korban tertentu berdosa. Teks-teks yang bicara sebab moral ditujukan pada perilaku masyarakat luas, bukan vonis atas individu yang tertimpa. Menyalahkan korban justru bentuk kezaliman yang dilarang.
- Q · 04
Solidaritas online kan cuma pencitraan. Apa bedanya artikel ini dengan moralisme yang sama? —
APerbedaannya terletak pada tuntutan konkret. Moralisme berhenti pada "seharusnya peduli"; analisis ini menunjuk celah spesifik — bantuan yang tak merata, lokasi yang kurang tersorot — dan menyarankan koreksi terukur. Simpati yang tidak sempurna tetap lebih baik daripada sinisme yang tidak berbuat apa-apa.
- Q · 05
Kenapa mahasiswa yang harus repot, bukan lembaga yang memang digaji untuk itu? —
ATidak ada yang membebaskan lembaga dari kewajibannya. Namun *fardh kifayah* berarti kewajiban itu gugur hanya jika ada yang cukup menanganinya; selama masih ada desa yang menunggu berbulan-bulan, kewajiban itu belum tertunaikan dan menyebar ke siapa pun yang mampu — termasuk mahasiswa yang punya waktu, jaringan, dan keterampilan digital.
